
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Runtutan acara yang begitu banyak akhirnya selesai juga meninggalkan lelah yang terasa sangat amat besar. Padahal tidak seperti biasanya aku mudah lelah seperti ini apakah ini karena pengaruh hamil?
Di dalam kamar aku berada saat ini, kamar yang tadi tapi sudah di sulap begitu cantik. Melihat malah menjadikan aku merasa merinding, bagaimana tidak! Kamar yang semula hanya biasa sekarang terlihat luar biasa karena di hias dengan bunga-bunga mawar berwarna merah.
Kenapa harus merah?
Mungkin karena merah adalah simbol dari cinta dan karena baru menikah mereka pikir akan banyak cinta di dalamnya, benar begitu kan?
Langkah ku perlahan dengan gaun yang sekarang sudah berganti dari kebaya yang tadi. Dandanan juga sudah berbeda karena juga langsung mengadakan resepsi.
Padahal hanya sedikit saja yang datang tapi ternyata itu tidak membuat acara demi acara di kurangi.
Entah pergi kemana pak Devan saat ini, biasanya pengantin baru akan masuk ke dalam kamar secara bersamaan tapi ternyata itu tidak terlaku untuk ku.
Apakah mungkin dia masih menemui para tamu?
Aku ke sini Ara dan juga bu Susan yang mengantarkan sementara pak Devan, tadi dia bilang ingin di sana sebentar lagi karena masih ada sesuatu. Entah sesuatu apa aku jelas tidak tau.
Mataku menggerilya semua sudut ruangan, semua terlihat sempurna sangat indah dan cantik.
Aku duduk di tepi ranjang yang tadi aku duduki ketika sebelum acara akad terdapat kelopak mawar merah yang ada di atas ranjang tepat di tengah-tengah dengan berbentuk hati.
Bukan itu saja, tapi ada dua handuk putih yang di bikin seperti angsa yang saling berhadapan dengan paruh yang saling menempel.
Sungguh mesra meskipun hanya sebuah angsa buatan saja.
Aku menoleh melihatnya dan mampu membuat ujung bibir ini tertarik untuk tersenyum.
Sungguh, aku merasa sangat tersanjung karena di perlakukan seperti ini. Ini sangat luar biasa menurut ku. Sangat tidak biasa.
"Sangat indah," kataku yang begitu mengagumi.
Ingin sekali mengambilnya tapi tak sampai hati. Pak Devan yang menyiapkan ini bagaimana mungkin aku membuat dia tidak bisa melihatnya.
Tapi senyum itu seketika pudar mengingat ini adalah malam pengantin. Astaghfirullah... Malam pengantin?
Seketika tubuh menjadi panas dingin. Aku cepat beranjak dan pergi dari ranjang itu untuk segera ke kamar mandi.
Aku akan bersih-bersih dulu setelah itu langsung tidur. Entah akan keburu atau tidak sampai pak Devan masuk tapi semoga daja keburu.
Benar, setelah beberapa saat aku masuk kamar mandi dan kembali keluar ternyata ruangan masih kosong dan pak Devan belum datang.
Aku bergegas mencari baju ganti karena aku baru saja memakai baju handuk yang tersedia di kamar mandi. Tak ada apapun, aku lihat ada lemari dan aku buka dengan harapan akan mendapatkan baju yang bisa aku pakai.
Mataku terbelalak. Memang ada beberapa baju yang menggantung di lemari, aku ambil dari persatu dan membuat ku semakin merinding di buatnya. Semua yang ada hanya baju kurang bahan bahkan ada juga yang kurang benang.
Apakah pabrik sekarang kekurangan benang untuk membuat baju?
Aku bingung harus pakai yang mana, semua bukan baju yang biasa aku pakai. Meski yang ku pakai kadang hanya daster saja saat di rumah tapi ini melebihi daster ku yang tingginya di bawah lutut. Ini? Semua berada di atas lutut dan juga tanpa lengan.
Apakah seperti ini pakaian orang kaya?
Krek....
Aku langsung panik ketika mendengar suara pintu terbuka. Aku lari ke ranjang dan langsung merebahkan dan menyelimuti sampai batas leher. Aku juga memunggungi sebelahnya.
Jelas aku juga langsung pura-pura memejamkan mata sebelum yang datang itu melihat aku masih terjaga.
"Eh, sudah tidur? Padahal aku bawakan susu," suara yang aku dengar jelas itu adalah suaranya pak Devan.
Bukan membuka mata tapi aku semakin mengeratkan dan juga terus berharap bahwa pak Devan tidak akan mendekat dan melakukan sesuatu. Kalau saja dia membuka selimutnya maka dia akan lihat aku yang hanya memakai baju handuk saja.
'Jangan mendekat, jangan mendekat,' batinku.
Tapi ternyata pak Devan tetap mendekat dan berhenti di hadapan ku. Aku dengar dia meletakkan gelas di atas nakas dan perlahan merasakan kalau pak Devan benar-benar mulai mendekat.
Hembusan nafasnya aku rasakan mulai menyapa wajahku membuat bulu kuduk ini mulai meremang hingga merinding.
Jangan jangan dia akan melakukan sesuatu padaku meski dia tau aku tidur.
Bayangan itu terus melintas di kepala ku. Hem, sepertinya otakku sudah mulai terkontaminasi dengan hal-hal mes*m hingga yang keluar dari pikiran ku adalah tentang main kuda-kudaan.
Hanya itu suara yang aku dengar dan perlahan aku merasakan kening ku mulai hangat. Apakah pak Devan mengecupnya?
Benar, pak Devan mengecupnya hingga beberapa detik.
Hingga perlahan rasa hangat itu menjauh dan tak lama aku dengar langkah kaki yang menjauh.
Klek...
Suara pintu kamar mandi tertutup itu artinya pak Devan masuk ke kamar mandi.
"Alhamdulillah," gumamku dengan nafas yang sangat lega. Akhirnya ketakutan ku itu tidak terjadi.
Namun hal itu tidak berlangsung lama setelah aku mendengar pintu akan terbuka. Cepat mata menutup dan tidak ingin melihat pak Devan yang entah seperti apa.
Aku terus berpura-pura hingga akhirnya aku merasakan ranjang tepat di sebelah ku bergerak. Pak Devan pasti yang akan tidur di sebelah ku.
Selimut aku rasakan juga mulai tertarik itu artinya pak Devan ingin berbagi selimut dengan ku. Jelas, hanya ada satu selimut di sini.
'Jangan mendekat, jangan mendekat,' batinku.
Tapi kata yang keluar dari hatiku berbanding terbalik dengan apa yang terjadi, pak Devan malah mendekat hingga sangat dekat dan setelah itu aku rasakan tangannya mulai melingkar di perut ku.
'Akk!' ingin sekali aku berteriak sekuat-kuatnya tapi sama saja kan, nanti aku malah ketahuan kalau berbohong.
Aku geli ketika tangannya meraba-raba, aku yakin pak Devan bingung karena baju yang aku pakai hingga akhirnya dia membuka selimut karena penasaran.
"Astaga, Nay. Saking lelahnya kamu tidur dengan handuk seperti ini, mana agak basah lagi."
"Tidak, aku harus menggantinya kalau tidak kamu bisa sakit."
Menggantinya??
Oh tidak itu jangan sampai dia lakukan bisa-bisa aku sangat malu karena dia melihat semuanya.
Aku rasakan pak Devan beranjak, mendengar dia membuka lemari dan kembali lagi mendengar langkah kaki yang perlahan mendekat.
Selimut perlahan aku rasakan terbuka, ahh! Ini tidak bisa Xu biarkan.
"Stop! Apa yang ingin pak Devan lakukan!" sontak mataku terbuka dan kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh ku.
"Hahaha! Jadi kamu hanya pura-pura tidur!" pak Devan tertawa begitu nyaring karena ulahku. Apakah ini sangat lucu?
Akk!
Aku kembali teriak karena ternyata pak Devan hanya memakai celana bokser saja dan bertel*njang dada. Mataku otomatis akan tertutup dengan telapak tangan yang menambah semakin erat.
"Hahaha, kenapa sih! Bahkan kamu sudah pernah melihatnya tapi kenapa masih malu. Aku juga suamimu sekarang,"
Pak Devan kembali tertawa, sangat menyebalkan nih orang. Iya aku pernah melihatnya tapi aku tidak fokus untuk itu. Aku lebih memilih menangis dan terus memalingkan wajah ketika pak Devan melecehkan ku waktu itu.
"Sudah kah, Nay. Jangan malu-malu. Buka matamu dan kau pakai ini, kalau kami tidak mau pakai aku yang akan pakaikan. Kamu bisa sakit, Nay."
Aku tetap tidak membuka mata. Jelas aku tak ingin melihat pak Devan dalam keadaan seperti itu.
"Akk!" Aku kembali berteriak karena tiba-tiba saja pak Devan menari paksa selimut dan juga melepaskan tapi dari handuk ku.
"Hem, dasar anak bandel." Katanya dengan tangan terus bergerak.
"Akk, pak Devan! Lepaskan!" teriak ku yang kini sudah membuka mata dan berontak.
"Sudah terlambat." Katanya begitu santai. Tangannya terus melakukan apa yang dia kehendaki seperti seorang ibu yang tengah membuka baju anaknya.
Dasar.
"Akk, pak Devan, lepas!" Bukannya melepaskan pak Devan malah terus melakukannya.
Haduhh... pak Devan sungguh menyebalkan.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung.. .