
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV Author....
Setelah kepergian Nayla dari hadapan Aditya dia langsung pamit kepada Jihan bilang ingin pergi ke toilet. Jihan sama sekali tidak memiliki rasa curiga kepada suami tersebut dan memilih menunggu di tempat duduk yang sudah disiapkan.
Hatinya begitu dipenuhi dengan rasa amarah yang sangat besar. Langkah kakinya begitu cepat karena ingin secepatnya sampai di toilet.
Amarah benar-benar di lampiaskan di dalam toilet. Sebelum membasuh wajah sendiri Aditya lebih dulu memukul dinding dengan begitu kuat.
Dia sangat marah karena melihat Nayla yang datang bersama dengan Devan dan ternyata mereka adalah pasangan suami istri yang bahagia. Bukan itu saja, bahkan di tengah-tengah mereka sudah hadir buah hati mereka yang sudah besar.
"Ternyata kamu sangat munafik, Nay. Kamu menyindir ku dengan begitu sadis sementara kamu apa? Kamu juga sudah menikah bahkan sudah punya anak. Kenapa, apakah kamu belum puas dengan suami mu?"
"Ternyata aku benar kan? Kamu memang pantas aku ceraikan. Kamu bukan perempuan baik-baik. Bahkan kamu sudah menikah meski kamu belum resmi bercerai dariku. Argghhh!"
Amarah dan kekecewaan begitu besar di hati Aditya. Dia seolah menghakimi Nayla namun dia tidak melihat bagaimana dirinya sendiri. Dia memberikan kritikan pada Nayla tapi dia tidak mengaca pada dirinya sendiri yang telah tega meninggalkan Nayla dan menikah dengan wanita yang lebih kaya raya.
Lalu siapa yang salah?
Aditya pastilah merasa Nayla yang bersalah. Lalu, kenapa Aditya harus marah jika Nayla menikah dengan laki-laki lain dan dia juga bahagia. Bukankah itu sudah impas?
Tapi tidak! Hati Aditya sudah di penuhi dengan amarah dan dia sangat marah karena itu atau mungkin sebenarnya masih ada rasa di hatinya untuk Nayla dan tidak rela kalau dia bersanding dan bahagia dengan pria lain? Terus bagaimana perasaannya dengan Jihan, atau hanya karena harta saja?
"Kamu keterlaluan, Nay. Kamu benar-benar keterlaluan!" Dengan amarah tangan yang mengepal kembali memukul namun kini memukul wastafel yang ada di hadapannya.
Seandainya dia ada di rumah pastilah dia akan memukul kacanya hingga hancur tapi kenyataannya dia tidak bisa melakukan itu di dalam sana meski dia sangat menginginkan hal itu.
Tok tok tok...
"Mas, mas di dalam? Sudah belum?" suara teriakan dari Jihan. Mungkin Jihan tidak sabar menunggu Aditya datang dan kini dia menyusul suaminya ke toilet.
Aditya menoleh ke arah pintu, dia jelas-jelas paham kalau itu adalah suara dari istrinya. Lebih tepatnya istrinya yang kedua namun dengan status istri satu-satunya.
Tok tok tok...
"Mas, mas beneran di dalam kan?" lagi suaranya terdengar sangat keras bahkan dia juga kembali mengetuk.
"Iya, sebentar!" Teriak Aditya menjawab.
Jihan merasa sangat lega setelah mendengar suara suaminya meski dia sangat penasaran kenapa suaminya begitu lama berada di kamar mandi.
Tak lama Aditya keluar dari dalam toilet Dia terlihat tersenyum dan menyembunyikan semua perasaan dan amarah yang ada di dalam hatinya.
"Kamu baik-baik saja kan Mas?" Tanya Jihan ingin memastikan sebelum mereka kembali ke tempat acara yang tengah berlangsung.
"Tidak apa-apa, tadi hanya perut Mas sakit jadi agak lama. Maaf. Kamu tidak apa-apa kan?" Aditya balik tanya.
"Tidak, tapi sekarang sudah baik-baik saja kan? Atau mungkin kita pulang saja?"
"Tidak apa-apa aku masih kuat. Kita lanjutkan acara ini dengan bahagia. Aku juga masih ingin bertemu dengan teman-teman yang lain, yuk."
Aditya langsung merangkul Jihan dan mengajaknya kembali ke tempat acara. Tentu, keputusan dari Aditya membuat Jihan tersenyum dia sangat bahagia karena akhirnya mereka bisa ikut melangsungkan acara pesta reuni.
Meskipun senang bertemu dengan teman-temannya tapi Aditya merasa sangat tak nyaman. Ada hal yang mengganggu pikirannya dan membuat dia tidak bisa fokus dan tak benar-benar bisa menikmati acaranya.
"Mas, kita makan dulu sana yuk," Ajak Jihan.
"Mas, kamu kenapa sih?" Akhirnya Jihan merasa sangat kesal karena Aditya tak menjawabnya.
"Hah! Maaf. Kamu mau apa?"
"Kita makan di sana yuk," ajak Jihan lagi.
"Hem," Aditya menurut apa yang menjadi keinginan Jihan dia juga langsung berjalan menghampiri tempat yang menjadi tempat yang di inginkan oleh Jihan.
Tak keduanya tau mereka menuju ke tempat minuman yang sudah di ingatkan sebelumnya kalau minuman itu bukan minuman yang aman. Terdapat minuman memabukkan di sana.
Aditya mengambil dua menawarkan satu untuk Jihan tapi Jihan tidak mau hingga akhirnya Aditya yang meminumnya sendiri.
Satu gelas kurang, dua gelas kurang dan terakhir tiga gelas Aditya menyudahinya.
"Mas baik-baik saja?" terlihat jelas ada yang berbeda dari Aditya. Matanya sudah merah dengan kepalanya yang sesekali menggeleng dengan mata terpejam.
"Mas, kamu kenapa?" Jihan semakin gelisah.
"Hem, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing saja." Aditya sudah mulai sempoyongan. Dia bukanlah orang yang biasa minum dan dengan sedikit minum pastilah akan membuat dia mabuk.
"Aditya kenapa?" Jihan menoleh melihat ada orang yang menyapanya.
"Nggak tau, Vin. Dia jadi seperti ini setelah minum itu," Jihan menunjukkan arah minuman dengan matanya saja dan itu sudah berhasil membuat Vino tau.
"Hem, kalian lupa ya. Kan sudah aku bilang tadi itu minuman apa tapi dia malah minum ya begitu kan akhirnya dia mabuk." jawab Vino.
"Astaga, aku benar-benar lupa. Terus bagaimana ini Vin?"
"Lebih baik kalian tidur di sini dulu deh untuk malam ini. Dengan keadaan Aditya seperti ini dia tak akan bisa menyetir sendiri. Tenang, ini rumah ku kok. Ada kamar tamu juga yang sudah saya siapkan." terang Vino.
"Biar aku antar Aditya ke kamar, kamu bisa tetap di sini menikmati pestanya."
"Tidak akan enak menikmati pesta sendiri, Vin."
"Tenang, nanti aku temenin. Kebetulan anak dan istri ku juga sudah pulang ke apartemen barusan jadi aku juga sendiri. Tunggu aku aku hanya sebentar."
"Hem, oke deh," Jihan menurut apa yang Vino katakan.
Vino benar-benar mengantarkan Aditya pergi ke kamarnya dan setelah sampai dan Vino akan keluar dia di kejutkan oleh suara Aditya.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Nay." racau Aditya.
"Nay?" Vino kembali menoleh namun kini Aditya tak lagi bersuara.
"Hem hanya salah dengar. Nikmati istirahat mu, Dit. Biar aku yang menemani istrimu," gumam Vino dia tersenyum sinis kemudian keluar untuk segera menghampiri Jihan.
Ternyata perempuan hamil itu memiliki aura yang mampu membuat Vino tertarik.
-----------Normal--------
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung.....