
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
---------Normal-------
Rasanya sangat bahagia setelah berhari-hari tak bisa bertemu dengan Muka dan sekarang bisa melihatnya. Bahkan bukan hanya sekedar melihat saja, tapi bertemu dan juga bisa berbicara.
Rasanya sangat menyenangkan bahkan aku sampai tak henti-hentinya tersenyum dan tertawa. Yah! Hampir sama seperti orang gila baru karena terus tertawa, tapi inilah aku saat ini setelah melihat Mika datang.
Aku peluk berkali-kali hingga aku sangat yakin kalau Mika pasti sangat kedalam dan merasa bosan meski awalnya tadi dia tersenyum bahagia setelah bisa ada di hadapanku.
"Nayla, lepasin," gerutunya dengan suara yang sangat kesal. Bukan hanya suaranya saja yang keluar tetapi tubuhnya juga bergerak untuk menyingkirkan diriku darinya tetapi yang rasanya masih sangat enggan untuk menjauh, aku masih sangat merindukannya.
"Astaga, Nay. Lepasin," kembali Mika memintaku untuk melepaskan dirinya namun kali ini dia hanya diam diam pasrah namun sangat berharap aku akan melepaskan dirinya dari pelukanku.
"Aku sangat merindukan mu, Mika," jawabku yang akhirnya melepaskan Mika juga dan membuat dirinya bisa bernafas lega.
Padahal aku sendiri yang tidak bisa menemuinya tetapi aku juga yang sangat merindukan sahabatku ini tetapi yang jelas Mika juga sangat merindukanku meskipun sekarang Dia terlihat sangat kesal karena ulahku.
"Akhirnya, aku bisa bertemu dengan mu lagi, Mik. Aku sangat kangen padamu," saking kangennya aku padanya tanganku tidak melepaskan tangan Mika dan terus menggenggamnya erat dan tak ingin dia pergi.
"Baru sadar kalau kamu kangen, darimana aja kamu sampai-sampai kamu melupakan ku. Apakah aku sudah tidak kamu butuhkan lagi, apakah aku kamu lupakan?"
Suara Mika terdengar sangat kesal bahkan juga sangat marah karena aku yang sudah sangat lama tidak menemuinya juga tidak mengabari dirinya meski hanya melalui ponsel saja, tetapi itu kan bukan karena keinginanku? Itu semua karena ulah Mas Devan.
Wajah Mika terlihat sangat cuek-cuek kesal. Berkali-kali aku menarik wajahnya yang berusaha menghindar dan memalingkan wajah.
"Mika," suaraku terdengar merengek manja seperti anak kecil, sama persis seperti Ara yang sedang menginginkan sesuatu.
Mika sempat terkejut karena perubahan ku yang seperti ini. Matanya menoleh ke arahku juga melotot namun itu tidak lama karena setelah melihat wajahku dia kembali memalingkan pandangannya lagi.
"Jangan pegang-pegang, Nay. Aku lagi marah padamu."
Teguran dari Mika tetap aku abaikan dan tetap melakukan apa yang aku mau, aku hanya ingin bisa dekat lagi dengan Mika tanpa ada kekesalan seperti ini. Ini semua juga bukan karena ulahku kan?
Belum apa-apa saja Mika sudah terlihat kesal seperti ini bagaimana kalau sampai Mika tau kalau aku dan mas Devan sudah menikah bahkan aku sudah mengandung anaknya. Hem, Mika pasti akan ngamuk nantinya.
"Aku minta maaf, please..." aku menjewer telingaku sendiri di hadapan Mika demi apapun Mika harus tetap memaafkan ku.
"Tidak! Aku tidak akan memaafkan mu." lagi-lagi Mika memalingkan wajah seakan benar-benar tak mau memaafkan ku.
Meski seperti itu aku tidak menyerah apalagi putus asa, aku tetap mengulangi lagi apa yang sudah menjadi tekat_ku. Aku harus tetap mendapatkan maaf darinya.
"Mika, please, aku minta maaf."
"Baik, sekarang katakan kenapa kamu terus di sini. Ini rumah pak Devan, Nay. Bukan rumah kamu. Kalian tidak bisa tinggal di satu atap seperti ini."
Kini Mika baru mau menghadap ku, menatap ku dengan tatapan yang benar-benar memohon untuk aku menjelaskan.
"Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada kamu, bagaimana kalau pak Devan melakukan hal buruk padamu, Ayolah, Nay. Kamu harus bisa keluar dari sini dan harus bisa kembali ke rumah kamu."
Jelas Mika akan mengatakan hal yang seperti ini kepadaku karena dia belum tau alasannya aku tetap bertahan, kalau dia sudah tau pasti dia tidak akan pernah membiarkan aku keluar dari rumah ini.
Aku juga sebenarnya ingin langsung menjelaskan dari tadi tapi mau bagaimana menjelaskannya? Dari tadi Mika terus saja marah padaku.
"Jangan sampai ada yang mengatakan kalau kamu adalah wanita nggak bener karena tinggal seatap dengan orang yang ada di rumah ini yang bukan siapa-siapa kamu."
Mika tau yang terbaik untuk ku dan akan selalu seperti itu, dia adalah sahabat ku dan aku bangga padanya dan akan selalu seperti ini.
"Mik, aku telah menikah dengan pak Devan," aku menunduk, mengatakan dengan lirih dan menyela Mika yang ingin kembali berbicara.
Aku melirik sebentar dan melihat Mika yang sangat terkejut, matanya nampak membulat lebar dengan bibir yang seketika menganga dalam diam.
"Iya, aku sudah menikah dengannya, bagaimana mungkin aku akan pergi."
"Kenapa, apakah dia memaksa mu, apakah dia menyakiti mu, apakah kalian menikah dengan kesepakatan yang saling menguntungkan, apakah ini hanya nikah kontrak atau nikah siri?!"
Ada rasa kesal tapi juga ada rasa sangat khawatir. Mika sangat khawatir dengan aku.
"Tidak, Mika. Ini pernikahan yang sah di mata agama juga hukum, aku sudah menikah dengannya dengan benar. Ini bukan hanya nikah kontrak atau nikah siri ini benar-benar pernikahan!"
"Tidak tidak! Kamu pasti berbohong. Aku tidak percaya padamu, pak Devan pasti hanya mau memanfaatkan mu saja. Sekarang kamu beresin semua barang-barang mu dan kita pergi dari sini. Aku akan bantu kamu beres-beres."
Mika langsung beranjak dengan semangat dan menarik tangan ku untuk segera melakukan apa yang dia mau.
"Tidak, Mika. Aku benar-benar sudah menikah dengannya. Bahkan... Aku hamil," Aku tahan tangannya supaya tidak bisa menarik tangan ku.
Sejenak Mika terdiam setelah mendengar aku hamil, tidak berapa lama dia menoleh lakukan kembali duduk di tempat yang tadi. Matanya semakin melotot, apakah di benar-benar sangat marah padaku karena aku tidak memberitahu semua ini padanya?
"Hamil? Ka_kamu hamil?" wajahnya benar-benar mengisyaratkan sebuah keterkejutan yang sangat besar.
Aku mengangguk pelan, semoga dia percaya sekarang.
"Iya, aku hamil dan ini adalah anak pak Devan."
"Kamu benar-benar sudah menikah dengannya? Ini semua bukan kebohongan kan, Nay?"
Seperti biasa tidak akan mudah membuat Mika percaya, sebelum dia tau kebenarannya bagaimana mungkin Mika akan diam dan inilah kebenarannya. Kebenaran bahwa aku juga mas Devan memang benar-benar sudah menikah dan sudah menjadi sebuah keluarga kecil.
"Kapan? Kenapa kamu tidak bilang padaku? Apakah kamu tidak menganggap aku lagi sebagai sahabat mu?" pasti ini yang akan dia katakan.
Aku menggeleng, bukan keinginan ku untuk diam dan tidak memberitahukan semua pada Mika.
"Ini semua karena pak Devan, bukan keinginan ku. Bahkan sampai sekarang ponsel ku masih ada bersamanya."
"Aku tanya dan kamu harus jawab dengan jujur, apakah kamu bahagia dengan pernikahan ini? Atau ini hanya pernikahan yang di paksakan sepihak dan kamu tidak pernah bahagia?"
"Tidak, Mika. Aku bahagia dengan pernikahan ini. Sudahlah, jangan bahas lagi yang penting sekarang kamu sudah tau aku meminta kamu ke sini karena aku sangat merindukan mu, bukan menyuruhmu menjadi reporter."
Aku kembali memeluk Mika dan aku ini dia membalas pelukan ku.
"Baiklah, aku akan bahagia kalau kamu bahagia Nay. Semoga ini menjadi pernikahan terakhir mu, aku akan selalu mendoakan kebaikan mu meski aku masih sangat kesal padamu."
"Maaf," sekali lagi aku minta maaf padanya dan akhirnya dia tersenyum.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung......