
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Betapa kecewanya Jihan ketika dia sampai rumah dan di beri tau oleh kedua orang tuanya kalau Aditya tidak ada di rumah, apalagi dia tidak pulang dari kemarin.
Dengan lemas Jihan duduk di sofa yang satu lingkar meja dengan kedua orang tuanya, dia benar-benar sangat kecewa sekarang.
"Papa tau mas Aditya pergi ke mana?" tanyanya yang sangat di penuhi dengan rasa penasaran. Kalau tidak di rumah terus Aditya pergi kemana lagi?
"Aditya ada di kantor, Nak. Dia sudah izin pada papa untuk menginap di sana. Ada pekerjaan yang banyak yang harus dia selesaikan, sebenarnya dia ingin membawa pulang tapi karena kamu juga tidak ada jadi dia lebih memilih mengerjakannya di kantor."
Semakin merasa bersalah Jihan saat ini, suaminya bekerja keras untuk memajukan perusahaan keluarganya tapi dia malah mengkhianati dan bersenang-senang dengan laki-laki lain.
'Maafkan aku, Mas. Aku benar-benar belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu,' batin Jihan yang sangat bersalah.
Wajahnya menunduk dengan kedua tangan memegangi pelipisnya lalu menyibak rambutnya kebelakang bersamaan dengan dia yang mengangkat wajahnya.
"Aku akan buatkan mas Aditya sarapan dan setelah itu Jihan akan ke kantor. Mas Aditya tidak akan tidur atau makan kalau sedang serius bekerja."
"Hem, itu yang lebih baik kami lakukan, Nak. Tapi apa kanu tidak lelah?"
"Tidak, Ma," Jihan seketika beranjak di juga tidak melupakan kopernya untuk dia bawa ke kamar lebih dulu.
Kedua orang tua mana yang tidak bangga melihat anak perempuannya yang begitu memperhatikan keluarga juga suami seperti anaknya sekarang. Di tengah-tengah rasa lelahnya dia tetap akan membuahkan sarapan untuk suaminya.
"Aditya sangat beruntung menikah dengan anak kita Ma," ucap pak Pratama.
"Iya, Pa." Istrinya pun juga langsung menjawab. Mereka benar-benar merasa sangat bangga dengan anak perempuannya itu.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Rasa canggung sangat Winda rasakan saat ini. Aditya memang tidak melakukan hal yang lebih selain memberikan ciuman di bibirnya tadi.
Hem, hanya ciuman saja sudah membuat Winda begitu diam sekarang apalagi jika yang lainnya?
Dengan menemani Aditya melanjutkan berkas-berkas kemarin dia terus diam, dia hanya akan mengeluarkan kata-kata singkat saja jika Aditya bertanya, selain itu dia hanya diam.
Di tambah dengan jarak mereka yang duduk begitu dekat membuat Winda grogi dan tak berani banyak bergerak, dia hanya diam di sebelah Aditya.
Berkali-kali Winda membenarkan roknya yang sedikit tertarik ke atas dan akan memperlihatkan pahanya yang mulus dan semua pergerakan itu jelas di lihat dan di nikmati oleh Aditya.
"Biarkan saja, dan fokuslah dengan pekerjaan mu."
Mata Winda seketika terbelalak saat Aditya menahan tangannya yang ada di atas pahanya sendiri dan ingin menurunkan roknya. Berdesir hatinya berdetak jantungnya dan sensasi panas dia dapatkan dalam waktu yang bersamaan.
"I_iya, Pak." gugup Winda. Dia berusaha menyingkirkan tangan Aditya namun Aditya tidak mengindahkan dan tetap di sana bahkan ketika tangan Winda sendiri sudah fokus dengan laptopnya yang ada di meja.
Merinding, ya! Winda sangat merinding merasakan perlakuan Aditya sekarang ini. Dia semakin tak mampu bergerak namun juga takut untuk menolak.
Winda masih membutuhkan pekerjaan ini untuk membiayai berobat ibunya, kalau tidak dari sana mau darimana lagi. Winda tidak akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari posisinya sekarang.
Kenapa keadaan selalu saja membuat orang tak berdaya seperti dirinya saat ini.
Mata Winda yang fokus menatap laptop tiba-tiba terpejam karena pergerakan tangan Aditya yang mengelus pahanya.
Diamnya Winda seolah menjadi cambuk untuk Aditya dan melakukan yang lebih gila lagi. Tangannya perlahan naik dan naik.
"Winda..." suara Aditya keluar sangat aneh, dia menoleh menatap Winda juga dengan sangat aneh juga.
"Pa_pak..." mata Winda membulat dengan netra yang terus bergerak melihat wajah Aditya.
Sensasi aneh yang dia dapatkan memang terasa sangat nikmat. Menghadirkan perasaan-perasaan yang belum pernah ada sebelumnya.
Wajah Aditya semakin mendekat, dan mata Winda tertutup. Entah takut atau dia memang begitu menginginkan.
Tok tok tok...
Keduanya sangat terkejut dengan pintu yang tiba-tiba di ketuk dari luar. Entah siapa yang berani mengganggu kesenangan Aditya pagi ini.
Aditya sangat kesal, dia melepaskan Winda dan juga menjauh darinya. Bukan hanya Aditya tapi Winda juga menjauh darinya.
'Lega,' batin Winda sembari mengambil nafas panjang yang begitu lega.
"Masuk!"
Tak lama pintu terbuka dan ternyata yang datang adalah wanita yang membuat mood Aditya hilang kemarin dan membuat dia juga marah-marah.
"Mas," sapa Jihan.
Tak ada curiga Jihan meski melihat Winda dari Aditya berasa di satu ruangan dan hanya berdua saja. Mereka terlihat sangat profesional dalam pekerjaan saja dan tidak ada yang lain.
"Kapan kamu pulang?" tanya Aditya malas.
"Tadi, Mas. Kata papa mas tidak pulang karena lembur jadi Jihan bikinkan sarapan. Lihatlah! Jihan buatkan sarapan kesukaan mas."
Senang Jihan dengan memperlihatkan rantang yang dia bawa yang akan dia berikan pada Aditya, bahkan Jihan juga sudah duduk di sebelah Aditya yang lain.
"Pa_pak. Saya permisi dulu. Nanti saya akan datang lagi," pamit Winda.
"Hem," hanya itu yang Aditya katakan padahal dia masih sangat ingin bersama dengan Winda, usahanya yang hampir berhasil di gagalkan dengan kedatangan Jihan, pasti sangat menyebalkan bagi Aditya.
Jihan melihat kepergian Winda tak lama dia kembali kearah Aditya.
"Mas, dia tidak menemani mas di sini dari semalam kan?" ternyata Jihan merasa curiga juga.
"Tidak, aku masih setia padamu tapi entah kalau kamu. Aku harap kamu juga setia dan tidak mengkhianati pernikahan kita," sindir Aditya.
Deg...
Jantung Jihan seakan berhenti berdetak karena perkataan Aditya barusan. Tidak mengkhianati? Bahkan Jihan sudah melakukan itu berkali-kali bagaimana bisa itu tidak di sebut mengkhianati?
'Maafkan Jihan, Mas," batin Jihan.
"Kenapa kamu diam, kamu tidak benar-benar melakukannya kan?" ucapan Aditya semakin sinis saja pada Jihan. Mengingat foto yang dia dapat kemarin membuat amarahnya langsung kembali begitu saja tanpa permisi.
"Ti_tidak!" mendengar ucapan Aditya yang begitu dingin padanya itu membuat Jihan jadi sangat takut. Wajahnya langsung pucat sekarang namun berusaha dia sembunyikan.
"Syukurlah. Kamu pasti ingat konsekuensinya jika kamu berkhianat. Aku harap kamu selalu mengingat itu."
Dengan cepat Aditya menarik kasar satu rantang yang ada di tangan Jihan, padahal Jihan berniat untuk menyuapi tadi tapi itu tidak akan terjadi sekarang.
Dengan diam Jihan melihat Aditya yang begitu lahap makan, padahal dia membawa bekal banyak karena dia ingin bisa sarapan bersama dengan Aditya tapi sekarang? Rasa laparnya tiba-tiba hilang karena rasa bersalah juga rasa takutnya.
'Seandainya kamu tau, Mas. Apakah kamu akan benar-benar menceraikan ku? Tidak, Mas. Aku tidak ingin kehilangan kamu.' batin Jihan.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung.....