Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Meminta Hak



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Aku melihat ada yang berbeda dari pandangan mas Devan, tatapannya begitu aneh seperti ada yang sedang dia inginkan, tapi apa?


Di perjalanan ingin kembali aku terus saja melihatnya, gerak-geriknya sangat berbeda dari saat berangkat tadi. Sesekali dia melihatku dengan aneh di sela-sela fokus pada perjalanan.


Sebenarnya ada apa sih?


"Mas, kamu kenapa? apakah ada yang ingin mas katakan? atau ada masalah?" tanya ku dengan hati-hati. Aku tidak mau sampai dia tersinggung dan malah moodnya akan berubah buruk. Semoga saja tidak.


"Tidak, tidak ada apapun," jawabnya. Dia mengatakan tidak, tapi dengan jelas bahwa wajahnya mengatakan hal lain.


"Mas, apakah mas tidak percaya padaku sampai-sampai mas menyembunyikan sesuatu dariku?" jelas saja pikiran ini muncul dalam benakku.


"Mas benar-benar tidak apa-apa, Nay sayang." mas Devan menoleh, dia berusaha meyakinkan tapi tetap aku tidak percaya.


Aku terdiam sejenak, memalingkan wajah namun pikiran tetap tidak tenang. Aku sangat yakin ada yang mas Devan pikirkan, dia tidak mungkin terlihat aneh kalau tidak ada yang dia ingin atau di sembunyikan.


Kembali aku duduk mengarah padanya, menatap lekat-lekat wajahnya yang terlihat jelas menyembunyikan sesuatu.


"Kamu tidak bisa berbohong, Mas. Kamu pasti ada sesuatu yang ingin di katakan, iya kan?"


Mas Devan menoleh pelan, dia belum menjawab tapi terlihat jelas bahwa dia ingin mengatakan tapi sangat ragu.


"Mas, katakan lah, atau aku tidak akan mau bicara padamu lagi." ku beri ancaman untuknya, semoga saja bisa berguna.


"Hem, sebenarnya..., sebenarnya aku merindukan mu." ucapannya terbata-bata.


Aku tersenyum, bukankah setiap hari selalu bertemu? bagaimana mungkin dia merindukan ku.


"Mas, kita terus bertemu," aku menggeleng pelan, juga tersenyum karena ucapannya gak masuk akal. Apakah aku yang kurang peka dengan perkataannya?


"Bukan itu maksudku. Tapi aku merindukan untuk...?" mas Devan tidak melanjutkan perkataannya.


Aku terdiam, aku paham sekarang apa yang dia inginkan. Dia merindukan ku dalam hal lain, dia ingin bermesraan dengan ku, berduka saja.


Aku memang sangat khawatir dengan Ara, tapi aku juga tidak boleh egois dan mengabaikan keinginannya. Mas Devan sudah berjuang banyak untuk ku dan Ara, mengorbankan segalanya untuk kami, masak hanya itu saja aku tak bisa memberikannya?


"Mas maunya gimana, ita pulang dulu atau...?"


"Kamu tidak keberatan?" sepertinya mas Devan sangat takut kalau aku sampai merasa keberatan, aku yakin dia berpikir kalau aku sedang ingin fokus dengan Ara, dan tidak memikirkan hal itu.


"Kenapa aku keberatan? justru aku yang minta maaf sama kamu Mas, aku selalu mengabaikan mu."


"Tidak apa-apa, aku sangat tau kamu. Kamu pasti sangat mengkhawatirkan Ara, iya kan?"


"Justru aku yang harus minta maaf karena telah meminta hak ku di saat yang tidak tepat."


"Mas juga tidak salah, aku hargai itu, Mas. Kita pulang dulu atau?"


"Di dekat sini ada hotel, kita mampir sebentar?" Mas Devan terlihat begitu sumringah, dia terlihat begitu bahagia setelah aku setuju untuk memberikan hak nya.


"Boleh," aku mengangguk.


Mas Devan langsung memutar arah, menuju ke hotel yang entah hotel mana yang menjadi tujuannya.


'Aku minta maaf, Mas. aku tidak mempedulikan mu akhir-akhir ini. Sampai-sampai hanya untuk hal mu saja kamu sampai memintanya. Maaf,' batinku.


Aku lihat mas Devan terus tersenyum, dia begitu bahagia bahkan tangannya terus menggenggam tanganku sekarang.


Senang rasanya bisa membuat mas Devan bahagia. Seandainya bisa, aku tidak akan biarkan sampai dia kekurangan dalam haknya, tapi mau bagaimana lagi? aku belum bisa terus fokus pada dirinya saja.


Semoga saja Ara cepat sembuh dan kamu bisa bahagia dan saling menunaikan kewajiban dan juga mendapatkan hak yang sudah semestinya. Amin..


◒◒✧༺♥༻✧◒◒


Bersambung..