Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Persiapan Reuni



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


POV AUTHOR...


Devan menunggu Ara juga Nayla di depan salon. Dia tidak sabar ingin melihat ibu dan anak itu yang akan memakai baju pilihannya, pasti akan sangat berbeda dari sebelumnya.


Meski Devan juga mengganti baju tetapi dia lebih cepat karena dia seorang laki-laki yang tidak membutuhkan polesan yang banyak hanya beberapa saja yang harus dirapikan.


Ternyata Devan juga memilih pakaian biru sama seperti mereka berdua, jelas Devan sangat sengaja melakukan semua itu supaya lebih serasi dan semua orang yang melihat mereka nanti pasti akan berpikir kalau mereka adalah keluarga sempurna yang begitu bahagia.


"Aditya pasti juga akan datang dengan istrinya Jihan. Aku pengen lihat bagaimana reaksi Aditya nanti di acara."


"Wajah Ara sangat mirip dengan Aditya tetapi apakah dia akan menyadari itu atau malah sebaliknya mengingkari kebenaran. Kalau dia memang tidak bisa menyadarinya berarti dia memang bodoh."


"Aku ingin lihat, apa yang akan terjadi pada Aditya dan Nayla nanti. Apakah mereka benar pernah ada hubungan?"


Devan menyungging sinis. Sebenarnya apa niat dia melakukan semua ini. Apakah hanya ingin mempermalukan Aditya saja atau hanya ingin mengetahui semua kebenaran?


"Kalau kamu tidak mau mengatakannya sendiri pasti aku akan tau dengan caraku sendiri, Nay. Jangan salahkan aku."


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Sementara di kediaman Pratama Aditya juga telah bersiap untuk menghadiri acara reunian SMA yang jelas kini dia ditemani oleh Jihan sang istri yang telah mengandung buah hati mereka berdua.


Jihan begitu bahagia karena akhirnya di tahun ini dia akan mendampingi sama suami dengan keadaan yang telah hamil setelah 4 tahun dia menemani namun belum ada tanda-tanda hamil sama sekali.


Kala itu teman-teman Aditya bahkan membawa anak-anak mereka juga sementara Jihan dan Aditya sendiri yang hanya berdua tetapi kali ini mereka akan menunjukkan kepada semua orang kalau sebentar lagi mereka berdua juga akan memiliki anak sama seperti yang lain.


Gaun merah, sepatu merah, rambut yang dicepol di belakang dengan menyisakan sedikit yang ada di depan kedua telinga di tambah dengan kalung berlian juga dompet berwarna merah itulah style Jihan sekarang. Sementara Aditya dia memakai setelan jas berwarna hitam, kemeja berwarna putih juga sepatu pantofel berwarna hitam, itulah style Aditya sekarang.


Keduanya bergandengan begitu mesra dan penuh dengan senyum ketika berenang keluar dari kamar.


Di rumah itulah Aditya mendapatkan segalanya. Dari awalnya bukan siapa-siapa sekarang dia menjadi orang yang terpandang. Jabatan tinggi, kekayaan melimpah, istri cantik dan segala hal tentang kebahagiaan dunia dia dapatkan di sana.


Tak akan pernah ada rasa menyesal telah meninggalkan wanita yang tidak punya apapun juga terlihat biasa-biasa saja. Wanita yang tidak bisa menjamin kebahagiaannya karena hanya cinta saja yang diberikan untuknya.


Tak akan ada kepuasan tak akan ada kebahagiaan juga yang jelas tidak tak akan kenyang hanya dengan cinta.


Bahkan setelah pertemuannya tadi di acara meeting yang gagal tidak membuat Aditya merasa bersalah sama sekali. Biarkan apapun yang akan dilakukan oleh Nayla dia tidak akan peduli karena dia memang tidak pernah peduli tentang apapun yang menyangkut dengan Nayla.


"Ma, Pa... Kami berangkat dulu ya." ucap Jihan dengan sangat lembut.


"Iya, kalian hati-hati. Jangan malam-malam pulangnya." Jawab mama dari Jihan.


"Dit, jaga Jihan baik-baik. Jangan sampai terjadi apa-apa padanya." Ucap pak Pratama menegaskan.


"Pasti, Pa. Adit pasti akan menjaganya dengan baik."


Aditya menoleh ke arah Jihan tersenyum kepadanya dan tentu membuat Jihan juga ikut tersenyum sebagai balasan.


Bukannya langsung menjalankan mobilnya tapi Aditya malah terdiam dan melihat Jihan.


"Kenapa?" Jelas itu membuat Jihan sangat penasaran.


"Kenapa aku merasa sangat tidak rela kalau kamu ikut ya, kamu terlalu cantik hari ini aku takut akan ada mata-mata yang melihat kecantikan mu,"


"Apa sih, aku lebih tidak rela kalau kamu pergi sendiri karena aku takut kamu akan bertemu cewek-cewek cantik di sana. Aku takut kamu akan tergila-gila pada perempuan lain selain aku."


Jihan mendekatkan dirinya ke arah Aditya dan mengalunkan kedua tangan di leher Aditya.


"Tidak ada yang boleh tergila-gila pada suamiku karena kamu hanya milikku saja, milikku." Jihan menegaskan. Tangannya berpindah di depan wajah Aditya dan jari telunjuknya merambat turun dari kening, hidung, mulut, dagu hingga dada Aditya.


"Kamu menggoda ku, Sayang?" Tanya Aditya.


"Kalau kamu memang tergoda maka anggap saja aku tengah menggoda mu."


Kedua wajah saling mendekat, saling mendekatkan bibir masing-masing hingga akhirnya saling menyatu dan saling memberikan lum*tan.


Meski sedang hamil tetapi Jihan memiliki gairah yang sangat tinggi. Ketika keduanya bersama-sama seperti sekarang ini bisa saja mereka akan melakukan penyatuan cinta meski tidak berada di tempat yang tidak semestinya.


Mereka akan sama-sama saling berusaha untuk mencari celah untuk bisa saling memuaskan satu sama lain.


"Sayang, hentikan. Kita harus berangkat," ucap Jihan menegur Aditya yang sudah mulai terbawa gairah bahkan Aditya sudah ingin merambat ke leher Jihan yang begitu putih.


"Kau membuatku mabuk, Sayang." Jawab Aditya yang akhirnya menjauhkan bibirnya.


"Bukankah itu yang membuat kamu betah padaku?"


"Tentu," Tangan Aditya terangkat dan mengusap bibir Jihan yang basah karena ulahnya.


"Kau membuat ku berantakan lagi. Kau membuat ku harus bekerja lagi," Nadanya seperti mengomel tak suka tapi kenyataannya Jihan juga sudah terbawa akan gairah saat ini.


Aditya tersenyum, dia sangat suka dengan cara Jihan yang seperti ini. Dia selalu saja terpuaskan namun tak pernah merasa puas.


Aditya melihat Jihan yang kembali mengambil lipstik di dalam dompetnya dengan gerakan tiba-tiba Jihan mendekati Aditya. Matanya fokus pada mata Aditya dan kembali mengoleskan lipstiknya dengan mengaca pada matanya.


"Kau semakin pintar menggoda ku, Jihan."


"Hem, itulah tujuan ku. Supaya kamu tidak pernah berpaling dariku." Jawab Jihan begitu percaya diri dengan tangan yang masih menggerakkan lipstiknya.


............ Normal.........


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....