
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
"Cie cie cie... ikutan senyum nih. Apa jangan-jangan udah memaafkan ya? kalau udah kita nikah yuk. Nggak enak tinggal di satu rumah tapi hanya bisa lihat doang."
Mataku terbelalak dan senyum langsung pudar mendengar kata-kata pak Devan barusan. Apa-apaan, nikah? enak bener dia berbicara.
Tidak aku sangka kalau ternyata pak Devan yang kemarin begitu dingin kini bisa bicara seperti ini juga. Dia begitu cepat mengatakan seolah tak ada keraguan apapun.
"Yee Ayah dan bunda akan menikah!" seru Ara begitu girang.
Padahal Ara baru saja fokus main dengan semua boneka yang di belikan oleh pak Devan kenapa dia bisa dengar?
"Oh iya, Bunda. Kalau ayah dan bunda udah nikah Ara bisa punya adik kan?" tanyanya begitu antusias bahkan sekarang Ara sudah beranjak meninggalkan semua mainannya dan menghampiri ku.
"Yap, betul." pak Devan menjawab begitu enteng membuat Ara semakin girang di buatnya.
"Yee! Ara akan punya adek!" Ara begitu ceria dengan apa yang menjadi obrolan kali ini.
Nih pak Devan benar-benar butuh di getok kepalanya pakai sapu sepertinya. Sembarangan banget bicaranya. Lagian siapa juga yang mau nikah dengan dia, Aku tinggal di sini hanya selama aku belum mendapatkan tamu bulanan ku. Kalau aku sudah kedatangan tamu bulanan itu aku akan ajak Ara pergi.
Semoga saja secepatnya tamu itu datang dan aku tidak perlu takut lagi karena tidak mengandung anak dari Pak Devan.
"Yee!" pak Devan juga ikut-ikutan mengangkat kedua tangan dan bersorak kegirangan sama seperti Ara. Benar-benar sangat kompak mereka berdua membuat aku pusing.
"Ara punya adik Ara punya adik!" suara Ara semakin melengking begitu keras.
Aku menoleh melihat para pelayan yang juga tersenyum, sepertinya mereka juga berharap sama seperti yang di harapkan Ara.
Semua terlihat sangat bahagia sekarang kecuali aku. Aku yang tidak merasakan semua itu. Hatiku masih tertutup untuk siapapun bahkan untuk pak Devan sekaligus. Rasanya aku masih trauma jika berhadapan dengan laki-laki apalagi untuk merajut benang-benang cinta yang sangat rumit.
"Adik? jadi benar kalian sudah menikah?!"
Kami semua menoleh melihat ke arah sumber suara yang begitu menggema keras.
Seketika aku terpaku melihat dua orang yang datang. Mereka adalah sepasang suami-istri, Pak Abraham juga Bu Susan yang belum pernah aku bertemu tetapi aku sudah mengenalnya dari cerita pak Abraham.
Aku berdiri dengan gugup, jantungku begitu kuat berdetak aku takut. Apa yang aku takutkan kini terjadi mereka datang langsung ke rumah ini dan sekarang mereka juga mengira kami sudah menikah.
"Devan, jujur sama mama!" tanya bu Susan dengan tegas.
Sementara pak Abraham yang memang sudah mengenalku dia terus melihat ku yang melingkarkan kedua tangan di leher Ara dari belakang.
Sementara Ara, dia terlihat takut dan memegangi tangan ku dengan kuat namun matanya gak lepas melihat mereka berdua.
Mereka terlihat sangat baik tapi suara dari Bu Susan yang begitu melengking yang membuat Ara menjadi takut. Bukankah memang seperti itu setiap anak mendengar kata-kata keras dari seseorang. Ya, seperti ketika dia mendengar kata-kata mas Aditya waktu itu.
"Nay, kamu? jadi kamu dan Devan...?"
Bu Susan nampak menoleh ke arah pak Abraham setelah mendengar kalau ternyata pak Abraham mengenalku.
"Nay? Nayla maksud papa? Apa dia yang selalu papa ceritakan ketika di rumah?" tanya bu Susan.
Pak Abraham mengangguk namun tidak lagi berkata-kata hanya tatapannya saja yang terlihat tak percaya atau mungkin malah kecewa, entahlah.
"I_ini... ini bukan seperti yang pak Abraham pikir, saya dan pak Devan kami..."
"Iya, kami sudah menikah."
Aku terbelalak, aku terkesiap karena perkataan pak Devan barusan. Akan semakin runyam masalahnya kalau sudah seperti ini.
Bukan hanya Aku saja yang terbelalak tapi pak Abraham juga bu Susan dia sama seperti ku. Aku seolah tak mampu berkata-kata lagi apalagi pak Devan kini juga mendekat dan merangkul ku.
Ku hembuskan nafas yang begitu panjang namun terasa sangat susah. Perbuatan Pak Devan ini salah.
Terlihat ingin marah di wajah mereka berdua tapi juga terlihat ada rasa lain. Sebuah kebahagiaan kecil yang terlihat jelas di mata mereka.
Bu Susan mendekati pak Devan dia langsung....
"Dasar anak nakal ya! apa kamu sudah tidak menganggap kami lagi sebagai orang tuamu sampai-sampai kamu menikah dan punya anak tapi kamu sembunyikan dari kami!"
Tarikan telinga yang begitu kuat di berikan oleh bu Susan pada Pak Devan jelas itu membuat sang empu menjadi meringis kesakitan.
Kedua tangannya sontak menahan tangan bu Susan untuk tidak menarik semakin kuat lagi.
Sementara pak Abraham, dia masih tak percaya dan terus melihat ku yang terus terdiam dan menunduk.
"Eh," aku tersentak ketika Ara tiba-tiba melepaskan diri diriku dan langsung mendekati pak Devan.
"Jangan sakiti Ayah Ara! Nenek jangan sakiti Ayah Ara!" teriak Ara begitu lantang tangannya juga sudah menarik baju bu Susan untuk menghentikannya.
Bukan hanya menarik saja tapi Ara sampai menangis karena melihat pak Devan yang kesakitan.
"Huuu... jangan sakiti ayah. Jewer Ara saja tapi jangan ayah," katanya yang terus merengek.
Ara yang sudah terus menangis membuat bu Susan langsung melepaskan telinga pak Devan dan kini berjongkok di hadapan Ara.
"Tidak, Nenek tidak akan menjewer ayah lagi. Katakan sama nenek siapa namamu?"
Aku pikir bu Susan akan marah karena semua ini dan akan membuat kekacauan tapi ternyata tidak.
"Ara Nuril Aisyah," jawab Ara di sela-sela tangisnya.
"Stts..., sudah jangan nangis lagi. Nenek minta maaf ya sudah jewer ayahnya Ara. Habis ayah nakal sih!" begitu lembut bu Susan mengatakan itu pada Ara.
"Ayah nakalin nenek?" tanya Ara yang sudah langsung tenang.
Ara langsung membalik ke arah pak Devan, dia juga langsung memanggilnya.
"Ayah, sini," katanya dengan tangan yang melambai menginginkan pak Devan menunduk kepadanya.
Pak Devan menurut dia langsung menunduk di hadapan Ara. Entah apa yang akan Ara lakukan.
"Ihh, ayah jangan suka nakal! kan bunda sudah bilang jangan suka nakal!" kini Ara yang menambahi menjewer telinga pak Devan yang satunya.
Ketegangan seketika berubah karena apa yang Ara lakukan pada pak Devan. Semua tersenyum begitu juga dengan diriku dan pak Abraham.
Ara terlihat sangat menggemaskan saat melakukan itu dan memarahi pak Devan. Ternyata anakku begitu berani sekali memberikan hukuman pada pak Devan.
"Sayang, lepasin ya. Nanti telinga ayah copot," ucap Pak Devan.
"Tidak sebelum ayah minta maaf sama nenek dulu," katanya yang begitu tegas.
Bu Susan tersenyum bahagia melihat pemandangan ini, sepertinya dia sangat percaya kalau kami memang benar-benar sebuah keluarga. Apalagi melihat kedekatan antara pak Devan dan juga Ara seperti ini.
"Sayang, lepasin," pak Devan terus meminta.
"Sayang lepasin telinga ayah ya, Kasihan tuh jadi merah kan?" aku pun ikut membujuk Ara.
Entah apa yang akan mereka lakukan jika tau yang sebenarnya.
"Bunda, ayah harus minta maaf dulu sama nenek."
"Iya, ayah minta maaf ya. Nek, saya minta maaf ya," kata pak Devan.
Seketika tangan mungil itu terlepas dari telinga pak Devan dan kini kembali menoleh ke arah bu Susan.
"Nek, kalau ayah nakal lagi bilang sama Ara ya. Nanti Ara yang jewer ayah. Nenek tidak perlu hukum ayah biar Ara yang lakuin," ucapnya.
Tiba-tiba saja Ara langsung memeluk bu Susan dia merasa begitu akrab dengannya padahal baru kali ini mereka bertemu.
"Iya," jawab Bu Susan dan membalas pelukan dari Ara.
Haduh, semakin pusing aku harus bagaimana. Sementara pak Devan, dia malah tersenyum ketika aku melihatnya. Apakah mungkin ini memang rencananya?
"Devan, papa butuh penjelasan dari mu," ucapan itu terdengar sangat tegas dari Pak Abraham.
"Baik, Pa." begitu juga dengan pak Devan yang menjawab juga dengan jelas.
Mereka ingin melangkah untuk pergi bicara berdua namun baru saja mereka membalikkan badan tiba-tiba sesuatu terjadi padaku.
Perutku rasanya di aduk-aduk tidak karuan rasanya. Semua yang ada di dalam seolah ingin keluar aku mual luar biasa.
"Ugh ugh..." satu tangan menutup mulut sementara satu tangan memegangi perut.
Tak tahan aku langsung berlari masuk.
"Nay, kamu kenapa? Nay!" aku mendengar suara langkah kaki di belakang ku, mungkin itu pak Devan yang mengejar ku tapi aku tak sempat menoleh dan terus berlari.
"Bunda, kenapa? bunda!" suara Ara pun juga aku dengar tapi tetap aku abaikan.
Aku keluarkan semua yang ada di dalam perut ku ketika sampai di kamar mandi dan di depan wastafel.
"Astaga, Nay. Kenapa bisa seperti ini apa yang kamu makan?" pak Devan memijat-mijat tengkukku dan aku biarkan karena rasanya sangat nyaman ketika di pijat seperti itu.
"Sus! ambilkan minyak!" teriak pak Devan begitu menggema keras aku yakin semua orang yang ada di rumah ini pasti mendengar.
Tak lama suster Neni datang dan memberikan minyak pada pak Devan.
"Ini Tuan." katanya.
"Terima kasih, tolong buatin teh hangat," titahnya.
"Baik tuan." suster Neni kembali berlari.
Rasanya semakin nyaman ketika pak Devan menambah minyak dan terus memijatnya.
"Kita ke rumah sakit?"
"Tidak usah," aku keringkan bibir dengan tisu, rasanya sangat melelahkan padahal hanya mual saja.
"Bunda, Bunda kenapa?" aku menatap Ara yang ternyata datang bersama bu Susan.
"Bunda tidak apa-apa kok," jawabku.
"Hem, apakah Ara akan benar-benar punya adik? Apakah kamu hamil?"
Sontak mataku terbelalak mendengar penuturan dari bu Susan. Bukannya bahagia jelas aku langsung lesu.
'Tidak mungkin, aku tidak mungkin hamil kan?' batinku.
Sementara pak Devan dia tercenung melihat ku yang terus terdiam dalam rasa tak percaya. Jelas aku tidak menginginkan ini jika aku benar-benar hamil. Apa kata orang nanti? aku hamil di luar nikah.
Air mata ku luruh begitu saja dengan perasaan pilu.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung.....