Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Merasa Akrab



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Perdebatan antara Aditya dengan Mika terus saja berlanjut, membuat rumah yang tiada pemiliknya itu menjadi sangat ramai akan suara mereka berdua yang terus terus beradu argumen.


Tak ada yang mau mengalah antara mereka, sama-sama ingin menang dalam perdebatan mereka.


Aditya masih saja terus mencari keberadaan Nayla sementara Mika sama sekali tidak mau memberitahu akan keberadaan Nayla sekarang. Mika yang tidak memberikan informasi di mana keberadaan Nayla membuat Aditya begitu marah bahkan dia ingin memukul Mika.


"Katakan, atau!" ucapan Aditya begitu melengking tinggi dengan tangan yang sudah terangkat dan siap melayangkan pukulan kepada Mika yang begitu berani.


Meski sudah seperti itu Mika sama sekali tidak merasa takut meski mendapat amarah dari Aditya.


"Apa, kamu mau pukul! pukul saja sekarang saya tidak peduli."


"Memang benar kan apa yang aku katakan kamu hanya laki-laki pengecut yang tidak punya tanggung jawab. Saya senang karena kamu telah menceraikan Nayla. Alhamdulillah! kamu benar-benar tidak pantas untuk menjadi pasangan Nayla. Lebih baik urusin semua hidupmu saat ini dan jangan pernah mengusik kebahagiaan Nayla lagi dia sudah bahagia tanpa dirimu."


Begitu lantang suara Mika yang berdiri tegak di hadapan Aditya. Mata keduanya sama-sama melotot seolah menyebarkan bendera perang.


"Kamu!" Aditya begitu jengah karena keberanian Mika. Dia pikir wanita yang ada di hadapannya sekarang tidak pernah memiliki keberanian seperti sekarang tapi dia salah, ternyata dia begitu berani kepadanya.


"Apa!" Mika begitu menantang Aditya bahkan wajahnya begitu tegak berani memandangi Aditya.


"Akk!" teriak Aditya begitu lantang.


Tangannya bergerak seiring dengan langkah kaki untuk keluar dari rumah itu. Tangannya melemparkan sebuah pigura yang ada di atas nakas.


Prank...


Suaranya begitu lantang. Jelas akan begitu keras karena pigura itu kacanya pecah.


Kini mata Mika yang semakin melotot karena mendengar suara itu. Mika cepat kembalikan badan hingga akhirnya dia melihat pigura itu sudah hancur dan fotonya membalik dan tidak terlihat. Seandainya saja terlihat pastilah Aditya bisa melihat foto yang ada di dalamnya tersebut adalah foto Nayla juga Ara.


Untung saja Aditya tidak melihat, seandainya dia melihat pastilah dia bisa mengenali wajah anak kecil yang begitu mirip dengannya. Dia adalah anaknya yang sama sekali tidak dia ketahui akan keberadaannya.


Mika begitu bersyukur karena Aditya tidak melihat foto mereka berdua. Jika saja melihat pasti dia akan semakin cerewet dan menanyakan semua hal mengenai Nayla juga anak kecil tersebut.


Mika melihat Aditya yang sudah keluar dengan langkahnya yang cepat, Mika sudah sangat lega karena Aditya tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


"Alhamdulillah," gumamnya.


Tapi, baru saja jika berhenti bersuara ternyata Aditya mengembalikan badan dengan cepat dan kembali masuk. Mika begitu terkejut dia yang ingin melangkah untuk mengambil foto di bawah pigura yang sudah hancur sekarang menghentikan langkah lagi.


Aditya menatap tajam ke arah Mika yang terus melihatnya dengan rasa takut kalau sampai Aditya kembali hanya untuk melihat foto tersebut.


Sesekali mata Mika melihat ke arah foto namun itu tidak lama dan kembali lagi melihat ke arah Aditya. Tentu hal itu membuat Aditya sangat penasaran, padahal niatnya masuk lagi untuk mengancam Mika tidak tahunya dia melihat ada gelagat aneh dari wanita yang begitu berani kepadanya itu.


"Kenapa kamu?!" tanyanya dengan suara yang keras.


"Ti_tidak!" suara Mika dengan gagap.


Aditya melangkah mendekati foto tersebut karena melihat gelagat dari Mika yang begitu mencurigakan pasti ada sesuatu di balik foto tersebut.


Tentu Mika tidak akan membiarkan sampai Aditya melihatnya dan dia berlari supaya sampai lebih dulu dan segera mengambil foto tersebut.


"Hey, lihat!" Aditya terlihat sangat marah ketika tangannya hampir saja menyentuh foto tersebut tetapi Mika langsung menyambar lebih dulu hingga Aditya tak jadi menyentuhnya.


"Tidak!" jelas Mika tidak akan pernah mengizinkan Aditya untuk melihat, dia tidak akan membiarkan Aditya tahu dan akan mengganggu kebahagiaan sahabatnya tersebut. Entah apa yang akan laki-laki itu lakukan jika sampai Aditya akan keberadaan anaknya di dunia ini.


"Lihat!" Aditya tetap kekeuh untuk bisa melihat foto tersebut. Dia berusaha merebut foto meski minta berusaha menyembunyikannya di balik tubuhnya.


"Tidak!" Mika juga tetap bersih keras untuk menjauhkan foto itu dari Aditya.


Terjadilah perebutan foto di rumah itu dengan keduanya yang sama-sama memiliki niat tertentu untuk foto tersebut.


Mika terus menjauhkan sementara Aditya terus berusaha dah sama sekali menyerah untuk bisa melihatnya.


"Lihat!" suara Aditya semakin keras dengan tangan bergerak cepat menarik tangan Mika dan merebut foto itu dari tangan Mika.


"Hey, kembalikan!" suara Mika tak mau kalah karena Mika sebenarnya memang berwatak keras dan juga suaranya yang kuat jadi itu sudah biasa untuknya.


Mika berusaha kembali mengambil lagi tapi Aditya gak membiarkan dan berusaha menjauhkan ke atas dengan melihat foto itu.


"Ini Nayla dengan...?" Aditya mengernyit ke arah Mika tapi tak di hiraukan dan saat itu Mika berhasil mengambil foto itu dari tangan Aditya.


"Bukan urusan mu!" Mika ingin segera pergi namun Aditya lebih cepat dan menarik tangan Mika untuk menahan langkahnya.


"Lepas!" sentak Mika dengan marah.


"Tidak! sebelum kamu katakan siapa anak ini. Apakah ini anak Nayla dengan Devan!" teriak Aditya.


Mika terkesiap, anaknya dengan Devan?


"Ya! itu anak Nayla dan pak Devan. Kenapa? kamu cemburu, kamu menyesal!"


Kata Aditya menjadi ide Mika untuk berbohong sekalian. Kalau Aditya mengatakan hal itu berarti dia pernah melihat Nayla bersama Devan dan juga Ara ketika bersama-sama.


'Anaknya Devan? tapi kenapa begitu mirip dengan ku?' batin Aditya yang menyadari akan wajah dari anak kecil itu.


"Sekarang kamu sudah tau kan kalau Nayla sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, jadi jangan pernah usik kebahagiaannya!"


Aditya masih terdiam dia seolah berpikir keras mengenai foto anak kecil tersebut.


"Sekarang pergi dari sini karena kamu juga tidak akan pernah bertemu dengan Nayla kalau dia sudah tinggal dengan anak dan suaminya."


Kini Aditya yang terkesiap mendengar Nayla tinggal dengan anak dan suaminya, kenapa ada rasa gak rela tapi juga ada rasa marah.


"Pergi!" Mika mendorong Aditya yang bergeming di tempat, dia ingin Aditya cepat pergi dari sana.


Dengan paksa Aditya melangkah karena di dorong oleh Mika dan setelah sampai di luar pintu di tutup oleh Mika.


"Ya Allah, semoga saja dia percaya dengan apa yang aku katakan. Dia tidak boleh mengganggu kebahagiaan Nayla, dia tidak boleh membuat Nayla merasa sakit lagi, tidak akan," gumam Mika.


Tapi, di luar Aditya masih berhenti di emperan dengan melihat ke arah pintu. Melihat pintu yang sudah tertutup.


Ingatannya terus memutar-mutar foto wajah anak kecil tadi. Kenapa hatinya merasa sangat dekat meski dia belum pernah bertemu.


"Kenapa rasanya sudah begitu akrab, kenapa seperti sudah pernah bertemu sebelumnya?" gumamnya yang begitu bingung.


--------Normal--------


Bersambung...


◎◎✧༺♥༻✧◎◎