
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV AUTHOR...
Sampai juga Devan di rumah Nayla. Rumah terlihat begitu sepi dan seperti tak ada penghuninya.
Tapi Devan sangat yakin kalau ada orang di rumah dan Nayla pasti ada. Tidak mungkin dia akan pergi ke tempat lain setelah kejadian tadi.
Tok tok tok...
"Nay... Nay..." wajah Devan begitu tegang tangan juga terus mengetuk pintu juga mulut yang terus memanggil nama Nayla namun tetap saja tidak ada jawaban juga pintu tak kunjung terbuka
Tetapi Devan juga tidak menyerah dia terus mengetuk pintu dan terus berteriak Siapa tahu akan ada jawaban dari Nayla atau dari penghuni lain yang ada di rumah tersebut.
"Nay.. Nay..." Devan sama sekali tidak menyerah karena keyakinannya begitu kuat akan keberadaan Nayla di rumah. Apalagi sangat jelas bahwa dia mendengar gemericik air di dalam dan terdengar begitu keras mungkin seseorang menyamakannya di tekanan paling besar.
Brukk....
Suara seperti sesuatu yang membentur lantai membuat Devan semakin panik dan juga begitu gusar. Devan yakin suara itu bukan suara dari sembarangan barang tetapi terdengar benturan yang begitu berat.
"Nay, Aku tahu kamu di dalam kalau kamu tidak mau membukakan pintu untukku maka aku akan membuka paksa pintu ini."
Biasanya ketika siang Nayla memang tidak pernah mengunci pintu, tetapi ketika Mbok Darmi pergi bersama Ara dan dia bekerja maka rumah itu akan selalu dikunci dan Nayla melakukan itu supaya tidak diketahui bahwa dia ada di rumah.
"Nay, buka atau aku dobrak pintunya!" Suara Devan semakin tidak sabar karena pintu- juga tak kunjung terbuka. Namun Devan sangat yakin kalau Nayla ada di dalam rumah, karena dia marah kepadanya jadi dia tidak mau membukakan pintu untuknya juga tidak mau menjawab.
"Satu, dua, tiga... brakk!" Benar-benar membuka paksa pintu tersebut dengan cara mendobraknya dan dengan dorongan beberapa kali saja mampu membuat pintu yang sudah tua itu seketika terbuka.
"Nay! Nay..." tetap saja tidak mendapat jawaban dari Nayla dan membuat Devan berjalan masuk terus dan mengalami sumber suara dari air yang masih terus mengalir.
Tidak ada rasa ragu untuk Devan ketika masuk ke dalam salah satu kamar yang dia yakini pasti adalah kamar dari Nayla. Semakin masuk dan suara air mengalir itu semakin jelas membuat Devan semakin kelimpungan.
"Nay, Nay!" Panggil Devan juga dengan tangan yang bergerak mengetuk pintu kamar mandi.
Perasaannya semakin tidak karuan ketika tidak ada jawaban sama sekali dari kamar mandi namun masih sangat jelas dari suara air yang terus mengalir.
"Nay... Nay..." sekali lagi pak Devan memanggil namun tetap tidak mendapatkan jawaban dari Nayla membuat Pak Devan kembali memutuskan untuk membuka paksa pintu kamar mandi itu
Brakk... Brakk...
Dalam beberapa kali dorongan paksa akhirnya kembali terbuka. Apa yang dilihat oleh Devan membuat matanya terbelalak dan dia juga langsung berlari menghampiri Nayla yang tidak sadarkan diri di bawah guyuran air keran.
"Astaga, Nay!" Nayla memang hanya mengenakan pakaian dalam saja sehingga memperlihatkan jangan salah terus bagaimana tubuh Nayla yang begitu banyak luka karena bekas cakaran dari kukunya. Bahkan luka-luka itu masih terus mengeluarkan darah mungkin karena masih basah dan terus terguyur air.
"Astaga, apa yang kamu lakukan, Nay! Ini salahku seharusnya kamu menghukum ku bukan menghukum dirimu sendiri," gumam Devan.
Dengan cekatan Devan mengambil handuk yang menggantung di belakang pintu dan segera memakaikan kepada tubuh Nayla dan juga langsung mengangkatnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Perlahan Devan menurunkan Nayla di atas ranjang. Dia memang tidak mau lancang lagi dan menyentuh Nayla tetapi dengan keadaan yang seperti sekarang dia akan kedinginan dan bisa jadi akan semakin sakit hingga membuat Devan langsung berlari menuju lemari dan mengambil baju Nayla.
"Maaf ya, Nay. Aku harus melakukannya kamu tau kan aku sudah melihat semuanya jadi... Ah.. Pokoknya maaf."
Devan hanya tidak mau jika melihat keadaan Nayla yang seperti itu malah akan membangunkan adik kecilnya di bawah jadi dia putuskan untuk memakaikannya. Meski dia sendiri terus menelan ludah ketika melihat semuanya ada pada Nayla.
Devan yakin seandainya Nayla tahu pasti dia akan marah kepadanya bahkan bisa jadi akan menamparnya tetapi kali ini Devan benar-benar tidak Devan benar-benar tidak mau mempedulikan itu dulu.
Devan juga langsung menyelimuti tubuh Nayla supaya lebih hangat dan tidak akan menjadi demam nanti. Devan begitu bingung apa yang harus dilakukan dia belum pernah berada di dalam posisi yang seperti ini.
"Pikir, Devan. Pikir," Devan terus mondar mandir karena begitu bingung memikirkan apa yang akan dia lakukan, hingga akhirnya ide muncul yaitu untuk memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Nayla.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Devan tidak sabaran ketika dokter panggilannya tengah memeriksa Nayla.
"Apa yang kamu lakukan sampai-sampai dia seperti ini?" tanya dokter tersebut yang tak bukan adalah dokter Kevin sahabat Devan.
"Jangan balik tanya, jawab saja bagaimana keadaannya?" Devan terlihat sangat kesal kepada Kevin karena bukannya menjawab pertanyaannya malah dia juga melontarkan pertanyaan untuknya.
"Sensi amat kamu, Dev. Tenang, dia baik-baik saja," jawab Kevin.
"Baik-baik saja bagaimana? Kamu lihat kan dari tadi dia tidak sadarkan diri seperti ini! Entah berapa lama lagi dia akan terus seperti ini, jadi bagaimana mungkin dia dalam keadaan baik-baik saja."
Devan tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kevin. Jelas di matanya Nayla dalam keadaan tidak baik-baik saja karena dari tadi dia sama sekali tidak bangun bahkan menggeliat pun tidak."
"Dia tidak apa-apa, Dev. Kita lihat saja nanti kalau dia siuman."
"Ngomong-ngomong apakah dia wanita spesial untuk mu? Kalau tidak tidak mungkin kan kamu sampai khawatir seperti ini."
"Ahh, lebih baik kamu diam atau perlu kamu pulang sekarang. Bukannya membuatku semakin baik membuatku juga semakin pusing. Pulang sana!"
Dengan kasar Devan mengusir Kevin yang jelas-jelas telah membantunya untuk memeriksa Nayla. Tetapi mau bagaimana lagi kalau Devan sudah bertitah makasih apa pun tidak akan bisa menentangnya.
"Ini ada obat. Dia harus meminumnya setelah sadar. Aku sudah menyuntikkan obat kepadanya jadi dia akan segera siuman. Aku pergi dulu. Ingat! Jangan kamu perparah lagi keadaannya."
Kata Kevin memperingatkan sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan di dalam rumah Nayla bahkan tepat di dalam kamarnya.
"Dasar bawel! Cepat pergi sana!" Semakin kasar dengan mengusir Kevin dan tentu langsung disanggupi oleh Kevin dia benar-benar pergi dari rumah Nayla.
"Tolong lepaskan saya, jangan lakukan ini. Lepaskan," Nayla yang mengigau dengan terus memohon membuat Devan semakin berada dalam penyesalan semua, ini karenanya apa yang telah Devan lakukan kepada Nayla.
"Maafkan aku, Nay." Devan terduduk di kursi sebelah ranjang Nayla sembari memperlihatkan keadaan Nayla yang tak kunjung juga sadarkan diri.
"Aku berjanji akan menebus semua yang sudah aku lakukan padamu, Nay. Sekali lagi aku minta maaf."
Devan benar-benar sangat menyesal.
----------Normal-------
Bersambung...
◎◎✧༺♥༻✧◎◎