
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Devan terlihat sangat senang sekarang. Dia berhasil mendapatkan malam kedua yang begitu indah meski di lakukan pagi-pagi. Rasanya sangat menyenangkan dan membuat tubuhnya seakan mendapatkan berkali-kali energi baru.
Bukan itu saja, tapi dia juga sangat bahagia karena telah berhasil membuat Aditya marah. Meski dia gak bisa melihat bagaimana wajahnya sekarang tapi yang pasti dia sangat marah karena perkataannya tadi.
Apa yang dia katakan bukan hanya di buat-buat semua ada buktinya dan itu bukan sebuah fitnah tapi tak yang sangat nyata.
"Hahaha, bagaimana ya wajah Aditya sekarang? hem, pasti sangat lucu karena di tekuk kusut kayak baju rombeng. Hahaha!" tawa Devan begitu menggelegar.
Padahal niatnya kembali ke kamar karena ada barang yang ketinggian karena dia akan kembali ke rumahnya tapi dia malah menyempatkan waktu untuk membuat Aditya panas.
Mumpung tak ada Nayla bersamanya kata dia karena kalau ada Nayla jelas dia tidak akan berani melakukannya.
"Makanya, jadi orang jangan egois, Dit. Sekarang kamu mendapatkan hasilnya kan?"
"Tapi ya, Dit. Aku tetap berterima kasih kepadamu, kalau kamu tidak egois mana mungkin aku bisa mendapatkan Nayla. Tak masalah ku mendapatkan setelah kamu, janda atau perawan sama saja bagiku. Bahkan jandamu sangat menggemaskan, Dit. Hem..., juga sangat nikmat," katanya.
Devan tersenyum sendiri di dalam kamar, tangan mengambil barang yang ada di atas nakas dan setelah itu dia bergegas keluar.
"Hem... hem..." langkahnya semakin tegas di iringi dengan dia yang berdendang dengan lagi kesukaannya. Sepertinya dia benar-benar sedang bahagia sekarang.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Sebenarnya Aditya tadi pulang sebelum waktunya dan kini dia kembali ke kantor.
Beberapa staf masih ada di sana dan bahkan sekertaris_nya juga masih ada di tempat karena kerjaan yang masih sangat banyak yang semua Aditya limpahkan padanya.
Seharusnya dia sudah pulang tapi itu tidak terjadi karena Aditya memberikan pekerjaan yang banyak untuknya.
"Eh, tumben pak Adit kembali setelah pulang. Dia kenapa? kenapa terlihat sangat kacau seperti itu? " ucapnya dengan mengernyit karena melihat Aditya yang melangkah masuk untuk keruangan_nya dan harus melewati tempat dia berada.
Semua pergerakan Aditya dia lihat bahkan dengan sengaja dia beranjak dan juga mengintip dari pintu.
"Sepertinya pak Adit sedang ada masalah deh? kalau tidak tidak mungkin dia terlihat berantakan seperti itu," gumamnya.
Tak berapa lama Aditya hilang di balik pintu ruangannya dan sekertaris itu tak lagi bisa melihatnya.
"Tampan tampan kalau sedang ada masalah dan wajah di tekuk gitu ternyata jadi jelek juga. Aku pikir orang tampan dalam keadaan apapun tetap tampan."
Perempuan itu ingin kembali ke tempat semula untuk menyelesaikan pekerjaannya namun baru beberapa langkah saja langkahnya di hentikan oleh suara yang begitu berat.
"Siapa yang jelek?" suara itu jelas sangat di kenal. Dia adalah Aditya.
"Hah!" dia adalah Winda. Sekertaris Aditya yang terus saja di paksa bekerja keras oleh Aditya.
"Ti_tidak ada, Pak. Hem, sa_saya yang jelek," jawab Winda dengan sangat gugup sekaligus takut.
'Mati aku,' batinnya.
Memang perusahaan itu cepat membesar juga karena kerja keras dari Aditya, tai juga tidak bisa lepas dari semua karyawan yang ada di sana.
Bukan hanya terkenal tegas namun Aditya juga terkenal sangat pemarah. Dia akan selalu marah jika ada kesalahan kecil dari karyawannya. Tak terkecuali Winda.
"Hem, buatkan saya kopi. Sekarang juga," ucap Aditya dengan sangat tegas.
"Ko_kopi? Eh, i_iya, Pak."
"Jangan pakai lama, saya tunggu," Aditya langsung berlalu dan kembali ke ruangannya.
Winda bisa bernafas lega sekarang karena Aditya sudah pergi tapi itu hanya sesaat saja setelah itu dia mengingat akan kopi yang Aditya minta.
"Hem, sepertinya aku akan ada dalam masalah," gumamnya lemas.
Dengan perlahan Winda keluar dari ruangannya dan segera pergi ke pantry untuk membuat kopi sesuai yang Aditya inginkan.
Semua tempat sudah terlihat sangat sepi, jelaslah karena waktu juga sudah sore.
"Aku akan pulang setelah ini," gumam Winda dengan tangan bergerak membuat kopi untuk Aditya.
Setelah memastikan semuanya pas Winda segera pergi ke ruangan Aditya, dia begitu semangat karena setelah ini dia akan pamit pulang. Semakin sore nanti tak akan ada angkutan lewat.
Tok tok tok...
Setelah mengetuknya Winda segera membuka pintu untuk segera memberikan kopinya.
"permisi, Pak," sapanya dengan kaki melangkah masuk.
Matanya mengedar dan ternyata Aditya terlihat rebahan di sofa dengan memejamkan mata dan satu tangan beradaptasi di atas kening sementara yang satu ada di atas perutnya. Terlihat jelas kalau Aditya sedang berpikir keras meski dengan mata yang tertutup.
"Pa_pak, ini kopi yang anda minta." Winda begitu was-was.
"Terima kasih," Aditya segera membuka mata dia juga beralih duduk dengan cepat.
Kopi yang seharusnya mendarat di meja kini langsung di ambil alih oleh Aditya. Meski masih panas dia juga perlahan menyeruputnya.
"Pa_pak. Apakah masih ada yang bapak butuhkan? kalau tidak saya akan pulang ini sudah sore," tanya Winda.
"Jangan pulang dulu, temani saya di sini. Duduklah," pinta Aditya seraya menjauhkan cangkir dari bibirnya.
"Ta_tapi, Pak?"
"Nanti aku antar kamu pulang. Sekarang temani saya suka sini dulu saya hanya butuh teman."
Teman?
Winda mengernyit dengan keinginan dari bosnya itu. Dia terlihat sangat berbeda sekarang tak seperti biasa yang sangat angkuh dan juga dingin, tapi sekarang?
Sekarang terlihat lebih lembut dan juga lebih hangat bicaranya lebih akrab.
Dengan nurut Winda duduk di sofa depan Aditya dia duduk dengan tenang namun sangat gugup dan juga was-was. Jantungnya terus berdetak cepat karena ini tak biasa untuk dia.
Winda yang memang masih single dan belum pernah berpacaran tentu akan sangat gugup berada di hadapan laki-laki.
"Ba_bapak ada masalah?" tanyanya memecah keheningan yang sempat terjadi pada mereka.
Aditya masih diam dan tak menjawab, dia hanya menikmati kopi buatan Winda saja.
"Kopi buatan kamu enak," puji nya. Apa yang di tanyakan dan apa juga yang menjadi jawaban.
"Te_terima kasih, Pak."
'Kenapa baru sekarang pak Aditya memuji kopi buatan ku? bukankah sudah lama bahkan setiap hari aku bikin untuknya?' batin Winda lagi.
"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Aditya.
Mata Winda seketika membulat. Dia sangat terkejut dengan pertanyaan dari bos nya itu. Ini sangat tidak biasa.
"Be_belum, Pak."
"Bagus, jangan pernah pacaran," ucapnya dan kembali menikmati kopinya.
Semakin bingung Winda saat ini, apa hubungannya coba dan apa maksud Aditya menayangkan hal itu padanya?
'Kenapa pak Adit bertanya seperti itu, apakah dia menyukai ku? ah tidak tidak! tidak mungkin pak Adit suka dengan ku. Ada-ada saja kau ini, Winda Winda,' batin Winda lagi.
--------Normal--------
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung.....