
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
'Anak ibu sudah bisa dipindahkan di ruang rawat, tetapi dia juga harus tetap menjalani pemeriksaan yang lebih lanjut karena kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada anak anda.'
Kalimat itulah yang terakhir kali dikatakan oleh dokter sebelum akhirnya Ara dipindahkan ke ruang rawat, dan kami bisa menjaganya bersama.
Mas Devan juga terlihat sangat khawatir dengan keadaan Ara yang seperti ini, dan tentunya dia berpesan kepada dokter untuk melakukan hal yang terbaik untuk kesembuhan Ara.
Tidak pernah berpaling aku dari arah dan terus berada di sampingnya meski sampai sekarang dia belum sadarkan diri juga. Aku akan selalu menunggu sampai nanti dia bangun.
Mas Devan yang seharusnya pergi ke kantor saat ini dia terus berada di sini, Di ruang rumah sakit ini untuk menemaniku menjaga Ara. Sungguh aku sangat beruntung memilikinya.
Jika saja tidak ada Mas Devan bersamaku saat ini mungkin aku benar-benar sangat bingung dan rapuh tentunya juga sangat sedih melihat keadaan anakku yang terlihat begitu sangat menyedihkan.
"Dengan orang tua Ara," seorang suster datang dan hanya berdiri sampai di depan pintu saja tidak benar-benar masuk. Mas Devan lebih dulu berjalan menghampirinya setelah mendengar panggilan dari suster tersebut.
"Dokter memanggil anda untuk pergi ke ruangannya. Ada yang ingin dokter bicarakan dan ini sangat serius mengenai sakit yang diderita oleh anak anda,'' ucap suster menjelaskan.
Mas Devan menoleh sejenak ke arahku seolah meminta izin untuk dia yang pergi, tetapi karena rasa penasaran yang sangat besar membuatku untuk ikut bersama Mas Devan untuk bisa mendengarkan penjelasan dari dokter mengenai sakit yang diderita oleh Ara.
"Tidak, aku harus ikut," aku bergegas berdiri dan menghampiri Mas Devan yang masih menoleh ke arahku.
Mas Devan terlihat sangat khawatir melihatku yang begitu kekeh untuk ikut, mungkin dia sangat takut jika akan terjadi sesuatu padaku setelah mendengar kebenaran tentang Ara saat ini.
"Tapi, Nay?" mas Devan sangat ragu dan itu terlihat sangat jelas di wajahnya.
"Tidak, aku harus ikut."
Saking yakinnya untuk ikut aku berjalan mendahului Mas Devan yang masih sangat ragu.
"Mari Sus," ajak ku. Aku terus berjalan mendahului dan saat itu juga suster juga berjalan berada di sampingku.
"Sus Neni, tolong jaga Ara di sini sampai kami kembali," titah mas Devan yang aku dengar tapi aku tak lagi menoleh.
Tak lama setelah suara itu aku dengar langkah kakinya yang terdengar sangat berat. Mas Devan tentu langsung mengikuti kami hingga sampai ke ruangan dokter yang suster katakan.
Sampailah kami di ruangan dokter yang tadi memeriksa Ara. Ternyata dia sudah menunggu dan duduk di kursi kebesarannya.
Beliau tersenyum, tangannya terulur untuk meminta kami berdua duduk di hadapannya dan itupun langsung kami lakukan.
Sementara suster tadi? dia sudah kembali bekerja setelah mengantarkan kami sampai depan pintu.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" aku begitu tak sabar hingga langsung bertanya tentang apa yang terjadi.
Kertas hasil laporan tes Ara beliau keluarkan, dia mulai fokus membaca dan mungkin mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Aku sudah begitu gak sabar, jantung ku bekerja lebih cepat dari biasanya hanya karena menunggu hasil tes kesehatan Ara.
Takut, khawatir dan juga gelisah mungkin sangat jelas di wajahku sampai-sampai mas Devan tidak henti-hentinya memberiku kekuatan dengan mengelus punggungku.
Mas Devan sendiri juga terlihat jelas kalau dia khawatir, dia juga terus fokus menunggu meski sesekali matanya melihat ke arah ku.
"Bagaimana, Dok. Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak kami," kini mas Devan yang berbicara, mungkin dia juga sudah tidak sabar.
Dokter mengangkat wajahnya dengan aura yang sangat berbeda dari yang sebelumnya. Senyumnya tadi pudar dan membuat kami yakin ada yang tidak beres yang telah terjadi pada Ara.
"Dari hasil yang sudah kami dapat. Anak ibu, anak Ibu menderita leukimia," ucap dokter cantik itu.
Ara terlihat baik-baik saja kemarin, dia terlihat sehat-sehat saja dan bagaimana bisa penyakit itu datang begitu saja di tengah-tengah kebahagiaan yang akhir-akhir ini kami rasakan.
"Tidak mungkin, dokter pasti salah kan? Coba cek lagi yang benar, dokter pasti salah baca."
Wajah terus menggeleng karena tak percaya, tangan tubuh bergerak sesuai keinginannya sendiri mendekati dokter supaya kembali membaca ulang hasilnya.
"Dokter pasti salah," kataku lagi. Air mata sudah mulai terjun bebas sekarang setelah mendengar kenyataan ini, ini sangat berat untukku.
"Maaf, Bu. Inilah yang terjadi, saya tidak salah membacanya. Anak ibu benar-benar menderita penyakit leukemia."
Dokter begitu menjelaskan tapi aku masih saja tidak percaya karena berharap semua itu adalah kabar yang tidak benar.
Leukemia, bagaimana mungkin Ara mengalami kelainan darah yang seperti itu. Semua aku pastikan baik, semua makanan, lingkungan semua sudah aku pastikan tidak ada yang tidak baik bagi anak kecil, tapi kenapa Ara bisa mengalami hal itu?
Hati ibu mana yang tidak berduka dengan kenyataan pahit yang di dapatkan dari anak tercintanya. Semua aku lakukan demi kesehatannya, dan sekarang?
"Mas, ini tidak benar kan? Ara tidak mungkin mengalami hal ini kan?" Aku menoleh ke arah mas Devan yang terlihat seksi kalau dia juga terpukul.
Ini bukan hanya kenyataan pahit untukku saja, tapi juga untuk mas Devan yang sudah menjadi sosok ayah untuk Ara. Mas Devan benar-benar memberikan kasih sayangnya dan dia juga selalu pastikan Ara bahagia, tapi sekarang?
"Bersabarlah, kamu harus kuat. Aku akan Ara akan sembuh, kita berjuang bersama-sama untuk membuat dia sembuh dan sehat lagi. Kamu harus bisa kuat."
Mas Devan merengkuh kepalaku, dia tenggelamkan di dadanya dan terasa berkali-kali aku mendapatkan kecupan. Aku yakin mas Devan juga tengah menahan rasa yang sangat luar biasa, terdengar dari suaranya yang sedikit parau.
"Ini tidak mungkin," kataku lagi. Air mata terus saja mengalir meski sudah ada di dalam dekapan mas Devan yang kini selalu ada di setiap keadaanku.
"Saya mohon, Dok. Lakukan apapun yang terpenting anak kami bisa sembuh. Tidak peduli berapapun biayanya saya akan bayar tapi sembuhkan anak kami," ucap
Mas Devan pada dokter.
Sementara aku, aku tak mampu untuk berkata-kata lagi, aku masih terus sesenggukan di pelukannya.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin, Pak."
"Lakukan apapun yang terbaik untuknya," Mas Devan kembali bersuara, kata-kata yang keluar terdengar sangat menekankan kepada dokter itu.
"Baik, Pak. Kami akan selalu usahakan yang terbaik," suara dari dokter pun juga terdengar sangat tegas mengisyaratkan kalau dia juga akan melakukan apa yang mas Devan minta.
Dengan rasa tak percaya dan kesedihan aku menjauh dari mas Devan, melepaskan diri dan bergerak untuk kembali ke ruangan Ara.
Kaki melangkah dengan lesu, tatapan mata juga seolah tak kuasa untuk terbuka.
"Sayang," panggilan mas Devan aku dengar tapi aku abaikan.
"Saya permisi, Dok," suara mas Devan yang berpamitan pun juga aku dengar tapi tetap tetap saja aku abaikan.
Aku hanya diam meski mas Devan sudah merangkul ku, mengikuti ku yang terus melangkah kembali ke ruangan Ara berada.
"Kamu tenang saja ya sayang. Akan aku pastikan Ara mendapatkan yang terbaik di sini. Kalau perlu kita ke Singapura atau manapun yang terpenting bisa membuat Ara kita sembuh. Kamu jangan khawatir, ada aku bersamamu."
Aku tetap diam.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....