Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kerak telor



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


POV AUTHOR...


"Hem..., parah bener nih ya. Baru saja hari kedua jadi pengantin udah di minta nyariin kerak telor. Mana ada jam jam segini?"


Devan terus ngedumel ketika melangkah keluar dari hotel dimana dia berada dengan Nayla yang baru kemarin menjadi istrinya. Bagaimana tidak? Dia sangat ingin bisa menghabiskan waktu berdua dengannya selama tiga hari ini di hotel tersebut tapi dia malah harus mencari makanan khas Betawi itu.


Mungkin bagi siapapun akan mudah mencari karena mereka tau di mana letak-letak para penjual itu menjajakan yang namanya kerak telor itu.


Baru saja beberapa menit Nayla memintanya bahkan dia sampai nangis-nangis karena Devan awalnya tak mau mencarikan dengan alasan dia hanya mau menghabiskan waktu dengannya saja tanpa gangguan apapun tak peduli itu adalah ngidamnya Nayla yang otomatis anaknya sendiri yang minta.


Melihat Nayla terus merengek dan menangis membuat Devan akhirnya luluh juga dan mau mencarikan makanan itu meski dia tidak tau di mana tempatnya. Tapi akan dia usahakan untuk bisa mendapatkannya, lagian Devan juga tidak mau kalau anaknya akan jadi ileran.


Dengan ponsel di tangan Devan sembari melangkah, mencari-cari tempat dimana biasanya orang menjualnya makan tersebut. Mana Nayla mintanya yang masih anget lagi? Jadi Devan tidak bisa mencari di tempat-tempat sembarangan harus dia tau ketika membuatnya.


Setelah mendapat tempat yang menjadi tujuannya Devan segera melangkah dengan tergesa-gesa jelas dia tidak mau berlama-lama keluar dia ingin cepat dan bisa bersama dengan Nayla lagi.


Mobilnya mulai berjalan meninggalkan hotel, dengan tekat yang besar untuk membeli kerak telor yang Nayla inginkan saat ini.


Sebenarnya sangat ogah untuk bisa masuk ke tempat-tempat yang sembarangan apalagi belum tentu higenis katanya, tapi mau bagaimana lagi kalau Nayla sudah meminta dengan mengatasnamakan ngidam? Dia tidak akan bisa berbuat apapun lagi kecuali memberikan apa yang dia inginkan.


"Inilah susahnya punya bini lagi hamil. Kalau minta harus di beri entah itu apapun. Kalau nggak di beri ujungnya pasti akan nangis, hem..."


"Tapi kan kamu sendiri yang salah, Dev. Kalau kamu tidak mau repot seharusnya jangan buat dia hamil lah, kamu yang bikin kamu jugalah yang pantas kerepotan masak orang lain?"


Devan terus berargumen dengan dirinya sendiri ketika mobil terus berjalan. Sejenak dia merasa di repotkan hingga dia sangat kesal rasanya tapi itu tak lama karena setelahnya dia terlihat tersenyum.


"Tapi rasanya begitu bahagia bisa memberikan apa yang dia mau, rasanya seperti seorang pahlawan super. Hem, apalagi melihat dia senang dan tersenyum ketika mendapatkan apa yang dia mau? Rasanya sangat puas."


"Hem, aku tidak sabar melihat ketika dia tersenyum senang dan akhirnya memeluk ku atau bahkan mencium ku setelah aku beri."


"Nay Nay, kamu benar-benar membuat ku seperti orang gila. Lihatlah, bahkan sekarang aku bicara sendiri."


Ternyata dia sangat menyadari akan hal itu. Bicara sendiri meski dia sedang fokus dengan menyetir, matanya terus fokus pada jalanan sementara pikirannya hanya tertuju pada Nayla saja yang mungkin sekarang sedang menunggu akan kepulangannya dengan membawa apa yang dia mau.


"Nah, itu dia," hingga tak berapa lama akhirnya mata Devan melihat penjual yang ada di pinggir taman. Terlihat ada beberapa pembeli yang sedang menunggu.


Devan seketika menepikan mobil lalu turun, melangkah cepat untuk menghampiri penjual itu.


"Pak beli kerak telornya satu ya. Bisa cepat nggak pak?" tanyanya.


Sontak orang yang sudah datang lebih dulu menoleh ke arahnya.


"Itu kan sudah jadi, nggak apa-apa dong saya duluan. Kamu kan perempuan, pastilah bisa menunggu lagi."


"Kenapa kalau laki-laki? Emangnya laki-laki tidak bisa menunggu?" mulai terpancing akan amarah karena perkataan Devan.


"Saya buru-buru, Mbak."


"Saya juga buru-buru, Mas! Mas warga negara yang baik kan? Jadi budayakan antri dengan baik," suaranya semakin sinis.


"Tentu saya warga negara yang baik lah," Devan juga makin senewen.


Devan yang memang sebenarnya tak punya rasa sabar ya beginilah jadinya. Dia gak biasa antri seperti ini karena biasanya apapun yang dia ingin pasti dia dapatkan dengan mudah. Tapi sekarang? Hem, apakah Devan mampu bersabar?


"Nih, Mbak," benar, dan pak penjualnya menyerahkan itu pada mbak yang berdebat barusan dengan Devan.


Mata Devan membulat seolah tak terima begitu saja.


"Pak, kenapa dia dulu?" protes Devan.


"Yo kamu tuh antri dong, Mas. Mbaknya juga antri dari tadi. Katanya mas warga negara yang baik, ya salah satunya harus antri," suara pak penjual itu terdengar serak-serak santai. Baginya semua pembeli sama saja tak ada yang di bedakan jadi entah laki-laki atau perempuan kalau datang dulu ya harus dapat pelayanan lebih dulu.


"Ih, Pak...."


"Ojo sewot mas, ojo sensian. Mengko cepet tuo." kata penjual itu dengan nada yang sama, benar-benar santai seolah gak ada beban padahal Devan sedang ingin mengeluarkan kata-katanya tapi sudah langsung di putus begitu saja.


Dengan kesal Devan duduk di salah satu bangku tapi sebelumnya dia lihat dulu bangkunya bahkan dia juga mengambil sapu tangan dia gunakan untuk mengelapnya setelah itu sapu tangan itu dia lempar ke tong sampah.


"Setelah itu saya ya, Pak. Dan ya! Saya minta yang higenis itu yang buat masak di cuci dulu sampai bersih dan pastikan tidak ada kotoran atau debu. Oh iya, jangan buatnya yang enak banyakin taiping nya. Banyakin bawang gorengnya dan juga saya minta di tambah abon yang banyak," pesannya.


"Hem, iyo mas." jawab pak penjual pasrah. Kalau dapat pelanggan cerewet gini rasanya ingin di ceplokin telur tuh wajahnya.


"Eh! satu lagi, jangan sampai gosong dan harus benar-benar enak," imbuhnya lagi.


"Daripada pesan banyak maunya gitu mending bikin sendiri kali, Mas."


"Diam kamu!" jengkel Devan pada pembeli perempuan yang lain lagi, sepertinya teman yang tadi karena dia juga masih menunggu di sana.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...