
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Memang tidak melakukan apapun pak Devan padaku, hanya saja dia terus mengganggu saja dan terus merengek seperti anak kecil untuk bisa tidur bersama, jelas di ranjang yang sama.
Tapi itu tidak mungkin, aku tolak mentah-mentah bahkan saat dia aku suruh mengambilkan minum karena aku sangat haus pintunya aku kunci dari dalam. Enak saja dia akan tidur bersamaku.
Bukan karena tidak pantas saja, tapi aku juga tidak mau dekat-dekat dengan dia yang semakin lama semakin mes*m. Bisa-bisa nanti dia akan melakukan apa yang sudah di katakan_nya.
"Bapak pikir bisa membuat ku diam saja ketika bapak ingin mendekatiku," gumam ku.
Mungkin aku keras kepala, ya! Aku sangat keras kepala jika tentang pak Devan. Tapi keras kepala ku adalah berdasar kan? Kami bukan pasangan suami istri jelas saja aku akan menolak ketika dia meminta untuk tidur di kamar apalagi di ranjang yang sama.
Ara juga benar-benar tidak pulang sepertinya dia benar akan menginap di tempat Asma sahabat barunya itu.
Begitu lelah rasanya malam ini, bukan karena mengerjakan semua pekerjaan tetapi karena terus berdebat dengan pak Devan yang ternyata lebih keras kepala daripada aku.
Melihat bantal rasanya sangat senang hingga akhirnya aku langsung merebahkan tubuh dengan cepat. Rasa kantuk menyerang dan segera harus menutup mata untuk tidur.
Tapi sebelumnya aku mengirim pesan kepada ibu kontrakan untuk menanyakan kabar Ara dan ternyata benar, dia sudah tidur bersama Asma. Sekalian saja aku titipkan dia.
'[Biarkan Ara tidur di sini untuk malam ini, Mbak. Besok dia akan pergi dan Asma sangat menginginkan untuk tidur bersamanya sebelum mereka berpisah.]'
Jelas tak tega untuk komentar lagi tentang ini, dan benar aku izinkan untuk Ara tidur di sana.
Kini tidur ku akan benar-benar nyenyak karena tak ada lagi yang mengganggu ku. Mungkin.
Perlahan mata mulai terpejam tapi belum juga benar-benar tidur suara kekacauan aku dengar. Pintu terus di ketuk dan siapa lagi pelakunya kalau bukan pak Devan.
"Nay, buka pintunya. Ini sudah aku buatkan kamu susu. Aku lama karena harus pergi dulu untuk membeli susu hamil untukmu. Aku ingin kamu dan anakku selalu sehat terus. Nay!"
Tok tok tok...
"Buka, Nay," ucapnya.
Aku tutup telinga rapat-rapat menggunakan bantal, bahkan seluruh tubuh juga aku tutup dengan selimut hingga semua tak ada yang terlihat. Dengan seperti ini aku yakin takkan mendengar kegaduhan yg pak Devan lakukan.
"Nay! Kok nggak di bukain? Nay!" Pak Devan tetap tidak menyerah, dia terus mengetuk pintunya tiada henti dan juga terus berteriak.
Tapi rasa kantuk yang benar-benar sangat besar membuat aku seolah tak mendengarnya, aku benar-benar tertidur dengan semuanya yang tertutup rapat.
"Nay, buka! Atau pintunya aku dobrak, Nay!"
Kata-kata terakhir itulah yang masih aku dengar dengan samar-samar dan setelah itu benar-benar tak ada suara lagi yang aku dengar.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Aku menggeliat ketika merasakan gerah pada seluruh tubuhku. Jelas saja itu aku rasakan karena tidur dengan semua yang tertutup rapat.
Padahal cuacanya sangat dingin sebenarnya tapi rasanya sangat gerah dan membuat ku seakan kehabisan nafas.
Nafas ku seolah tersengal terasa sangat susah dan membuat mata seketika terbelalak dengan tangan yang langsung menyibak selimut hingga berhasil membuka selimut di bagian wajah.
"Akk!!" teriakan ku begitu sangat keras.
"Hehehe, kenapa? Kamu pikir aku tidak akan bisa masuk meski kamu menguncinya dari dalam?"
Mataku jelas terbelalak karena melihat pak Devan yang ternyata sudah ada di hadapan ku yang tidur dengan miring.
Satu pertanyaan ku, lewat mana pak Devan masuk?.
Padahal aku sudah menguncinya dengan rapat, dengan kunci bahkan dengan engsel yang ada di dalam jelas gak akan bisa di buka melainkan dengan cara paksa alias di dobrak.
Aku melirik ke araha pintu dan ternyata pintu masih tertutup seperti awal aku tidur. Lalu?
"Kenapa, bingung ya?" tanyanya yang begitu senang.
Dengan begitu percaya diri pak Devan terus menatap ku, dengan tangan yang menjadi tiang untuk kepalanya.
Dia tersenyum sok manis padahal menurut ku tak ada manis-manisnya sama sekali.
"Da_dari mana bapak bisa masuk?" tanyaku tergagap. Aku tarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku yang memang tak bergerak dari sebelumnya, bahkan pak Devan juga hanya berbaring saja tanpa ikut berselimut.
"Apakah bapak bisa menghilang? Atau bapak punya ilmu menembus tembok?"
Hal yang tidak mungkin tapi tetap aku tanyakan. Tidak mungkin kan jaman sekarang masih ada orang yang seperti itu, mustahil. Itu hanya ada di dunia dongeng, Nay.
"Kalau iya bagaimana?" Pak Devan sengaja mendekat padahal aku terus mundur untuk menjauh darinya.
"Ti_tidak mungkin," jelas itu tidak akan mungkin kan?
"Apa sih yang tidak mungkin untuk mu. Makanya jangan main-main dengan ku karena aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Jangankan hanya masuk ke kamar terkunci saja, yang lain juga bisa."
Aku yang terus menghindar tidak ingat kalau ranjang yang terus bergerak dan berbunyi itu juga punya ujungnya, dan aku bisa saja jatuh kalau sampai ke ujung.
"Akk!" teriak ku dengan tangan yang terbang-terbang ke angin karena ingin terjatuh.
Selimut yang aku gunakan sudah tersingkap separuhnya dan hanya tinggal perut ke bawah yang tertutup olehnya.
Bukan tangan yang di tarik oleh pak Devan melainkan pinggang dan seketika tubuh kami menyatu tepat di tengah-tengah ranjang. Sementara tangan ku juga sontak memeluk pak Devan sebagai pegangan.
Sekian detik mata kami terus bertemu satu sama lain, terus menatap tajam dengan perasaan yang aneh. Dada kami juga sama-sama saling bergemuruh memberikan reaksi lain di tengah-tengah tubuh yang menyatu.
"Kenapa kamu terus menghindar, Nay. Apa tidak capek?" ucapnya.
Seolah tak mendengar aku terus terpaku memandangi wajahnya yang sebenarnya sangat tampan. Wajahnya juga begitu damai dan terdapat kasih sayang yang tulus.
Tiba-tiba saja pak Devan mendekatkan wajahnya dan ingin menyatukan bibir kami dan saat itu aku tersadar sebelum bibir kami saling menempel.
"Ihh! Menjauh dariku!" tangan langsung bergerak dan berontak untuk menjauh atau mengusir pak Devan dariku. Bukan itu saja tapi tangan langsung mendorong wajahnya dengan wajahku sendiri yang menjauh.
"Hadeuh, kamu ini ya Nay. Nggak ngerti apa kalau udah hampir saja."
Wajahnya memang menjauh tapi tubuhnya tidak dan tetap menyatu karena tangannya yang terus memeluk pinggang ku dan terus dia pertahankan.
"Pak, menjauh dariku. Ini tidak pantas kita bukan..."
"Iya, kita bukan suami istri kan? Tapi sebentar lagi kita akan menjadi suami istri bukankah kita sama-sama orang tua dari anak yang kamu kandung? Jadi gak masalah lah ya," katanya.
"Ihh, tidak bisa. Bapak harus menjauh!" tetap tidak akan aku izinkan dia bertindak sesuka hatinya seperti ini.
Memang benar kami adalah orang tua dari janin yang aku kandung tapi tetap saja tidak pantas karena kami belum ada ikatan yang nyata.
"Sekali kamu bergerak, maka singa di bawah sana akan terbangun. Dan jelas, kamu yang harus menerima hukuman darinya."
"Kamu sudah pernah merasakan betapa ganasnya kalau lagi marah, kalau kamu bergerak lagi maka jangan minta ampun kalau dia kembali marah lagi," Imbuhnya.
Tubuhku seketika membatu dan diam. Rasanya sangat berat untuk bergerak lagi.
Kenapa aku selalu takut jika di ancam seperti itu, Pak Devan selalu tidak main-main dia pasti akan benar melakukan kalau aku menentangnya.
"Sekarang tidurlah, aku hanya ingin tidur saja dengan mu dengan posisi ini. Kalau kamu berontak lagi kamu akan benar merasakan kemarahannya," kembali ancaman itu di lontarkan.
Kenapa harus dengan ancaman?
Aku tidak mengatakan apapun lagi dan hanya diam. Melihat aku yang sudah takluk pak Devan mengambil selimut dan ikut menggunakan selimutnya, kami berada di atas ranjang dan bawah selimut yang sama.
Bukan itu saja, tapi pak Devan juga menyelipkan tangan di bawah leher ku, menarik kepala ku untuk lebih dekat dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk ku.
Aroma maskulin kembali terhirup masuk ke dalam hidung ku, rasanya sangat nyaman dan begitu tenang.
"Nay, aku mohon. Maafkan aku atas semua kesalahan ku. Jangan hukum aku karena kesalahan laki-laki lain buka hatimu untuk ku dan aku janji akan memenuhinya dengan kebahagiaan."
"Memang, belum ada cinta di hati ku, tapi bukankah di hatimu juga belum ada? Tidak ada salahnya kan kalau kita berjuang bersama-sama untuk menumbuhkan cinta itu di hati kita?"
"Aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku katakan, Nay. Kalau aku sudah mengambil keputusan pasti akan selalu terjadi. Aku mohon, beri aku kesempatan."
Begitu banyak pak Devan berbicara sementara aku hanya diam dan mendengar saja.
Benarkah apa yang di katakan oleh pak Devan?
Apakah dia benar-benar tulus kepadaku dan akan berjuang bahkan tidak akan meninggalkan ku?
Apakah kata-katanya bisa aku percaya?
Segudang tanya hadir di dalam benak ku dan memunculkan keraguan. Aku masih sangat takut untuk membuka hati untuk siapapun.
"Kamu mau kan, Nay?" tanyanya tapi aku menutup mata dan pura-pura tidur.
Aku merasakan pak Devan sedikit merenggangkan pelukannya melihat wajahku yang dari tadi diam dan tidak bergerak.
"Aku bicara panjang lebar kamu malah tidur. Hem... Nay Nay," ucapnya.
Mengira aku sudah tidur pak Devan kembali mengeratkan pelukan dan menarik kepala ku semakin dekat lagi, bahkan dia juga tidak segan-segan untuk mengecup kening hingga berkali-kali.
Tak lama rasa kantuk kembali menyerang dan aku benar-benar tertidur di dalam kenyamanan pelukan pak Devan.
Apakah aku seperti perempuan jal*ng sekarang?
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....