Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tidak apa-apa



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Senang rasanya bisa melihat Ara bisa lagi tersenyum seperti biasanya. Meski masih ada alat-alat rumah sakit yang terpasang namun dia tetap bisa tersenyum, bahkan bisa bermain dengan ku.


Entah karena takut atau memang mau menyembunyikan Ara sama sekali tidak menceritakan bagaimana dia dan mas Aditya bertemu dan apa saja yang sudah mereka berdua jalani.


Aku juga merasa Ara dan mas Aditya bukan hanya sekali ini bertemu tapi sudah beberapa kali tidak mungkin Ara akan mau begitu saja setelah saat itu saja dia ketakutan melihat mas Aditya.


Sayangnya aku juga takut untuk bertanya, aku takut kalau Ara malah bertanya mas Aditya dan ingin bertemu dengannya.


Anak kecil ini, dia tidak tau apa yang sebenarnya sudah terjadi antara kami, dia hanya merasa bahwa dia senang karena bisa bertemu dengan ayah kandungnya dan bisa melewati waktu bersamanya.


Semua yang terjadi juga bukan salah Ara, dia tidak bersalah dan yang harus di salahkan adalah mas Aditya yang begitu egois.


Aku tidak bisa melihat ketulusan dan kesungguhannya dalam mendekati Ara, ada sesuatu tujuan yang besar yang dia tuju tapi dia menggunakan Ara sebagai batu loncatannya. Sungguh keterlaluan.


"Bunda, Ara bosan di rumah sakit baunya nggak enak, Ara pengen pulang," tiba-tiba saja dia merengek minta pulang setelah dia bersenda gurau dengan ku.


Wajahnya terlihat begitu memelas juga sangat tidak semangat, dia benar-benar menginginkan untuk bisa pulang sepertinya.


Jika di suruh pilih bunda juga tidak mau berada di sini, Nak. Tapi mau bagaimana lagi, masih ada beberapa tes yang belum selesai dan harus di tunggu.


"Nanti ya, Sayang. Kita tanya dulu sama bu dokternya. Kalau bu dokter bilang boleh maka Ara akan pulang hari ini."


Aku juga sangat tidak mau, rasanya perut juga di aduk-aduk dari tadi tapi aku berusaha untuk menahan. Bau obat ini rasanya kena sangat tidak enak dan membuat aku pengen muntah.


Tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan kesehatan Ara, semua harus di pastikan lebih dulu sebelum kembali pulang.


Krekk....


Aku juga Ara seketika menoleh dan ternyata mas Devan yang masuk. Langkahnya begitu pasti dengan bibir tersenyum juga dengan tangan yang membawa boneka kecil. Dari mana mas Devan membelinya?


"Hallo princess ayah..., ayah punya hadiah untuk kamu sayang. Bagaimana, kamu suka?"


"Iya, sayang. Ini untuk princess ayah."


Melihat antara mas Devan dan juga mas Aditya. Keduanya sangat berbeda, sangat jauh. Mas Devan terlihat sangat tulus dalam menyayangi Ara, sementara mas Aditya? tak terlihat ketulusan itu padahal dia adalah ayah kandungnya sendiri.


Aku pikir setelah mas Aditya tau dia memiliki anak dia akan benar menyesal dan akan benar-benar mendekati Ara dengan penuh kasih sayang, tapi ternyata? ternyata mendekatinya karena ada tujuan yang besar yang entah apa aku sendiri juga tidak tau.


"Eh, kenapa bunda menangis. Apakah bunda juga menginginkan boneka juga?" gurau mas Devan setelah melihatku yang mengeluarkan air mata.


Tangannya terangkat dan membantu untuk mengusap air mata yang keluar begitu pelan namun mampu membasahi kedua pipiku.


Aku sangat terharu dengan perlakuan Mas Devan dengan Ara, dia sungguh menginginkan kebahagiaan Ara juga kebahagiaan ku. Ara sangat beruntung karena telah memilikinya.


"Hem, bunda ingin juga?" Ara seketika menoleh, melihat ke arahku dan memastikan apa yang Mas Devan katakan benar atau tidak. Jelas Ara akan melihat wajahku yang sedang di keringkan oleh tangan mas Devan.


"Kalau bunda ingin juga kota bisa mainnya barengan kok. Atau sekarang mau bunda dulu yang main?" dengan begitu ikhlas Ara menyerahkan boneka itu padaku.


Ya Allah, anak yang begitu menggemaskan seperti ini bagaimana mungkin aku akan bisa baik-baik saja saat dia sakit.


Ara yang selalu ceria, selalu ingin memastikan aku tersenyum bagaimana mungkin aku tidak akan sedih. Di tambah lagi dengan perlakuan mas Devan yang selalu saja membuat aku merasa menjadi orang yang paling beruntung tapi juga merasa paling tak pantas.


Bersanding dengan laki-laki yang begitu sempurna seperti mas Devan ini sangat membuat ku gak percaya diri. Dia sangat segalanya, sementara aku? apalah aku yang hanya perempuan haus perhatian dan juga kasih sayang yang tak punya apa-apa namun mengharapkan kesempurnaan. Sungguh naif kan?


"Tidak, Ara saja yang main. Bunda tidak nangis kok, ini hanya kena debu sana," jawabku berbohong dengan tangan dan yang membantu mas Devan.


"Oh, Ara pikir yang ayah katakan barusan benar," Ara tersenyum, dia juga kembali menarik bonekanya untuk kembali mendekat ke arahnya.


Aku kembali tersenyum begitu juga dengan mas Devan yang juga tersenyum setelah melihat Ara bersikap begitu menggemaskan.


✧༺♥༻✧


Bersambung.