
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Begitu tak berdaya melihat keadaan Ara sekarang. Dia tersenyum senang ketika aku dan mas Devan sudah kembali ke kamarnya.
Meski dia sempat bertanya kenapa dia kembali lagi di bawa ke rumah sakit tapi akhirnya dia bisa tersenyum karena beberapa gurauan yang mas Devan buat.
Senyumnya yang begitu manis saat ini tapi malah mampu membuat hatiku rasanya tersayat dan begitu sakit, bagaimana bisa aku menghadapinya dengan tabah di saat-saat dia yang pastinya akan mengalami rasa sakit.
Sekarang memang tidak terlihat kesakitan, hanya wajahnya saja yang terlihat sangat pucat begitu juga dengan bibirnya yang agak putih.
"Bunda, bunda kenapa sedih? Apakah bunda sakit?" tanyanya.
Semakin tak berdaya rasa hatiku mendengar pertanyaan Ara barusan. Dia yang sakit tapi dia malah bertanya dan dia pikir aku yang sedang merasa sakit.
Satu tetes air mata aku hapus dengan cepat sebelum Ara melihatnya. Jika dia lihat pasti dia akan semakin sedih karena mengira bahwa aku yang sakit.
"Tidak, bunda tidak sakit kok," Aku usahakan tersenyum semanis mungkin meski rasanya sangat menyesakkan. Sangat susah untuk membuat bibir ini tersenyum tapi akibat aku paksakan akhirnya berhasil meski terasa sangat kaku.
"Benar bunda tidak sakit?" masih saja Ara tidak percaya dan tetap bertanya.
Aku mengangguk pelan dengan senyuman yang semakin meyakinkan dirinya. Tapi usaha ku untuk menahan semuanya tetap tidak berhasil hingga aku kembali meneteskan air mata.
Tangan mungil Ara terangkat lalu menghapus air mata ku dengan kedua telapak tangannya.
"Bunda tidak boleh sedih, apalagi sampai menangis. Ara tidak apa-apa kok, Ara hanya pusing sedikit saja nanti juga sembuh kalau sudah di kasih obat sama bu dokter," katanya.
Aku menggeleng dengan mata yang terpejam, meraih tangannya dan aku tahan di pipi hingga begitu lama.
"He'em," tak sanggup mulut ini untuk mengatakan apa-apa lagi. Dadaku rasanya sangat sesak, jangankan untuk bicara untuk bernafas saja terasa begitu susah.
"Bunda, sebenarnya bunda kenapa?" mata kecil itu menatap dengan bingung karena diriku, netra hitamnya seakan mengelilingi semua wajahku dan mengabsen satu persatu dengan jelas.
"Tidak apa-apa, bunda baik-baik saja," ku buka mata ku dan ku tatap dengan lekat. Aku tersenyum dan itu membuat Ara juga tersenyum.
Mas Devan yang melihat kejadian ini juga terus saja berusaha tabah dan terus memberikan ku dukungan untuk lebih kuat lagi di hadapan Ara. Kalau aku rapuh dan juga sedih bagaimana dengan Ara nantinya?
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Meski sedang sakit tapi Ara tetap lahap makannya. Suapan demi suapan terus aku berikan padanya hingga hampir habis.
"Bunda, kalau Ara makannya banyak bisa cepat sembuh dan bisa cepat pulang juga kan?" tanyanya di sela-sela dia mengunyah.
"He'em, tentu. Ara akan cepat pulang kalau sudah sembuh. Ara harus makan yang banyak juga harus nurut sama bunda juga dokter, oke."
Tetap aku usahakan untuk selalu tersenyum dan juga kuat di hadapan Ara. Dia tidak boleh tau kalau aku sangat sedih, dia harus tetap bahagia dan kesembuhan itu bisa cepat dia dapatkan.
"Assalamu'alaikum, manis," pintu terbuka dan ternyata ada pak Abraham juga bu Susan yang masuk.
Mereka terus tersenyum meski aku yakin itu hanya senyum palsu saja yang dua tunjukkan supaya Ara busa selalu senang,
"Wa'alaikumsalam," jawab ku seraya menoleh ke arahnya.
"Wa'alaikumsalam, Nenek, Kakek!" Ara begitu girang karena kedatangan mereka berdua. Di tambah lagi dengan kedatangan mereka yang membawa hadiah untuk Ara yang berupa mainan juga boneka.
"Ini untuk cucu nenek yang paling cantik," Bu Susan menyodorkan hadiah itu setelah sampai di hadapan Ara.
Begitu senang Ara menerima semua hadiah yang mereka bawakan, langsung Ara buka satu persatu dan langsung dia mainkan satu persatu tepat di atas ranjangnya.
"Bunda, lihatlah! Ini sangat bagus. Nenek dan kakek membawakan ini untuk Ara," satu persatu hadiah itu Ara tunjukan padaku, tak ada yang terlewatkan.
Ya Tuhan, begitu bahagianya Ara saat ini. Di tengah-tengah sakit yang dia dapatkan tapi dia terus tersenyum.
Aku beruntung dengan kedatangan keluarga mas Devan dalam hidupku, jika tak ada mereka semua bagaimana mungkin aku akan kuat menjalani ujian yang begitu berat ini.
Aku tak ada siapapun selain mereka jika tak ada mereka mungkin aku akan putus asa dan tak sanggup lagi dalam menjalani hidup ini di tengah-tengah ujian yang begitu berat.
"Iya, sangat bagus," kembali ingin air mata ini terjatuh, tapi dengan sekuat-kuatnya aku tahan supaya tidak jatuh lagi di hadapan Ara.
"Yang sabar ya, Nak. Kami semua bersama mu. Kamu tidak sendiri," Pak Abraham mendekati dan menepuk pundak sekali.
Aku mendongak ke arah pak Abraham, dia terlihat tersenyum sama persis seperti mas Devan tadi. Mas Devan yang menjadi sumber kekuatan ku sekarang meski sekarang dia tengah pergi entah kemana karena dia bilang ada pekerjaan penting.
"Terima kasih, Pa," kataku. Sangat bersyukur aku mendapatkan semua dukungan dari mereka semua.
"Istirahatlah, kata Devan kamu belum istirahat dari pagi. Jamu juga belum makan apapun."
"Jaga kesehatan mu, Nak. Dan ingatlah, di dalam perutmu ada kehidupan yang juga sangat membutuhkan perhatian mu. Kamu harus mengurusnya juga."
Benar, dari pagi aku memang tidak pernah pergi dari hadapan Ara, selalu ada dan juga terus menemaninya meski di kala dia tertidur.
"Ma, biarkan Ara papa temani dulu. Kamu ajak temani Nayla untuk makan dulu," ucap pak Abraham.
"Tidak usah, Pa. Nanti Nay pasti akan makan," Aku masih sangat enggan untuk pergi meninggalkan Ara meski ada pak Abraham yang akan menemaninya.
"Ara sayang, kamu di sini dulu sama kakek ya. Nenek pinjam bunda sebentar, boleh?" Bu Susan izin terlebih dahulu pada Ara.
"Boleh kok, Nek. Ara kan juga tidak apa-apa," Ara mengizinkan.
Dengan izin yang sudah Ara berikan membuat aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya menurut saja.
"Pergilah, Ara aman bersama papa," kembali pak Abraham menyentuh pundak ku.
"Ayo, Nak," aku semakin tidak bisa mengelak lagi ketika bu Susan mendekat lalu menarik_ku untuk berdiri.
"Pa, tolong nitip Ara dulu ya," kataku.
"Ayo, Nak," Bu Susan terus menarik_ku hingga membuat ku tak bisa mengelak lagi dan langsung mengikutinya. Entah akan di ajak kemana aku sama sekali tidak tau.
Aku menoleh sebentar ke arah Ara, dia sudah langsung langsung bermain dengan pak Abraham.
Pak Abraham menoleh dia tersenyum dan mengangguk untuk meyakinkan ku bahwa Ara aja selalu baik-baik saja ketika aku pergi.
"Ayo, Nak," kembali bu Susan menarik_ku.
Rasanya sangat berat untuk meninggalkan Ara, ingin selalu terus bersamanya dan menemani segala kegiatannya.
Perlahan kaki kembali melangkah meninggalkan tempat itu hingga benar-benar tak bisa melihatnya.
"Ara akan baik-baik saja, hem," Bu Susan pun juga ikut meyakinkan ku.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...