Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Bertemu Mantan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Mataku beralih ke arah pintu ketika pintu terbuka, pak Devan yang membukanya dari luar. Benarkah dia akan memecat ku sekarang? Apakah benar dia tidak menginginkan aku bekerja di sini lagi?


Aku tatap dengan penuh keberanian, aku sama sekali tidak takut. Sekarang aku akan selalu menegakkan kepala ku kepada siapapun, aku tidak mau di rendahkan oleh siapapun meski itu adalah atasan ku sendiri.


"Sebagai hukuman karena kamu terlambat kamu harus mengikuti ku seharian ini, kamu tidak boleh pulang sebelum aku mengizinkan."


"Dan ya, siang nanti ada meeting dengan kolega baru dari perusahaan Pratama, dan sore ada acara reuni SMA kamu harus ikut dengan saya."


Perkataannya begitu dingin namun begitu menegaskan.


"Ta..."


"Tidak menerima protes dan tidak menerima penolakan, kalau kamu memang masih mau bekerja di sini ikuti perintah ku, kalau tidak ya silahkan kamu bereskan barang-barang mu dan keluar dari sini."


Aku masih melongo belum juga menjawab dan pak Devan sudah kembali keluar sepertinya aku benar-benar tidak bisa menolak lagi.


Pak Devan sama sekali tidak menoleh dan tidak berhenti meski hanya sejenak pasti karena tidak mau mendengar alasanku.


"Bagaimana ini, aku harus pulang lebih awal kan? Kalau tidak Ara pasti akan sedih. Hem, semoga saja selesainya tidak malam dan aku masih tetap bisa mengajak Ara ke taman."


Aku benar-benar sangat takut, Ara pasti akan sangat sedih dan kecewa jika aku tak jadi mengajaknya ke taman.


Tapi bagaimana, aku masih sangat membutuhkan pekerjaan ini aku tidak mungkin keluar dan bisa menemukan pekerjaan yang lebih dari ini dan juga dalam waktu yang singkat.


"Maafkan bunda ya nak, semoga saja bunda bisa pulang tepat waktu dan bisa mengajakmu ke taman," Gumam ku.


Aku pijat pelipis ku, rasanya begitu penat. Baru dua hari saja sudah seperti ini rasanya bagaimana kalau sampai bertahun-tahun? Apakah aku akan kuat hingga selama itu menghadapi pak Devan?


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Aku terus bersikap profesional dalam menjalani pekerjaanku, aku tidak suka basa-basi dan tidak suka berbicara hal yang tidak penting. Biar saja pak Devan menganggap ku wanita yang angkuh, itu adalah hak dia.


Di dalam perjalanan kami hanya diam, saling sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku kembali memeriksa berkas yang akan di gunakan dalam meeting yang sebentar lagi sementara pak Devan dia fokus menyetir.


Aku tidak tau apa tujuannya padahal dia ada sopir tapi kenapa malah memilih menyetir sendiri dan sekarang hanya pergi berdua saja. Semoga tak ada niat buruk di kepalanya.


"Nay, suamimu kerja apa?"


Aku menoleh malas, suami? Aku paling malas kalau membahas dia lagi. Ingin aku lupakan dia bahkan jika bisa Ara pun juga harus melupakannya. Bukankah dia tidak pernah ada untuk kami?


"Bukan urusan bapak," Jawabku ketus.


"Atau jangan-jangan apa yang aku pikirkan itu benar?"


"Bukan urusan bapak juga."


"Apa kamu ada masalah dengan suamimu sampai-sampai setiap aku tanya tentangnya kamu terlihat sangat kesal, apakah dia benar-benar ada?"


Kenapa aku merasa pak Devan begitu cerewet saat ini, dia terus saja bertanya hal-hal yang tidak penting.


"Maaf, pertanyaan bapak di luar pekerjaan jadi tidak akan ada jawaban," Jawab ku semakin ketus aku semakin tak suka kalau ada yang terus mengulik kebenaran ku hingga terlalu jauh.


"Oke," Pak Devan kembali fokus dia tak lagi berbicara lagi.


Hingga sampai di tempat acara meeting pak Devan terus diam dia benar-benar tidak bertanya apapun lagi. Alhamdulillah kalau dia mau profesional.


Sampai di salah satu kafe langkah kami mulai masuk. Aku berjalan di belakang pak Devan dengan membawa berkas juga laptop kerjaku.


Langkahnya begitu cepat aku begitu susah untuk mengejarnya. Meskipun aku memakai celana tetap saja tak bisa menyamakan langkah kakinya. Apalagi kakinya begitu jenjang.


Di sinilah kami di ruangan VIP tempat yang sudah di pesan khusus untuk meeting dengan kolega baru yang katanya dari perusahaan Pratama.


"Apa kamu mau memesan makanan dulu?" Tanyanya.


"Ti..."


"Mbak!" Teriaknya. Belum juga aku selesai menjawab dia lagi-lagi memotongnya. Kalau akhirnya akan memesan tanpa izin kenapa harus pakai bertanya?


"Lemon tea dua dan spaghetti dua." Ucapnya.


Nih orang benar-benar deh, dia tidak bertanya dulu apa yang ingin aku minum dan apa yang mau aku makan tapi dia sudah pesan begitu saja? Dasar!


"Baik,Tuan," Mbak pelayan itu mencatat apa yang menjadi pesanan pak Devan kemudian kembali pergi.


Terlihat pak Devan sedikit tersenyum sementara aku hanya acuh saja dengan berkas yang sudah aku keluarkan dan kembali aku periksa. Aku sama sekali tidak ingin melakukan kesalahan ini adalah meeting ku yang pertama bersama pak Devan. Semoga tidak akan mengecewakan.


"Selamat siang pak Devan," Terdengar ada orang yang datang dan langsung menyapa.


Deg...


Jantung ku seketika berdetak, aku mengenal suara itu benarkah dia orang yang sama? Aku mengangkat wajahku memastikan orang yang datang dan yang sudah bersalaman dengan pak Devan dan saling menyapa.


"Selamat siang Pak Aditya."


'Aditya?' batinku.


Mataku semakin memaku melihatnya. Wajahnya sedikit berbeda dia lebih bersih dan juga lebih berisi sekarang. Senyumnya, bagaimana dia bicara, dan juga suaranya masih sama.


"Nay, kenalkan dia adalah pak Aditya Wilman. Pemimpin di perusahaan Pratama menantu tuan Pratama."


Luka begitu cepat kembali, gejolak amarah begitu besar dan ingin sekali aku menamparnya. Memberikan pelajaran pada laki-laki tak bertanggung jawab seperti dirinya.


Aku berdiri dengan perlahan mata tak pernah lepas yang penuh dengan kemarahan dan kebencian. Biarkan saja semua orang tau, apalagi pak Devan, biar saja dia tau kalau orang yang dia banggakan sekarang ini tak lebih dari pengkhianat.


Mas Aditya juga terlihat terkejut melihat ku, matanya membulat dan senyumnya sudah pudar.


"Nay, dia adalah kolega baru kita."


Aku seolah tak peduli dengan apa yang di katakan oleh pak Devan, mataku masih fokus dengan mas Aditya yang terdiam, mungkin dia syok dan tak percaya kalau akhirnya akan bertemu dengan ku. Mantan istrinya yang dia ceraikan dengan sepihak.


Aku mendekat dan tangan ku perlahan terangkat di hadapan semuanya. Aku yakin pak Devan mengira aku akan menyalaminya tapi bukan itu yang ingin aku lakukan.


Plakkkk....


Sekali tamparan di wajah mas Aditya mengejutkan semua yang ada di sana termasuk pak Devan.


"Nay! kamu sadar apa yang kamu lakukan!?" Mata pak Devan melotot ke arahku tapi aku tak peduli. Aku puas melakukannya.


Rasa sakit akibat sekali tamparan ku tak bisa di bandingkan dengan luka yang begitu dalam yang dia torehkan padaku.


Air mataku mengalir deras setelahnya, ada rasa puas tapi ada rasa menyesal. Aku tidak menyesal karena telah memukulnya tapi aku menyesal karena aku ikut dengan pak Devan dan bertemu dengan nya.


"Maaf, saya harus pergi," Aku sambar tas ku juga semua berkas dan juga laptop ku. Aku cepat berlari.


"Nay, Nay!" Pak Devan terus memanggilku tapi aku tetap acuh. Aku terus berlari dengan tangis yang susah berhenti.


"Pak, maaf atas perlakuan sekertaris saya. Untuk pertemuan ini kita tunda saja. Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bisa melanjutkan meeting tanpa sekertaris saya," Suara pak Devan masih aku dengar namun aku tetap tak peduli.


"Nay!" Terdengar langkah kaki yang cepat dan semakin cepat aku yakin itu pak Devan. Sementara mas Aditya, aku tak mendengar suaranya. Dia benar-benar seorang pengecut bukan?


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....