Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Jihan Dan Vino



❃❃✧༺♥༻✧❃❃2


Setelah mendapatkan izin dari Aditya Jihan langsung bergegas pergi sesuai apa yang sudah direncanakan kemarin dan yang sudah dikatakan kepada Aditya.


Tentu kepergian Jihan dengan alasan untuk pergi bersama temannya yang akan melakukan pesta ulang tahun padahal yang sebenarnya tidak seperti itu, melainkan Jihan ingin bertemu dengan Vino yang terus saja mengancam meski hanya melalui pesan singkat.


Sementara Aditya juga tidak memiliki rasa curiga sama sekali dengan Jihan. Dan percaya kalau Jihan benar-benar akan pergi bersama dengan temannya.


Mereka pergi secara bersamaan tetapi dengan mobil yang berbeda juga arah yang berbeda pula. Aditya pergi ke kantor sementara Jihan pergi untuk menemui Vino di tempat yang sudah ditentukan.


Tentu Jihan membawa koper yang berisi barang-barangnya yang akan dia gunakan selama tiga hari karena memang dia izin pergi pada Aditya selama tiga hari.


Begitu takut Jihan untuk pertemuannya saat ini bersama Vino tentu dia takut kalau Aditya akan mengetahuinya. Dan semua pastilah akan terbongkar, dan itu bukan yang diinginkan oleh Jihan karena dia tidak mau kehilangan Aditya yang begitu dia cintai.


Sampailah Jihan di salah satu hotel besar yang ada di kota tersebut dan di sanalah dia akan bertemu dengan Vino yang sudah menunggumu di salah satu kamar.


Kedatangan Jihan langsung disambut oleh satu pelayan yang juga siap mengantarkan Jihan sampai ke tempat Vino berada. Sepertinya bilangin itu adalah suruhan dari Vino karena dia langsung tahu saat Jihan datang.


"Nyonya, anda sudah di tunggu oleh tuan Vino. Mari saya antar," katanya.


Lagu Jihan melangkah mengikuti pelayan tersebut yang sudah menarik kopernya. Sejenak Jihan berhentilah untuk menoleh sekedar memastikan tidak ada seorangpun yang tengah mengikutinya, setelah dia sangat yakin tidak ada orang yang mengikutinya dia kembali berjalan mengikuti pelayan tersebut menuju ke lift.


Pelayan itu terus saja tersenyum ramah kepada Jihan meski sudah berada di dalam, tidak hanya bicara tetapi dia terlihat sangat sopan dan sangat menghargai pengunjung yang datang.


'Maafkan aku, Mas. Aku janji akan aku selesaikan hari ini juga aku tidak ingin terus berada di bawah kendali Vino. Maafkan aku karena tidak jujur kepada kamu, aku harap kamu benar-benar tidak akan tahu semua ini dan rumah tangga kita akan selalu baik-baik saja dan kembali lagi damai seperti dulu,' batin Jihan, entah rencana apa yang ingin dia lakukan untuk bisa menghentikan Vino.


Jihan semakin gelisah ketika pintu lift terbuka dan langsung sampai ke tempat yang dituju. Kamar yang dipesan oleh Vino ternyata tidak jauh dari pintu lift itu berada jadi rasanya begitu cepat sampai.


Pelayan itu berhenti di depan pintu yang pasti itu adalah kamar yang sudah dituju tangannya bergerak ke atas dan ternyata untuk menekan tombol bel.


Tidak lama setelah bel ditekan pintu itu terbuka dan pelayan itu terlihat tersenyum menyambut siapa yang ingin keluar.


"Pergilah," suara berat itu sangat Jihan kenal itu adalah suara Vino.


Jihan menoleh dan melihat memastikan benar atau tidak siapa yang telah berbicara barusan dan ternyata benar itu adalah Vino yang tengah memberikan uang tips kepada pelayan tersebut dan memintanya untuk segera pergi sementara Vino mengambil alih koper milik Jihan.


"Kita masuk?" ajak Vino dengan tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya perempuan yang ditunggu-tunggu dari tadi datang juga. Bangsa yang bukan bangsa baru tetapi mampu membuatnya terpuaskan dan Vino tidak akan mungkin melepaskan Jihan begitu saja sampai kapanpun.


Jihan yang sama sekali belum bergerak dan masih terlihat ragu tangannya langsung ditarik oleh Vino dan langsung diajak masuk dan setelah itu Vino menutup pintu dan menguncinya serta mengambil kunci dan menaruhnya di dalam kantong, jelas itu dilakukan karena takut Jihan akan kabur.


"Jangan beraninya kamu pegang-pegang!" Mata Jihan melotot begitu terang ketika dengan sengaja Vino merangkul pinggangnya dengan begitu mesra seperti dia merangkul istrinya sendiri.


Inilah yang disukai oleh Vino dari Jihan dia selalu terlihat keras dan tidak mudah disentuh tetapi nyatanya dia tetap memberikan apa yang dia mau ketika Vino menginginkannya.


"Jangan jual mahal, Jihan. Karena aku sudah mengenal bagaimana kamu. Kamu hanya pura-pura menolak dan tidak mau di sentuh, padahal kenyataannya kamu juga yang akan sangat menikmati," ucap Vino di sambung dengan terkekeh.


Perkataan dari Vino begitu membuat amarah Jihan semakin besar, dia terus menyingkirkan tangan Vino yang terus berusaha untuk menyentuhnya dengan tidak sabar.


Vino terus menggiring Jihan hingga sampai kamar begitu luas dan sudah disediakan sedemikian rupa seperti layaknya kamar dari pasangan suami istri yang sedang menjalankan bulan madu.


"Bagaimana, kamu suka?" Vino menyeringai begitu bahagia ketika melihat Jihan yang sangat terkejut dengan semua yang sudah di siapkan oleh Vino.


"Hem, kamu juga sangat wangi. Sepertinya kamu memang sudah menyiapkan diri untuk pesta kita," ucap Vino.


Jihan tersentak dan langsung membalikkan badan ketika Vino berbisik tepat di telinga sebelah kanan dan juga menghirup aroma tubuhnya yang tentu akan selalu wangi karena Jihan memang selalu menjaga penampilannya.


"Kamu terlihat s*ksi, Jihan," ucap Vino lagi.


Vino begitu terpana melihat kecantikan Jihan yang sangat sempurna dengan berbalut gaun berwarna biru tanpa lengan dan juga lebar di bagian bawah dan bagian tubuhnya pas sesuai dengan ukuran tubuh Jihan sekarang.


Melihat penampilan Jihan yang seperti itu bagaimana mungkin Vino tidak akan langsung tergoda. Jelas aja Vino tidak akan bisa menahan gejolak yang hadir.


"Vino, jangan main-main ya! Jangan berani-beraninya kamu menyentuh ku lagi!" mata Jihan semakin melotot.


"Aku ke sini hanya untuk mengakhiri semua ini..."


"Ck ck ck..., benarkah untuk mengakhiri semua ini? Kalau kamu memang berniat untuk mengakhiri maka kamu tidak perlu membawa barang sebanyak ini. Bukankah ini tandanya kamu bersedia menghabiskan waktu bersamaku selama tiga hari di sini?"


Vino mengeluarkan smirk yang begitu banyak akan arti. Merasa bahwa apa yang Jihan katakan hanya kata-kata yang penuh ambigu saja dan juga untuk mengulur-ulur waktu.


Tapi tidak! Vino tidak semudah itu untuk percaya.


Jihan terus melangkah mundur sementara Vino terus mengikutinya dan keduanya bersama-sama melangkah meski hanya pelan.


Jihan terlihat sangat takut berbeda dengan Vino yang sangat suka melihat pemandangan yang ada di hadapan sekarang ini.


Seperti apapun wajah Jihan yang ditampilkan tetap saja dia akan selalu terpesona dengan kecantikan Jihan yang tentunya melebihi dari istrinya sendiri yang ada di rumah.


"Kenapa Jihan, kenapa kami takut. Bukankah ini bukan yang pertama untuk kita?"


Jihan tetap mundur meski Vino mengatakan itu. Memang ini bukan yang pertama karena mereka sudah berkali-kali melakukannya tapi dia tidak mau lagi.


"Menjauhlah dari ku, Vin! Gara-gara kamu anakku meninggal! Kamu adalah pembunuh, Vin!"


Mulai Jihan berbicara dengan amarahnya menyalahkan Vino atas meninggalnya anaknya dan juga Aditya.


"Maaf, aku mengaku bersalah. Maka dari itu aku akan menebusnya. Kita bikin yang banyak dalam tiga hari ini, semoga saja bisa langsung tiga yang akan hadir dan menggantikan anak Aditya yang bodoh itu," ucapnya.


"Jangan hina suami ku!" marah Jihan.


"Kenapa tidak boleh, bukankah itu benar? Dia benar-benar bodoh kan karena bisa kita bodohin, hahaha!" tawa Vino menggelegar dengan langkah yang masih terus mengikis jarak antara dirinya dan Jihan.


Hingga akhirnya Jihan tak dapat bergerak lagi karena sudah sampai di sisi ranjang, dia tidak bisa melangkah lagi untuk kabur.


"Nikmati saja, Jihan sayang," katanya dengan kedua tangan yang langsung terangkat dan mendorong bahu Jihan hingga membuatnya terjerembab di kasur.


"Ak, Vino. Lepaskan! Vino!" teriak Jihan histeris karena Vino langsung menindihnya tanpa ampun.


❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Bersambung...