Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tak dapat bertemu



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Setelah pergulatan yang terjadi dengan sekertaris_nya Aditya bergegas pergi ke sekolah dia sangat yakin kalau Ara sudah masuk sekarang dah dia bisa bertemu dengannya. Aditya sangat merindukan anak kecil itu.


Rasa lelahnya seakan hilang tergantikan dengan rasa puas. Rasa sakit hatinya pada Jihan terbayar sudah dengan dia yang mengkhianati Jihan di belakangnya.


"Kita impas, Jihan. Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa bersenang-senang? Hem... aku pun juga bisa. Jika kamu bisa bermain api aku_pun juga bisa."


Aditya menyeringai dengan rasa puas yang dia dapat. Dia sangat puas setelah berhasil mendapatkan Winda yang begitu menggoda.


"Bahkan Winda lebih baik daripada kamu, Jihan. Winda lebih enak untuk di nikmati daripada kamu," gumamnya yang terus menerus memuji Winda.


Memang, secara lekuk tubuh Winda lebih menarik, dia juga lebih berisi di bandingkan dengan Jihan, bagaimana mungkin Aditya aja berbohong dengan hal itu?


"Winda juga sangat lugu dan juga bodoh. Mau-maunya aku manfaatin dan aku ambil keperawanannya."


"Hahaha! Puas aku hari ini. Ternyata inilah senangnya jika banyak uang dan memiliki kedudukan tinggi, aku bisa mendapatkan apapun dan bisa mengendalikan semuanya, hahaha!"


Tawa Aditya begitu menggelegar memenuhi ruang di dalam mobilnya yang terus berjalan. Membayangkan apa yang tadi baru saja dia lakukan bersama Winda membuat dia tak henti-hentinya untuk tersenyum, ternyata dia benar-benar sangat tergoda dengan sekertaris_nya itu.


"Aku bisa memiliki wanita seperti apapun karena uang, aku bisa menikmati wanita seperti apapun yang aku mau, tai tidak dengan mu, Jihan. Aku tidak akan sudi menyentuh bekas dari orang lain."


Kini wajah binarnya seketika berubah menjadi serius juga dengan tatapan mata yang tajam. Aditya sangat tidak menyukai di khianati meski dirinya sendiri juga tidak luput dari perbuatan itu.


Detik demi detik terus berjalan hingga akhirnya Aditya sampai di depan sekolahnya Ara, dia begitu antusias untuk turun untuk menemui anaknya yang sangat dia rindukan.


Tak peduli dengan peringatan dari Devan yang tetap dia ingat sampai sekarang yang jelas dia hanya ingin bertemu dengan Ara saja.


"Ar pasti sangat senang," gumamnya. Aditya turun dari mobil dengan cepat kali ini dia tidak membeli berbagai macam makanan melainkan hanya membeli bermacam-macam mainan yang akan dia berikan pada Ara. Ara pasti sangat suka dengan semua yang sudah dia belikan.


Setelah beberapa mainan Aditya beli cepat Aditya berjalan menuju ke gerbang melihat lihat sebentar dan berusaha untuk membuka dan ternyata tak bisa karena gerbang itu bukan hanya di tutup saja tapi juga di kunci dengan gembok.


"Maaf, Anda cari siapa ya? Atau Anda ingin bertengkar siapa?" Tanya salah satu penjaga yang mendekati.


"Saya ingin bertemu dengan anak saya. Namanya Ara apakah dia sudah sekolah lagi?" tanya Aditya yang masih tetap berada di luar gerbang.


"Ara? Anak anda?" penjaga itu hanya tersenyum kecut mendengar kata anak dari Aditya. Apalagi penjaga itu sudah tau apa yang terjadi kemarin.


"Hem, sepertinya anda belum bangun seutuhnya. Lebih baik anda cuci wajah anda dan sadarlah. Tampan-tampan kok kurang genap," sinis penjaga.


Dengan begitu santainya penjaga itu pergi dari hadapan Aditya jelas hal itu membuat Aditya merasa sangat kesal dan amarahnya seakan menggebu.


Kurang genap?


Apakah penjaga itu berpikir kalau Aditya tidak waras? Bahkan dia benar-benar ingat semuanya dan dia juga mengatakan yang sebenarnya tapi kenapa penjaga itu tidak percaya dan malah meledeknya.


"Hey, jaga ucapan mu ya! Saya masih waras!" teriak Aditya tak terima.


Sepertinya akan sia-sia saja Aditya datang ke dana karena penjaga tidak akan membukakan pintu gerbang, dia juga tidak bisa masuk. Haruskah Aditya menunggu sampai sekolah bubar dan Ara pulang? Tapi sampai kapan?


Aditya menoleh ke bangunan yang ada di depan sekolah itu, yang ada di sana adalah para pengasuh dan para penjaga yang di minta khusus oleh orang tua satu murid di sana. Tak ada satupun pengasuh yang di perbolehkan masuk.


Semua memandangi Aditya dengan tajam, orang-orang yang sembilan puluh persen wanita itu terus memandanginya dengan begitu penuh arti. Entah apa yang mereka pikirkan akan Aditya sekarang ini.


"Sial, bukanya bisa bertemu dengan Ara tapi aku malah jadi tontonan seperti ini," keluhnya.


"Dasar orang kalangan bawah," umpat Aditya lagi dan menghina para orang-orang yang ada di sana yang memang kebanyakan adalah para babysitter.


Aditya juga tidak mungkin membawa mainan murah yang hanya dia beli di depan sekolah itu, dia langsung membuang di tempat sampah sebelum dia masuk ke dalam mobil.


"Menyebalkan," kembali Aditya mengumpat, dia sangat kesal karena gagal untuk bertemu dengan Ara.


"Semua ini gara-gara Devan. Gara-gara dia aku kehilangan kesempatan untuk bisa bersama dengan Ara atupun Nayla. Tapi tidak lama, Dev, tunggu saja sampai kamu jatuh bangkrut dan setelah itu kamu akan di tinggalkan oleh Ada juga Nayla."


Dengan cepat Aditya menjalankan mobilnya pergi dari sana dengan keadaan harus yang masih sangat kesal dan sangat marah. Ya! Dia jelas sangat marah dan orang pertama kali yang membuat dia marah adalah Devan.


Tidak kembali ke kantor tapi Aditya berniat pulang ke rumah, dia sangat malas sekarang untuk bisa mengerjakan semua pekerjaannya.


Belum juga dia sampai rumah dan baru setengah jalan xia melihat Jihan yang masuk ke dalam taksi, "Jihan mau kemana?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Tak lama taksi yang membawa Jihan berjalan, arah yang di tuju taksi itu bukan rumah atau kantor jelas membuat Aditya sangat curiga. Niatnya pulang dia tunda dan malah membuntuti taksi Jihan. Aditya ingin tau kemana Jihan pergi.


"Mau kemana Jihan saat ini, ini kenapa ke arah...?"


Aditya menghentikan kata-katanya, dia masih tidak ingin berprasangka buruk dulu mungkin yang dia pikirkan salah.


Mobil terus berjalan beriringan, Jihan sama sekali tidak tau kalau Aditya telah membuntuti dirinya, dia terlihat tenang di dalam taksi tapi juga ada rasa ketar-ketir.


"Kenapa kesini?" kemarin Aditya masih tidak percaya kalau Jihan benar-benar ada hubungan dengan Vino tapi sekarang? Apakah mungkin jika dia tidak akan percaya setelah melihat sendiri bahwa Jihan mendatangi rumah Vino yang dulu menjadi tempat acara reunian?


Aditya mengambil ponselnya dia hanya ingin mengetes Jihan saja apakah dia jujur atau tidak pada dirinya. Aditya menghubungi Jihan.


Jihan yang belum keluar dari taksi terkejut ketika ponselnya berbunyi dan ternyata Aditya yang menghubunginya.


"Hallo, Mas. Ada apa?" tanya Jihan yang dia buat setenang mungkin.


"Tidak, aku hanya merindukan kamu saja. Kamu di mana sekarang?"


"Hem..., aku, aku di rumah Mas. Aku baru saja selesai mandi kalau mas merindukan ku kenapa tidak pulang?" jelas Jihan berbohong.


Tangan Aditya mengepal mendengar kebohongan dari Jihan barusan. Selesai mandi? Padahal Jihan sudah ada di depan rumah teman Aditya.


"Oh, nanti saja deh pad makan siang. Pekerjaan mas sangat banyak," jawab Aditya beralasan.


"Baiklah, nanti aku masakin makanan kesukaan mas."


"Baiklah," cepat Aditya memutuskan telfonnya dan itu membuat Jihan lega.


Tak lama telfon terputus Jihan keluar dari taksi dia melihat-lihat sekeliling sebentar sebelum akhirnya dia memencet bel.


Terlihat sangat jelas kalau Vino keluar dari rumah dengan senyum yang terlihat sangat bahagia. Gerbang di buka dan dengan cepat dan tanpa melihat-lihat lagi Vino memeluk Jihan bahkan tangannya juga langsung menyentuh bongkahan kembar belakang Jihan.


"Kurang ajar kamu Jihan. Kamu benar-benar telah mengkhianati ku," Aditya sangat marah.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung