
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Sidang terakhir, sidang penentuan setelah melawati sidang-sidang yang sangat melelahkan. Aku begitu antusias, mendatangi persidangan bersama Mas Devan.
Meski hati terasa begitu deg-degan tapi alhamdulillah tetap bisa terkendali. Bisa mengendalikan perasaan karena aku akan menang. Aku akan benar-benar mendapatkan hak asuh Ara.
Tak masalah jika suatu saat mas Aditya harus tetap bertemu dengan Ara, karena dia memang ayahnya. Dia juga berhak memberikan kasih sayang yang sama sepertiku.
Tok tok tok!
"Dengan ini, hak asuh atas Ara Nuril Aisyah jatuh pada ibu kandungnya, Nayla Ariane."
Ketukan keputusan dari hakim membuatku begitu senang. Tak henti-hentinya hati ini mengucap syukur dan juga terus tersenyum dengan sesekali mendekap pada Mas Devan.
Mas t juga sama, dia tersenyum begitu bahagia karena telah berhasil memenangkan hal yang pertama mas Aditya ajukan.
Mas Aditya terlihat lesu, dia nampak sedih dan tidak semangat. Lagian jika mas Aditya yang menang juga dia tidak bisa bersama dengan Ara sekarang karena kasusnya dengan keluarga Pratama yang belum selesai.
"Alhamdulillah, Mas. Kita menang." Kataku begitu senang.
"Iya, kita yang menang. Ara akan selalu bersama kita mulai sekarang. Tak akan ada lagi yang berani mengusik dia dari kita."
Mas Devan nampak bahagia, dia terus memberikan kecupan pada keningku yang kini masih terus mendengarkan keputusan. Sekali melirik ke arah mas Aditya, dia semakin terpuruk sekarang.
Bukan itu saja, tapi dia terlihat semakin kurus, mungkin karena masalah yang sangat menguras pikirannya dan membuat dia menjadi seperti sekarang ini.
Tapi aku tidak akan peduli, aku tidak akan terpengaruh dengan apapun meski dia juga menampilkan tampang yang sangat menyedihkan sekaligus.
Berakhir sudah masalah ini, dan sekarang kami bisa benar-benar fokus dengan kesembuhan Ara juga kebahagiaan keluarga kecilku. Tak akan lagi pikiran terbagi dengan masalah yang tidak penting seperti ini.
Mas Aditya yang merasa penting karena dia ingin merebut Ara dariku, padahal dari awal juga sangat jelas kalau dia akan kalah tapi dia tetap keras kepala.
Sekarang, mas Aditya tidak akan berani mengusik lagi. Jika sebatas bertemu akan kami berikan tapi jika untuk yang lain? kami punya kekuatan hukum yang akan membutuhkan dia dalam masalah jika dia memaksa.
Kami bergegas pulang karena acara juga sudah selesai, tentu saja tidak mau kalau keluar berlama-lama dan meninggalkan Ara. Dia pasti at sangat sedih karena merasa kesepian, ya meski banyak yang bersamanya.
"Nay," aku menghentikan langkah seraya menoleh kearah mas Aditya. Dia tidak sendiri karena ada pihak polisi yang mengikutinya. Sepertinya dia benar-benar tidak akan bisa bergerak bebas lagi sekarang.
"Ya," aku tetap berhenti tak mungkin juga menghampiri dia.
Bukan hanya aku saja yang berhenti, tapi mas Devan juga sama. Dia tetap menemaniku dan kini berdiri di sebelahku. Merangkul pinggang seolah ingin mengatakan pada mas Aditya kalau aku adalah miliknya.
"Aku, aku hanya mau minta maaf." ucapannya begitu lirih, benarkah dia menyesal hingga dua meminta maaf seperti ini sekarang? Semoga saja.
"Nay sudah maafin." jawabku.
Mas Aditya terlihat tersenyum, tak ada kata lagi yang dia keluarkan dia diam dan tak lama dia pergi dari hadapan kami karena polisi yang membawanya.
Melihat mas Aditya di giring polisi seperti itu sebenarnya kasihan juga, tapi mau bagaimana lagi, semua itu terjadi juga karena kesalahannya.
Kalau dia tidak membuat masalah dan bisa hidup dengan sebaik-baiknya, menerima semua yang ad tanpa ada sifat tamak pasti dia tidak akan mengalah hal sepele sekarang.
"Kita pulang?" mas Devan kembali merangkulku, menoleh dan memastikan untuk aku mau pulang. Sudah tak ada lagi yang harus di kerjakan di sini.
"Hem," aku mengangguk, perlahan kaki kembali berjalan dan bergegas pergi.
✧༺♥༻✧
Bersambung...