
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Padahal sudah menolak untuk ikut kembali ke rumah Pak Devan tapi tetap saja penolakan_ku tidak berguna sama sekali, Pak Devan kekeuh dan membawaku dan juga Ara kembali kembali ke rumahnya.
Kalau aku jelas saja menolak sementara kalau Ara? Dia sangat girang dan ikut tanpa berpikir panjang.
Mau berontak pun juga tidak ada gunanya lagi kalau anak sudah ikut dan nurut kepadanya. Kalau aku tidak ikut bagaimana mungkin aku akan merelakan Ara pergi bersamanya.
"Sudah lah, Nay. Jangan cemberut terus, tersenyumlah dan sambut kebahagiaan kita," ucapnya dengan sangat percaya diri.
Bagaimana mungkin aku akan tersenyum bahagia, aku belum bisa melakukan hal itu. Rasanya masih sangat berat untuk menerima semua yang telah terjadi saat ini.
Aku tetap diam meskipun Pak Devan terus saja berbicara mengatakan apapun untuk aku menerima keputusan ini. Sementara Ara? Dia sangat senang melihat ponsel milik Pak Devan yang terdapat video kartun di dalamnya.
Aku memang duduk di sebelah Pak Devan sementara Ara dia duduk sendiri di belakang dan terus fokus dengan ponsel sama sekali tidak melirik ke arahku juga Pak Devan.
"Lihatlah Ara, Dia sangat senang bisa kembali ke rumah seharusnya kamu juga senang seperti dia bukan?"
Aku menoleh ke arah Ara yang sangat senang, memang kebahagiaan seorang ibu terletak pada anaknya tetapi dengan keadaan ini bagaimana mungkin aku bisa bahagia?
Aku masih sangat takut dengan Pak Abraham bisa saja dia belum memaafkan_ku karena telah berbohong. tak seperti apa Aku di matanya sekarang?
Pasti dia masih sangat kecewa, dan mungkin saja Pak Devan yang berniat membawaku pulang itu adalah hasil dari perdebatan mereka dan bukan keinginan dari Pak Abraham. tentu itu tidak mungkin kan?
"Apa yang membuat kamu sedih saat ikut dengan ku, Hem?" sepertinya Pak Devan sangat penasaran dengan apa yang telah aku rasakan saat ini. Tapi mana mungkin aku akan mengatakan kepada dirinya bahwa aku takut kepada Pak Abraham.
"Tidak ada," jelas aku akan menutupi semuanya, karena aku tidak mau antara anak dan ayah akan terjadi salah paham dan berselisih paham hanya karena ku saja.
Aku tidak mau semakin merasa bersalah dan seperti menjadi beban di antara mereka berdua. Sudah cukup dengan masalah yang aku buat dan jangan lagi ada masalah baru karena aku.
"Aku ingin buang air, bisakah kita berhenti dulu di salah satu tempat?" tanyaku.
Pak Devan terlihat berpikir ketika aku mengatakan sangat ingin buang air. Apakah hanya ingin buang air saja aku juga diragukan? pikirku.
"Baiklah, kita cari tempat dulu," jawab pak Devan dengan mata yang mulai melihat-lihat ke tempat yang mungkin akan nyaman untuk menjadi tempat ku buang air.
Tidak sampai lama Pak Devan menemukan tempat yang terlihat sangat nyaman di salah satu bangunan di pinggir jalan yang terdapat toilet umum.
"Aku akan turun sendiri. Pak Devan tunggu di sini bersama Ara," kataku dan langsung membuka pintu dan keluar.
"Tapi..." terlihat Pak Devan sangat ragu jika aku keluar sendiri, tetapi aku kembali menoleh dan mengangguk dan setelah itu Pak Devan pasrah dan mengizinkan aku untuk sendiri.
"Bunda! Bunda mau kemana?" dan setelah aku berjalan baru Ara melihat dan kini berteriak untuk bertanya ke mana aku akan pergi. Ara terlihat sangat takut mungkin dia takut kalau aku benar akan pergi meninggalkannya.
"Bunda hanya mau buang air!" teriak aku menjawab, dan setelah itu Ara kembali diam dan duduk dengan tenang seperti semula.
Dengan cepat aku melangkah untuk pergi ke toilet umum yang berada di balik jalan itu. Memang ada beberapa mobil yang juga berhenti sekedar untuk istirahat dan juga sekedar untuk pergi ke toilet, ya seperti aku.
Tidak begitu banyak yang datang tapi aku menunggu sebentar untuk mendapatkan giliran untuk bisa masuk.
Hingga akhirnya ada orang yang keluar dan aku masuk. Kami sama-sama tersenyum, dia adalah wanita yang cantik dan masih sangat muda.
Bergegas cepat aku melakukan apa seperlunya saja di sana, tidak mengulur waktu untuk berlama-lama. Lagian hanya untuk buang air saja.
Setelah selesai dengan tujuan aku bergegas keluar dan ingin kembali ke tempat mobil Pak Devan. Namun ada seseorang yang memanggil dan membuat aku menghentikan langkah.
hati seketika memanas ketika melihat siapa yang kini berjalan mendekat dengan begitu percaya diri bahkan juga dengan senyum yang penuh arti, dia adalah Mas Aditya. Kenapa bisa dia ada di sini?
"Nay, Hem... akhirnya kita berjumpa lagi. Sepertinya kita masih berjodoh," katanya dengan masih saja tersenyum.
Perkataannya semakin membuat aku muak dan ingin marah kepadanya. Kenapa lagi-lagi ada dia, sebenarnya ini hanya kebetulan saja atau memang dia mengikuti hingga akhirnya kami bertemu.
"Apa yang mas inginkan?" tanyaku dengan sangat serius dan tidak ada kata basa-basi.
"Ya aku inginkan? aku hanya ingin kamu kembali kepadaku. Bagaimana? kita bisa hidup dengan bahagia menjadi keluarga yang utuh."
Tawaran yang membuat ku semakin muak kepadanya. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang seperti ini. Dia sendiri yang mengkhianati, dan menceriakan secara terlihat tapi sekarang dia meminta untuk kembali. Bukankah ini sangat aneh? plin-plan lebih tepatnya.
"Mimpi!" jawabku ketus dan juga singkat.
"Ayolah Nay, kamu jangan jual mahal seperti ini apa aku tahu sebenarnya kamu masih sangat mencintaiku, benar begitu bukan?"
"Aku tau hubungan kamu dan juga Devan hanya sandiwara. Kalian bukan benar-benar sepasang suami istri tetapi kalian hanya bersandiwara, hanya akting! tetapi sayangnya aku tidak percaya dengan akting kalian."
Semakin panas hatiku mendengar mas Aditya menyebutkan Ara adalah anaknya. Rasanya sangat menjijikkan.
Kenapa baru sekarang dia mengakuinya, kenapa tidak dari dulu.
"Aku sangat merindukannya, Nay. Aku ingin sekali memeluk dan menciumnya, bawa dia padaku Nay dan kita tinggal lagi bersama-sama. Aku janji tidak akan meninggalkan kalian lagi. Aku janji."
Janji? orang yang sudah pernah sekali mengingkari janjinya bagaimana mungkin akan mendapatkan kepercayaan. Tidak akan pernah lagi mendapatkannya.
Dulu, aku begitu mati-matian menjaga janji itu. Menjaganya meski aku sendiri yang akhirnya mendapatkan penghinaan tapi apa ujungnya? hanya sebuah pengkhianatan. Lalu sekarang dia kembali berjanji?
"Janji? makan tuh janji!" aku bergegas untuk melenggang pergi aku sudah sangat tidak ingin melihat wajahnya lagi. Aku merasa sangat muak melihatnya.
"Nay!" kembali aku berhenti melangkah dan juga kembali membalik akibat tarikan yang di sebabkan oleh mas Aditya. Bahkan tubuh ku sampai menubruknya karena tarikan yang begitu keras.
"Ternyata kamu masih sangat cantik, Nay. Kembalilah padaku dan akan aku jadikan kamu ratuku," katanya.
Ratu?
Aku jelas berontak dari genggamannya tetapi tidak semudah itu untuk lepas dari seorang laki-laki yang memiliki tenaga lebih kuat dariku.
Aku terus berontak dengan kuat tetapi dia dengan kuat juga menahan_ku bahkan satu tangannya juga menahan pinggan supaya tetap berada di hadapannya dan kami saling menyatu.
"Lepas!" bentak ku.
Tapi sama sekali tidak berguna dan tidak membuat Mas Aditya melepaskan_ku. dia malah semakin erat menahan dan juga menekan pinggang supaya kami benar-benar saling menyatu.
Mas Aditya terus tersenyum dengan senang karena bisa melakukan ini terhadapku, bahkan supaya aktivitasnya tidak di lihat oleh orang dia menarik hingga sampai ke sisi lain dan hanya benar-benar kami berdua di sana.
Begitu gilanya mas Aditya kini memojokkan aku di dinding dan dia menghimpit ku. Tangan ku yang berontak dia pegang dengan satu tangannya.
"Kenapa, Nay. Bukankah kamu sangat merindukan ku?" tanyanya.
Antara marah, muak dan juga sangat takut. Aku takut dia berbuat macam-macam terhadap ku.
"Lepas, Mas. Lepas! Aku akan teriak kalau mas tidak melepaskan ku!"
Nyatanya peringatan ku malah membuat dia tertawa semakin bahagia.
"Hahaha, teriak? teriak saja. Tidak akan ada orang yang mau membantu wanita jal*ng seperti mu."
Astaghfirullah...
Lagi-lagi sebutan itu dia sematkan untukku, untuk membuat aku merasa menjadi orang yang paling terhina.
"To..."
Belum juga suaraku benar-benar keluar seutuhnya Mas Aditya sudah membungkam mulut dengan telapak tangannya. Matanya terlihat membulat sangat besar Aku yakin dia sangat marah karena yang aku katakan benar aku lakukan.
Aku sudah mengenal Mas Aditya begitu lama tetapi kenapa aku tidak mengenal perilaku yang satu ini yang begitu tumpramen bahkan tega melakukan ini kepadaku, wanita yang pernah menjadi bagian dari kisah hidupnya.
"Berani sekali kamu melakukan itu, Heh!" matanya semakin membulat dan wajahnya dia mendekat kepada wajahmu tentu reflek aku langsung menjaga wajah dan berusaha menghindar darinya.
"Aku katakan baik-baik, Nay. Kembalilah padaku. Mau atau tidak, kamu harus kembali menjadi milikku!" suaranya terdapat amarah yang begitu besar.
Aku begitu takut, kenapa tak ada orang di sini?
Mas Aditya semakin menghimpit_ku dan kami benar-benar tak ada jarak lagi dan hanya tinggal pakaian kami yang menjadi penghalang.
Ya Allah, tolong aku...
'Pak Devan, tolong aku...' hanya pak Devan yang aku harapkan saat ini.
Meski aku sangat kesal kepadanya tapi tak ada lagi yang bisa menolong selain dia. Meski dia sangat resek, tapi dia tidak lagi menunjukkan amarah seperti ini kepadaku kecuali sekali saja waktu itu.
"Kamu hanya milik ku, Nay. Bukan milik Devan!" matanya semakin bulat seakan ingin keluar dan wajahnya kian mendekat.
"Emm..." aku menggeleng dan ingin melepaskan diri, tapi nihil ini tidak mudah.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....