
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Katanya akan kembali sebentar lagi, tapi sudah di tunggu tetap saja tak kunjung datang. Sebenarnya pak Devan itu pergi kemana sih?!
Padahal hanya di minta untuk membelikan karak telur saja tapi lama sekali. Tidak mungkin kan dia tidak bisa menemukan makanan yang sebenarnya bisa di di dapatkan di mana-mana itu.
Kerak telor bukanlah makanan yang susah di dapat sangat mudah sebenarnya tapi entahlah aku sendiri tidak tau apa alasan yang sebenarnya kenapa pak Devan belum saja kembali.
Rasanya air liurku sudah terus ada dan ingin ngeces karena membayangkan betapa enaknya makan kerak telor hangat. Membayangkan saja sudah bisa membuat aku terus tersenyum tak sabar.
Tapi, setiap mengingat pak Devan yang tak kunjung datang membuat aku merasa sangat kesal dan ingin marah, ingin memakan apapun semua yang ada di hadapan mata.
"Pak Devan mana sih?" kembali aku berdiri dari duduk yang ada di sofa, berjalan menuju dekat pintu hanya untuk menyambut kedatangan suami yang belum juga datang.
"Pak Devan, cepatlah kembali," kataku dengan mata yang terus melihat pintu yang masih tertutup.
Lima menit berdiri tapi belum juga pintu itu terbuka, kaki kembali melangkah dengan mondar-mandir.
"Apa aku cari saja sendiri ya?" kataku yang sudah sangat tak sabar untuk memakan kerak telor.
"Tapi nanti rasanya pasti berbeda, aku hanya mau makan kalau pak Devan sendiri yang membelinya," kataku lagi.
Rasanya sudah sangat tidak sabar untuk segera memakan kerak telur yang saat ini ada bersama Pak Devan, ingin sekali mencari sendiri dengan keluar dari hotel namun rasanya sangat berbeda dari yang telah berhasil dicarikan oleh Pak Devan.
Rasanya, apapun yang ingin aku makan adalah semua yang dari tangan Pak Devan. Tidak tahu apa sebabnya tapi rasanya sangat ingin seperti itu.
Klek...
Tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat lebar dan jelas Pak Devan yang masuk. setelah melihat aku yang berdiri di depan pintu Pak Devan langsung meringis karena merasa bersalah setelah dia terlambat pulang.
"Kok lama?!" kataku begitu acuh dan begitu sangat kesal. Aku sendiri tidak tahu karena apa tapi yang jelas aku sangat selalu. Apakah mungkin ini karena pengaruh hormon?
"Maaf, Nayla sayang. Aku harus muter-muter dulu untuk mencarinya. Dan setelah berhasil mendapatkannya baru aku bisa pulang kan? Maaf ya, yang terpenting ini kerak telurnya sudah berhasil aku beli," pak Devan menghampiri.
Meski Pak Devan menjelaskan hal yang seperti itu tetap saja perasaan kesal ini terus menggerayangi hatiku. Rasanya sangat tidak percaya apa yang dia katakan, pasalnya dia mengatakan kalau tadi hanya tinggal sebentar lagi dia akan sampai tapi setelah ditunggu nyatanya masih setengah jam lebih.
"Jangan cemberut begitu dong," Pak Devan terus membujuk dengan sesekali tangannya bergerak untuk menyentuh pipiku juga memperlihatkan kresek yang dia bawa.
"Lihatlah, ini kerak telornya udah ada. Mau bagaimana, makan sendiri atau di suapin?" tawarnya.
Wajahnya berusaha supaya terlihat tenang dan terus menghiburku, membujuk supaya tidak kesal kepadanya tetapi mau bagaimana aku sendiri juga rasanya sangat susah untuk mengendalikan rasa kesal ini.
Aku berjalan menjauh darinya, dan duduk kembali ke sofa yang tadi dengan wajah yang masih saja cemberut kesal bahkan memalingkan wajahnya ketika pak Devan mengejar dan ini berada di hadapanku.
"Maaf Nayla sayang, aku janji tidak akan terlambat lagi kalau kamu minta apapun. Aku akan selalu datang tepat waktu. Maaf ya, ya."
Pak Devan beralih duduk di hadapanku namun tetap saja aku tidak menjawab karena sangat kesal. Namun Pak Devan tidak menyerah dan kembali lagi berpindah ke tempat yang semula dan kini kembali di hadapanku.
Pak Devan beralih berlutut di hadapanku dan ketika itu baru aku merasa sangat tidak enak dan langsung aku tarik Pak Devan untuk kembali duduk di sebelahku.
"Janji, tidak akan terlambat lagi," seperti selayaknya anak kecil yang tengah merajuk dengan sangat manja jari kelingking terangkat dan berdiri untuk meminta janji kepada Pak Devan.
"Janji," Pak Devan tersenyum dengan mengangkat jari kelingkingnya hingga bersatu pada jariku. Rasanya sangat bahagia ketika Pak Devan melakukan hal itu, benar-benar seperti anak kecil saya diriku sekarang ini.
"Sekarang bagaimana, mau makan sendiri atau di suapi?" ucap pak Devan menawarkan.
"Suapin," aku kembali merengek, memasang wajah imut dan pak Devan seketika begitu gemas terbukti dengan tangannya yang tertangkap untuk menowel pipi.
"Baiklah istri manjaku," jawabnya dengan tangan segera membuka plastik itu setelah tangan terlepas dari pipi.
Sungguh sudah sangat tidak sabar untuk mendapatkan suapan dari Pa. Membayangkan saja rasanya sudah begitu nikmat dan sebentar lagi akan benar-benar merasakan makan disuapin oleh Pak Devan.
Sungguh beruntungnya anakku yang sekarang, dia bisa mendapatkan kasih sayang yang penuh dari ayahnya. Sementara Ara dulu? semua hanyalah mimpi yang tidak pernah terwujud bahkan sampai sekarang pun tidak pernah dia dapat dari ayah kandungnya dan hanya dia dapat dari ayah sambung yang lebih menyayangi Ara.
Tetapi meski seperti itu kejadiannya aku tetap bersyukur karena akhirnya hidup kami lengkap dengan kedatangan Pak Devan. Semoga saja kebahagiaan ini akan kekal dan abadi sampai selama-lamanya.
"Pak, kapan kita akan pulang?" tanyaku di sela-sela mengunyah.
"Besok. Besok baru kita pulang," pak Devan terus menyuapi dengan sabar.
Aku mengangguk setelah Pak Devan mengatakan kapan akan pulang yang ternyata adalah besok. Aneh, Kenapa aku begitu penurut pada dirinya padahal kemarin-kemarin tidak pernah seperti ini?
Kemarin rasanya sangat kesal ketika bersama dengan Pak Devan bahkan melihatnya saja hati rasanya ingin marah, tapi ada apa dengan sekarang? sekarang menjadi lebih penurut dan ingin selalu bersamanya bahkan jika dia pergi rasanya tidak rela.
"Enak?" tanya pak Devan.
Aku kembali mengangguk, rasanya memang enak meski keinginanku sudah berubah dari awal menginginkannya, karena keinginan awal adalah makan kerak telur dengan disuapi Pak Devan sementara kerak telur itu masih hangat namun sekarang sudah berubah menjadi dingin.
"Apa kamu tidak marah lagi?" tanya Pak Devan menelisik apakah aku masih marah atau tidak.
Tiba-tiba saja wajahku ini menggeleng, amarah tadi juga rasa kesal sudah hilang dan berganti dengan kebahagiaan melalui suap demi suap tangan untuk Devan membawa kerak telur masuk ke dalam mulutku.
Aku melihat Pak Devan menghembuskan nafas panjang mungkin dia sangat lega karena aku sudah hilang.
"Kenapa diam?" Tanyaku beberapa saat ketika Pak Devan tiba-tiba menghentikan senyum dia diam dan seolah memikirkan sesuatu.
"Tidak apa. Nih ak lagi," katanya dan kembali menyuapi lagi. Meski dia tidak mengatakan apa-apa tapi aku merasa Pak Devan sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....