
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV AUTHOR...
Malam sudah begitu larut namun Devan belum juga tertidur karena baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya di ruang kerja yang ada di rumahnya.
Semua pekerjaan yang biasanya akan sangat cepat diselesaikan tetapi malam ini dia begitu lama karena dalam pikirannya bukan tentang pekerjaan melainkan tentang Nayla juga Ara.
Devan sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya, tetapi hal yang pasti dia sangat menyayangi anak kecil dengan rambut kriwil itu. Dia juga sangat nyaman ketika bersama Nayla, menghabiskan waktu bersama dan begitu senang menggoda meski Nayla sendiri terus saja acuh kepadanya.
Perilaku Nayla yang begitu dingin kepadanya bukanlah masalah besar untuk dia, tetapi dia seolah tertantang untuk mencairkan dinginnya Nayla. Entah berhasil atau tidak tetapi Devan merasa tidak pernah putus asa untuk selalu mencobanya.
Apakah hati Devan mulai di penuhi dengan janda beranak satu tentu juga dengan anaknya tersebut?
"Astaga, lama-lama aku bisa gila kalau seperti ini terus. Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku, apakah ini yang dinamakan dengan cinta? Tapi mana mungkin. Begitu banyak wanita yang sempurna dan lebih baik juga masih single daripada Nayla, tapi kenapa aku merasa lebih nyaman kepada dia."
"Tidak mungkin aku jatuh cinta kepada dia kan?"
Di setiap langkah Devan terus bergumam. Menerka-nerka apa yang ada di dalam hatinya mengenai Nayla. Apakah benar perasaan yang ada di dalam hatinya itu adalah cinta?
Devan melirik sebentar kamar yang ada di sebelah kamarnya sendiri di sanalah Nayla berada dengan anaknya. Devan tersenyum, dia merasa bahagia karena telah berhasil membawa Nayla dan anaknya ke dalam rumahnya dan tinggal bersama meski mereka masih memiliki jarak.
Seandainya saja jarak mahram telah hilang di antara keduanya mungkin kebahagiaan bahkan semakin terasa oleh Devan. Tetapi, itu tidak akan mudah mengingat Nayla yang belum juga mau memaafkan dia meski dia terus berusaha meminta maaf.
Tangan Devan menyentuh handle pintu dan bergegas untuk menekan dan membukanya namun baru saja pintu sedikit terbuka dia mendengar teriakan dari Ara dan juga Nayla dari dalam kamar.
"Ayah, lepaskan bunda... Bunda!" teriakan dari Ara terdengar begitu jelas Devan dengar tentu mata Devan seketika kembali melihat ke arah kamar itu.
"Ara, Ara Sayang!" di susul dengan suara Nayla yang terdengar begitu panik.
Devan semakin khawatir keadaan Ara yang terus saja berteriak memanggil ayah dan terus meminta untuk melepaskan bundanya.
"Tidak mungkin Aditya menyelusup masuk kan?" dan pikiran pertama Devan adalah tentang Aditya.
Mengucapkan nama Aditya sekarang terasa langsung menumbuhkan kebencian yang begitu besar di hati Devan. Dia tidak pernah menyangka kalau sahabat yang dulu sangat baik kepadanya ternyata telah tega melukai dan mengkhianati seorang perempuan hanya demi kekayaan semata.
"Ara!" Devan langsung berlari menuju ke kamar Nayla berada. Dengan cepat dia juga langsung membuka dan alhamdulillah pintu tidak terkunci.
"Nay, apa yang terjadi kepada Ara!" Devan langsung berlari dan melompat naik ke kasur dan bergegas untuk memeriksa keadaan Ara yang masih terus meracau.
Tetapi Nayla malah terus diam dan melihat dia yang begitu khawatir dengan keadaan anaknya. Nayla juga terus melihat semua pergerakan dan juga bagaimana ekspresi wajahnya sekarang.
"Kita bawa ke rumah sakit," kata Devan dan dan langsung mengangkat tubuh Ara.
Setelah melewati sedikit drama akhirnya mereka berdua benar-benar membawa Ara ke rumah sakit supaya Ara segera mendapatkan penanganan.
'Kenapa aku begitu takut ketika anak kecil ini sakit dan tidak berdaya seperti ini. Kenapa aku begitu sayang kepadanya. Apa alasannya,' batin Devan.
Devan juga merasa sangat kasihan dengan Nayla seolah dia merasakan rasa khawatir yang Nayla rasakan saat ini.
'Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta kepadanya?' batin Devan lagi.
Devan terus ingin bersama dan bertanggung jawab kepada Nayla karena kesalahan yang telah dia lakukan saat itu dan tanpa berdasarkan cinta. Tetapi sekarang, dia begitu Ingin selalu bersama Nayla dan juga anaknya karena perasaannya mulai tumbuh. Benarkah itu adalah rasa cinta?
---------Normal------
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Sementara aku terus berlari di belakang Pak Devan dan terus mengejarnya kemanapun Pak Devan membawa Ara pergi. sampai akhirnya, Pak Devan berhenti ketika ada dokter dan beberapa suster yang datang menghampiri.
Salah satu dari suster tersebut mendorong brangkar dan berlari di belakang dokter dan akhirnya meminta Pak Devan untuk menurunkan Ara di sana.
"Tolong anak saya, Dok. Rawat dia dengan baik dan lakukan apapun yang terbaik untuknya. Seberapapun biayanya akan saya bayar yang terpenting anak saya segera sembuh. Tolong, Dok."
Aku hanya terus terdiam. Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Pak Devan yang mengatakan bahwa Ara adalah anaknya.
Anak? bahkan di tempat umum Pak Devan telah mengakui kalau Ara adalah anaknya. Bahkan dia mengatakan dengan begitu yakin dan tidak ada keraguan sama sekali, juga mengatakan dengan cepat seolah tidak berpikir panjang. .
"Baik, Pak. Saya akan lakukan yang terbaik untuk anak bapak," jawab Dokter wanita itu dengan jelas.
Langkah kaki mengikuti ke mana brangkar berjalan yang telah didorong oleh para suster dengan tergesa-gesa. Bukan hanya aku saja yang terus berlari mengejar tetapi Pak Devan juga sama, dia juga mengikuti ke mana Ara di bawa hingga akhirnya kami berhenti di depan pintu UGD dan tidak diperbolehkan untuk ikut masuk ke dalam.
"Maaf Pak, Bu. Harap menunggu di sini," ucap salah satu dari suster sembari kedua tangan bergerak menarik pintu dan menutupnya dengan cepat. Aku yang ingin ikut masuk hingga akhirnya terpaksa berhenti.
"Kamu yang sabar dan juga tenang. Ara pasti akan baik-baik saja," seketika aku menoleh saat tiba-tiba Pak Devan merangkul ku dengan wajah dan mata terus melihat ke arah pintu UGD tersebut.
Aku lihat kedua tangannya yang ada di kedua bahu dengan pergantian, tetapi aku yang melihat kedua tangan Pak Devan dia tidak menyadari dengan apa yang telah aku lakukan.
Aku ingin sekali melepaskan diri darinya tetapi malah Pak Devan menuntunku dan meminta untuk duduk di bangku tunggu. Bukan hanya aku saja yang duduk tetapi Pak Devan juga duduk di sebelahku.
Pak Devan sama sekali tidak memikirkan bahwa apa yang telah dia lakukan membuat aku terus terpaku diam meski terus khawatir. Baru kali ini aku merasa memiliki kekuatan dan tidak sendiri ketika Ara sedang sakit.
Merasa memiliki teman yang membantu menahan beban dan juga rasa takut karena Ara yang sedang sakit. Biasanya aku begitu rapuh ketika berada di saat-saat seperti ini, tetapi sekarang perasaan itu sedikit berkurang dengan adanya Pak Devan yang menemaniku.
Kata-katanya, perlakuannya juga perhatian-perhatian kecil mampu membuatku merasa tenang dan itu karena Pak Devan.
Bukan hanya merangkul saja tetapi Pak Devan juga merangkul kepala Nayla dan menenggelamkan di dadanya yang bidang. Bahkan tanpa ragu Pak Devan juga terus mengelus kepala dan bahuku.
Kenapa rasanya sangat nyaman sekali?
Aku ingin sekali melepaskan diri dan juga menjauh darinya tetapi kenapa hatiku seolah menolak dan menyuruh untuk membiarkan posisi ini tetap berlangsung.
"Ara akan baik-baik saja kan, Pak?" tiba-tiba suaraku keluar begitu saja seolah tidak ada kendali. Hatiku begitu sedih setiap melihat Ara seperti ini.
"Tentu, Ara akan baik-baik saja," katanya.
Nyaman dan nyaman, itulah yang aku rasakan saat ini. Meski di dalam rasa takut tapi tak begitu besar karena ada pak Devan bersamaku.
Benarkah dia seorang malaikat yang di ciptakan untuk ku dan juga Ara?
Tapi bagaimana mungkin kalau dia malaikat, dia tetap memiliki sisi kegelapan.
'Ya Allah, aku meminta takdir terbaik untuk ku dan juga Ara. Bagaimana takdir itu Engkau berikan, semoga itu adalah yang terbaik,' batinku.
Bersambung......
◎◎✧༺♥༻✧◎◎