Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Keluarga Pratama di persidangan



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Dalam persidangan mas Aditya lagi-lagi ngotot karena ingin menang. Tentu saja, dia tak akan mungkin mau kalah begitu saja meski semua bukti yang dia bawa tidak dapat digunakan buktikan kebenarannya.


Bukan hanya bukti saja, bahkan saksi yang dia ajak juga tidak bisa membantu untuk bisa membuktikan apa yang dia ucapkan. Dia ingin menang? Sangat mustahil.


Aku juga mas Devan tersenyum dengan sangat lega. Ternyata yang mas Devan katakan benar bahwa dia tidak ingin main-main dan akan serius supaya semuanya cepat selesai.


Kami harus bisa menyelesaikan ini dengan cepat supaya bisa serius dengan kesembuhan Ara. Dia sudah sangat menderita jadi kami harus secepatnya menjalani pengobatan yang sudah di sarankan oleh dokter.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Nay. Kamu dan Devan sama-sama kejam padaku!" ucapnya yang sangat tidak terima.


"Kejam? Kamu bilang aku yang kejam mas?! Kamu yang kejam, tidak pernah pulang, tidak pernah menafkahi dan tidak pernah mau mengerti. Aku menunggu kamu lima tahun dan yang kamu berikan hanya surat perceraian, siapa yang kejam, aku atau kamu Mas!"


Begitu geram rasanya, ingin aku katakan semuanya supaya semuanya tau sekaligus apa yang dia lakukan. Biarkan semua terbongkar karena memang itulah yang terjadi.


"Oh iya, Mas. Aku juga membawa kejutan untuk kamu. Semoga kamu senang dengan kejutan yang aku berikan." kataku.


Mas Aditya terlihat mengernyit bingung. Dia ikut melihat arah mataku yang menuju ke arah pintu masuk.


"Jihan," Mas Aditya berdiri, dia sangat terkejut melihat kedatangan Jihan. Bukan hanya Jihan saja yang datang tapi juga ada pak Pratama juga sang istri.


Sungguh, ingin aku tertawa melihat wajah mas Aditya yang begitu terkejut. Apalagi mas Aditya juga langsung berdiri karena kedatangan mereka semua.


Mereka adalah orang yang akan membuat Mas Aditya tak akan bisa berkutik lagi. Tapi entah sebenarnya yang akan terjadi dan akan mereka lakukan karena mas Devan belum mengatakan semuanya padaku.


Tatapan mata pak Pratama sangat bengis terhadap mas Aditya, sepertinya dia sangat membenci mas Aditya. Tapi kenapa? Bukankah dia adalah menantu kesayangan?


Mereka memang belum mengatakan apapun, tapi dengan kedatangan mereka saja sudah mampu membuat nyali mas Aditya menciut sekarang. Wajahnya terlihat mulai pucat, dia takut? Tapi takut karena apa? Apakah ada kesalahan besar yang telah dia lakukan pada keluarga istrinya itu?


"Mas, sebenarnya ada apa sih?" tanyaku dengan berbisik pada mas Devan. Penasaran juga dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Tidak menjawab, tapi mas Devan hanya tersenyum dengan tangan yang terangkat dan mengelus bahu.


Mas Aditya yang tadi begitu ngotot sekarang hanya diam tak berkata-kata, apakah dia takut setelah kedatangan pak Pratama beserta keluarga?


"Ternyata kamu bohong, Mas. Kamu mengatakan pada kami kamu belum pernah menikah dan ternyata kamu sudah pernah menikah bahkan sudah memiliki anak." Jihan mulai bicara.


Dia terlihat marah dengan kebohongan yang mas Aditya buat padanya.


"Ta_ tapi saya sudah tidak mencintai nya, saya hanya mencintai kamu saja, Jihan." jawab Mas Aditya.


Sungguh lucu sekali ya, bagaimana dia mengatakan ingin kembali padaku, memaksa aku untuk bisa menerimanya dan akan meninggalkan istrinya, tapi nyatanya?


Apakah ini semua hanya karena harta?


Tentu saja itu karena harta yang di miliki oleh keluarga Jihan. Dia tentu tidak ingin kehilangan hartanya.


"Bohong! Kamu tidak mencintai ku, tapi kamu mencintai harta ku. Iya kan?!"


Mendengar itu mas Aditya malah tersenyum sinis, sungguh membingungkan sikapnya itu. Kenapa dia tersenyum senang?


"Harta, harta yang mana yang kamu maksud?" Katanya.


"Harta kami yang telah kamu rebut. Tapi tidak! Kami tidak akan rela kamu mengambilnya dari kami."


Ruang persidangan menjadi sangat tegang setelah kedatangan keluarga Pratama semua menjadi tak terkendali dengan perdebatan yang tak seharusnya terjadi.


Terasa sangat menegangkan, tapi aku hanya diam dan mendengarkan semua yang telah terjadi. Semua kata-kata terekam sangat jelas masuk ke kepala dan mencerna semuanya.


Satu persatu aku tau apa yang sebenarnya terjadi, meski belum jelas tapi sudah aku tau semua yang di lakukan oleh mas Aditya. Dua ingin merebut harta dari keluarga Pratama. Sungguh, mas Aditya sangat gila harta.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....