Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Sampai Rumah Pak Devan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Terus terdiam dengan memikirkan cara untuk bisa kabur dan menjauh dari Pak Devan. Dari tadi hanya mendengarkan candaan antara Ara dan pak Devan yang tiada henti. Ah, sungguh menyebalkan.


Rasanya ubun-ubun ku juga sudah mulai mendidih dengan semua perlakuan pak Devan. Tak ada rasa bersalah dan terus saja tersenyum bahkan tertawa dengan Ara.


Bukan itu saja, tapi dengan senangnya dia malah mengajak Ara bernyanyi mengikuti lagu anak-anak yang dia putar di dalam mobil tersebut.


Seandainya saja pak Devan benar-benar baik dan tulus mungkin aku tidak akan berperilaku seperti ini kepadanya tapi nyatanya, semua itu benar-benar tidak bisa aku lihat darinya.


Apakah dia benar-benar baik dan tulus tapi aku saja yang tak bisa melihat karena tertutup akan kebencian untuk laki-laki karena mas Aditya?


Seandainya tak ada rasa kebencian ini apakah mungkin aku bisa melihat kebaikan dan juga ketulusan pak Devan?


Pak Devan begitu kekeuh meminta maaf, dia tak ada kata menyerah dan terus membuktikannya tapi kenapa setiap yang dia lakukan malah membuat aku semakin membencinya.


"Cangkul cangkul cangkul yang dalam, tanahnya longgar jagung ku tanam!"


"Cangkul cangkul cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun kita..."


Suara keduanya saling beradu dan sama-sama memenuhi ruang sempit yang tertutup di dalam mobil ini.


Suara Ara yang lucu dan suara pak Devan yang sebenarnya tak bisa di ragukan lagi sangat indah. Perpaduannya sangat indah dan juga sangat cocok, tapi nyatanya tak bisa menghibur hati yang sangat besar dalam amarah.


Aku terus melihat ke arah luar dari jendela terus berpikir bagaimana bisa lepas dari pak Devan. Tidak mungkin kan aku dan Ara akan tinggal di rumahnya. Apa kata dunia?


Bukan itu saja, tapi aku kok merasa ngeri jika tinggal di sana dan bertemu dengan pak Abraham. Aku pasti akan sangat malu karena ketahuan berbohong, apakah dia akan memahami keadaan ku yang akhirnya membuat harus berbohong.


"Bunda, ayo nyanyi bareng sama ayah om juga," ajak Ara.


Ara yang dari tadi berdiri dan memajukan tubuhnya juga memegangi sandaran yang di duduki pak Devan kini menoleh ke arah ku. Terlihat wajahnya kalau dia sangat berharap aku bisa ikut serta dalam konser mereka.


"Hem," Aku menggeleng karena sangat malas. Jangankan untuk bernyanyi sekedar mengeluarkan suara saja rasanya sangat malas.


"Bunda tidak pusing kan? Bunda tidak akan mabuk kan?" tanyanya.


Mungkin Ara berpikir kalau aku pusing dan akan mabuk kendaraan karena dari tadi diam, padahal yang benar aku mabuk ingin marah kepada pak Devan yang begitu di kagumi oleh Ara.


"Iya, Nay. Ayolah kota bersenang-senang asyik loh. Lagian apa tidak capek marah-marah terus dan cemberut terus seperti itu. Apa tidak takut nanti akan keriput itu wajahnya," ucap pak Devan.


Enak bener ya dia ngomong. Seandainya dia berada di dalam posisiku apakah dia akan tetap bicara dengan santai dan mudah seperti ini?


"Iya, Bunda. Jangan cemberut terus kalau terlalu sering nanti wajahnya makan kerupuk nanti bunda kayak nenek-nenek loh," ucap Ara.


Hadeuh, sepertinya Ara sudah benar-benar kemakan omongan dari pak Devan yang selalu manis, lama-lama Ara akan semakin kompak dengan Pak Devan untuk melawanku.


"Ayo, Bunda. Kita nyanyi bersama-sama," aku tetap diam meskipun Ara sudah meminta untuk bernyanyi bersama mereka masih sangat panas hatiku ketika melihat Pak Devan apa lagi melihat senyumnya terlihat semakin menyebalkan.


"Beri pupuk supaya subur, menanam jagung dengan teratur," Kembali mereka bernyanyi bersama.


"Ih, bunda nggak asik," Protes Ara ketika melihatku sama sekali tidak membuka mulut dan terus saja diam.


Bibir Ara mengerucut dia terlihat begitu kesal karena aku tak mengikuti apa keinginannya. Sementara pak Devan? Aku lihat dia kembali tersenyum, ahh! Ingin sekali aku pukul supaya dia berhenti tersenyum dan beralih cemberut untuk menggantikan apa yang aku rasakan.


Tapi meski aku pukul dia berulang kali itu tidak akan membuat rasa sakit ini berpindah. Tapi, kalau aku melakukannya apa bedanya aku dengan mereka yang begitu gak punya hati dan selalu menyakiti.


"Eh, Nay. Itu kok ada ingusnya," Pak Devan melirik ke Ara belakang melalui kaca spion yang ada di hadapannya.


Sontak tangan ku langsung mengecek sendiri dan memeriksa hidung ku. Tapi baru saja menempel pak Devan kembali bersuara.


"Ting tong, ting tong dut," katanya.


"Hahaha! Ayah om lucu sekali sih. Hahaha!" Begitu keras Ara tertawa.


Kini aku tau kalau aku hanya di bohongin oleh pak Devan. Dia kembali tersenyum.


Begitu malu aku saat ini seketika memalingkan wajah dari mereka berdua. Tetapi, melihat dan mendengar tawa mereka tak sengaja kedua ujung bibir tertarik. Aku tersenyum.


"Yee, bunda sudah tersenyum lagi! Yee!" Ara teriak kegirangan melihat aku yang tersenyum. Padahal sudah aku paling_kan wajahku tapi masih saja terlihat kalau aku tersenyum padahal aku juga tidak sengaja melakukannya.


Pak Devan juga terlihat girang melihat aku yang tersenyum, cepat aku tarik kembali senyum ku dan kembali berubah menjadi cemberut.


Mobil berhenti dan langsung terlihat di hadapan kami rumah yang begitu besar dengan halaman yang begitu sangat luas. Ada taman dan juga kolam ikan di tengah halaman.


Rumahnya begitu banyak tangga sebelum masuk ke pintu utama rumahnya seolah ada di atas. Rumah warna putih dan sangat bersih.


Tak lama mobil berhenti pintu terbuka dan ada dua orang penjaga yang membukakannya. Bukan itu saja, tapi ada dua mbak-mbak yang berpakaian seragam berwarna hitam putih.


"Ini rumah kita, Ayah om?" Terlihat Ara begitu menyukai rumah itu. Dia bisa melihat keindahan yang sangat nyata di rumah itu.


"Iya, Ara Sayang. Ini rumah kita. Kita turun?" tanyanya.


Ara mengangguk dan langsung turun tapi belum juga sempurna kakinya menyentuh paving salah satu mbak tadi membantunya, bahkan dia juga langsung menggendong Ara.


"Halo cantik, perkenalkan saya suster Neny." katanya dengan sangat lembut kepada Ara yang sudah ada di gendongannya.


"Dan ini adalah suster Kila," imbuhnya mengenalkan satu temannya pada Ara.


"Suster?" Mata Ara membulat.


"Ayah om, kok ada suster? Ara kan tidak sakit, Ara juga tidak mau di suntik."


Dua penjaga, dua suster juga pak Devan mereka semua tersenyum karena Ara yang belum tau.


"Mereka bukan suster yang akan nyuntik Ara tapi mereka yang akan menemani Ara main," jawab pak Devan.


"Oh," Ara sudah mengerti sekarang.


"Halo suster Neny halo suster Kila," sapanya yang sama sekali tidak punya rasa takut meski pada mereka yang baru saja dia temui.


"Halo sayang, kita masuk ya," Suster yang menggendong Ara langsung berjalan di ikuti satu suster yang menarik satu koper punya Ara sementara yang punyaku di tarik oleh satu penjaga.


Melihat Ara yang begitu senang karena mendapatkan sambutan aku jadi lupa untuk turun dan ternyata aku masih berada di dalam mobil.


"Nayla, apakah kamu mau di gendong juga seperti Ara?" Pak Devan membungkuk dan melihatku dari kaca mobil yang sudah terbuka.


Bukannya aku menginginkan digendong oleh Pak Devan tetapi aku sangat malas untuk turun dari mobil Ingin rasanya aku kembali ke rumah tetapi tidak mungkin aku kembali tanpa Ara.


"Sini aku gendong," katanya dengan meringis.


Tangannya sudah terulur panjang untuk menggapai ku tapi tidak aku sambut dan aku turun sendiri dari pintu sebelahnya.


"Beneran tidak perlu di gendong? Tangganya banyak loh, kalau kamu lelah bagaimana? Oh iya, kalau sampai di perutmu sudah ada anakku dan dia capek bagaimana?" ucapnya dengan sedikit berbisik.


Satu penjaga yang ada di sana tetap berdiri diam dengan menggendong kedua tangan dan juga seolah tidak mendengar apa yang di katakan oleh majikannya.


Benar-benar nih ya satu orang. Menyebalkan.


Aku tidak menggubris dan langsung berjalan untuk mengejar Ara. Aku tidak mau berlama-lama dengan pria mesum dan juga resek ini.


Tapi lagi-lagi pak Devan bertindak sesuka hatinya dia yang pura-pura berjalan di belakang ku tiba-tiba mengangkat tubuh ku selayaknya mengangkat tubuh bayi yang begitu ringan.


"Pak!" pekik ku.


Reflek karena takut jatuh kedua tangan langsung mengalung di lehernya.


"Apa, Nay. Sudah ya, jangan teriak lagi lama-lama pecah telingaku."


Meski menjawab dia juga tetap berjalan. "Dan ya, diam atau aku lempar ke kolam." Ancamnya. Meski suaranya sangat pelan tapi ancamannya yang begitu menakutkan.


Tak mau pak Devan kepedean aku lepas kedua tangan ku dari lehernya dan beralih menyilang di di atas dada. Ini lebih baik kan?


Ternyata emang rumahnya sungguh besar dan sangat luar biasa. Ada beberapa penjaga di setiap titiknya benar-benar sangat mementingkan keamanan.


Mereka semua yang melihat juga terus diam dan tidak berkomentar apapun. Dia terlihat begitu hormat kepada pak Devan, jelaslah.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...