Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Sedikit Perkataan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Rasanya begitu tidak percaya melihat Pak Devan yang begitu lahap memakan sarapan yang aku buat tadi pagi. Aku pikir lidahnya akan sedikit melenceng seperti pikirannya dan tidak akan menerima makanan murahan dari orang seperti itu, tetapi ternyata tidak! Dia begitu menikmati bahkan sampai habis tak tersisa meski hanya sebutir nasi.


"Kenapa melihat ku seperti itu?" Matanya memicing seolah tidak suka dengan tatapan mataku yang begitu banyak tersimpan rasa. Antara kesal juga tidak percaya bahkan masih banyak yang lain.


"Apakah aku begitu mempesona?" Sepertinya otaknya yang error kembali lagi setelah dia kenyang. Akan semakin jengah aku berhadapan denganmu.


Seandainya bukan karena aku masih membutuhkan pekerjaan dan juga biaya untuk kehidupan sehari-hari maka aku akan lebih memilih melarikan diri dari pekerjaan ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini pekerjaan satu-satunya yang aku dapat.


"Kalau kamu tertarik padaku maka bilang saja. Aku akan pertimbangan, sungguh!"


Kepercayaan dirinya begitu besar. Dia mengatakan itu dengan begitu santai dan tidak melihat bagaimana wajahku saat ini rasanya ingin marah dan mencakar wajahnya yang tampan itu namun terlalu kepedean.


Setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Mas Aditya kepadaku aku menjadi begitu sensitif jika ada laki-laki yang akan mendekat. Aku merasa sangat kesal dan ingin menjauh sejauh-jauhnya bahkan meski Dia adalah orang baru atau orang yang tidak aku kenal.


Mungkin ini yang dinamakan trauma, ya! Aku sangat trauma dengan cinta yang akan menjadi penyakit untuk hatiku.


"Sepertinya Bapak terlalu percaya diri, tetapi saya maklumi itu karena tidak ada orang yang tertarik dengan bapak bukan? Makannya bapak terus mengatakan seperti itu dan terus mengganggu supaya saya bisa dekat dengan bapak. Entah ini benar atau tidak tetapi saya berharap ini tidak benar."


Begitu kilat mata Pak Devan melirik ke arahku dan sepertinya semburat amarah sudah langsung terlihat di matanya.


Prank...


Dengan kasar dia langsung melemparkan Tupperware kosong yang ada di tangannya, sepertinya dia benar-benar marah. Mungkin dia tersinggung karena apa yang telah aku katakan.


"Berani sekali kamu bicara seperti itu?"


Kini Pak Devan sudah berdiri dengan penuh arogan. Sepertinya dia akan memberikan masalah untukku hari ini. Aku sadar aku salah karena ucapan_ku terlalu nyelekit dan itu pasti sangat melukai hatinya.


"Sepertinya kamu benar-benar menantang saya, Nay."


Dengan langkah pelan namun pasti pak Devan mendekat dan akhirnya berhenti di hadapanku dan terlihat begitu sangat marah.


"Tak masalah tak ada yang tertarik kepadaku yang terpenting aku bahagia dan aku kaya. Jika aku mau aku bisa membeli wanita seperti apapun termasuk kamu. Tapi kamu? Perempuan gak jelas yang memiliki anak yang entah siapa ayahnya."


Sebenarnya Pak Devan orangnya sangat baik dia akan berlaku seperti apa orang yang ada di hadapannya. Jika dia baik maka Pak Devan akan menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya kalau dia begitu angkuh dan keras kepala maka Pak Devan bisa melakukan hal yang lebih parah daripada dirinya.


Nyatanya aku hanya mengucapkan sedikit kata untuk menyinggung pribadinya dia malah lebih parah menyinggung bahkan meragukan kepribadianku.


Aku juga tidak tahu kenapa aku berubah menjadi seperti ini hanya karena satu orang laki-laki yang menghianatiku kini aku membenci semua laki-laki yang ingin mendekatiku. Kenapa semua laki-laki harus ikut menanggung kesalahan dari orang yang tidak bertanggung jawab itu.


"Seharusnya kamu ngaca terlebih dahulu sebelum berbicara. Kamu lihat kehidupan lebih dulu sebelum kamu memberikan kritikan untuk orang lain."


Kini aku menunduk karena merasa bersalah. Ya! Aku memang bersalah karena telah mengeluarkan kata yang menyinggung perasaan orang lain. Bahkan orang itu adalah bos_ku sendiri dan orang yang membuat Ara bahagia kemarin.


"Ingat, Nay. Kamu berada di sini karena aku masih punya hati. Jika suatu saat hatiku telah hilang maka kamu tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di perusahaan ini lagi. Bahkan mungkin kamu tidak akan bisa bernafas dengan bebas seperti saat ini."


Ancamannya begitu menakutkan. Mungkinkah aku memang begitu keterlaluan?


Pak Devan melenggang untuk keluar dari ruanganku dengan membawa amarah yang sangat besar hingga ketika dia melihat tupperware yang ada di hadapannya langsung di tendang hingga begitu jauh. Pak Devan benar-benar sangat marah.


"Kenapa aku jadi seperti ini?" gumam ku. Aku tertutup di kursi yang tadi diduduki oleh Pak Devan memijat pelipis yang terasa sangat pusing. Aku sangat lelah dengan perubahan yang seperti ini kenapa rasanya begitu susah untuk bisa mengendalikan diri dan benar-benar bisa melupakan apa yang penghianat itu lakukan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Aku menghela nafas panjang dan menenangkan hati ketika ingin masuk ke dalam ruangan Pak Devan untuk menyampaikan jadwal yang akan berjalan pada hari ini.


Aku begitu ragu untuk masuk ke dalam ruangannya, aku sangat yakin kalau Pak Devan masih sangat marah kepadaku. Tetapi seperti apapun hubungan pribadi kami pekerjaan harus tetap berjalan karena menyangkut kemajuan perusahaan dan juga nasib dari para buruh yang berjumlah ribuan orang.


"Permisi," aku masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mungkin karena aku begitu gugup jadi meletakkan kebiasaan yang sebenarnya sudah menjadi aturan.


Aku melihat ke segala penjuru karena tidak melihat Pak Devan ada di kursi kebesaran, Apakah dia pergi karena marah kepadaku?


"Pak, permisi," aku semakin masuk untuk mencari keberadaan Pak Devan seandainya tidak ada aku hanya ingin meletakkan berkas yang aku bawa ke atas meja.


Sama sekali tidak aku lihat Pak Devan ada di mana ruangan itu sepi senyap seolah tak berpenghuni.


"Apa mungkin Pak Devan sedang keluar? Ataukah mungkin dia pergi dan menjauh dariku karena dia marah akibat ucapan dan ku tadi?"


Aku hanya bisa menerka-nerka apa yang menjadi kemungkinan bisa saja benar namun juga bisa saja salah. Lepas dari pikiranku saat ini yang jelas aku merasa sangat bersalah apa yang aku katakan padanya itu bukan hal yang benar. Semarah apapun diriku kepada mas Aditya tidak seharusnya orang lain juga kena getahnya. Aku yang salah.


"Aku akan datang lagi nanti kalau pak Devan sudah kembali."


Kuletakkan seperti yang ada di tanganku di atas meja kerjanya Pak Devan dan aku seketika bergegas untuk keluar dan kembali ke ruangan untuk melakukan pekerjaan yang lainnya.


Tetapi belum juga aku berhasil keluar dan hanya tinggal beberapa langkah lagi ke pintu aku mendengar suara dari ruangan pribadi Pak Devan.


Bugh....


Suara itu begitu keras aku dengar entah dari apa suara itu namun aku begitu takut terjadi sesuatu pada Pak Devan dan akhirnya aku berlari masuk ke dalam ruangan pribadi milik bos_ku tersebut.


"Pak!" Aku berlari membuka pintu dengan cepat namun ketika sampai di dalam ruang pribadi yang berupa kamar untuk istirahat itu Aku tidak melihat siapapun termasuk Pak Devan, lalu suara dari apa yang tadi aku dengar.


"Pak, Pak Devan!" Aku berteriak memanggil dan aku sudah masuk begitu saja.


Brakk...


Seketika aku terperanjat dan membalik badan ku ketika pintu tertutup dengan keras. Aku melihat Pak Devan yang ada di sana bahkan dia berdiri dengan menyeringai penuh tujuan dan dia juga mengunci pintu.


"Pa_pak..., ke_kenapa bapak mengunci pintunya?" Aku sudah mulai takut karena merasa bahwa Pak Devan memiliki rencana buruk terhadapku.


"Kenapa, Nay. Kenapa kamu begitu takut dimana keberanian mu yang tadi," Pak depan semakin menyeringai dan kini perlahan melangkah maju mendekatiku.


Seketika aku mundur untuk menjauh darinya aku begitu takut bahkan benar-benar sangat takut kalau Pak Devan akan melakukan sesuatu kepadaku.


"Kenapa kamu terus menjauh dariku, sini mendekatlah aku hanya ingin memberimu sesuatu."


Aku tidak peduli dan melangkah mundur supaya bisa menjauh darimu dan berusaha menghindar dari segala rencana buruk mungkin dia lakukan terhadapku.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....