Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Salah prediksi



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Pak Abraham berusaha untuk tersenyum ramah meski tahu siapa yang datang, bahkan dia juga menyapa dengan sangat baik dengan bertutur kata yang baik pula seraya tangan yang mengulur kepada Aditya yang baru saja datang.


Jika mengingat perbuatan dari Aditya yang bertolak belakang dengan apa yang dia lihat dari wajahnya itu membuat Pak Abraham sangat kesal, dia sangat marah membayangkan kenapa ada laki-laki yang seperti itu, yang telah tega meninggalkan istrinya hingga dia sama sekali tidak tau kalau ternyata istrinya hamil.


"Duduklah," pinta pak Abraham dan Aditya langsung duduk dengan menurut.


Aditya tersenyum, berlagak sok baik dan juga polos untuk bisa membuat pak Abraham percaya padanya. Kemarin saja dia bisa percaya dan sekarang pun juga harus percaya kan? Pikir Aditya.


"Terima kasih, Pak," jawab Aditya dengan suaranya yang sangat sopan. Kesopanan yang Aditya punya seakan sudah hilang di hati pak Abraham, dulu dia begitu mengagumi pria ini tapi tidak untuk sekarang setelah dia gak kebenarannya.


Ternyata Aditya adalah pria yang begitu kejam yang telah menelantarkan anak dan istrinya hanya karena harta semata, terus sekarang untuk apa dia lakukan hal ini apakah dia juga tidak ingin membiarkan mereka bisa bahagia dengan pria lain yang lebih bisa menghargai wanita?


Sejenak mereka saling diam, Aditya melihat ke semua penjuru hingga tak sengaja dia melihat satu mainan Ara yang ketinggalan sementara pak Abraham, dia juga diam dengan mengamati pergerakan dari Aditya. Semakin lama terasa semakin menyebalkan saja nih Aditya.


'Mainan anak-anak, apakah itu artinya anak itu ada di sini?' batin Aditya dengan sejenak menyipitkan matanya melihat ke arah mainan yang teronggok hampir masuk di bawah kursi.


Karena tidak mau sampai pak Abraham curiga Aditya tidak menanyakannya, dia hanya diam namun tidak dengan pikirannya sehingga dia malah bertanya namun ke pertanyaan yang berbeda.


"Devan nggak ada di rumah, Om?" tanya Aditya yang cepat menoleh.


Nah, apa yang pak Abraham pikirkan adalah benar Aditya pasti datang karena ingin mengulik lagi tentang Devan dan siapa tau tentang Nayla dan anaknya juga.


"Tidak, Devan sedang merayakan anniversary pernikahan dengan istrinya," jawab pak Abraham.


Niat banget pak Abraham mengatakan kebohongan pada Aditya, dia ingin tau bagaimana reaksi Aditya setelah mendengar kata itu dan ternyata yang dia lihat adalah hal yang sangat mengejutkan.


Mata Aditya membulat, dia sangat syok tak percayakan kalau Devan benar-benar sudah menikah dengan Nayla.


"Terima kasih ya, Dit. Berkat kamu akhirnya aku bisa tau kalau ternyata aku sudah punya cucu dan juga punya menantu. Devan memang keterlaluan karena menyembunyikan semuanya tapi berkat kamu? Kamu membuat kami tau."


Mata Aditya semakin membulat karena tidak percaya. Bukankah Devan dan juga Nayla mereka hanya berpura-pura sebagai pasangan saja? Kenapa bisa jadi seperti ini sekarang?


"Dari dulu, kamu memang teman yang baik untuk Devan aku salut padamu, Dit," pak Abraham menepuk pundak Aditya dan membuat keterkejutan semakin bertambah.


"Dari dulu Devan selalu selalu saja menyembunyikan apapun kepada kami dan sekarang dia pun juga menyembunyikan pernikahannya. Untung ada kamu, Dit Dit... Kalau tidak sampai sekarang kami masih berpikir kalau anak kami adalah perjaka tua."


Pak Abraham tertawa dengan terus menepuk pundak Aditya dan membuat Aditya tersenyum namun terlihat begitu kaku, jelas dia sangat terpaksa melakukan itu karena dia tidak percaya kalau ternyata Nayla dan juga Devan benar-benar sudah menikah.


'Ini tidak mungkin, mereka berdua tidak mungkin sudah menikah ini pasti bohong. Anak itu adalah anakku bukan anak Devan. Tidak tidak, ini tidaklah benar," batin Aditya.


Hati Aditya begitu berontak karena tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar barusan. Dia masih sangat percaya kalau Nayla dengan Devan belum menikah dan anak itu adalah anaknya, bagaimana mungkin dia akan percaya dengan apa yang dikatakan oleh para Abraham?


Hati Aditya semakin berontak karena tidak percaya rasanya juga sangat panas karena marah juga karena cemburu pada mereka berdua yang sekarang tengah berbahagia.


'Nayla dia begitu mencintaiku tidak mungkin dia menikah dengan pria lain apalagi bisa bahagia dengannya?' batin Aditya.


Aditya hanya bisa terus membatin dengan semua yang ingin dia katakan. Dia tidak mungkin mengatakan secara langsung karena itu akan berdampak buruk kepadanya.


"Kamu sendiri bagaimana, Dit. Bagaimana dengan pernikahan mu? Semoga kamu dan istri selalu bahagia ya," ucap pak Abraham.


"I_iya, Om," Aditya tergagap menjawab ucapan dari Pak Abraham. Bagaimana dia bisa bahagia karena kebahagiaan yang sebenarnya terletak pada Nayla tetapi Nayla sudah menjadi istri dari Devan anaknya.


Kebahagiaan Aditya bersama dengan istrinya yang sekarang karena dia memiliki istri yang kaya raya namun sangat bodoh sehingga bisa dia bodohi sampai sekarang. Seandainya tidak seperti itu mana mungkin Aditya akan bertahan dengan keluarganya yang sekarang sama seperti dulu dia meninggalkan Nayla karena Nayla tidak memiliki apapun.


"Syukurlah," pak Abraham pura-pura bahagia mendengar jawaban dari Aditya padahal saat ini Pak Abraham sudah sangat jengah melihat Aditya di sana.


Apalagi karena kedatangan Aditya hanya untuk memprovokasi dirinya supaya membenci anaknya sendiri, itu tidak akan terjadi karena Pak Abraham sangat mencintai anaknya dan dia juga sangat merestui hubungannya dengan Nayla.


Bukannya sombong tetapi Pak Abraham sangat beruntung karena Nayla bisa bersama dengan anaknya yang sangat baik dan juga bertanggung jawab tidak seperti laki-laki yang ada di hadapannya sekarang.


Meski Devan suka bertingkah konyol dan juga sesuka hatinya namun dia memiliki hati yang baik dan juga mau bertanggung jawab itulah yang membuat Pak Abraham selalu memuji anaknya tersebut.


"Besok kalau mereka sudah pulang akan om katakan kalau kamu datang untuk bertemu dengan Devan," ucapan Pak Abraham seketika membuat Aditya menggeleng dengan kasar, dia sangat tidak mau kalau kedatangannya kali ini diketahui oleh Devan.


"Ti_tidak usah, Om. Saya akan menghubungi Devan sendiri untuk mengatakannya," jawaban Aditya terdengar sangat gugup dia menolak pak Abraham yang ingin memberitahu tentang kedatangannya kepada Devan.


Bisa-bisa rencananya akan gagal dan dia tidak bisa mendapatkan Nayla dan juga anaknya yang masih dia percayai belum ada hubungan serius dengan Devan.


Memang Pak Abraham tidak mengagungkan anaknya sendiri tetapi dia lebih mengagungkan Aditya saat itu, tetapi hal itu malah membuat Aditya merasa sangat aneh.


Bagaimana mungkin seorang ayah mengagungkan orang lain daripada anaknya sendiri kalau tidak memiliki niat sesuatu. Iya kan?


Aditya terus tersenyum kaku dengan perasaan yang tidak percaya setiap Pak Abraham mengatakan sesuatu tentang Nayla dan juga Devan. Apalagi ketika membicarakan akan kebahagiaan mereka berdua, hati-hati dia terasa akan hangus karena terbakar.


'Tidak, Nayla hanya milikku, Devan. Kamu tidak berhak atas dirinya,' batin Aditya.


Musnah sudah niatnya datang untuk menyalakan sumbu pada orang tua Devan karena akhirnya sumbunya mengenai dirinya sendiri.


--------Normal------


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....