Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Menjelang hari-H



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Tidak tahu akan diadakan di mana acara pernikahan besok karena pak Devan sama sekali tidak mengatakan apapun juga keadaan rumah tenang damai tidak ada persiapan apapun juga. Jelas aku sangat yakin kalau pernikahan tidak akan dilaksanakan di rumah.


Tapi yang jelas Pak Devan selalu sibuk dan jarang-jarang menemuiku atau menemaniku kecuali malam hari. Dia selalu menghabiskan waktunya di dalam ruang kerja, mungkin pekerjaannya memang sangat banyak jadi dia begitu sibuk.


Tetapi dengan seperti itu aku jadi lebih sering bermain dengan Ara. Kalau ada Pak Devan mana mungkin aku bisa bebas bermain seperti sekarang ini.


Padahal hari pernikahan hanya tinggal besok tetapi Pak Devan sama sekali belum mengatakan apapun. Dan entah akan pergi ke mana untuk acara pernikahan besok, tidak mungkin di rumah ini kan?


"Bunda, kok malah melamun sih!" Ara protes karena melihat aku yang terus diam memikirkan hari esok.


Kenapa rasanya aku sangat tidak sabar menunggu hari esok? Padahal aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini terjadi waktu itu, tetapi kenapa sekarang begitu ingin cepat sampai di hari yang sangat sakral itu?


Apakah aku sangat berharap bisa secepatnya menjadi istri dari Pak Devan? Tetapi kenapa bisa seperti itu bukankah cinta saja belum hadir di hati dan kadang-kadang rasa kesal masih saja menyelimuti mengingat semuanya yang sudah Pak Devan melakukan.


"Bunda, ayo dong! Katanya mau main sama Ara," suara Ara semakin lantang saja.


Padahal sudah ada dua suster yang menemani Ara bermain, tapi tetap saja dia merasa kurang hingga mengajakku juga.


"I_iya," perkataan_ku sangat gugup karena masih membayangkan hari esok.


Aku mengernyit melihat kedua suster yang ada di hadapanku kini mundur seraya menjauh dari kami berdua tentu aku sangat bingung apa alasannya.


Mereka juga terlihat menunduk hormat, sekarang aku sangat yakin kalau Pak Devan datang. Dan setelah menoleh ke belakang ternyata benar bahwa pak Devan datang dan tersenyum melihat ku.


Mata terpaku melihatnya, wajahnya terlihat sangat terpancar begitu bahagia dan kini perlahan duduk di sebelah Ara.


"Ayah mau temenin Ara main juga?" tanya Ara.


"Tentu," jawabnya.


Tangannya langsung mengambil pasangan dari boneka barbie yang aku pegang dan matanya melirik ke arahku dengan tersenyum.


"Bunda, akhirnya sekarang Ara bisa main bersama-sama seperti keluarga Leni ya. Ada ayah, ada bunda juga ada Ara."


Wajah Ara begitu berbinar. Tidak dapat di percaya kalau ternyata Ara mengingat saat itu. Dimana dia memainkan bonekanya yang di beri nama Leni. Bahkan saat itu juga adalah hari perubahan status ku secara sah.


Meski dalam hukum agama sudah jatuh talak sejak lama tapi status sebagai sebagai istri masih melekat karena aku juga masih mengharap kalau mas Aditya akan pulang. Tapi nyatanya? Hanya selembar kertas saja yang datang, yaitu akta perceraian.


Seandainya hari itu tidak terjadi mungkin saat ini juga tidak akan terjadi. Hidup Ara tidak akan sempurna dengan mendapatkan sosok seorang ayah dari pak Devan.


"Hem," aku mengangguk dengan wajah yang langsung menunduk. Jelas aku malu karena mata pak Devan yang gak pernah berpaling.


Aneh, emangnya ada yang salah dengan wajah ku?


Apakah mungkin ada jerawat dan sejenisnya?


Tangan langsung menyentuh pipi secara bergantian tapi rasanya masih sama dan tak ada benjolan kecil atau besar di sekitar wajah, lalu?


Melihat apa yang aku lakukan membuat pak Devan tersenyum, entah apa yang membuat dia merasa lucu.


"Sini kita main bersama-sama," Ara menarik tangan ku hingga membuat aku mendekat begitu juga dengan pak Devan yang sama.


Kami benar-benar menemani Ara, bermain boneka barbie yang sangat komplit dengan semua perlengkapannya, jelas pak Devan yang membelikannya dan juga ada beberapa dari pak Abraham dan bu Susan kemarin.


Sekarang Ara benar-benar di manjakan, semua yang dia minta semua di berikan. Jangankan yang di minta yang tidak saja pak Devan beri.


Hingga cukup lama kami bermain Ara semakin senang begitu juga kami berdua yang kembali menjadi anak kecil. Sungguh lucu sekali rasanya.


"Ara sayang. Ini sudah malam, Ara bobok di temenin Sus Neni ya," pak Devan yang berbicara.


Padahal Ara masih terlihat begitu senang dan juga belum puas. Tapi karena waktu memang sudah malam jadi itu tidak bisa di nego lagi. Pak Devan selalu memperhatikan itu karena menurutnya terjaga semakin larut tidak akan baik untuk kesehatan.


Tangannya seketika bergerak aktif untuk membereskan semua mainannya yang di bantu oleh dia suster yang dadi tadi menjaganya.


"Sus, keluarga Leni di ajak ke kamar juga ya," katanya.


"Iya, Non." jawab Sus Neni.


Semua mainan benar-benar di bawa oleh Ara dan dia suster. Tempat kembali rapi dan indah di pandang.


"Kamu sangat luar biasa Nay. Bisa mengajarkan Ara untuk memiliki rasa tanggung jawab akan semua barang-barangnya sendiri."


"Hem?" aku terkesiap mendengar pak Devan yang berbicara padahal baru saja aku melihat kepergian Ara.


"Aku pasti akan menjadi laki-laki paling beruntung karena telah memiliki istri seperti kamu. Kita istirahat sekarang?"


"Hem," aku mengangguk.


Perlahan aku berdiri dan muka melangkah menuju kamar pak Devan yang selama ini menjadi tempat ku. Aku tidak mungkin berbelok ke kamar lain karena pak Devan juga tidak akan membiarkan itu.


"Akk!" Aku menjerit karena kelakuan pak Devan.


Tanpa aba-aba dia langsung mengangkat ku dari belakang. Dengan tanpa rasa bersalah dia terus melangkah menuju kamar dengan dia yang sudah menggendong ku.


Haruskah aku bahagia dengan semua sikapnya yang selalu manis seperti ini? Mungkin memang harus aku lakukan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Pak Devan membangun ku setelah sang surya telah tiba, dengan wajahnya yang tersenyum dan juga wajahnya yang sudah terlihat segar.


"Selamat pagi, calon istriku yang sebentar lagi akan menjadi istriku."


Aku melihatnya, biasanya aku yang lebih dulu bangun tapi kenapa sekarang dia yang lebih dulu?


"Pak Devan udah rapi, mau kemana?" tanya ku.


Baru saja di ingatkan tapi aku sudah lupa, dasar kamu Nay.


"Hem, sepertinya perlu di ingatkan lagi ya. Mau dengan cara apa aku ingatkan hem?"


"Ti_tidak! Aku sudah ingat sekarang." untung aku cepat kembali ingat kalau tidak, entah apa yang akan pak Devan lakukan.


"Sekarang mandi dan setelah itu kita bersiap untuk ke tempat acara."


"Di_dimana?"


"Kamu tidak perlu tau sekarang, yang terpenting kamu siapkan diri kamu baik-baik. Jangan lupa minum vitaminnya karena aku tidak mau sampai kamu kelelahan nanti karena acara. Kamu juga harus makan banyak karena aku tidak mau kamu kelaparan pada acara berlangsung."


Kalau masalah lelah bisa saja kan di tahan, tapi kalau masalah lapar? Bagaimana mungkin aku bisa menahannya.


Setiap hari dan setiap saat bawaannya pengen makan mulu, jadi bagaimana mungkin kalau pas laper dan harus di kendalikan.


"Ta_tapi..., kalau tiba-tiba saya lapar bagaimana? Kalau saya tiba-tiba pengen makan?"


"Kan ini bukan keinginan saya, tapi keinginan..." Aku sengaja tidak menyelesaikan perkataan karena pak Devan jelas sudah tau.


"Baiklah, boleh makan asal jangan pas acara akad. Masak iya tinggal bilang sah harus gagal karena kamu bilang lapar? Kan lucu."


Aku tersenyum mendengarnya memang akan sangat lucu kalau itu terjadi.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...