Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Berhasil memasak



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


"Mas, mas lagi ngapain?" Aku melangkah semakin masuk ke dapur, sangat penasaran dengan apa yang mas Devan lakukan saat ini. Dia terlihat begitu serius.


"Ini, mau coba buatin kamu sesuatu?" Mas Devan menoleh sebentar, melihatku yang semakin dekat dengannya hingga akhirnya sampai di sebelahnya.


Mata seketika membulat. Ini nih, kalau seorang laki-laki masuk dapur, semua jadi berantakan, semua berserakan dan membuat dapur menjadi seperti kapal pecah.


Memang sih ada beberapa laki-laki akan pintar berada di dapur dan bisa memasak lebih baik daripada wanita, tapi itu tidak berlaku dengan suamiku, Mas Devan.


Dia tidak pernah pintar kalau di dapur, meski di hadapannya ada ponsel canggih yang tengah memutar video memasak tapi tetap saja akan lain hasilnya.


"Mas, i_ ini?" Mataku membulat karena tempat yang tak lagi rapi, sementara mas Devan menganggap aku begitu terpana melihat usahanya yang begitu gigih.


Aku maklumi apa yang ingin dia lakukan, semua itu untuk bisa membuat ku bahagia. Tapi dengan cara seperti ini? Aku sangat kasihan dengan para pelayan yang akan membereskannya.


"Ini aku buat khusus untuk bumil yang makin cantik. Ini adalah makanan sehat yang yang akan sangat bagus untuk pertumbuhan anak kita juga akan menjaga kesehatan kamu. Nanti Ara juga bisa memakannya."


"Kamu yang sabar ya, sebentar lagi matang kok. Atau kamu duduk dulu saja?" mas Devan begitu yakin. Dia begitu sumringah.


"Ta_tapi, Mas?" Aku ragu. Aku tidak ragu dengan resep yang dia dapatkan dan yang sedang dia contoh dari ponselnya. Tapi setiap tangan akan memiliki kemampuan yang berbeda. Meski sama bumbu dan takarannya pasti hasilnya tidak akan pernah sama.


"Sini, kamu duduk dan tunggu dengan tenang," ucap mas Devan. Kedua tangannya menyentuh pundak dan menuntunku untuk duduk di kursi yang ada.


"Bumil tidak boleh banyak berdiri, nanti capek," ucapnya dan membantu ku duduk. Setelah memastikan aku sudah duduk dengan nyaman mas Devan kembali ke tempat semula, dia kembali sibuk.


Aku terdiam, melihatnya dengan sangat tidak yakin. Semoga saja meski tidak sama rasanya dan hasilnya dengan yang ada di video tapi setidaknya enak di makan. Kalau tidak enak hanya akan mubazir karena buang-buang bahan makanan.


Memang sih, mas Devan bisa membeli berkali-kali lipat dari yang dia pakai tapi mubazir itu kan tidak baik.


"Sabar ya, sebentar lagi mateng kok," ucapnya. Mas Devan kembali menoleh dan menampilkan senyum penuh percaya diri.


Seharusnya aku bisa percaya kan, mas Devan saja percaya pada usahanya sendiri tapi kenapa aku tidak?


"Hem," Aku hanya mampu tersenyum tak yakin. Tapi tetap saja mas Devan semangat untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya.


Aku tatap dirinya, ternyata meski di dapur tidak mengurangi ketampanannya, meski wajahnya terlihat belepotan karena bahan-bahan makanan yang menempel tetap saja tidak menghilangkan aura positif di wajahnya.


"Tampan sekali," Aku terpaku melihatnya. Tak berpikir tentang apa yang dia masak dan malah terpikir pada wajahnya yang tetap mempesona. Sungguh, idaman para wanita dan sekarang telah menjadi suamiku.


"Kenapa menatapku seperti itu, apakah sekarang sudah berubah menjadi superhero?" tanyanya yang kelewat nyeleneh. Mana mungkin berubah menjadi superhero, jadi Hulk gitu? Atau Spider-Man? Tidak mungkin kan.


"Apa sih, Mas. Jadi buaya kadal?" jawabku sekenanya.


"Nggak buntung kan?" jawabnya. Dia langsung terkekeh dengan istilahnya sendiri.


"Kalau buntung nggak mungkin bisa bikin b*nting. Hehehe!" Mas Devan semakin terkekeh. Sementara aku malah melotot karena ucapannya.


Kenapa suamiku jadi seperti ini? Ya Tuhan.


"Hahaha, lihatlah wajahmu dengan cermin, itu sangat lucu sekali. Sangat menggemaskan." Mas Devan semakin girang.


Apakah memang terlihat begitu lucu? Padahal aku yakin sangat buruk karena aku cemberut kesal.


"Tau ah!" Aku beranjak malas rasanya kalau menanggapi mas Devan yang sudah mulai di pintu erornya. Semakin masuk pasti semakin ngelantur omongannya mending tingal pergi.


"Yang, mau kemana?!" Mas Devan sedikit berteriak.


"Tau," jawabku dengan begitu acuh. Terus aku berjalan menuju ruang tengah, dan ternyata Ara sedang bermain di sana bersama para pelayan dan sus Neni.


"Bunda, bunda kenapa kok wajahnya nggak enak banget?" tanyanya.


Ini lagi, mana mungkin wajah akan enak.


"Maksudnya?" Aku duduk di sofa, wajahku seketika mengernyit meminta kepastian apa yang Ara katakan.


"Maksudnya, acem banget itu wajah Bunda. Bunda nggak habis makan jeruk lemon kan? Acem banget."


Makan jeruk lemon? Apakah wajahku terlihat begitu acemnya hingga Ara bisa menyamakan dengan jeruk lemon?


"Hahaha, mana ada?" Ara malah terkekeh dia terlihat begitu bahagia dengan apa yang aku katakan.


Aku ikut tersenyum dan rasa kesal itu seketika hilang, begitu lama aku tak melihat Ara yang tertawa lepas seperti sekarang. Semua beban terasa luruh begitu saja.


"Hem, ada dong," perkataan ku sudah berubah lebih hangat sekarang, tidak acuh seperti tadi. Aku juga langsung mendekat dan duduk di sebelahnya.


"Emang ada?" Ara terlihat begitu penasaran.


"He'em," Aku mengangguk.


Aku ikut mengambil mainan Ara yang ada dihadapannya, ya, sebuah pazel yang tengah disusun oleh Ara. Aku ikut bergabung menyusunnya.


"Oh iya, Bunda. Ara kapan bisa sekolah lagi?" tanyanya.


"Hem, kapan ya? Nanti tanya ayah dulu ya." jawabku. Sebenarnya bisa sih Ara kembali sekolah, dia sudah mulai membaik tapi aku masih sangat khawatir.


"Oke, Bunda." Ara kembali bermain, melanjutkan pazel yang tengah dia susun.


"Makan-makan!" Aku juga Ara menoleh bersamaan, bahkan para pelayan juga Sus Neni juga menoleh melihat mas Devan yang datang dengan membawa nampan.


Dia begitu bahagia, makanan yang dia buat sudah berhasil matang. Sudah matang, tapi bagaimana dengan rasanya, apakah juga berhasil?


"Princess ayah, Bunda, makan dulu sini. Ini makanan spesial dari ayah, sini." Mas Devan begitu semangat, meletakkan makanan itu di atas meja.


Aku dan Ara saling pandang, kami sama-sama ragu dengan hasil akhirnya. Apakah akan sangat enak, enak atau mungkin malah sebaliknya?


"Kok malah saling tatap-tatapan seperti itu, sini dong dan cicipi masakan ayah. Tadi ayah sudah cicipi dan rasanya enak. Semoga saja kalian juga akan menilai seperti itu."


Mas Devan tersenyum ke arah kami berdua. Menanti kedatangan kami dengan tak sabar.


"Sini," kembali dia meminta.


Tak ada pilihan lain kecuali datang dan mencicipi apa yang dia masak. Semoga saja enak.


"Ini untuk Ara, dan ini untuk Bunda. Kalau ini untuk ayah," satu persatu di letakkan di depan kami.


Tampilannya sangat menarik, semoga saja rasanya juga seperti itu.


"Bunda," Ara terlihat ragu dia berbisik padaku.


"Di coba dulu, siapa tau rasanya enak." Aku tersenyum menjawab Ara.


Ara mengangguk patuh, perlahan mulai menyuapkan pada mulutnya sendiri.


"Bagaimana, enak?" Mas Devan terlihat menunggu jawaban Ara dengan begitu tak sabar.


Ara masih diam, mencecap-cecap rasanya. Wajahnya terlihat begitu serius sebelum akhirnya dia tersenyum.


"Enak, Yah. Ayah pintar." Puji Ara. Wajahnya terlihat begitu girang.


Aku jadi penasaran dengan rasanya, Ara saja memujinya berarti rasanya memang sangat enak.


Perlahan aku mencicipi, Mas Devan terlihat tegang menunggu penilaian ku. Matanya begitu fokus dan sama sekali tak berkedip.


"Ba_bagaimana, enak kan?" pertanyaannya begitu pelan dan ragu.


Aku masih diam, benar-benar memahami bagaimana rasanya. Sebenarnya sangat aneh, tapi tidak terlalu buruk juga.


Aku mengangguk dengan senyum kecil, "enak," Jawabku.


Mas Devan terlihat bernafas dengan sangat lega, bahkan dia sampai menyandarkan punggungnya karena merasa begitu plong. Mungkin dia begitu puas karena akhirnya usahanya berhasil bisa di nikmati.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...