
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Mataku perlahan terbuka, entah sudah berapa lama aku tertidur di kursi saat ini. Tetapi, aku sangat terkejut ketika terbangun.
Mataku terbelalak, aku bukan lagi tidur di kursi tetapi sudah berada di kasur dengan berselimut dan merasa sangat hangat.
Bukan itu saja yang membuat aku terkejut, tapi ada tangan yang melingkar di perutku dan rasanya sangat berat.
tangan siapa? Apakah mungkin tangan Ara?
Aku pegang tangannya rasanya tidak percaya kalau itu tangan Ara karena terasa sangat berat tapi kalau bukan Ara siapa lagi yang ada di belakang ku.
Tangannya sangat besar, berarti tidak mungkin tangan Ara kan? Lalu?
Aroma maskulin telah terhirup masuk ke dalam hidung ku jelas ini bikan Ara kan? Karena Ara tidak mungkin memakai parfum mahal seperti ini.
Bahkan tubuhnya yang mendekap begitu penuh juga menjelaskan kalau yang ada di belakang ku pastilah bukan Ara karena Ara juga tidak mungkin sebesar diriku bahkan lebih.
Lalu siapa?
Semakin penasaran dan semakin tidak sabar untuk aku cepat melihat siapa pelaku yang sebenarnya, tapi tiba-tiba saja jantungku berdetak begitu kuat, aku takut melihat siapa orangnya.
Aku menoleh dengan perlahan dan tentu sangat terkejut melihat siapa yang kini juga tidur di belakang. Tidur di satu ranjang yang sama bahkan dengan memeluk ku.
"Pa_pak Devan?" Pekikku tertahan seolah tak ada suara.
Aku kedip-kedipkan mata karena masih tak percaya kalau yang ada di belakang ku adalah pak Devan.
Tidak mungkin pak Devan ada di sini, di belakang ku dan tidur bersamaku.
Karena fokus untuk melihat siapa yang ada di belakang aku tidak melihat siapa yang ada di depan ku yang ternyata adalah Ara yang juga tidur.
Astaghfirullah, kami tidur bertiga di ranjang yang sama.
Tapi aku masih tidak percaya aku pasti hanya bermimpi saja atau mungkin aku berhalusinasi dengan keberadaan pak Devan. Karena sangat tidak mungkin pak Devan akan ada di rumah ini.
Tidak mungkin pak Devan akan menemukan ku secepat ini kan? Mengingat tempat yang tidak mungkin akan pak Devan datangi jadi sangat tidak mungkin.
Aku kembali membuka mata dan tetap saja apa yang aku lihat pak Devan masih tetap berada di tempat dan terlihat begitu terlelap.
"Akk!" teriak ku begitu lantang.
Aku juga langsung terperanjat bahkan seandainya bisa ingin aku lompat untuk turun tapi tidak bisa karena tubuh ku terhimpit oleh pak Devan juga Ara. Aku berada di tengah-tengah mereka berdua.
"Apa sih, Nay. Baru saja aku bisa tidur tapi kamu malah membangun ku," protes pak Devan.
"Tidurlah lagi kenapa sih, dan diam saja jangan berisik. Aku ngantuk, gara-gara kamu pergi aku tidak pernah tidur dan sekarang baru bisa tidur," Imbuhnya lagi.
Matanya masih setia tertutup dan tangan masih tetap berada di atas perut ku.
Aku yang terperanjat tapi tidak seutuhnya, masih setengah dan menjadikan kedua siku untuk menahan tubuhku yang ingin menghindar darinya.
"Pa_pak Devan kenapa ke sini!" tanyaku. Jelas aku tau karena dia ingin membawa aku kembali kepadanya tapi tetap saja aku bertanya.
"Ya mau apa lagi, sekarang aku tidur dengan mu dan nanti akan membawa anak-anakku dan ibu dari anak-anak ku untuk kembali ke rumah. Mana mungkin akan aku biarkan kalian terlunta-lunta di sini. Tempatnya sama sekali tidak nyaman," keluhnya.
Sama sekali tidak nyaman tapi dia bisa tidur dengan nyenyak? Lucu sekali.
Berarti nyaman mana rumahnya yang seperti istana itu dan juga rumah yang mungkin dia anggap sangat buruk ini. Bahkan dia mengatakan tidak nyaman.
"Di sini kasurnya juga sempit, untuk bertiga saja berhimpit-himpitan begini bahkan terus bergoyang begini jika kita bergerak, bagaimana kalau sampai kita yang bergoyang di atasnya, bisa ambruk ini ranjang," ucapnya yang kembali nyeleneh.
Krek krek krek...
"Tuh kan bergoyang, ini tidak akan kuat kalau kita sengaja bergoyang di atasnya," imbuhnya lagi setelah dia menggerakkan tubuhnya yang otomatis membuat ranjang ini juga bergerak dan berbunyi.
Ya Allah, ada-adanya orang seperti ini. Entah dia mes*m atau lagi ingin jahil?
Tidak mau menjawab tapi aku putuskan untuk benar-benar beranjak untuk pergi menjauh darinya, tidak mungkin aku akan terus berada di dekapannya seperti ini.
Bruk...
"Mau kemana, jangan harap kamu bisa pergi sebelum aku yang mengizinkan."
Kembali aku ambruk ketika tangan pak Devan menarik ku dan kini membuat aku kembali seperti dalam posisi semula di hadapannya dan tangannya kembali memeluk ku.
"Pak, lepasin! Saya mau pergi!" aku berontak berkali-kali tangan bergerak untuk melepaskan tangannya dari atas perut ku namun rasanya tak ada kuasa.
Mungkin kekuatan belum aku dapatkan karena dari pagi aku memang belum makan apapun, juga rasa sedihku juga membuat kekuatan ku hilang begitu saja tadi bahkan sampai sekarang.
"Jangan bergerak, nanti Ara bangun. Aku susah-susah membujuknya untuk tidur tapi kamu mau membangunkannya. Diamlah! Kalau tidak untuk ku setidaknya untuk Ara, dia juga sangat lelah karena sekolah," ucapnya.
Kenapa harus Ara yang di jadikan alasan?
"Aku ingin bangun, Pak. Aku lapar," kataku membuat alasan. Tapi memang benar sih, aku sangat lapar.
Biasanya aku bisa menahan tidak makan saat sedih tapi kenapa tidak untuk saat ini? Aku benar-benar sangat lapar dan menginginkan makan sesuatu.
"Nanti aja dulu. Aku masih ingin tidur seperti ini," mata pak Devan malah kembali terpejam.
Hadeuh, keras kepala banget nih orang.
"Tapi, Pak. Aku sangat lapar. Atau aku makan bapak saja?!" ancamku.
"Keliru, seharusnya bukan kamu yang memakan ku tapi kamu yang aku makan. Diam atau aku makan di samping anakmu sendiri. Sekali kamu bergerak lagi kamu akan membangunkan singa tidur di bawah sana, Nay."
Kini ancamannya benar-benar sangat menakutkan. Langsung membuat aku terdiam jika harus mengarah ke tujuan itu.
Biarkan sekali saja kesalahan yang terjadi dan tidak lagi. Aku tidak ingin perzinahan kembali terjadi.
What's! Darimana dia tau aku makan mie instan semalam?
Anakku? Apakah pak Devan sudah tau akan kehamilan ku?
"Semua barang-barang mu sudah aku kemas lagi, setelah makan kita akan kembali ke rumah ku. Dan setelah itu kita akan menikah."
"Tidak," tolak ku cepat.
"Tidak! Kamu tidak memikirkan anak kita yang sedang kamu kandung?"
Aku terkesiap dan cepat melihatnya. Mataku terbelalak dan mata pak Devan sudah kembali terbuka dan terdapat semburat kekesalan.
Kembali aku palingkan wajah karena tak mau berlama-lama melihat wajahnya.
"Dia anakku, bukan anakmu." kataku sinis.
"Bagaimana mungkin dia anakmu saja, dia juga anakku. Salah satu bahan utamanya aku yang mendonorkannya."
"Ish kau ini, kau lupa bagaimana aku mendonorkannya? Atau perlu aku ingatkan lagi bagaimana caranya waktu itu?" Imbuhnya.
Astaghfirullah, tidak dapat di duga kalau ternyata pak Devan orangnya seperti ini. Dia memiliki otak mes*m yang kelewat overdosis.
"Aku sih oke saja. Aku selalu ready jika kamu ingin aku mengingatkan lagi."
"Mua mua mua..."
"Ihh! Apa-apaan sih! Bisa jauh-jauh tidak!" Aku toyor kening pak Devan untuk menjauh dari wajah ku.
Aku begitu ngeri lihat bibirnya yang terus monyong itu. Wajahnya memang tampan tapi kalau mulutnya seperti itu terlihat mengerikan.
"Katanya lupa, aku ingatkan kalau gitu, Nay," ucapnya begitu enteng.
"Pak!" teriak ku.
"Bunda jangan berisik, Ara masih ngantuk," protes Ara yang kini membalik dan mengganti posisi dengan memunggungi_ku.
"Tuh kan, sudah aku bilang ngeyel sih," ucapnya.
"Lima menit habis gara-gara kamu berisik dan sekarang waktunya bertambah jadi sepuluh menit. Diam atau dua puluh menit," semakin menegaskan sekarang.
Kenapa rasanya aku begitu nyaman dan sangat enggan untuk menolak dan berontak lagi?
Benarkah aku akan terus diam dan membiarkan posisi ini?
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Sesuai perkataannya pak Devan tidak mengizinkan ku menyentuh apapun di dapur. Aku hanya di minta terus duduk sementara dia yang bekerja dengan semua peralatan dapur ku.
Dapur yang semula rapi sekarang sudah berubah menjadi seperti kapal pecah, semua berantakan dan tidak ada di tempatnya.
Panci, wajan, centong dan semuanya sudah berhamburan kemana-mana. Bukan itu saja, tapi semua bahan-bahan makanan juga sudah berceceran.
Ini mau masak atau mau membuang semuanya?
Mataku juga menatap miris dengan tiga bungkus mie instan yang sudah teronggok di dalam tempat sampah. Pak Devan yang membuangnya.
Ingin aku tertawa tapi tak sampai, melihat pak Devan yang memakai celemek bergambar hello kitty dengan terus bingung mengayunkan pisau untuk memotong semua sayuran.
Bukan itu saja, tapi mata pak Devan yang juga fokus melihat ke arah ponsel yang ada di hadapannya dan tengah memutar video memasak.
Sok-sokan mau masak sendiri dan tidak memperbolehkan ku menyentuh apapun ternyata dia? Nggak bisa masak.
Aku pikir dia sudah ahli karena dia berbicara tadi begitu meyakinkan tapi ternyata... Ya Allah, dapurku sekarang sudah tidak indah lagi untuk di pandang.
"Bunda, Ara laper."
Aku juga pak Devan menoleh secara bersamaan ke arah Ara yang ternyata baru saja bangun dari tidurnya.
"Sebentar ya, Sayang. Ayah lagi masakin makanan spesial untuk mu dan juga bunda," Pak Devan yang lebih dulu menjawab.
Aku tidak yakin dengan usahanya ini.
"Hah! Ayah, ayah lagi masak atau berantakin dapur bunda!"
Terperangah Ara melihat keadaan dapur yang memang benar-benar sangat berantakan. Ara sampai tidak berkedip melihatnya dan melangkah masuk dengan hati-hati untuk memastikan.
"Ya masak dong, Ara sayang. Kamu duduk dulu ya sama bunda, tunggu ayah selesai masaknya. Oke," Pak Devan tersenyum penuh percaya diri.
Ara menghampiri ku, dia berdiri di sebelah ku dan berbisik.
"Bunda, bunda yakin ayah bisa masak? Bahkan bisa menyalakan kompor saja Ara tidak percaya." bisik Ara.
Aku ingin terpingkal mendengar bisikan dari Ara ini, sungguh lucu.
Bukan hanya Ara, bahkan aku sudah sangat was-was dari tadi. Takut saja nanti bukan berhasil masak tapi malah berhasil membakar rumah ini.
"Kita lihat saja, kalau nanti ada apa-apa kita tinggal lari, oke," ide gila terlintas di kepala ku.
Tadi aku sangat kesal padanya bahkan untuk tersenyum saja rasanya tak akan bisa tapi sekarang? Melihat kelakuannya ini benar-benar membuat perut ku keram karena menahan tawa.
Lagian, mana mungkin bisa orang seperti pak Devan bisa bergelut dengan sempurna dan membuat makanan-makanan yang enak di dapur, ini bukan ranah dia sangat mustahil untuk dia berhasil.
Tapi usahanya patut di apresiasi sih. Mungkin saja nanti bisa berhasil meski hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....