
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Pagi pertama anak sekolah. Rasanya sangat senang namun juga mulai sibuk dengan ini itu yang harus di siapkan. Memang ada Sus Neni yang membantu tapi rasanya ya gitulah kalau ibu yang akan di tinggal anak sekolah untuk yang pertama kalinya.
Rasa was-was, gelisah dann juga harus memastikan kerapian dan segalanya. Tak boleh ada yang ketinggalan juga terlewatkan.
Buku-buku sudah, alat tulis sudah, aksesoris seragam sudah dan semua juga sudah bahkan kesukaan Ara yang rambutnya di kuncir dua juga ku sendiri yang lakukan.
Bukan itu saja, tapi juga sudah bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan juga bekal untuk Ara juga mas Devan. Aku usahakan mereka berdua tidak makan makanan luar apalagi sampai beli makan dan juga jajanan sembarangan.
Kalau mas Devan sudah besar dia pasti akan nurut dan bisa memilih mana makanan yang baik, tapi kalau Ara? Dia belum bisa membedakan makanan yang baik atau tidak. Tapi entah juga aku tak tau.
Setelah semua sudah beres aku gandeng Ara keluar dari kamar, ku tuntun hingga sampai di ruang makan dan ternyata sudah ada mas Devan di sana.
"Ayah, lihatlah! Ara cantik banget kan?" celoteh nya yang begitu sangat bahagia, berusaha menunjukkan penampilannya dengan seragam barunya dan juga tas yang sudah ada di punggungnya.
Mas Devan menoleh langsung, dia tersenyum namun tidak terlihat aneh. Aku mengernyit di buatnya, apakah ada masalah?
"Mas, ada apa?" aku tuntun Ara untuk duduk di bangku yang sama seperti kemarin lalu aku berpindah dan hendak duduk di tempat kemarin juga.
"Astaghfirullah, Mas!" seketika aku menoleh ke Ara karena melihat bagaimana penampilan mas Devan sekarang. Semua kancing bajunya belum di pasang dan masih terlihat berantakan.
"Ara, tutup matamu sayang!" pintaku dan Ara langsung menjalankan tanpa komentar lagi.
Aku duduk di kursi yang sama dan aku paksa mas Devan untuk menghadap ke arahku.
"Emang nggak bisa di pasang di kamar apa, Mas. Kalau di lihat Ara bagaimana?" omesku yang sepertinya akan kumat hari ini.
"Kamu sih, mentang-mentang Ara mau sekolah alu juga nggak di perhatiin. Kan aku juga pengen kayak Ara."
Suaranya terdengar merajuk dan juga mimik wajah seperti anak kecil yang sedang marah. Kadang bibirnya manyun, kadang juga pipinya menggembung.
"Nggak lucu, Mas. Ara kan belum bisa pakai, kalau kamu kan udah besar," terus aku sibuk hingga berhasil memasang semua kancingnya bahkan juga memakaikan dasi yang taruh begitu saja di meja. Benar-benar seperti anak kecil saja nih mas Devan.
"Apanya yang udah besar, masih kecil kok."
Mas Devan memajukan wajahnya dan menempatkan tepat di sebelah telinga, entah apa yang ingin dia bisikkan.
"Bahkan junior masih kecil. Mungkin nanti pulang kerja baru besar."
Astaghfirullah, kumat lagi nih kemes*man suamiku.
Reflek tangan yang membenarkan dasinya langsung mencubit perutnya hingga dia meringis menahan sakit. Rasanya dongkol juga lama-lama kalau kumat begitu.
"Aww! sakit, Nay." tangan mas Devan juga reflek memegangi perutnya sendiri yang entah sudah berubah warna atau tidak setelah mendapat cubitan yang cukup keras dariku.
"Ayah! Ayah tidak apa-apa kan? Bunda tidak nakal kan?"
Seketika kami menoleh bersamaan dan melihat Ara yang masih setia menutup wajah dan matanya menggunakan kedua telapak tangan.
"I_ini..." langsung aku tutup mulutnya sebelum mas Devan mengatakan apapun pada Ara. Semoga saja otak Ara tidak akan terkontaminasi dengan ungkapan-ungkapan mas Devan yang selalu bikin kesal ini.
Ya, meski mas Devan selalu mengatakan hanya padaku saja dan memastikan Ara tidak dengar sih tapi kan juga harus jaga-jaga.
"Tidak kok, Sayang. Bunda tidak nakal. Sekarang Ara boleh buka matanya dan langsung makan."
"Beneran boleh bunda?" Ara masih memastikan.
"Iya sayang." semakin lembut perkataan ku, namun tidak dengan mas Devan, sebelum Ara membuka mata aku kasih tatapan tajam supaya dia tak mengatakan apapun.
Bukannya mengkerut karena takut tapi mas Devan malah cengengesan dan terlihat sangat senang. Apakah aku terlihat lucu?
"Makasih, Sayang," semakin nakal nih mas Devan bahkan dia dengan sengaja mengedipkan matanya.
"Ayah, ayah matanya kelilipan ya, kok kayak gitu?" ternyata Ara melihat apa yang mas Devan lakukan.
"Iya nih, ayah kena debu. Debu cinta, hehehe," kembali dia cengengesan.
"Emang bentuknya kayak apa, Yah?" jelas Ara tidak akan berhenti bertanya karena dia tergolong pada anak yang suka ingin tau. Kalau basa gaulnya mah kepo, tapi keponya anak-anak sangat berbeda karena dia akan terlihat menggemaskan.
"Hem, bagaimana ya jelasinnya. Tunggu aja Ara besar nanti pasti tau."
"Ara sayang, yok di makan sarapannya nanti telat loh sekolahnya," sahutku karena tidak mau sampai mereka malah ngobrol berlama-lama.
"Iya, Bunda." dengan nurut Ara langsung makan sarapan yang sudah aku siapkan begitu juga dengan mas Devan yang melakukan hal yang sama.
Sarapan kali ini berjalan sangat lancar sampai selesai.
Rasanya sangat sedih sebentar lagi akan sepi nih rumah setelah aku kembali mengantarkan Ara ke sekolah. Mas Devan ke kantor, Ara sekolah dan aku hanya akan sendiri di rumah pasti akan sangat bosan.
Meski ada sopir yang di sediakan tapi untuk hari ini kami berdua yang mengantarkan Ara. Kata mas Devan setelah mengantarkan Ara dia akan kembali mengantarkan aku pulang dulu.
"Ara, ini bekalnya jangan lupa di makan ya. Dan ini untuk kamu Mas, kamu juga tidak boleh lupa makan."
"Iya, Bunda." Jawab mereka berdua bersamaan. Kompak banget pokoknya.
Kami benar-benar berangkat dan seperti kemarin lagi Ara duduk di belakang.
"Mas, aku kangen sama Mika. Aku boleh ikut ke kantor ya," aku sangat merindukan sahabat ku itu, sudah sangat lama tidak saling bertemu bahkan tidak juga saling bertukar kabar karena ponselku yang di sita oleh mas Devan.
"Tidak usah ikut ke kantor, biar Mika saja yang ke rumah."
Sempat terkejut karena mas Devan malah mengizinkan Mika untuk datang ke rumah, padahal bagaimana kemarin? Hanya minta aku undang ke acara pernikahan saja tidak di izinkan.
"Kenapa, apakah kamu tidak mau Mika datang ke rumah?"
"Bukan seperti itu mas, ta_tapi kemarin saja...?
" Kemarin ya kemarin, dan yang sekarang ya sekarang." Jawabnya dengan begitu santai.
Memang benar sih yang kemarin biarkan menjadi masalah kemarin dan yang sekarang biar sekarang?
"Beneran aku nggak boleh ke kantor saja?" aku masih berharap bisa pergi ke kantor, bukan maksudnya ingin semua orang tau hubungan kami tapi aku sangat merindukan tempat kerja ku yang sudah beberapa tahun itu.
"Tidak usah, Sayang. Aku tidak mau kamu kecapean."
"Kecapean atau mas memang tidak mau semua orang tau hubungan kita yang sebenarnya?"
Deg...
Aku sendiri yang mengatakan tapi jantungku sendiri yang berdetak keras. Bagaimana aku bisa punya pikiran yang seperti ini.
"Hem, bukan seperti itu, Sayang. Aku hanya benar-benar tidak mau sampai kamu kecapean. Untuk kali ini kamu jangan banyak gerak dulu, kalau sudah melalui trimester pertama kamu boleh ke kantor, oke. Dan saat itu aku akan umumkan hubungan kita pada semua orang."
"I_iya mas," aku menunduk. Aku merasa menyesal karena telah mengatakan hal yang seperti tadi. Kenapa sesekali aku selalu tak bisa mengendalikan omonganku sih!
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...