Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tak perlu takut



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Semakin gelisah jika mengingat semua yang telah dilakukan oleh Mas Aditya, dia begitu nekat melakukan apapun yang terpenting bisa bertemu dengan Ara bahkan dia sama sekali tidak takut dengan ancaman yang diberikan oleh Mas Devan.


Di dalam mobil terus saja aku diam dan hanya akan tersenyum kecil saja jika Ara bertanya tentang orang yang telah memanggil dirinya tadi. Dengan sedikit pengertian Ara bisa mengerti dan tidak bertanya begitu banyak.


Ara juga ikut diam meski aku lihat dia begitu kecewa karena aku tak mau mengatakan siapa, atau memberitahukannya. Tapi, untuk sekarang itu adalah yang terbaik untukku.


Sampai di rumah ternyata mobil Mas Devan sudah ada, berarti dia sudah pulang lebih dulu daripada kami. Dan benar saja, ketika masuk ke dalam rumah kami langsung di sambut olehnya.


"Princess ayah!" serunya yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


Melihat kedatangan kami berdua Mas Devan langsung meletakkan ponselnya di meja, dia juga langsung berdiri dan berjalan menghampiri kami. Ralat, Ara yang dia hampiri karena langsung dia angkat tubuhnya yang kecil itu ke dalam gendongannya.


"Ayah udah pulang?" tanya Ara.


Aku mengikuti Mas Devan membawa Ara, dan ternyata dia berhenti di tempat yang tadi dan duduk di sana. Mas Devan tidak mengizinkan Ara duduk sendiri karena Ara duduk di pangkuannya sekarang.


"He'em, ayah kan sudah bilang kalau akan pulang untuk makan siang bersama Ara dan bunda."


Aku duduk di sebelahnya, memperhatikan kedekatan mereka yang semakin lama semakin bertambah dekat. Melihatnya, hatinya rasanya semakin bahagia.


"Oh, alhamdulilah kalau begitu. Ara senang kalau bisa selalu makan bareng sama ayah," Ara terlihat begitu berbinar, dia juga begitu nyaman duduk di pangkuan Mas Devan.


"Tentu dong. Ara harus selalu senang."


"Sekarang Ara pergi ke kamar sama Sus Neni untuk ganti baju laku baru kita makan, oke princess?"


"Oke," dengan begitu ceria Ara hendak turun dari pangkuan mas Devan. Namun, belum juga benar-benar turun Ara berhenti membuat Mas Devan mengernyit.


"Kenapa?" tanyanya dengan begitu bingung.


"Hem..., hehehe," Ara terlihat begitu malu-malu, entah apa yang sebenarnya ingin dia lakukan. Dan ternyata... muach!


Satu kecupan di berikan oleh Ara untuk Mas Devan setelahnya dia benar-benar turun dengan berlari.


Mas Devan melihat kelakuan anak sambungnya itu hanya dengan senyum, melihatnya dengan gemas.


"Hem, anak itu benar-benar menggemaskan ya, Nay. Aku sungguh beruntung karena kamu memberikan aku kebahagiaan ini. Terima kasih ya," Mas Devan menoleh kearah ku namun aku tak sudah tidak melihatnya.


"Nay, kenapa, apakah ada masalah lagi?" mungkin wajah kesalku benar-benar terlihat olehnya hingga dia bertanya seperti ini.


Mas Devan menggeser duduknya untuk lebih dekat, menggenggam tanganku dan menarik daguku untuk menoleh kembali kearahnya dan itu berhasil.


"Mas, Mas Aditya datang lagi. Dia hampir saja bertemu dengan Ara."


Aku mulai berbicara, mulai menceritakan apa yang tadi terjadi. Bagaimana Mas Devan terus berlari mengikuti dan bagaimana dia ingin sekali bisa bertemu.


"Terus kamu maunya bagaimana?"


"Hem, bagaimana kalau Ara pindah saja. Kita cari sekolah yang baru yang Mas Aditya tidak akan bisa menemukannya. Aku hanya takut kalau Mas Aditya akan terus memaksa dan akhirnya bisa membawa Ara pergi. Aku sangat takut."


Mas Devan begitu tau akan ketakutan ku, dia merengkuh tubuhku dan membawanya dalam dekapannya.


"Tidak perlu takut, kalian akan selalu aman selama ada aku."


"Iya jika ada kamu, Mas. Jika tidak ada? Apakah kami akan tetap aman?" Tak tau darimana pertanyaan itu tiba-tiba datang, tapi yang jelas aku sangat takut.


"Kalian akan tetap aman, yakinlah," Mas Devan semakin erat memberikan pelukan, membuatku benar-benar nyaman meski di dalam hati ketakutan terasa sangat besar.


Orang yang dulu begitu aku kagumi dan sekarang sudah menjadi orang yang sangat aku benci dan sangat menakutkan.


Itulah...


Jangan terlalu mencintai seseorang begitu besar karena kita tidak akan tau apa yang akan terjadi di masa depan, bisa jadi orang yang kita cintai akan menjadi orang yang paling kita benci.


Juga, jangan terlalu membenci seseorang, siapa tau orang yang kita benci itu akan menjadi orang yang paling berharga dan paling bisa menghargai kita.


Kita tidak pernah tau, hati yang akan terjadi dimasa mendatang. Dan itulah yang terjadi padaku sekarang.


Seharusnya aku tidak begitu mencintainya dulu jadi aku tidak sakit saat dia pergi. Dan aku juga tidak akan begitu membenci ketika dia membuat masalah.


Krukk....


"Eh, si kecil sepertinya sudah tidak sabar pengen makan. Kamu mau bersih-bersih dulu atau mau makan dulu?"


"Hem, biarkan seperti ini dulu." Rasanya sangat nyaman dalam posisi ini, hingga rasanya sangat tak rela jika cepat-cepat berlalu.


"Baiklah," Mas Devan mengeratkan rangkulannya dan membuatku terasa semakin nyaman.


'Terima kasih, Mas,' batinku.


❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Bersambung...