Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kenapa Harus Bertemu



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Aku benar-benar tidak peduli dengan apapun lagi bahkan panggilan Pak Devan terus saja aku aku baikan. Tidak peduli apapun terus berlari menjauh dari tempat seharusnya menjadi tempat pertemuan dengan kolega bisnis baru dari Pak Devan.


Tangis ku semakin pecah mengingat kejadian barusan, kenapa harus bertemu lagi dengan orang yang ingin aku lupakan yang telah memberikan luka yang begitu dalam hingga sangat yakin tidak mudah untuk disembuhkan.


"Nay!" Kembali aku dengar suara pak Devan yang memanggilku.


Panggilan kali ini berhasil membuatku menghentikan langkah, Aku mematung di tempat namun tetap dengan tangis yang tiada henti. Terluka jelas saja aku sangat terluka dengan kejadian ini.


"Nay, kamu kenapa sih? Kenapa kamu menampar pak Aditya, apakah kamu mengenalnya?"


Pak Devan juga berhenti ini dia berdiri tepat di belakangku, aku tahu yang akan terjadi kalau Pak Devan akan memberikan pertanyaan padaku, dan ternyata apa yang aku pikirkan benar.


"Tunggu tunggu, atau jangan-jangan Pak Aditya itu adalah suamimu atau laki-laki adalah ayahnya anakmu?"


Wajah Pak Devan terlihat begitu serius Sepertinya dia benar-benar ingin mengetahui kebenaran antara diriku juga Mas Aditya laki-laki yang telah menelantarkan ku dan Ara dan juga yang telah aku tampar barusan.


"Katakan, Nay?" Kini Pak Devan beralih berdiri di hadapanku menatapku dengan begitu tajam bahkan tangannya sudah berada di kedua pundak ku.


Wajah terus menunduk tak mampu untuk terangkat meski hanya untuk melihat wajah Pak Devan saja, entah seperti apa sekarang wajah laki-laki yang ada di hadapanku ini yang baru beberapa hari aku lihat.


Apakah dia masih tetap terlihat angkuh dan dingin? Ataukah mungkin terlihat penuh iba dan juga kasihan dengan semua yang telah aku alami saat ini.


Pak Devan terus saja menggerakan kedua pundakku dan juga berusaha meraih daguku dan mengangkatnya hingga kini wajah kami saling bersi tatap dan mata saling melihat.


"Nay, coba cerita padaku. Apa yang sebenarnya terjadi," Pak Devan masih terus berusaha untuk mencari tau tapi aku tak sanggup untuk berbicara. Mulut terasa terkunci dan susah untuk bercerita.


"Ya sudah, lebih baik kita cari tempat yang lebih nyaman untuk bicara."


"Tidak, aku ingin pulang," Kataku.


"Tapi, Nay?" Sepertinya pak Devan tak mengizinkan ku untuk pulang.


"Aku ingin pulang," Kataku lagi dan semakin menegaskan dari sebelumnya.


"Oke oke..., biar aku antar kamu pulang," Akhirnya pak Devan menyerah juga. Aku pikir dia akan keras kepala seperti sebelumnya tapi alhamdulillah itu tidak terjadi.


Begitu tergesa-gesa masuk ke dalam mobil, benar tak ingin berlama-lama di tempat itu yang mungkin akan melihat mas Aditya keluar dan mengejar, tapi kalau dia punya hati tapi aku rasa tidak.


Di perjalanan aku terus saja diam tak mau bicara meski pak Devan terus saja bertanya. Hanya sekali saja aku menjawab pertanyaannya ketika menanyakan alamat rumah.


Entah apa yang sekarang pak Devan pikir aku tak peduli karena masih terlalu sakit hatiku.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


"Bunda! Yeee... Bunda pulang lebih awal. Kita jadi ke taman kan, Bunda!?" Begitu antusias Ada ketika melihat ku turun dari mobil pak Devan.


Ara yang sedang bermain di emperan bersama mbok Darmi langsung berlari untuk menyambut ku, wajahnya begitu berbinar-binar dengan senyum yang begitu merekah. Sementara aku?


Aku begitu tak mood untuk bicara. Hatiku yang sakit tapi seakan seluruh tubuhku ikut merasakan lelahnya.


Aku menunduk sejenak kala Ara memeluk perutku, tangannya masih belum sampai tapi dia berjinjit hingga akhirnya berhasil. Sungguh menggemaskan sekali kelakuannya dan akhirnya membuat luka seolah mendapat obatnya, aku tersenyum karena hal kecil yang dia lakukan.


"He'em, tapi bunda istirahat dulu ya. Nanti kita ke taman," Kataku.


Aku tak tau kalau ternyata pak Devan juga ikut turun, dia sudah berdiri di belakangku membuat Ara memiringkan badannya untuk melihatnya.


Aku menoleh sebentar kearah pak Devan, dia tersenyum melihat Ara.


"Bunda, kayaknya Ara pernah lihat om tampan ini deh, tapi di mana ya?" Ara berbisik, cukup menggelikan telinga akibat angin yang keluar dari dalam mulutnya.


Matanya kembali melihat ke arah Pak Devan yang masih saja tersenyum ke arah Ara, matanya terlihat lucu ketika mengingat-ingat kapan dan di mana Dia pernah melihat atau bertemu dengan Pak Devan.


Aku ikut melihat ke arah Pak Devan yang masih setia berdiri di belakang entah apa maksudnya kenapa dia tidak pergi dari sini dan malah ikut turun.


"Hallo cantik, Apakah kamu masih mengingat Om?"


Suaranya begitu lembut dengan nada seolah begitu akrab padahal sebenarnya tidak sama sekali karena mereka belum saling kenal meski pernah saling bertemu dan Pak Devan pernah menyelamatkan Ara hampir saja tertabrak motor.


Dengan begitu polosnya Ara menggeleng, benarkah dia tidak mengingat di mana mereka pernah bertemu? Padahal biasanya Ara akan selalu ingat, entah kenapa dia sekarang.


"Sayang sekali ya kamu melupakan Om dalam waktu yang begitu cepat padahal belum lama loh kita pernah bertemu."


Sepertinya Pak Devan terus berusaha untuk membuat Ara mengingat kapan dan di mana pertemuan mereka saat itu.


Ara terdiam sepertinya dia benar-benar tengah berusaha mengingat di mana mereka pernah bertemu hingga akhirnya aku melihat kedua sudut bibir Ara tertarik dan dia tersenyum. Tangannya juga terangkat begitu juga dengan satu jari telunjuk yang berdiri di samping wajahnya yang begitu ceria.


"Oh Ara ingat. Om kan yang menyelamatkan Ara saat di taman itu kan! Saat Ara mengejar Ayah."


Mendengar kata ayah yang dikatakan oleh Ara kembali membuat gejolak amarah datang di hatiku aku seolah tidak rela Ara memanggil laki-laki tidak bertanggung jawab itu dengan sebutan ayah, dia sangat tidak pantas mendapatkan sebutan itu dari Ara.


"Ayah? Emangnya ayah Ara di mana?" Begitu manis ucapan Pak Devan kepada Ara bahkan dia juga berjalan mendekat dan berjongkok di hadapan Ara.


"Hem, ayah Ara di mana? Ayah nggak ada di rumah?" Tanyanya lagi.


Aku semakin tak suka mendengarkan kata-kata yang membicarakan laki-laki itu dan mencoba mencari tahu lewat Ara. Aku tidak rela Ara begitu menyanjungnya dan terus berharap dia akan kembali pulang.


"Ara, masuk dulu sayang. Bunda ingin bicara dengan om."


"Tapi bunda?" Ara seolah enggan untuk masuk dia sepertinya masih ingin bercerita dengan pak Devan.


"Ara sayang. Katanya mau ke taman kan? Sekarang Ara bersiap-siap dulu gih sama mbok," Kataku begitu lembut.


"Kita akan berangkat sekarang ya bunda?" Ara terlihat begitu antusias. Apalagi ketika melihat aku mengangguk Ara langsung berlari masuk.


Pak Devan terdiam tak berani berkomentar apapun tentang aku yang menyuruh Ara untuk masuk dan meninggalkan kami. Pak Devan juga langsung berdiri dia menghadap ke arahku seolah meminta penjelasan.


"Nay, apa yang sebenarnya terjadi. Kata Ara ayahnya tidak ada di rumah, ataukah benar pak Aditya itu ayah Ara?!" Kecurigaan pak Devan semakin besar.


"Bukan urusan bapak. Saya mau istirahat, lebih baik bapak pulang," Kataku.


"Tidak, apakah kamu lupa kamu masih ada hukuman, Nay?"


"Maaf, saya tidak bisa ikut. Bukankan bapak tau kalau Ara ingin pergi ke taman?" Aku menegaskan.


"Aku akan menemani kalian, dan setelah itu kamu harus ikut dengan saya," Titahnya lebih menegaskan.


Kenapa laki-laki ini begitu ngotot sekali. Kenapa dia begitu ingin ikut campur dalam kehidupan ku dan Ara.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...