Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Melimpahkan semua kesalahan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


POV AUTHOR...


Setelah mendengar suara dari dokter, Aditya langsung berhenti dia juga menoleh ke arah Devan dan Nayla.


Aditya semakin marah ketika melihat Devan juga Nayla yang berpelukan setelah mendengar kalau anaknya mereka baik-baik saja. Tetapi kenapa ada sedikit rasa di dalam hatinya yang muncul, dia juga khawatir mendengar anak Nayla sakit dia juga merasa senang mendengar bahwa anaknya baik-baik saja. Ada apa dengan dirinya?


Setelah Nayla juga Devan masuk ke dalam ruangan di mana anak mereka berada Aditya kembali melangkah mendekat, Dia sangat penasaran dengan anak Nayla yang begitu mirip dengannya yang hanya baru dilihat dari foto saja.


Perlahan kaki Aditya melangkah mendekati ruangan di mana Ara dirawat. Dia juga langsung mengintip dari kaca pintu dan melihat mereka bertiga yang ada di dalam tetapi wajah anak kecil itu tidak terlihat karena tertutup oleh Devan juga Nayla.


"Kenapa tidak terlihat, aku sangat penasaran dengan anak itu," gumam Aditya.


Aditya begitu penasaran hingga dia terus berada di sana dan mengintip tentu berusaha untuk bisa melihat anak kecil itu.


"Ara sayang, kamu tidak apa-apa kan?" suara Nayla didengar oleh Aditya, terdengar kalau Nayla sangat khawatir. Tentu, dia adalah ibunya. Sementara Devan berdiri di sebelah Nayla dia juga membungkuk semakin membuat Aditya tidak bisa melihat arah dengan jelas.


"Bunda, Ayah, kenapa Ara di sini?" suara mungil itu juga terdengar sangat jelas oleh Aditya. Mendengar suaranya kenapa membuat jantung Aditya berdetak begitu cepat, dia semakin ingin melihat pemilik suara tersebut.


Tetapi, mendengar anak tersebut memanggil Devan dengan sebutan ayah kenapa hatinya begitu meronta tidak ikhlas? sebenarnya apa yang terjadi padanya dan apa hubungannya dengan anak kecil tersebut.


Hatinya begitu gemuruh sangat tidak suka mendengar Devan dipanggil ayah oleh anak itu. Kenapa dia sangat ingin dia yang dipanggil dengan sebutan ayah dan bukan Devan?


"Apa hubunganku dengannya?" guman_nya lagi dengan pikiran yang sangat bingung.


Aditya ingin sekali masuk dan melihat siapa gadis kecil tersebut tetapi niatnya dihentikan oleh pak Pratama yang tiba-tiba datang.


"Aditya, kamu ke mana saja dari tadi dicari dan ternyata kamu ada di sini. Apa yang kamu lakukan!?" suara tak Pratama begitu mengejutkan Aditya dan membuat tangannya terlepas dari handle pintu, Aditya juga sontak menoleh.


"Pa, sa_saya," Aditya tergagap menjawab pertanyaan dari Pak Pratama yang terdengar sangat sinis tersebut.


Aditya tahu bahwa tak mudah untuk pak Pratama memaafkan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi Aditya pun juga tidak bisa memaafkan dirinya yang telah membuat Dia kehilangan anaknya.


"Seharusnya kamu selalu ada di sebelah Jihan dan menghiburnya bukan malah pergi sendiri dan sibuk seperti ini. Atau mungkin kamu memang menginginkan hal ini terjadi?" semakin sinis kata-kata Pak Pratama.


"Ma_maaf, Pa. Aditya tidak bermaksud untuk meninggalkan Jihan sendiri, tetapi?" Aditya tidak bisa melanjutkan perkataannya tidak mungkin dia akan mengatakan kalau tadi dia dilarang oleh Pak Pratama untuk bertemu dengan Jihan.


"Cepat temui Jihan dan hibur dia. Papa dan mama mau cari makan dulu," kata Pak Pratama menjelaskan.


"Baik, Pa." Aditya mengangguk dan langsung setuju untuk menemui Jihan, sementara Pak Pratama juga langsung pergi setelah Aditya menyetujui keinginannya.


Sejenak Aditya menoleh ke arah ruangan yang pintunya belum jadi dia buka. Sebenarnya dia sangat penasaran tetapi dia juga tidak bisa mengabaikan Jihan yang saat ini benar-benar membutuhkan dirinya.


"Aku akan tetap mencari tau siapa anak kecil itu," katanya sebelum kakinya melangkah untuk menemui Jihan.


Di dalam ruangannya Jihan masih sangat terpukul karena kehilangan anaknya yang sudah sangat lama dia tunggu kehadirannya.


Tetapi, dia tidak bisa menyalahkan Aditya sepenuhnya karena meninggal anaknya karena sebenarnya semua terjadi juga karena kesalahannya juga. Di saat Aditya pergi ke kantor dia selalu menemui Vino teman Aditya.


Dan di pertemuan mereka selalu saja mereka melakukan hubungan haram dan saling mengkhianati pasangan mereka masing-masing.


Permainan Vino yang selalu kasar dan tidak melihat bahwa Jihan yang sedang hamil membuat Jihan selalu merasa ngilu di bagian bawahnya, bahkan Jihan juga sering merasa keram di bagian perutnya. Tetapi dia selalu menahan dan tidak pernah dia katakan pada Aditya tentu semua itu karena dia sangat takut kalau Aditya akan tahu apa yang dia lakukan.


Hingga akhirnya di hari saat terjadi kecelakaan itu sebenarnya Jihan tengah merasa keram di bagian perutnya dia juga merasa sangat pusing hingga langkahnya tidak bisa seimbang dan membuat dia terjatuh di tangga.


Sekarang hanya tinggal penyesalan yang Jihan rasakan. Dia kehilangan anaknya karena hubungan gelap dengan Vino.


"Sayang," Aditya masuk dan langsung menghampiri Jihan yang terus terdiam meratapi semua penyesalan yang dia rasakan.


Jihan menoleh dan melihat Aditya yang sudah duduk di bangku dan meraih tangannya juga langsung mengecupnya bertubi-tubi.


"Mas minta maaf, tidak seharusnya Mas mengabaikan kamu. Seandainya saja Mas lebih memperhatikanmu maka kita tidak akan kehilangan anak kita."


Begitu besar penyesalan Aditya. Dia merasa bersalah dan mengira bahwa semua yang terjadi karena kesalahannya. Mungkin semua yang terjadi ada campur tangan dari Aditya tapi yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahannya tetapi juga salah Jihan.


Seandainya Jihan tidak pernah mengenal Vino dan tidak tergoda akan rayuannya maka semuanya tidak akan terjadi.


Awalnya Jihan memang sangat menyukai Vino dan semua yang dia lakukan tapi akhirnya dia sekarang begitu membenci perbuatannya dan perbuatan Vino.


"Maafkan Jihan yang tidak bisa menjaga dengan baik anak kita. Maafkan Jihan Mas," Jihan menangis karena dia sadar akan perbuatannya yang salah.


"Seandainya Jihan tidak egois pasti anak kita masih baik-baik saja, dan sebentar lagi kita akan bisa menimangnya. Tetapi sekarang? Dia sudah pergi meninggalkan kita," tangis Jihan semakin pecah.


Aditya langsung menghapus air mata Jihan saat ini, meski dia sendiri juga sedih bahkan air matanya juga keluar. Kehilangan anak adalah hal yang paling menyedihkan bagi Aditya.


"Semua ini bukan salah mu. Tapi salah mas," ucap Aditya yang berniat untuk menghibur Jihan supaya dia tidak menyalahkan diri sendiri.


Aditya tidak tahu perbuatan Jihan yang telah mengkhianatinya, seandainya saja Dia tahu entah apa yang akan dia lakukan. Tetapi yang jelas Aditya tidak akan pernah meninggalkan Jihan karena dia tidak ingin kehilangan harta dan juga kedudukan tinggi di perusahaan Pratama.


Aditya memang sudah dibutakan oleh harta jadi apapun yang Jihan lakukan pasti tidak akan membuat dia marah besar dan meninggalkan Jihan. Dia tidak akan pernah melakukan itu.


Satu tangan Aditya mengelus rambut Jihan dan satunya lagi menuntun tangan Jihan sampai ke pipinya dan juga sesekali menciumnya.


Ruangan terasa begitu sunyi setelah itu tetapi begitu tumpah ruah akan air mata mereka berdua yang saling menyesali perbuatannya masing-masing yang membuat mereka kehilangan anaknya sebelum dia lahir ke dunia.


"Bersabarlah dan juga ikhlas semoga saja Tuhan kembali memberikan kepercayaan kepada kita untuk bisa memiliki anak."


Ucapan Aditya kembali membuat tangis dari Jihan semakin pecah. Dia benar-benar merasa sangat bersalah dengan semua yang telah terjadi.


Bukan hanya Aditya saja yang akan kecewa jika mengetahui perbuatannya tetapi kedua orang tua Jihan pasti juga akan sangat kecewa. Entah apalagi yang akan mereka lakukan kepada Jihan jika mereka tau. Jihan yang merasa sangat takut membuatnya lebih memilih diam ketika kedua orang tuanya menyalahkan Aditya.


Lagian Jihan juga merasa kalau Aditya juga andil dalam kejadian ini jadi dia tidak akan merasa sangat bersalah ketika kedua orang tuanya menyalahkan Aditya. Bahkan Jihan terus diam ketika Papanya mencaci Aditya dengan begitu sadis.


'Semua ini juga bukan hanya kesalahan ku sendiri. Tapi kamu juga salah, Mas,' batin Jihan.


--------Normal------


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...