
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV AUTHOR...
Begitu terkejut Aditya setelah bertemu dengan Nayla. Perempuan yang dulu pernah ada di hatinya bahkan sempat menjadi istrinya meski hanya sebentar dan kini sudah berpisah karena Aditya lebih memilih anak dari bapak Pratama yang memiliki perusahaan Pratama.
Aditya terduduk masih di ruang VIP cafe yang seharusnya menjadi tempat pertemuan dia dan juga Devan untuk membicarakan masalah pekerjaan.
Tangannya masih memegang pipi yang terkena tamparan oleh Nayla barusan, dia sadar apa yang dia lakukan itu sangat salah dan sangat menyakiti hati Nayla bahkan tamparan yang dia terima tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang Nayla dapatkan.
Tetapi mau bagaimana lagi, Aditya menginginkan sebuah jabatan tinggi dari salah satu perusahaan besar dan itu hanya akan dia dapatkan dengan menikahi anak dari Pak Pratama. Ya! Aditya memang laki-laki gila harta yang mengorbankan cinta demi harta.
"Pak, bapak tidak apa-apa?" Tanya seorang perempuan yang menjadi sekretaris dari Aditya di perusahaan Pratama.
Bukan hanya Aditya yang terkejut karena mendapatkan tamparan dari Nayla tetapi sekretarisnya itu lebih terkejut lagi karena baru kali ini ada seorang perempuan yang berani menampar atasannya itu.
"Tidak, saya tidak apa-apa. Saya minta, kamu rahasiakan kejadian ini dari Jihan dan juga keluarganya. Saya tidak mau dia mereka tau dan akan mempengaruhi kesehatan Jihan dan kehamilannya."
Begitu menegaskan ucapan dari Aditya kepada sekretarisnya tersebut, jelas dia akan menuruti apa yang menjadi perintahnya karena itu adalah sebagian dari pekerjaannya yang harus menuruti semua perintah dari atasannya.
"Baik Pak. Saya akan rahasiakan semua yang terjadi hari ini. Tapi ngomong-ngomong, siapa wanita itu Kenapa dia begitu berani menampar Pak Aditya?"
Siapapun pasti akan sangat penasaran jika menghadapi masalah yang seperti sekarang ini bukan hanya sekretaris Aditya saja tapi siapapun.
"Ini bukan urusanmu. Siapapun dia kamu harus menutup rapat kejadian ini, itulah yang harus kami lakukan," Ucap Aditya dengan sedikit kesal karena sekertaris nya itu di rasa ingin ikut campur.
"Maaf, Pak." Terlihat dia begitu menyesal hingga dia menunduk dan tak berani menatap Aditya yang matanya sudah melotot ke arahnya.
"Sekarang kita kembali ke perusahaan, saya juga harus bersiap untuk acara nanti sore. Saya harus menghadiri undangan reuni."
"Baik, Pak." Sang sekretaris langsung mengikuti langkah Aditya yang sudah lebih dulu untuk meninggalkan tempat itu.
Jelas saja kepergian semua orang membuat karyawan Cafe tersebut bingung karena pesanan yang antar kini tidak ada pemiliknya.
"Ini bagaimana?" Gumamnya dia begitu bingung namun itu tak lama karena dia memilih membawa masuk lagi.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Terus saja Devan menunggu Nayla di dalam mobil dia begitu tega karena tidak mengizinkan dia masuk dan harus tetap menunggu di luar jika Devan benar-benar menginginkan Nayla untuk ikut acara reuni nanti sore.
Entah demi apa Devan mau mau saja menunggu Nayla yang katanya sedang bersiap untuk ke taman bersama Ara.
Sempat tadi Mbok Darmi memberi minum untuknya juga memberi cemilan dan dia sudah minum saat duduk di teras tetapi dia tidak bisa duduk di sana hingga akhirnya kini dia beralih di dalam mobil.
"Sebenarnya aku kenapa?" Tanyanya pada diri sendiri dia juga tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya tetapi yang jelas dia ingin menunggu Nayla dan Ara menemani mereka jalan-jalan ke taman.
Padahal pekerjaannya juga begitu banyak tetapi dia salat tidak peduli dengan semua itu. Apa yang akan dia dapatkan dari yang dengan melakukan saat ini?
"Sebenarnya ada hubungan apa Aditya dan Nayla?" Devan berpikir begitu keras mencoba mengingat sesuatu di masa lampau tetapi tidak dia ingat sama sekali.
Devan juga Aditya memang sahabat di waktu SMP sampai SMA tetapi tidak saat kuliah karena mereka kuliah di tempat yang berbeda Aditya masih di dalam negeri sementara Devan di luar negeri.
Aditya juga tidak pernah bercerita kepadanya tentang dia yang memiliki kekasih di waktu SMA, meski mereka adalah sahabat tetapi masalah pribadi mereka berdua tidak saling berbicara terkesan menutupi.
Aditya dia memang pernah bercerita kalau dirinya tengah dekat dengan seorang murid di sekolah SMA yang berbeda lebih tepatnya dia adik kelas. Aditya juga pernah bilang kalau setelah gadis itu lulus SMA dia juga akan kuliah di fakultas yang sama dengan Aditya tetapi indah kebenarannya Devan tidak tahu karena setelah lulus dia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya.
"Jika Ara benar-benar anaknya Aditya berarti Aditya menikahi gadis itu setelah lulus SMA?"
Devan cepat membuka laptop yang dia bawa mencari sesuatu tentang Nayla Siapa tahu dia bisa menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk kebenaran dari hubungan Nayla juga Aditya.
"Fakultas mana sih?" Devan begitu tergesa-gesa mencari identitas Nayla dari laptop, hingga akhirnya dia temukan bahwa Nayla benar-benar lulusan dari fakultas yang sama dengan Aditya namun jelas berbeda tahunnya.
"Apakah benar mereka ada hubungan? Kalau benar, mereka itu sempat menikah atau hanya berhubungan tanpa status pernikahan?"
Jelas hasil yang didapat oleh Devan masih mengambang semua masih belum jelas namun yang jelas Nayla dan Aditya ada di kampus yang sama.
Jika mereka pernah meninggal kenapa Aditya menikah dengan anak dari Pak Pratama bahkan mereka sudah memiliki seorang anak. Tetapi jika mereka melakukannya tanpa hubungan pernikahan itu artinya Nayla adalah korban dari Aditya?
"Ihh! Ini sangat membingungkan," Devan merasa frustasi sendiri ingin mengetahui semuanya tetapi informasi yang dia dapat tidaklah banyak. Sekarang dia harus mencari dari mana lagi.
"Hem, tunggu tunggu Kenapa aku begitu penasaran dengannya, seperti apapun masa lalunya bukankah itu bukan urusanku?"
Pikiran Devan sudah berubah lagi. Entah bagaimana sebenarnya hatinya itu, kadang-kadang Dia sangat penasaran dengan kehidupan Nayla tapi kadang dia juga ingin mengacuhkannya dan membiarkan semua yang telah terjadi kepada wanita itu.
"Dari pada seperti ini bukankah lebih baik aku kembali ke kantor dan mengerjakan semuanya?" Gumamnya lagi.
Devan ingin segera kembali ke kantor tapi baru saja dia akan menghidupkan mesin mobilnya Nayla dan Ara terlihat keluar dari rumah dengan sangat rapi.
"Menggemaskan," Ucapnya hingga akhirnya dia tak jadi menyalakan mobil dan kembali ke kantor.
POV End....
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...