
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Sudah lengkap sekarang keluarga kecilku. Ada aku, Ara dan juga Pak Devan dalam satu rumah. Inilah yang dinamakan dengan rumah tangga yang sempurna ada Ayah, Bunda dan juga anak.
Kebahagiaan sangat menyelimuti di pagi hari kami yang begitu cerah. Bukan hanya dunia saja yang cerah dengan langit yang begitu indah membiru tanpa ada awan hitam yang menutupinya. Begitu juga dengan kebahagiaan kami ketika sama-sama membuka mata.
Memang Pak Devan yang lebih dulu membuka mata, dan selalu saja dia akan membuat sesuatu yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Bahkan aku tidak tahu sejak kapan Pak Devan berada di tengah-tengah antara aku dan juga Ara. Bukankah semalam Pak Devan ada di di sebelah Ara dan Ara lah yang ada di tengah-tengah tapi sekarang?
Muach... Muach...
"Selamat pagi!" serunya dengan sangat heboh membangunkan kami setelah memberi kecupan di antara kami juga.
Mataku terbelalak melihat Pak Devan yang sudah ada di tengah-tengah dan meringis begitu saja melihat wajahku yang pasti terlihat sangat aneh. Bukan diriku saja bahkan Ara pun juga terlihat sangat terkejut, sejak kapan pak Devan berpindah tempat?
"Loh, ayah sejak kapan pindah?" bukan aku yang bertanya tetapi Ara. Dia bertanya lebih dulu dan tentu diriku juga yang sangat penasaran.
"Sejak kapan ya?" matanya berkedip-kedip ke arahku dan juga ke arah Ara secara bergantian bahkan bibirnya juga terus tersenyum.
Dan jangan lupakan kedua tangannya yang ternyata menjadi bantal untukku dan juga untuk Ara. Bukankah itu sangat adil? Bukan hanya memperhatikan kenyamanan ibunya saja tetapi dia juga memperhatikan kenyamanan dari anaknya.
Aku pikir seorang pria seperti Pak Devan tidak akan bisa atau mungkin akan sangat susah untuk bersikap dewasa dan juga adil untuk kami berdua, tetapi ternyata dia benar bisa melakukannya bahkan sangat adil. Kasih sayang yang diabaikan sama besar dan tidak berat sebelah. Pak Devan benar-benar sempurna menurutku.
"Ih, ayah nakal! Kalau sampai Ara jatuh bagaimana?" protes Ara.
"Mana mungkin jatuh, kan ada ayah yang akan selalu menjaga Ara dan juga Bunda. Ayah akan selalu menjaga kalian dan tak akan pernah ayah biarkan kalian jatuh dan terluka, sedikitpun." Ucapan Pak Devan terlihat sangat meyakinkan.
Kembali pak Devan mencium kami secara bergantian dengan memajukan menggunakannya tangan.
"Ih, ayah geli!" teriak Ara yang protes karena terkena terkena berewok tipis pak Devan. Jangankan Ara aku saja juga merasa sangat geli karena tidak terbiasa.
Namun meski seperti itu kebahagiaan benar-benar sangat terasa dan sangat besar melengkapi pagi kami.
"Sekarang siapa yang mau di Mandiin ayah, Ara atau bunda?"
Mulai kumat lagi nih suami. Ada-ada daja masak segede gini di mandiin kayak bocah.
"Bunda saja, Yah. Ara kan udah besar," Ara yang lebih dulu menjawab.
Sungguh pintar juga anakku, menyodorkan bundanya dan mengatakan dia sudah besar padahal siapa yang lebih besar di sini.
Pak Devan menoleh ke arahku dan langsung tersenyum, "baiklah, ayah akan mandiin bunda saja. Sekarang Ara ke tempat suster Neni atau nenek biar ayah mandiin bunda dulu. Oke sayang?"
Mataku terbelalak mendengar ucapannya, benarkah akan di benar-benar di lakukan oleh pak Devan? Benarkah aku akan menjadi bayi besar lagi?
"Oke ayah, yang bersih ya," Ara melepaskan diri seketika lalu turun dari kasur dia juga langsung berlari ke arah pintu untuk keluar dari kamar ini.
Seperti sudah di ajarkan saja setelah keluar Ara juga langsung menutup pintu nya lagi dengan sangat rapat.
"Kita mandi sekarang, Bunda?" pak Devan mengganti posisinya menjadi miring ke arah ku.
Dia menawarkan namun berbeda dengan apa yang di lakukan oleh tangannya. Tangannya mulai satu persatu melepaskan kancing baju ku dan yang satu tetap berada di bawah leherku dan menahannya supaya aku tidak pergi.
"Pak, pak Devan mau apa?" jelas aku sangat panik dengan apa yang akan dia lakukan.
"Mau apa? Mau melanjutkan pekerjaan semalam yang sudah di mulai namun belum selesai." katanya.
"Pak!" teriak ku. Tangannya seketika bergerak semakin nakal dan juga semakin serius, menyentuh semua yang dia kehendaki.
"Apa sayang, kita belum mulai," jawabnya dengan sangat santai.
Aku begitu gugup, merinding juga dengan desir panas yang mulai menjalar ke seluruh tubuh. Rasanya sangat aneh, geli tapi nikmat. Rasanya sungkan namun sangat penasaran untuk langkah selanjutnya.
Aku juga takut, memikirkan pintu yang tidak terkunci, bagaimana kalau tiba-tiba ada yang masuk, Ara mungkin?
"Hem, tunggu di sini. Sekali melarikan diri maka akan ada hukuman yang harus kamu terima," pak Devan langsung turun dari ranjang dan menuju pintu, dia mengunci lalu kembali lagi.
Rasanya ingin kabur saat dia lengah namun mengingat akan ancamannya? Ancaman yang belum aku ketahui apa hukumannya namun sudah mempu membuat ku merinding.
Pak Devan kembali naik ke ranjang, merangkak pelan hingga sampai di tempat ku yang terdiam dengan jantung yang berdetak semakin kencang.
Melihat aku yang terus diam pasrah pak Devan tersenyum, apakah ini lucu?
"Kita mulai?" tanyanya dan sudah perlahan membungkuk.
"Belum?" aku menggeleng.
"Ada apa lagi?" Pak Devan terlihat mulai kesal, mungkin dia takut akan gagal lagi kegiatan yang sempat tertunda ini. Seharusnya sudah dari semalam tapi sampai sekarang belum juga terjadi. Bukankah seharusnya sekarang harus terjadi?
"Malu," kataku.
Mata pak Devan membulat namun tidak lama karena dia tau aku pasti malu dengannya. Kami baru akan melakukan dua kali ini dan jelas juga belum terbiasa satu sama lain.
"Kenapa harus malu, aku suamimu. Ini juga bukan yang pertama karena kita sudah pernah melakukannya."
Tapi aku tetap menggeleng.
"Ada apa lagi?" suara pak Devan sudah terdengar sangat malas, "lapar?"
Aku kembali menggeleng, bukan karena itu juga.
"Terus apa lagi, Nay." terlihat pak Devan semakin jengah karena aku yang seolah mengulur-ulur waktu.
Pak Devan sempat menggaruk tengkuknya juga yang entah benar-benar gatal atau tidak aku juga tidak tau tapi sangat jelas. Apakah itu efek dari frustasi? Mungkin.
"Malu," kataku lagi.
"Malu dengan siapa. Tidak ada yang lain di sini selain kita." jelas pak Devan gak habis pikir sebenarnya apa yang membuat aku malu.
("Kelamaan, Nay. Keburu suamimu nggak minat lagi," Mbak author yang ikut kesal. Wkwkwk)
"Tutup dulu lah," kata ku.
"Apanya yang di tutup pintu sudah di tutup juga sudah di kunci. Tak akan ada yang lihat juga tidak akan ada yang bisa masuk.
"Ada yang lihat, Pak."
"Siapa, nggak ada, Nay..."
"Para mbak-mbak dan mas-mas yang lagi baca."
Pak Devan seketika terperangah, dia ingin mengumpat tapi tak berani karena yang ada di hadapannya adalah istrinya sendiri. Sekali mengumpat pasti ritual malam kedua akan gagal lagi dan akan mundur entah sampai kapan.
Tapi hatinya sangat dongkol, kelakuan istrinya benar-benar sangat membuat ubun-ubunnya ingin mendidih.
"Okelah, terserah kamu saja yang terpenting malam kedua kita tidak gagal."
"Maaf ya semua, mau tarik selimut dulu."
"Pak!!!" teriakku yang pasti menggema sangat keras di kamar ini setelah pak Devan benar-benar menutup kegiatan kami dengan selimut.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....