Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tak ada yang berlebihan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Alhamdulillah, setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya keadaan Ara mulai membaik. Memang belum bisa sembuh karena harus tetap melakukan beberapa pengobatan tapi hari ini boleh pulang dengan syarat tetap melakukan rawat jalan.


Ara begitu antusias, dia sangat senang karena di perbolehkan pulang dan tentunya dia sudah sangat merindukan untuk kembali ke sekolah.


Entah sudah berapa hari Ara tidak berangkat ke sekolah membuat dia terus bertanya kapan dia bisa bersekolah lagi. Begitu banyak mainan tidak bisa menjamin dia untuk tenang dan bahagia dengan mainannya, terkadang dia selalu bertanya akan sekolah.


"Bunda, setelah pulang Ara bisa sekolah lagi kan?" tanya Ara begitu sumringah.


"Tentu, besok Ara juga sudah boleh sekolah," jawabku juga dengan sangat senang.


Selama Ara di rumah sakit aku juga tidak sekalipun pulang, entah sudah seperti apa keadaan rumah sekarang.


"Apa Ara senang?" Kali ini mas Devan yang bertanya.


Ara mengangguk antusias. Meski wajahnya masih terlihat begitu pucat namun dia tetap semangat, dia tetap terus tersenyum meski terlihat begitu berbeda dari kemarin ketika dia sehat.


Senyumnya terlihat di paksakan dan tidak begitu lepas, senyum yang seperti menahan sesuatu dan aku tau apa yang dia tahan. Sebuah rasa sakit tentunya.


"Ayah, Ara minta gendong ya, boleh?" tanya Ara dengan wajah yang di buat menggemaskan meski terlihat pucat.


Dengan senang hati mas Devan melakukan, dia juga langsung berjalan mendekati Ara padahal barusan dia memasukkan mainan Ara ke dalam tas ransel.


"Tentu boleh dong, Sayang. Sini ayah gendong." Mas Devan langsung menghampiri dan berhenti tepat di hadapan Ara. Kedua tangan juga langsung terulur untuk mengangkat tubuh Ara yang terlihat lebih kurus sekarang.


'Ya Allah, baru juga beberapa hari dia sakit tapi tubuhnya sudah kurus begini bagaimana kalau sampai berlama-lama, sembuhkan Ara secepatnya Ya Allah, dan beri dia kebahagiaan.'


"Aduh duh, beratnya!" gurau mas Devan seolah ingin menjatuhkan Ara.


"Akk!" Ara memekik, dia juga langsung tertawa karena tak jadi jatuh. Tak mungkin juga mas Devan akan membiarkan Ara terjatuh.


"Hahaha!" Bukan hanya Ara saja yang tertawa tapi mas Devan juga sama. Tangannya mengangkat Ara tinggi dan membuat si kecil itu semakin terbahak-bahak dalam ketawanya.


"Ayah! Jangan tinggi-tinggi, Ara takut!" teriaknya. Meski mengatakan takut tapi Ara tetap tertawa bersamaan dengan mas Devan, iseng banget memang dia.


Perlahan Mas Devan menurunkan dan langsung menghujani kecupan di seluruh wajah dan membuat Ara kembali tertawa karena merasa geli.


"Sudah, Mas. Kasian Ara ketawa terus nanti sakit perutnya," tegur ku. Kasihan juga dari tadi Ara terus tertawa karena keisengan mas Devan.


"Sudah ya, ada yang mulai ngomel," bisik mas Devan pada Ara, meski begitu pelan namun tetap bisa aku dengar itupun juga dengan sangat jelas.


Aku menggeleng namun mas Devan tidak tau dan mulai melangkah untuk keluar. Terasa di abaikan aku sekarang.


"Biar saya yang bawa, Nya." Sus Neni langsung menghampiri dan mengambil alih semua barang-barang yang ingin aku bawa, aku pun memberikannya meski tidak semua karena kasihan juga kalau Sus Neni membawa begitu banyak.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Semakin banyak dengan mainan kamar Ara saat ini, kemarin saja sudah penuh dengan mainan tapi sekarang? Sekarang lebih lagi dari yang kemarin.


Aku tau, ini semua pasti mas Devan yang melakukannya, memberikan apapun yang Ara suka supaya dia menjadi semangat untuk bisa cepat sembuh.


Ara yang melihat jelas akan sangat senang, dia bahkan tidak berhenti tersenyum juga tidak berhenti memandangi sekelilingnya.


Semua yang ada semua dengan warna kesukaannya, warna pink meski ada beberapa saja yang tidak. Semua macam mainan ada semua, semua adalah mainan baru bahkan ada beberapa yang masih berada di dalam kardus.


Ara yang melihat semua itu langsung turun dari gendongan mas Devan dan berlari untuk melihat semuanya lebih dekat.


"Ayah, ini sangat luar biasa!" teriak Ara begitu gembira.


Mas Devan belum menjawab dia hanya tersenyum saja ketika Ara menoleh ke arahnya.


"Mas, ini sangat berlebihan," kataku. Jelas saja ini sangat berlebihan karena tidak seharusnya semua mainan di bawa pulang seperti ini. Ini sudah seperti toko mainan dan bukan lagi kamar.


"Tidak ada yang berlebihan jika itu untuk kamu juga Ara." Mas Devan tersenyum begitu manis juga tentunya terlihat begitu tulus.


Bukan hanya di beri kasih sayang saja Ara oleh mas Devan, tapi semuanya. Bahkan Ara juga begitu du manjakan olehnya hingga apapun dia beri tanpa berpikir panjang.


Semua ini pastilah tidak hanya mengeluarkan uang yang sedikit, meski hanya sebuah mainan saja pasti yang dia beli juga yang bernilai fantastik karena bukan hanya dari toko sembarangan.


Semakin merasa tak enak aku pada mas Devan, bukan hanya kebutuhan kami saja tapi juga yang untuk berobat Ara pasti juga tidak murah, bagaimana aku bisa membalasnya?


Meski tak sekalipun mas Devan mengatakan minta ganti tapi aku yang tak terbiasa mendapatkan apapun dari orang pastilah akan semakin tak enak hati.


"Tidak usah kamu pikirkan, yang terpenting kamu dan Ara bahagia itu sudah sangat cukup bagiku. Kalian bisa selalu tersenyum saat di sisiku itu sudah sangat cukup."


Mas Devan merangkul ku, dia menoleh dan tersenyum dengan perlahan muka melangkah dan mengajakku untuk semakin masuk untuk menyusul Ara.


Aku terus terdiam seiring langkah yang terus masuk. Duduk di ranjang Ara yang berwarna pink juga ikut mengambil dan melihat beberapa boneka yang ada du atasnya. Sementara mas Devan? Mas Devan ada dan ikut duduk di sebelah ku.


"Bunda, lihatlah ini! Ini sangat bagus kan?" Ara berlari mendekat dan berhenti di hadapan ku seraya menunjukkan mainan barunya.


"Iya, ini sangat bagus. Bilang apa sama ayah?" Aku menoleh ke arah mas Devan yang juga sontak menoleh ke arahku.


Ara beralih berdiri di hadapan mas Devan menunjukkan mainannya itu.


"Ayah, terima kasih ya," katanya. Seketika Ara jinjit, mas Devan yang tau apa yang akan Ara lakukan dia membungkuk dan ternyata Ara memeluk juga memberikan kecupan di kedua pipi mas Devan secara bergantian.


"Sama-sama princess ayah. Princess ayah harus selalu senang ya dan jangan sedih-sedih lagi. Princess ayah juga harus sehat, oke?"


"Iya ayah, Ara pasti akan selalu bahagia juga terus sehat, kan ada ayah juga bunda yang akan selalu jagain Ara. Ara sayang sekali sama ayah juga bunda," ucap Ara.


"Bunda juga sayang sekali sama Ara." Giliran aku yang memeluk Ara dan setelah itu mas Devan juga tidak mau kalah hingga memeluk kami berdua bersamaan.


"Adek, cepat lahir ya supaya kita bisa main bersama-sama. Kakak pengen sekali main dengan adek," ucap Ara setelah pelukan kami terlepas.


Dengan tenang Ara berdiri di hadapan ku juga mulai mengelus perut ku.


"Adek cepat lahir ya," katanya lagi.


"Iya kakak, adek pasti akan secepatnya lahir dan bermain sama kakak." Mas Devan yang berbicara itupun dengan suara anak kecil.


"Ih, suara ayah jelek!" protes Ara.


"Siapa bilang, suara ayah bagus kok."


"Mana ada, jelek gitu kok," teriak Ara lagi yang tidak terima.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...