
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Menyesal pun tidak akan ada gunanya karena semua sudah terjadi dan sudah dilakukan oleh Jihan. Dia merasa sangat menyesal dan juga merasa bersalah karena telah mengkhianati Aditya tapi kenyataannya dia tetap melakukan kan?
Jihan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya yang memang sudah sangat polos akibat perbuatan dari Vino, sementara Vino kini merubuhkan tubuhnya di sebelah Jihan dengan perasaan sangat puas.
Matanya terpejam dengan perasaan yang begitu berbunga-bunga karena telah mendapatkan mangsanya. Meski dengan sedikit paksaan namun tetap saja dia mendapatkannya hingga akhirnya sekarang dia merasakan sangat puas setelah sampai di puncak kenikmatan paling tinggi.
Tetapi bukan Vino namanya kalau puas begitu saja dengan tubuh Jihan yang sangat menggoda, dia tetap mengurung di sana dan tidak akan mungkin membiarkan dia pergi. Sesuai kesepakatan mereka akan bersama selama tiga hari dan kemungkinan besar dalam tiga hari pula Jihan harus meladeni Vino yang seolah tiada habisnya menginginkan Jihan.
"Kamu keterlaluan, Vin!" Jihan sangat marah rasanya ingin sekali Dia memberikan pelajaran kepada Vino tetapi dia tidak bisa melakukan karena ujungnya dia yang akan kalah dan penuh akan kembali menyentuhnya lagi.
"Hem, keterlaluan? Kamu mengatakan aku keterlaluan padahal kamu sendiri juga menikmatinya. Bahkan kamu terus keenakan di setiap sentuhan_ku. Apakah aku bisa dikatakan keterlaluan kalau begitu?"
Vino membuka mata dan melirik ke arah Jihan yang terlihat sangat kesal kepadanya. Wajahnya yang masih begitu banyak peluh kini terdapat semburat kemarahan di sana.
"Jangan kamu pasang aja seperti itu Jihan, Aku janji tidak akan melakukan dengan kasar lagi kalau kamu menurut begitu saja apa yang aku minta. Dengan itu kamu tidak akan kesakitan."
Tangan Vino terangkat dan menyentuh rambut Jihan yang terlihat berantakan namun dengan cepat Jihan langsung menyingkirkan tas tangan penuh dengan kasar.
"Jangan sentuh aku, Vin!" amarahnya terlihat semakin menjadi kepada Vino bahkan matanya semakin membulat melotot kepada laki-laki yang kini malah cengengesan.
Melihat amarah yang terlihat di wajah Jihan membuat Vino malah merasa sangat senang. Wajahnya yang memerah karena amarah terlihat begitu menggemaskan di matanya, bagaimana mungkin Vino bisa melupakan Jihan kalau begini.
"Aku tidak akan menyentuhmu Jihan, tetapi aku ingin menikmatinya. Kamu sangat nikmat Jihan Kamu sangat cantik."
Vino terus memuji Jihan yang menurutnya sangat hebat karena selalu saja bisa membuat dia selalu puas namun tetap merasa kurang dan sulit untuk melupakan setiap detik sentuhan-sentuhan yang diberikan olehnya. Juga desah nikmat yang Jihan rasakan.
"Jangan harap lagi kamu bisa menyentuh ku lagi!"
"Hem, apa kamu menantang ku? Apakah kamu lupa apa yang kamu lakukan satu jam yang lalu, kamu mengatakan hal itu tapi apa, aku tak dapat mendapatkannya kan? Karena apa yang aku ingin pasti akan selalu aku dapatkan.
Rasanya begitu muak dengan setiap kata yang keluar dari mulut Vino, Jihan merasa keputusannya untuk datang ke situ sangatlah salah besar karena dia hanya akan menjadi seorang budak n*fsu dari Vino selama tiga hari, dan itu tidak bisa dihindarkan.
Kembali dengan Vino bergerak, dan bukan hanya menyentuh rambut Jihan saja tetapi juga merambat ke pipi dan turun ke lengannya yang begitu lembut dan putih seperti salju.
"Kamu selalu membuat ku tergoda, Jihan. Apapun yang kamu lakukan selalu saja membuat ku ingin melakukan lagi dan lagi," ucapnya.
Vino beralih miring menghadap Jihan satu tangannya menjadi tiang untuk kepalanya yang perlahan maju mendekati Jihan dan seolah mengendus kulitnya yang masih terasa sangat wangi.
"Vanila, Aku sangat suka dengan ini." ucapnya.
"Jangan harap kamu bisa pergi tanpa izin dariku, Jihan."
Vino semakin gencar melakukan aksinya menggoda Jihan yang masih berusaha berontak meski akhirnya dia pasrah karena tenaganya kian habis karena ulah dari Vino.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Di dalam perusahaan Pratama Aditya begitu sibuk dengan semua pekerjaan. Namun setelah beberapa saat dia sibuk dengan angan-angan dan segala rencana untuk bisa membuat Nayla kembali kepadanya.
Tentu dia tidak akan diam begitu saja melihat Nayla yang bersama dengan Devan, dia tidak akan pernah rela.
"Aku harus bisa merebutnya dari Devan, Nay. Tapi bagaimana caranya?" Aditya berpikir keras untuk langkah-langkah yang harus dia lakukan.
Semuanya tidak akan mudah jika harus berhadapan dengan Devan. Meski Devan terlihat tenang dan diam saja tapi kenyataannya dia selalu melakukan sesuatu di luar kendali Aditya dan selalu membuat dia kalah.
Dari dulu Aditya memang selalu kalah dengan Devan, dalam urusan apapun. Jika saja dulu Devan mengenal Nayla dan juga mereka saling memperebutkan maka jelas Aditya yang akan kalah.
"Apakah aku harus membujuk Ara saja? Ya! Jika Ara mau ikut pasti Nayla juga tidak akan bisa menolak lagi dan aku akan mendapatkan mereka berdua."
Itulah jalan yang sudah Aditya pertimbangkan untuk bisa membuat Nayla kembali kepadanya begitu juga dengan anaknya. Setelah itu mereka akan bahagia dan tentunya Aditya akan menang dari Devan.
Dan Devan? Dia hanya akan gigit jari saja ketika melihat kebahagiaan mereka yang sempurna.
Aditya tersenyum, dia merasa usahanya kali ini akan berhasil dan dia akan dapatkan Nayla secepatnya.
Kemarin dia begitu kekeuh menceraikan Nayla karena dia pikir Nayla tetap Nayla yang dulu yang terlihat kucel dan tidak bisa menjaga diri dengan baik. Tapi, setelah melihatnya Aditya sangat menyesal.
Seharusnya Aditya tidak menceraikan Nayla waktu itu dan dia akan sangat mudah bisa mendapatkan Nayla lagi.
"Kamu terlihat semakin cantik, Nay. Bahkan kamu yang tidak berdandan saja mampu mengalahkan kecantikan dari Jihan."
"Hem, aku akan dapatkan kamu kembali, Nay. Pasti."
Aditya begitu yakin kalau dia akan bisa mendapatkan Nayla. Dan dia akan tetap berusaha untuk bisa mewujudkannya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...