Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kebohongan Aditya



❃❃✧༺♥༻✧❃


Begitu senang Aditya setelah berhasil menghasut kedua orang tuanya Devan. Setelah ini pasti mereka akan sangat marah dan menentang hubungan Devan juga Nayla, bahkan pastilah mereka akan menganggap Nayla adalah perempuan yang tidak benar, pikirnya.


Setelah pergi ke rumah orang tuanya Devan Aditya lebih memilih pulang dengan membawa rasa puas dan senang, bahkan dia selalu tersenyum sepanjang perjalanan.


"Aku pastikan setelah ini kalian tidak akan bisa bertemu lagi, Nayla dan Devan. Sementara aku? Aku hanya tinggal menunggu saja kamu akan kembali kepadaku, Nayla," gumamnya.


Hatinya begitu berbunga-bunga mengingat Nayla sekarang. Cintanya masih sangat besar untuk Nayla tapi ketamakan akan harta juga tidak bisa dikalahkan hanya karena cinta. Dia ingin bisa mendapatkan keduanya, cinta dan juga harta.


Sementara Jihan?


Jihan tidak lebih sebagai alat untuk kesuksesannya. Sebagai jalan pintas untuk dia bisa mendapatkan kesuksesan dan juga jabatannya yang tinggi seperti sekarang ini.


"Kamu akan kembali kepadaku, Nay," gumamnya lagi yang begitu percaya bahwa Nayla akan segera kembali dan akan memaafkan semua kesalahannya dan mereka bisa hidup bahagia meski dengan cara sembunyi-sembunyi dari Jihan dan keluarganya.


Hingga sampailah dia di depan rumah Pratama. Mobil langsung terparkir manis di dalam garasi yang sangat luas yang terdapat beberapa mobil di dalamnya. Ya! Mereka memang sangat kaya kan?


Tak tak tak...


Langkah kakinya begitu mantap masuk ke dalam rumah besar milik keluarga Pratama, keluarga yang memberikan kedudukan tinggi memberikan fasilitas mewah yang tak usah susah-susah dia dapatkan.


Tak perlu bekerja keras, tak perlu bekerja sampai bertahun-tahun hanya dengan menikah dengan Jihan anaknya saja semua sudah dia dapatkan. Kurang apa lagi sekarang?


"Siang Pa, Ma," sapanya dengan sopan ketika masuk ke dalam rumah dan melihat kedua mertuanya tengah duduk bersamaan di ruang tengah.


Menikmati minuman hangat dan juga menikmati cemilan yang juga masih hangat terlihat jelas dari asap yang masih mengepul di atasnya. Sungguh nikmat sebenarnya untuk dinikmati tapi Aditya ingin pergi ke kamar lebih dulu dan menemui Jihan.


Menemui wanita yang memberikan segalanya dan berpura-pura menjadi suami terbaik untuk anak mereka berdua supaya dia tetap aman berada di rumah itu.


"Siang, Dit. Oh iya, tadi papa datang ke kantor tapi kamu tidak ada, kamu pergi ke mana?" tanya pak Pratama.


Aditya tercengang, dia terlihat gelagapan untuk menjawab pertanyaan dari Pak Pratama tentang kepergiannya. Tidak mungkin kan dia menjawab kalau dia pergi ke rumah Devan untuk memprovokasi kedua orang tuanya.


"Hem..., itu, Pa. Aditya ada janji sama temen. Dia ingin bertemu dan berbicara empat mata karena dia ingin bekerja sama dengan perusahaan kita," jawab Aditya, tentu jawabannya adalah bohong.


"Benarkah, siapa dia?" pak Pratama masih tak percaya sepertinya dan berusaha mengulik identitas orang yang Aditya temui barusan.


"Hem..., itu Pa... Devan, teman lama Aditya dari SMA," kilah Aditya kembali berbohong.


"Devan? Papa belum pernah dengar nama itu?" Pak Pratama mengernyit karena dia memang belum pernah melihat dan juga kenal.


"Itu, Pa. Anak dari pemilik perusahaan Gudia. Dia juga baru beberapa hari menggantikan papanya," yang di katakan memang benar tapi tidak benar kalau dia menemuinya dan membicarakan masalah pekerjaan.


"Kalau perusahaan Gudia papa tau, tapi kalau Devan papa belum pernah bertemu. Kapan-kapan ajak papa bertemu dengan nya."


"Baik, Pa. Hem... Aditya ke kamar dulu Pa," pamit Aditya.


"Ya, pergilah. Lagian Jihan juga terus menanyakan mu," ucap Pak Pratama. Sementara sang istri dari tadi hanya diam dan mendengarkan percakapan suami dan juga menantunya saja.


Aditya lari untuk secepatnya sampai di kamar. Entah benar dia merindukan istrinya atau hanya kebohongan saja sama seperti yang dia katakan dengan mertuanya yang semuanya adalah kebohongan.


Di saat Aditya masuk dia mendengar kalau Jihan tengah berbicara dengan seseorang, dia tengah mendapatkan telfon ternyata.


Tetapi, Aditya terlihat mengernyit karena istrinya berbicara dengan sangat tegang dan tentu dengan kekesalan yang sangat besar. Kira-kira dia bicara dengan siapa?


"Jangan berani-beraninya kamu mengancam_ku ya! Aku tidak akan biarkan itu terjadi."


"..."


Jihan langsung mematikan ponsel dengan sangat kesal dia juga langsung melemparkan ponselnya di atas ranjang. Tapi betapa kagetnya Jihan ketika membalikkan badan dan ternyata Aditya sudah berdiri di belakang pintu dan mendengar semua perbincangannya.


"M_mas..." Jihan sangat gugup, dia telah ketahuan sekarang.


"Se_sejak kapan mas pulang?" kembali Jihan bertanya namun masih tetap dengan nada yang sama. Kakinya perlahan melangkah untuk mendekati Aditya dan membantu Aditya melepaskan dasi juga jasnya.


"Kamu bicara dengan siapa? Kenapa kamu terlihat sangat kesal seperti itu?" jelas Aditya curiga. Suami mana yang tidak akan curiga jika istrinya berbicara di telfon dengan seseorang dengan nada yang seperti tadi.


"I_itu..., Ka_Kayla mas. Dia mengancam ku kalau sampai pas acara ulang tahunnya aku tidak mau datang."


Jihan berbohong itu jelas, karena bukan Kayla yang bicara dengannya melalui sambungan telepon melainkan Vino.


"Kalau memang Kayla kenapa kamu tidak mau datang? Bukankah dia temanmu, nggak baik dong kalau menolak undangannya?" Aditya percaya begitu saja.


"Ya, ya mau bagaimana lagi Mas. Jihan tidak mungkin kan pergi dengan nya selama tiga hari. Kalau aku pergi bagaimana dengan kamu," tangan Jihan terus bergerak melepaskan dasi dan juga jasnya dan setelah berhasil terlepas dia bergegas untuk pergi untuk menaruh di keranjang baju kotor.


Tapi belum juga Jihan melangkah Aditya sudah menarik pinggangnya hingga mereka saling menempel.


"Pergilah, aku tidak apa-apa. Aku bukan anak kecil lagi, Jihan sayang. Kamu bisa pergi dengan teman-teman mu selama kamu mau, aku kan sudah selalu bilang tidak akan membatasi kamu. Apalagi sekarang?" ucap Aditya.


Sekarang, maksudnya Aditya karena Jihan sudah tidak lagi mengandung. Kalau kemarin mungkin dia akan menghalangi dia jika memaksa pergi.


"Tapi, Mas. Aku masih tidak mau pergi," kalau benar dia pergi karena Kayla mungkin dia tidak akan beralasan tapi yang mengundangnya adalah laki-laki lain. Dan Jihan tau apa yang dia inginkan.


"Kamu tidak bisa seperti ini terus, Sayang. Kamu harus bersenang-senang untuk bisa melupakan kesedihan mu."


Aditya mengangkat tubuh Jihan dengan pelan menggendongnya dan berjalan menuju kasur lalu duduk di tepiannya.


Begitu lembut dan penuh kasih Aditya memperlakukan Jihan dan hal itulah yang membuat Jihan begitu mencintainya dan tak akan mungkin bisa melepaskannya.


Aditya adalah segalanya bagi Jihan, dia akan selalu mempertahankannya meski dengan alasan apapun. Cinta pertama Jihan yang tak akan bisa dia lupakan dan akan selalu dia perjuangkan untuk bisa selalu bersama.


"Aku juga sangat sedih tetapi kita harus bisa ikhlas menerima semuanya. Mungkin memang belum saatnya kita mendapatkan buah hati tapi apapun itu aku akan tetap selalu bersamamu. Kamu harus bisa tersenyum seperti sebelumnya."


Bagaimana mungkin Jihan akan berpaling jika sudah memiliki laki-laki yang begitu baik seperti ini. Aditya adalah segalanya untuk Jihan dan akan selalu seperti itu.


"Tapi, Mas?" Jihan masih tidak semangat untuk pergi. Karena, jika dia pergi maka yang pasti dia akan kembali mengkhianati Aditya dan dia tidak mau itu.


"Pergilah, dan bersenang-senanglah. Atau kalau perlu aku antar?"


"Tidak-tidak! Aku akan pergi sendiri besok pas acara tiba. Kayla juga hanya mengundangku saja."


"Hem, katakan pada Kayla, dia benar-benar jahat sekali karena tidak mengundang ku."


Aditya mengerucutkan bibirnya memasang wajah malas dan itu membuat Jihan tersenyum lalu mencubit kedua pipi Aditya.


'Bagaimana mungkin aku akan pergi begitu saja, Mas. Maafkan aku karena telah berbohong, bukan Kayla yang mengundang ku dan mengajak pergi tetapi Vino, temanmu!' batin Jihan.


'Aku tidak ingin pergi bersamanya tapi aku juga tidak mau Vino mengatakan kepadamu tentang semua yang sudah kami lakukan di belakang mu. Aku tidak ingin kehilangan kamu, Mas,' imbuhnya membatin.


-------Normal------


Bersambung....


◎◎✧༺♥༻✧◎◎