Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Foto prewedding



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Kaki begitu pelan dan sangat ragu ketika hendak keluar dari dalam kamar Pak Devan dalam keadaan yang sudah berganti busana tentu sudah mendapat riasan dari dua wanita yang sudah disewa oleh Pak Devan untuk melakukan hal ini.


Gaun putih menjuntai panjang ke bawah bahkan seperti terdapat ekor yang begitu panjang membuat aku sangat kesusahan untuk berjalan bahkan rasanya sangat berat, apalagi aku belum pernah mengalami hal ini sebelumnya.


Pernah menjalani pernikahan tetapi tidak sampai segini_nya karena dulu ketika menikah dengan mas Aditya semuanya dilakukan dengan cara sederhana, tetapi sekarang? Ini sangat luar biasa. Mewahnya.


Kedua tangan saling menyatu dan terus memijat satu sama lain dari jemari yang terbungkus sarung tangan berwarna putih yang senada dengan gaun rasanya sangat kebas karena mungkin karena gugup yang begitu besar.


Tentu aku tidak sendiri keluar dari kamar, karena di belakang ada kedua wanita tadi yang mendampingi, satunya memegangi lengan supaya aku bisa seimbang berjalan dan yang satunya lagi dia memegangi ekor gaun yang begitu panjang.


Memang aku tidak bisa begitu seimbang berjalan karena harus memakai high heels yang begitu tinggi, aku belum pernah memakai yang begitu tinggi seperti ini. Tentu aku akan sangat takut jika sampai terjatuh.


Hingga sampai di salah satu ruangan yang akan menjadi tempat berlangsungnya foto dari aku dan juga Pak Devan kami berhenti dan ternyata sudah ada Pak Devan yang menunggu.


Pak Devan belum melihat karena dia masih melihat bagaimana tempat itu ditata dan disempurnakan. Tangannya sesekali bergerak untuk memberikan arahan kepada pekerja supaya semua terlihat sempurna.


Aku semakin gugup melihat dirinya meski masih memunggungi diriku yang datang. Pak Devan juga sudah berganti dengan setelan jas berwarna hitam. Belum melihat bagaimana wajahnya dan ekspresinya saja aku sudah gugup seperti ini bagaimana kalau sampai dia melihatnya?


"Tuan, Nyonya sudah siap," ucap wanita yang tepat berada di sampingku yang memegang lengan.


Perlahan Pak Devan mengembalikan badan setelah mendengar suara dari wanita itu sementara aku langsung menunduk karena malu dan juga gugup.


Mataku melirik ke arah Pak Devan yang melihatku tanpa berkedip, dia terpaku diam dengan melihatku penuh terpesona. Matanya memancarkan rasa takjub yang begitu besar dan itu terlihat jelas di mataku yang hanya melirik kecil saja.


Kakinya mulai melangkah mendekat mengikis jarak di antara kami hingga akhirnya tepat berdiri di hadapanku dengan mata yang sama sekali tidak pernah berpaling.


"Kenapa terus menunduk bukankah aku ada di hadapanmu bukan ada di bawah sana?"


Memang aku terus menunduk begitu gugup untuk mengangkat wajah dan sampai sekarang masih melihat sepatu pantofel hitam yang dia pakai. Tentu begitu mengkilat.


"Sa_saya," lagu hanya sekedar mengatakan sesuatu saja itu pun juga dengan suara yang gemetar.


Aku lihat tangannya perlahan berangkat hingga berhenti ketika menyentuh dagu ku dan perlahan mengangkatnya hingga wajah kami saling bertemu begitupun dengan mata kami.


Bukan hanya Pak Devan yang sama sekali tidak berkedip tetapi diriku juga. Bukan karena terpaku penuh pesona karena melihatnya tetapi rasanya memang sangat susah untuk mengalihkan pandangan dari wajahnya yang saat ini memang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.


Rambutnya yang ditata rapi, alisnya yang begitu hitam lebat, matanya yang begitu tajam, hidungnya yang mancung, bibirnya yang begitu seksi, dan bentuk wajahnya yang oval sangat sempurna dari takaran yang memang sudah seharusnya.


Setelan jas hitam yang dipadukan dengan kemeja berwarna putih terdapat dasi kupu-kupu dan juga bunga kecil yang ada di saku jas begitu menyempurnakan penampilannya. Dia benar-benar sangat sempurna.


Kadang rasanya tidak percaya, bagaimana mungkin laki-laki sesempurna pak Devan sama sekali belum pernah merasakan cinta dan juga tidak ada wanita yang mau mendekatinya.


Apakah mungkin karena dia yang begitu memilih? Atau karena mungkin dia memiliki masa lalu pada seorang wanita? Tetapi rasanya sangat tidak mungkin itu terjadi.


"Kamu sangat cantik, Nay," hanya kata itu yang keluar pertama kali setelah melihatku.


Melihat bagaimana dandananku yang aku sendiri juga pangling melihat bagaimana diriku sekarang.


Rambut panjang_ku di sanggul tinggi diberi aksesoris berwarna silver yang membuatnya melekat, juga ada rambut yang disisakan di depan kedua telinga yang dibentuk menggelombang, tentu juga dengan riasan wajah yang terkesan sangat mewah meski terlihat natural.


Pipiku rasanya semakin panas setelah mendapat sanjungan dari Pak Devan juga matanya yang terus saja menatap tidak berkedip.


Meski sama sekali belum ada cinta yang hadir di dalam hati tetapi mendapat perlakuan seperti ini tentu jantung akan berdebar tidak karuan. Bahkan rasanya jantungku ingin keluar sendiri karena saking kuat bekerja di dalam sana.


Perlahan tanganku ditarik hingga aku berjalan mengikutinya menuju tempat yang sudah disiapkan.


Seketika tanganku memegang erat tangan dan juga lengannya ketika tiba-tiba aku tergelincir karena sepatu yang aku pakai.


Untung saja ada Pak Devan yang juga langsung sigap menangkap_ku kalau tidak mungkin aku akan terjatuh, jelas aku akan sangat malu meski orang-orang yang ada di sini adalah orang bayaran dari Pak Devan yang pasti tidak akan berani menertawakan_ku.


"Hati-hati," hanya itu saja yang dia katakan tetapi dia langsung bergerak mengangkat tubuhku.


Sontak kedua tangan langsung merangkul di lehernya karena takut akan terjatuh meski sangat yakin bahwa Pak Devan tidak akan pernah membiarkan itu terjadi kepadaku.


"Apakah sakit?" Pak Devan masih bertahan dan sama sekali belum berjalan, memastikan lebih dulu bagaimana keadaanku apakah sakit atau tidak. Tetapi setelah aku menggeleng pak Devan baru mulai melangkah.


"Apakah perlu di ganti?" tanyanya yang perlahan menurunkan_ku di kursi panjang yang sangat indah yang memang sudah sedih sediakan.


Setelah aku berhasil duduk di kursi Pak Devan beralih berlutut di hadapanku tangannya bergerak ke bawah membuat aku panik dan bergegas menjauhkan kedua kakiku.


"Kenapa, aku hanya ingin melihat apakah ada yang terluka atau tidak?" ucapnya.


Meskipun kedua kaki sudah aku jauhkan tetap saja Pak Devan tidak menyerah dia tetap membuka gaunku di bagian depan lalu menarik kaki, melepaskan high heels yang aku pakai dan memeriksa sendiri keadaan kakiku.


"Ini sedikit merah apakah benar tidak sakit?" Matanya malam melihat ke arahku menunggu jawaban akan pertanyaannya.


"Ti_tidak," jawabku yang begitu gugup.


Darahku terasa berdesir panas sampai ke ubun-ubun ketika pak Devan menyentuh kakiku bahkan jantungku rasanya seolah ingin berhenti berdetak saat ini saat tangan dingin itu perlahan mengusap kakiku yang memang sedikit merasakan sakit.


"Benarkah?" Pak Devan benar-benar ingin memastikan bahwa kakiku benar tidak sakit dan aku juga tetap menggeleng.


"Bisa kita lanjutkan?" tanyanya.


Kembali aku mengangguk karena memang harus tetap dilanjutkan.


Pak Devan langsung berdiri di hadapanku menunggu arahan dari fotografer dan acara foto prewedding benar dilakukan.


Arahan demi arahan diberikan oleh fotografer dan juga satu asistennya, mereka berdua terus membimbing kami melakukan sentuhan-sentuhan yang belum pernah aku lakukan.


Begitu canggung setiap kali pak Devan ingin memegang tangan ataupun pinggang ketika melakukan prosesi foto prewedding yang memang hanya dilakukan di rumah saja ini.


Meskipun hanya di sekitar rumah saja tetap saja tidak menghilangkan keindahan karena semua tempat yang akan menjadi tempat dilaksanakannya foto telah diubah sedemikian rupa.


Senyum manis harus selalu ditampilkan supaya foto yang akan jadi akan bagus hasilnya, dan hal itu membuat aku semakin canggung.


Biasanya seorang laki-laki yang akan terlihat kaku ketika melakukan hal ini tetapi lain kali ini diriku lah yang tak merasa begitu kaku.


"Rileks, Nya," tegur asisten fotografer yang baru saja memberikan arahan kepadaku.


Bagaimana mungkin aku bisa merasa rileks setiap kali tangan Pak Devan menyentuh tempat-tempat yang akan mengalirkan sejuta perasaan yang ada di hati.


Gelenyar aneh hadir bersamaan tangan Pak Devan menyentuh bagian pinggang. Seketika tubuhku gemetar dengan kedua tangan yang mendadak menjadi dingin.


"Rileks, Nay," kali ini Pak Devan yang menegurku. Tangannya berinisiatif bergerak menarik tanganku supaya berada di atas kedua bahunya sementara kedua tangan dia langsung berada di kedua pinggangku.


Ahh! Rasanya ingin terbang dan pergi dari sini secepatnya daripada merasakan hal-hal yang aneh yang belum pernah aku rasakan sebelumnya meski bersama Mas Aditya sekaligus.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung.....