
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Akhirnya bisa kembali lagi di rumah yang akan menjadi tempat aku pulang dari manapun. Kemanapun pergi di tempat inilah aku akan kembali.
Nafas ku keluar begitu perlahan seraya mata melihat rumah yang ada di depan mata. Memandang dengan takjub namun juga dengan rasa tak percaya. Benarkah mulai sekarang di sini aku dan anakku akan tinggal?
Bernaung dan juga berlindung dari semua marabahaya yang akan di akibatkan oleh alam? Contohnya perubahan cuaca yang tidak menentu dan sering sekali berubah tanpa bisa diprediksi.
Semua sudut tidak ada satupun ketinggalan dari jangkauan mata yang terus menatapnya. Setiap inci tempat dan segala ruangan tidak ada yang terlewatkan dan menumbuhkan rasa kekaguman yang sangat besar.
Perlahan aku melangkah mengikuti naluri yang akan membawa ke mana mana arah kakiku pergi. Aku abaikan Pak Devan juga Ara yang pasti melihatku dengan rasa bingung yang sangat besar karena melihat apa yang aku lakukan.
Namun tidak lama langkah kaki aku dengar tepat tepat berada di belakangku, dan aku sangat yakin bahwa itu adalah mereka berdua ke mana aku pergi.
Hingga akhirnya langkah berhenti di titik tengah dari halaman yang sangat luas. Aku lihat semua sekeliling bahkan aku berputar supaya tidak terlewatkan satu sudut pun. Mungkin aku memang sangat norak, tapi inilah aku sekarang. Di bawah rasa tak percaya.
Kemarin aku datang hanya bagaikan seorang sandera yang akan di kurung di dalam rumah oleh pak Devan, tapi sekarang? Sekarang aku datang sebagai istri, sebagai nyonya rumah ini.
Kaki yang hanya beralasan sepatu flat ini kembali melangkah, mengayunkan dan membuat baju yang aku pakai berwarna biru dengan pita di perut ini terombang-ambing begitu indah. Apalagi di tambah dengan hembusan angin yang begitu halus.
Ku naikkan lagi tas selempang yang hampir terjatuh ke atas bahu, ku singkirkan poni yang teribas dan bergerak memenuhi wajah dan ku selipkan di antara telinga.
Alhamdulillah...
Rasa syukur yang harus aku ucapkan sekarang. Setelah semua yang telah aku lewati dan sekarang semua telah terganti, berat jalan hidup ku sekarang menjadi ringan, kesusahan ku selama ini sekarang sudah berubah menjadi kebahagiaan dan juga rasa takut kini berubah menjadi ketenangan.
"Bunda," panggilan lembut begitu menyapa telinga yang baru saja mendengar semua kejadian alam dan berusaha membedakannya, dan sekarang aku dengar suara Ara yang telah memanggilku.
Kaki berhenti sebelum sampai di sisi kolam ikan dan melihat kebahagiaan hidup mereka yang begitu bebas dan terlihat sempurna.
Aku menoleh, terpaku sejenak masih dalam rasa yang penuh tak percaya. Aku melihat sosok yang berdiri di belakang Ara, menempatkan kedua tangan di atas bahu Ara untuk menahannya supaya tidak bergerak apalagi berjalan. Dia adalah pak Devan.
Laki-laki yang telah memilih ku untuk menjadi pendamping hidupnya tanpa melihat keadaan dan juga statusku.
Memberikan kasih sayang yang sangat besar dan penuh ketulusan meski awalnya sangat tidak baik. Tapi, mungkin itulah yang di namakan takdir.
Senyumnya terpancar indah dari bibirnya yang merah, menghiasi wajah tampannya yang begitu sangat mempesona. Membuatnya terlihat begitu sempurna sebagai seorang laki-laki dewasa.
Rambutnya yang lebat, alisnya yang hitam lebat juga, hidung yang mancung dan juga bibirnya, semua sangat pas pada takarannya.
Butakah mataku kemarin sehingga tidak melihat kesempurnaannya saat ini? Matanya, menyorot begitu penuh ketulusan dan juga membawa sebuah harapan dan juga tekat yang kuat, entah apa yang selalu menjadi tujuannya.
"Bunda kenapa?" Ara, si kecil itu sangat gak mengerti apa yang akku lakukan. Bahkan aku sendiri juga tak begitu mengerti dengan semua ini, akui bingung tapi aku hanya ingin bisa melihat semua sudut sebelum masuk ke rumah ini.
Aku menggeleng lembut, tersenyum kecil lalu melangkah menghampirinya.
"Tidak apa-apa, bunda hanya ingin lihat-lihat saja," jawabku dengan berusaha untuk bisa membuatnya yakin.
"Oh, Ara pikir bunda kenapa. Kita bisa masuk sekarang?"
Tangannya terangkat dan langsung meraih jari telunjuk di tangan kananku. Menariknya pelan untuk berjalan dan satu tangannya meraih tangan pak Devan, juga menggandengnya sama.
Lengkaplah hidup kami.
Senyum kami menggiring kami saat masuk ke dalam rumah yang sangat mewah bak istana. Subhanallah... Inilah rumah ku sekarang. Alhamdulillah.
Para pelayan juga para penjaga berjajar rapi di depan pintu, menyambut kedatangan kami. Mereka tersenyum tipis dengan sedikit menunduk hormat ke arah kami.
Sementara pintu? Pintu sudah terbuka lebar seolah menyambut kami yang baru saja kembali.
Ya Allah, jadikanlah rumah yang begitu indah ini menjadi surga untuk kami semua. Bukan hanya pak Devan, Ara dan juga aku saja tapi untuk semua penghuni yang ada di dalamnya.
"Selamat datang Tuan, Nyonya dan Non Ara."
Selayaknya paduan suara ucapan mereka keluar dengan bersamaan. Begitu kompak hingga sangat susah untuk membedakan suara milik siapa, semua terdengar sama.
"Hem," singkat pak Devan menjawab namun juga dengan suara yang begitu ramah.
Inilah yang kadang tak bisa aku pahami. Kadang seperti kucing rumahan yang begitu jinak namun kadang-kadang seperti harimau kelaparan yang ingin memangsa.
Sementara aku hanya tersenyum simpul saja sebagai jawaban untuk mereka dan itu saja sudah membuat mereka semua merasa sangat senang.
"Silahkan masuk," ucap salah satu dari mereka.
Di minta ataupun tidak pastilah kami akan tetap masuk tapi satu pelayan itu terlihat sangat baik menurutku, dia punya budi yang baik yang patut di sanjung.
Mata terperangah dengan kaki yang seketika menghentikan langkah. Rumah yang sudah indah ini ternyata di sulap lebih indah lagi. Penuh dengan bunga-bunga di setiap sudut hingga harumnya begitu semerbak memenuhi semua ruangan.
Aku kembali menoleh ke arah pak Devan, dia tersenyum melihat aku yang begitu terpaku.
"Bagaimana, suka?" hanya itu yang dia katakan lalu kembali lagi melihat ke depan dan meminta ku melakukan hal yang sama dengan bahasa isyarat menggunakan matanya.
Jelas ku sangat suka, ini sangat indah. Sangat sempurna bahkan aku sendiri tak mungkin mampu untuk membuat ini semua. Entah ini pekerjaan dari semua pelayan atau mungkin pak Devan memang menyewa pihak lain untuk datang dan menata ini semua.
"I_ini sangat indah," jawabku yang masih saja si buat terkagum-kagum dengan semua ini. Bukan hanya bunga-bunga saja tapi semuanya, semua di tata ulang.
"Ara sayang, Ara sama Sus Neni ya lihat kamar Ara," Pak Devan berjongkok di hadapan Ara meminta untuk pergi bersama suster Neni.
Tanpa di minta Sus Neni pun datang dan langsung menunggu Ara. Ara mengangguk dan seketika datang padanya.
Pak Devan berdiri kembali setelah melihat Ara yang sudah perlahan pergi dengan Sus Neni. Kami tidak langsung pergi namun melihat kepergiannya, melihat punggung mungil itu hingga akhirnya hilang di balik pintu kamarnya yang tepat di pintu ada sebuah aksesoris kesukaan Ara.
"Kita lihat kamar kita sekarang?" tanyanya.
Kamar kita?
Aku mengernyit, pastilah kamar kami adalah kamar yang kemarin kan, kamar utama yang di tempati pak Devan.
Dengan pelan dia menggenggam tangan ku, sejenak aku melihat tangan kami yang menyatu ku diam hingga akhirnya perlahan aku mulai berjalan karena di tarik pelan oleh pak Devan.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...