Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Ketahuan....



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Betapa amarah dari Aditya sangat besar setelah melihat Jihan saat ini. Dia mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak menyukai Jihan tapi lihatlah sekarang ketika dia di gandeng oleh laki-laki lain di depan matanya sendiri.


Jika dia benar-benar tidak menyukai Jihan seharusnya dia tidak perlu marah kan jika Jihan bersama orang lain, tapi kenapa sekarang dengan sangat jelas kalau Aditya sangat kesal di dalam mobilnya?


''Aku harus tau apa yang kamu lakukan, Jihan. Mungkin dengan tau apa yang kamu perbuat aku bisa benar-benar mengendalikan_mu,'' gumam Aditya.


Dengan perlahan Aditya turun dari mobilnya berjalan menuju gerbang dengan sangat pelan, untung saja tidak ada yang menjaga gerbang dan juga tidak di kunci dengan gembok jadi Aditya bisa masuk.


Dengan begitu yakin Aditya masuk, dia sungguh ingin memergoki Jihan yang tengah berselingkuh dan main api dengan teman Aditya sendiri.


Semua seolah berpihak kepada Aditya, langkahnya begitu lancar tanpa hambatan bahkan dengan mudah Aditya bisa masuk ke dalam rumah yang juga tidak di kunci oleh Vino.


"Kamu benar-benar bodoh, Vin. Dari dulu sampai sekarang kamu selalu grusa-grusu dan mengabaikan hal-hal kecil."


Aditya menyunggingkan bibirnya begitu sinis. Dia akan benar-benar memergoki istrinya sekarang.


Meski sudah di kasih tau oleh Devan tapi Aditya masih berpikir kalau Jihan hanya berhubungan sewajarnya saja dengan Vino. Berhubungan selayaknya dirinya juga dengan Vino, benar-benar sebatas teman saja.


Aditya mencari-cari keberadaan Vino juga Jihan namun belum juga dia temukan dimana keberadaannya. Aditya terus masuk, tak peduli itu rumah orang lain tapi Aditya terus melangkah tanpa rasa takut.


Mata Aditya terus bergerilya mencari-cari keberadaan mereka berdua, terus berjalan kesana kemari untuk mencari tempat yang menjadi tempat mereka berdua berada.


Hingga akhirnya Aditya sampai di salah satu kamar yang tertutup tapi sepertinya juga tidak terkunci. Suara Jihan juga Vino terdengar sangat jelas, ada perdebatan kecil di dalam dan semua terekam jelas di kepala Aditya.


Matanya melotot, tangannya mengepal kala mendengar suara Jihan yang tadinya sebuah pemberontakan tapi sekarang sudah berganti dengan suara yang terdapat kenikmatan.


Terus Aditya masih mendengarkan di depan pintu memasang telinganya lebar-lebar dan membuat dirinya semakin jelas mendengar.


Tak sabar melihat apa yang mereka lakukan Aditya langsung membanting pantun dengan sangat kasar dan membuat Jihan ataupun Vino sama-sama terkejut.


"Jihan! Kamu benar-benar keterlaluan!" seru Aditya setelah pintu terbuka.


Dan benar saja, apa apa yang telah dia lihat sekarang ini adalah benar-benar seperti apa yang telah dia pikirkan. Jihan benar-benar mengkhianati dirinya dan itu dia lakukan bersama laki-laki lain yang tak bukan adalah teman Aditya sendiri.


Dengan cepat Jihan mendorong Vino dengan sangat kasar membuatnya terlepas dan mereka saling menjauh. Meski usaha yang sudah Jihan lakukan tetap saja tidak menutup akan perbuatan mereka yang keduanya sudah sama-sama tidak memakai baju lagi.


"Mas Aditya," mata Jihan membulat tidak percaya, bagaimana mungkin suaminya itu ada di sana sekarang dan melihat langsung apa yang dia lakukan.


"Jihan saya tunggu di luar," ucapnya lagi.


Jelas Aditya tidak mau melihat keadaan Jihan saat ini yang seperti itu. Aditya begitu muak hingga akhirnya dia melenggang pergi dari sana.


"Mas, mas!" panggil Jihan namun Aditya sudah tidak menghiraukan lagi.


Jihan begitu marah dengan Vino yang telah membuat dirinya berada dalam situasi yang sangat rumit seperti saat ini sekarang.


Tapi bukan Vino jika di takut, Vino malah terkekeh melihat Jihan yang sangat marah dengannya. Gak peduli dengan kata Jihan yang terlihat begitu tajam tapi Vino tetap berperilaku santai seperti biasa.


"Kamu benar-benar keterlaluan Vino. Kamu senang di atas penderitaan orang lain?!" Tetap saja Vino tidak takut, dia tetap tersenyum sembari tangannya membuat ulah menggoda Jihan dan menyentuh bagian-bagian yang sensitif miliknya.


"Lepas!" Dengan kasar Jihan menyingkirkan tangan Vino dia juga segera menjauh darinya untuk kembali memakai bajunya.


"Jangan marah-marah seperti itu, Manis. Tenang saja Aditya tidak mungkin meninggalkan mu. Aditya adalah laki-laki pengecut yang hanya peduli dengan hartamu. Percayalah, dia tidak akan pergi meski sudah melihat apa yang kamu lakukan padaku."


Vino berbicara begitu enteng dan menjauh juga karena dorongan Jihan.


Vino sangat mengenal Aditya, tidak mungkin dia akan pergi meninggalkan Jihan dan semua kemewahannya. Tidak mungkin. Vino hanya terus terkekeh dengan rasa bangga.


"Diam kamu! Ingat ya, Vin. Jika gara-gara kamu mas Aditya meninggalkan ku maka kamu harus bertanggung jawab."


Meski sudah Jihan sudah mengatakan hal itu tetap saja Vino tidak takut.


"Bertanggung jawab? Oke! Akan aku lakukan. Lagian tidak ada ruginya bertanggung jawab padamu. Kamu bisa menjadi pemuas ku untuk selamanya."


"Dasar gila!" umpat Jihan.


Jihan seketika berlari keluar setelah selesai dan sudah seperti sebelumnya. Dia ingin menemui Aditya, semoga dia bisa membujuk Aditya dan tidak akan di tinggalkan.


Jihan tidak akan pernah sanggup jika di tinggalkan oleh Aditya, dia sangat mencintainya.


Berbeda dengan Jihan yang begitu ketakutan tapi Vino malah merasa sangat puas. Dia sangat senang karena telah berhasil melaksanakan hal ini.


Jika sampai Aditya benar-benar meninggalkan Jihan maka Vino akan sangat di untungkan karena Jihan akan benar-benar bisa dia miliki tanpa ada gangguan dari Aditya.