
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Aku begitu tergesa-gesa masuk ke perusahaan Gudia, aku terlambat karena menunggu Mika yang biasanya menjemput dan ternyata dia sudah berangkat lebih dulu karena ada pekerjaan mendadak namun dia tidak mengabari ku.
Emang kebiasaan tuh anak selalu saja seperti itu selalu saja tidak mengabari dan kembali membuat ku dalam masalah. Tapi sebenarnya bukan salah dia juga sih, aku yang salah karena terlalu menunggunya.
"Mbak, mbak Nayla di cariin pak Devan tuh. Sepertinya dia sangat marah deh karena mbak terlambat," Salah satu staf memberitahu ku ketika masuk.
Mati aku, sepertinya benar-benar akan dalam masalah besar setelah ini. Pak Devan pasti tidak akan mau mendengarkan penjelasan ku meski yang akan aku katakan adalah benar.
"Terima kasih sudah memberitahu ku, aku permisi," Cepat aku berlari. Meski sudah terlambat tapi harus tetap menghampirinya kan? Semoga saja tak akan ada masalah.
"Iya mbak, semoga tidak terjadi masalah ya mbak," Staf itu tersenyum memberikan kekuatan untuk ku. Alhamdulillah, masih banyak orang-orang baik yang akan selalu tersenyum padaku.
Aku berlari menuju lift, rasanya sungguh dag dig dug der jantungku karena merasa sangat takut. Bagaimana kalau aku kehilangan pekerjaan?
Ah, semoga saja tidak. Meski pak Devan sedikit berbeda dari pak Abraham tapi dia adalah anaknya pastilah ada rasa kemanusiaan sama seperti Pak Abraham meski hanya sedikit saja.
Ting...
Aku kembali berlari setelah lift terbuka di lantai lima belas, di sini lah tempat ku bekerja dan menjadi sekertaris pak Devan sekarang.
Semakin dekat dengan ruangan aku semakin takut bayangan-bayangan akan semua kata-kata kemarin masih begitu jelas dan begitu membekas.
Aku begitu ragu untuk mengetuk dan membuka pintu ruangan pak Devan, sungguh aku di buat gelisah sekarang.
"Masih mau kerja di sini?" Suara yang begitu tebal itu mengejutkan ku. Membuat tangan kembali turun padahal hampir menyentuh handle pintu.
"Apalagi alasan mu sekarang? Sepertinya hidup mu begitu banyak sekali alasan dan begitu banyak penipuan, Nay," Katanya membuatku perlahan mulai meradang.
"Ma_maat, Pak. Sa_saya janji tidak akan terlambat lagi untuk kedepannya." Aku menundukkan wajahku bukan karena takut tapi karena tidak mau saja melihat wajahnya yang begitu angkuh itu.
Tampan sih, tapi kenapa angkuhnya begitu besar dan begitu menyebalkan seolah mengalahkan ketampanan yang sebenarnya.
"Saya tidak membutuhkan orang yang tidak bisa menghargai waktu, lebih baik kamu pulang dan habiskan waktumu dengan apa yang akan kamu jadikan alasan itu."
Dengan begitu sombongnya pak Devan bersedekap dada di hadapan ku, menatap dengan dingin dan seolah begitu tak sudi.
"Maaf, Pak. Saya benar-benar menyesal saya tidak akan mengulangi lagi. Saya janji."
Terus aku katakan janji, aku tidak akan mengulangi lagi tapi kalau tidak dalam keadaan terdesak sih.
"Hem, mudah sekali ya kamu mengatakan janji, emangnya kamu yakin akan bisa menepatinya? Kalau sekiranya kamu memang tidak suka bekerja dengan saya lebih baik kamu pulang, Saya bisa mencari orang yang lebih bisa menghargai waktu daripada kamu."
Wajah pak Devan condong begitu dekat ke arah wajahku membuat aku mundur karena tak mau sampai saling tersentuh. Baru merasakan hembusan nafas yang menyapa di wajah saja aku sudah merinding.
Astaga, ingin aku tampol hingga tak dapat terbuka lagi itu mulutnya. Dia terlihat begitu berwibawa tapi ternyata aku salah.
"Entah siapa yang telah terkena bujuk rayumu itu, Nay. Kalau aku pikir laki-laki yang menjadi ayah anakmu itu begitu apes."
Bibirnya menyungging begitu sinis, dia kembali merendahkan dan menginjak-injak harga diriku. Mengatakan semua itu adalah kesalahan ku.
Ya! Mungkin memang benar semua adalah kesalahan ku, aku yang salah memberikan hal terpenting dalam hidup ku pada laki-laki yang di takdirkan menjadi ayahnya Ara yang tidak punya tanggung jawab itu. Dan itulah kesalahan terbesar ku.
Tapi aku juga bersyukur karenanya yang telah memberikan aku malaikat kecil yang begitu menggemaskan dan akan selalu menjadi kekuatan ku.
Tanpanya aku tidak akan bisa belajar yang namanya kesabaran dan aku tidak akan menjadi wanita yang kuat dan tangguh seperti ini.
Aku juga tidak bisa membedakan mana orang-orang yang benar-benar tulus dan yang hanya menginginkan sesuatu dariku dan akan pergi ketika sudah mendapatkan. Aku tidak akan mengenal namanya penghianatan dan juga sebuah ketulusan.
"Kenapa matamu seperti itu, apakah yang aku katakan adalah salah? Lalu seperti apa yang benar. Kamu bahkan tidak mengatakan segalanya bukan, jadi tidak salah dong kalau aku berasumsi seperti itu."
"Maaf, Pak. Saya di sini di gaji untuk bekerja demi kemajuan perusahaan. Bukan di bayar untuk menguak semua kisah hidup saya. Seharusnya bapak bisa lebih profesional dalam pekerjaan tanpa harus mengurusi urusan bawahan bapak."
"Saya memang telah salah karena memalsukan identitas saya, tapi saya rasa saya belum pernah membuat kesalahan dalam pekerjaan saya. Jadi, kalau bapak mempermasalahkan identitas yang saya palsukan maka silahkan bapak pecat saya."
Benar-benar tak ada rasa takut ketika mengatakan itu hatiku sudah kadung dongkol pada pak Devan jadi semua itu seolah keluar begitu saja dengan sendirinya.
"Kalau memang bapak menginginkan sekertaris yang masih lajang maka silahkan bapak cari dan berhentikan saya sekarang juga. Tapi saya pastikan bapak tidak akan bisa dapatkan yang sama seperti saya."
Begitu aku menegaskan. Padahal aku tau di luar sana begitu banyak yang lebih baik daripada aku tapi aku katakan itu begitu saja. Kalau memang mau di pecat ya silahkan saja.
Aku ikhlas bila harus keluar dari perusahaan besar ini, aku lebih baik bekerja di tempat yang sederhana tapi yang lebih menghormati karyawannya.
Pak Devan tertegun kehabisan kata, aku tau kalau laki-laki dan perempuan itu kalau berdebat pastilah perempuan yang menang, beda kalau adu otot.
Aku bisa saja lemah lembut dan menghargai orang tapi tetap saja lihat-lihat dulu bagaimana orangnya. Kalau dia sama seperti pak Devan ogah terus-menerus menghargainya. Dia saja tidak bisa menghargai.
Bukankah apa yang di tanam itulah yg di tuai? Maka inilah yang langsung pak Devan tuai karena begitu merendahkan dan meremehkan ku.
Kaki langsung melangkah meninggalkannya, tak peduli apa yang dia pikirkan yang terpenting aku sudah minta maaf dan aku akan kembali bekerja, kalau misalnya dia akan benar-benar memecat ku pasti dia akan datang ke ruangan ku.
"Sebenarnya dia wanita yang seperti apa?" Suara itu samar-samar aku dengar tapi aku tak lagi peduli aku tetap melaju pergi.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....