
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Ternyata tak mudah untuk bisa tidur dari semalam. Bahkan semalaman aku terus terjaga dan sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Hingga pagi sama sekali tak bisa tidur meski hanya sedetik saja. Entah kenapa tapi rasanya sangat berbeda tidak sama seperti ketika mas Aditya menceraikan ku dan tetap bisa tidur meski hanya sebentar. Tapi sekarang?
Tubuh perlahan bangun dan berdiri, berjalan untuk pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan wajah.
Tak lama dan kembali keluar lagi. Aku melihat ke arah Ara dan dia masih terlelap. Alhamdulillah, aku senang karena dia sama sekali tidak rewel meski berada di tempat baru.
Kepala rasanya sangat berat, sungguh pusing tapi aku pikir hanya karena semalaman tak bisa tidur saja jadi aku abaikan saja dan bergegas untuk pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Tidak yang macam-macam aku yang menjadi niat utama untuk masak sarapan, hanya nasi goreng saja karena memang adanya hanya nasi sisa semalam juga ada dua telur dan bumbu-bumbu saja jadi tidak akan ada yang bisa di masak selain nasi goreng.
Rasanya sangat sedih karena hanya bisa memberi sarapan Ara seperti ini, nasi pun hanya sisa dari semalam. Hem.. Maafkan bunda ya, Nak.
Perlahan tangan mulai bekerja mengupas bumbu dan mulai memotongnya dan setelah semua siap juga untuk menggoreng bumbunya.
Awalnya aku masukan bawang merah, tangan terus bergerak tapi sesuatu terjadi. Aku mual hanya karena mencium aroma bawang merah goreng saja.
Perutku rasanya seperti di aduk-aduk sangat tidak nyaman, semua isi di dalamnya seperti ingin keluar padahal dari bangun juga belum makan apapun.
"Astaghfirullah, ada apa ini. Ugh..." Aku langsung mematikan kembali kompor lalu berlari ke toilet. Rasa tidak nyaman dan membuatku tak tahan kalau tidak segera mengeluarkannya.
Sampainya di toilet lagi-lagi semua yang ada di dalam perut keluar meski hanya masih berupa air saja. Rasanya sangat tidak nyaman sama seperti kemarin pas masih ada di rumah pak Devan.
"Ini ada apa?" begitu bingung karena apa yang terjadi padaku saat ini.
Tapi sejurus kemudian aku terpaku kala mengingat hal yang sangat tidak aku inginkan terjadi.
"Tidak, tidak mungkin. Aku tidak mungkin hamil kan?" suaraku tercekat terasa sangat susah untuk keluar dari tenggorakan.
Tidak mungkin itu terjadi padaku kan? Aku hanya melakukan sekali saja dengan pak Devan itupun juga tidak dalam waktu yang lama tapi bagaimana mungkin bisa hamil. Ini tidak mungkin terjadi kan?
Aku terus menggeleng karena tidak percaya dengan semua yang hadir di dalam pikiranku.
Setelah merasa nyaman dan tidak terlalu mual aku lari keluar. Aku begitu buru-buru dan mencari kalender hingga aku berhenti ketika melihat ada kalender yang terpasang di ruang tengah.
Tangan terus bergerak mencari-cari tanggal dimana seharusnya aku mendapatkan tamu bulanan, dan juga terakhir tamu bulanan bulan lalu itu berakhir.
"Tidak, ini tidak mungkin," luruh sudah air mata ku setelah melihat tanggal di kalender yang seharusnya aku kedatangan tamu sekitar sepuluh hari yang lalu. Ini benar-benar tidak mungkin.
Meski semua belum di pastikan tapi kenapa rasa sesak sudah langsung hadir dan membuatku susah untuk bernafas.
Jantungku berdetak tidak beraturan dengan tubuh yang lemas hingga bersandar di dinding karena merasa tidak mampu untuk berdiri.
"Ini tidak mungkin," kataku lagi.
Kenapa harus terjadi? Jika benar adanya apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku kembali kepada pak Devan dan mengatakan tentang ini dan meminta dia pertanggung jawab?
Atau, aku harus tetap di sini. Menyembunyikan semuanya dari pak Devan dan membesarkan sendiri tanpa adanya peran ayah menemaniku sama seperti Ara dulu.
Sesak dan semakin sesak. Haruskah aku mengalami dua kali kehamilan tanpa ada laki-laki yang telah membuat ku mendapatkan kehamilan? Apakah nasib anakku ini akan sama seperti nasib Ara?
Ya Allah, rasanya tak sanggup untuk hidup jika semuanya benar terjadi.
"Tidak tidak, aku harus pastikan kebenarannya dulu. Bisa jadi aku terlambat datang tamu bulanan karena aku terlalu banyak pikir atau kecapean. Aku harus pastikan lebih dulu. Ya, aku harus pastikan."
Ku usap dengan kasar air mata yang sudah jatuh membasahi pipi. Dengan tangan gemetar akhirnya berhasil mengeringkan pipi yang sudah basah dan dengan tubuh yang gemetar aku bisa kembali berdiri tegak tanpa bersandar pada dinding.
"Bunda, Ara sudah bangun," sontak aku menoleh ke arah Ara yang kini sudah berdiri di tengah-tengah pintu kamar dan ingin keluar.
"Bunda, bunda kenapa menangis?"
Astaghfirullah, padahal aku sudah menghapus dan mengeringkan pipi dari air mata tapi kenapa masih di sadari oleh Ara. Apakah benar-benar masih terlihat dengan jelas?
"Ti_tidak, bunda hanya kelilipan saja kok. Bunda baru melihat kalender tapi tidak tau kalau ada debu di dalamnya, pas kena angin jadi masuk ke mata bunda."
"Anak bunda sudah bangun, sekarang cuci wajah sampai bersih dan juga jangan lupa sikap gigi juga mandi. Bukankah nanti mau ke sekolah?"
"Ara beneran akan sekolah hari ini, Bunda?" Ara semakin semangat.
"Tentu, nanti bunda antar Ara ke sekolah," jawabku dengan menyakinkan.
"Baik, Bunda. Ara akan mandi!" Ara langsung berlari masuk lagi ke kamar dan kembali keluar dengan membawa handuk.
Rasanya sangat bahagia bisa melihat Ara yang begitu ceria di pagi hari seperti ini. Padahal aku sangat takut kalau dia akan terus merajuk untuk minta kembali ke rumah pak Devan, tapi ternyata tidak. Alhamdulillah.
"Bunda, Ara mandi sendiri ya! Ara kan sudah besar!" Ara berteriak tapi juga langsung berlari ke kamar mandi.
Melihat Ara yang sudah masuk ke kamar mandi aku juga mengikutinya untuk memastikan segala keperluannya. Aku siapkan semuanya.
"Bunda keluar saja, Ara kan sudah besar," katanya.
Aku terkekeh melihat Ara yang begitu antusias pagi ini, sejenak aku bisa melupakan apa yang membuat ku hampir frustasi tadi tapi melihat senyum Ara semua seolah hilang begitu saja.
Aku tau semua tidak akan bisa hilang dan akan kembali ketika masa-masa yang seperti sekarang ini berakhir. Kala aku duduk sendiri pasti semuanya akan kembali satu persatu dan memenuhi ruang di dalam pikiran ku.
"Bunda cepetan keluar!" begitu kekeuh Ara tidak mau di temani membuat aku juga langsung keluar dan memilih pergi ke dapur untuk meneruskan membuat sarapan.
Semua sudah aku siapkan jadi aku pikir semuanya aman.
Karena takut akan kembali mual lagi saat masak aku berniat memakai masker supaya tidak akan terjadi hal yang sama seperti sebelumnya.
Dan benar saja, caraku ini sungguh manjur dan akhirnya bisa menyelesaikan masak sarapan pertama di kontrakan bersama Ara.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Benar, setelah selesai sarapan aku antar Ara ke sekolah TK yang ada di depan rumah. Meski masih memakai baju biasa saja tapi Ara sangat senang karena akhirnya bisa masuk sekolah dan langsung memiliki banyak teman.
Semua terlihat begitu baik dengan Ara, mereka saling kenalan dan saling bercerita tentang apa saja yang pernah mereka lalui dan mainan apa saja yang mereka suka.
Sementara aku, setelah mendaftarkan Ara pada kepala sekolah aku bergegas pamit untuk keluar sebentar dan juga menitipkan Ara pada guru.
Ara juga tidak masalah aku pergi sebentar karena dia sudah sangat bahagia bisa mendapatkan teman-teman baru.
Sebenarnya tidak tega meninggalkan Ara di tempat yang baru untuknya tapi aku sangat percaya pada semuanya karena di sana juga ada ibu kontrakan yang anaknya juga menjadi teman Ara jadi menambah aku tenang untuk pergi.
Tempat pertama yang ingin aku datangi adalah perusahaan Gudia. Aku hanya ingin memberikan surat pengunduran diri. Jelas aku tidak akan menunjukkan wajahku pada semua orang yang ada di sana tapi hanya akan aku berikan kepada penjaga saja.
Dan benar saja, setelah sampai di perusahaan Gudia dengan naik ojek langsung aku memberikan surat pengunduran diri pada penjaga.
"Eh, mbak Nayla. Udah lama tidak masuk udah mau masuk lagi ya, Mbak?" tanya penjaga itu yang tentu berbeda dengan tujuan ku datang.
"Tidak, Pak. Sebenarnya saya datang hanya untuk memberikan ini. Ini surat pengunduran diri saya. Tolong sampaikan pada pak Devan. Dan saya minta maaf jika pernah ada salah sama bapak. Maaf, saya permisi."
Cepat aku pergi karena tidak mau berlama-lama di sini dan nanti akan ketahuan oleh pak Devan atau mungkin oleh Mika. Aku masih tidak ingin bertemu dengan Mika.
"Tapi mbak?" tampaknya penjaga itu bingung setelah menerima surat dariku dan langsung pamit pergi.
"Mbak!" terdengar penjaga itu berteriak memanggil tapi tetap aku abaikan dan kembali naik ojek yang sama.
"Pak, tolong ke apotek ya pak. Dan setelah itu antar saya kembali ke sekolah tadi," pintaku.
Entah kenapa aku sangat penasaran akan hasilnya meski aku tidak mengharapkannya. Tapi aku tidak akan tau hasilnya jika tidak periksa dan inilah langkah pertama yang harus aku lakukan.
"Baik, Bu," jawab pak ojek tersebut dan langsung melajukan motornya untuk menuju tempat yang aku katakan tadi.
'Semoga ketakutan ini tidak benar. Aku tidak ingin semuanya yang aku pikirkan itu terjadi. Aku tidak ingin ada ikatan apapun dengan pak Devan,' batinku.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....