Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Terbujuk Aditya



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


POV AUTHOR...


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika akhirnya Winda akan menyerahkan semua yang dia punya kepada Aditya. Dia benar-benar telah terbujuk akan rayuannya dan terlena akan kenikmatan yang Aditya berikan.


Bukan hanya sekali saja Winda menyerahkan dirinya dan juga menuruti apa hidupmu Aditya inginkan pada dirinya, bahkan hampir setiap hari dia melayani Aditya.


Jika Winda menolak maka dia akan kehilangan pekerjaannya, dia akan di pecat saat itu juga. Namun jika dia nurut bukan hanya dia yang akan tetap bekerja di sana dengan posisi yang sudah dia miliki saja tapi dia juga akan mendapatkan uang tambahan dari Aditya.


Aditya benar-benar memperlakukan Winda seperti wanita yang tidak baik-baik, dia memperlakukan Winda seperti wanita nakal yang akan menjadi pemuas laki-laki nakal, ya seperti dirinya.


Lagi hari ini Aditya meminta lagi pada Winda, melakukan olahraga pagi di kantor yang tidak sehari dia lakukan, tapi mau bagaimana lagi, Aditya sudah kecanduan akan Winda.


Setelah selesai dengan aktivitasnya Aditya pergi ke kamar mandi, dan tak berapa lama dia keluar setelah tubuhnya sudah bersih buka tentunya dia sudah mengganti pakaiannya yang baru.


"Ini untuk mu, bereskan kembali tempat ini seperti sebelumnya dan bekerjalah seperti biasa. Aku tidak mau kamu lalai dan melupakan tugas-tugasmu."


Dengan sombong Aditya melemparkan amplop berwarna cokelat dan tebal isi di dalamnya. Melempar ke arah Winda yang masih berada di atas ranjang dan hanya menjadikan selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri.


"I_iya, Pak." sedikit takut Winda menjawab dia sangat takut karena menerima uang tersebut dari Aditya itu artinya dia harus selalu bersedia dengan keinginannya di setiap saat yang harus melayaninya.


Winda sadar dia salah juga sangat berdosa. Kesucian yang seharusnya akan menjadi hadiah terbesar untuk suaminya kelak kami ini sudah di renggut oleh bosnya sendiri, bahkan bukan hanya sekali saja mereka melakukan tapi berkali-kali.


Tak ada lagi yang Aditya katakan, setelah mendapat jawaban dari Winda Aditya bergegas pergi keluar, dia sudah rapi dan tentunya sudah sangat segar supaya tidak terpikir oleh semua orang yang melihat kalau dia habis melakukan hal yang tidak benar dengan sekertaris_nya.


Ekor mata Winda terus melihat kepergian Aditya, bahkan sampai Aditya benar-benar gak terlihat setelah hilang di balik pintu.


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Aku malu, aku merasa jijik dengan diriku sendiri."


Ya, itulah yang Winda alami sekarang. Dia sangat malu dan merasa menjadi wanita murahan yang rela memberikan harga dirinya pada laki-laki tanpa adanya ikatan halal.


Dia malu, merasa kotor, tapi mau bagaimana lagi, dia juga menikmati. Meski hati dan tubuhnya menolak tapi pada akhirnya dia juga menikmati semua aktivitas itu. Apa ada hal yang paling memalukan dari hal ini?


Winda menunduk hingga semua rambutnya menutupi wajah, dia benar-benar seperti perempuan yang tidak benar sekarang. Dia begitu hina.


Bagaimana jika kedua orang tuanya tau apa yang telah dia lakukan sekarang ini, mungkin tidak akan sembuh penyakitnya tetapi malah sebaliknya.


"Ma, Pa, maafin Winda..." gumamnya.


Dengan cepat dia menyibak rambutnya ke belakang, matanya melihat semua baju yang sudah berserakan di lantai. Semakin Winda merasa jijik sekarang ini.


Di lihat bagaimana tubuhnya sekarang, ada beberapa tanda merah yang di buat oleh Aditya, menambah hina saja dirinya ketika melihat semua itu.


Seharusnya dia bisa menjaga hal yang paling berharga ini sampai waktunya tiba, sampai dia mendapatkan laki-laki baik yang telah mempersuntingnya, tapi sekarang? Jika ada apa yang dia lakukan sekarang ini di ketahui oleh orang apakah akan ada laki-laki yang mau padanya? Tidak!


"Ya Tuhan, maafkan aku," penyesalan memang akan selalu datang di akhir setiap perbuatan. Setelah sudah terjadi barulah dia akan menyesal.


Winda turun dari ranjang dengan melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya, memunguti satu persatu pakaiannya yang di buang oleh Aditya ke sembarangan arah.


Langkahnya nampak lesu, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa-sisa peluh miliknya dan juga Aditya yang pasti bercampur menjadi satu.


Dia berhenti di depan meja rias, melihat pantulannya sendiri. Dia begitu menyesalkan akan dirinya, buat apa dia cantik dan juga di beri kelebihan pada tubuhnya jika akhirnya laki-laki hidung belang yang menikmatinya.


Kembali Winda melihat meja, ada beberapa butir obat pencegah kehamilan yang sudah Aditya sediakan sejak awal. Dia benar-benar tidak ingin kecolongan dia tidak ingin kalau Winda akan mengandung anaknya, jelas Aditya tidak ingin kehilangan semua kemewahan yang dia dapatkan saat ini.


Dengan lesu Winda mengambil dua sekaligus dan dia tenggak hingga benar-benar dia telan. Dia juga benar-benar tak ingin sampai ada yang tumbuh di rahimnya dari laki-laki yang hanya menginginkan tubuhnya saja.


Sebelum keluar Winda memastikan terlebih dahulu bahwa tempat itu benar-benar sudah kembali rapi seperti sebelumnya. Winda juga akhirnya tetap mengambil amplop yang Aditya berikan padanya.


Biarkan saja Aditya berpikir yang tidak-tidak akan dirinya, biarkan saja dia menganggap bahwa dirinya sama seperti perempuan-perempuan bayaran. Tapi yang jelas, Winda juga tidak bodoh dan tak akan selamanya bisa di bodohi oleh Aditya.


Biarkan saja semua berjalan seperti ini sekarang, tapi tidak dengan esok.


Dinda keluar dari kamar yang mewah tapi sudah seperti neraka baginya itu, melihat sekeliling ruangan Aditya yang ternyata tak ada siapapun termasuk Aditya sendiri.


Dimana Aditya?


Entah, yang jelas Winda tak melihatnya ada di sana bahkan dia hanya melihat laptop Aditya yang di biarkan menyala begitu saja.


Tak di gubris sama sekali oleh Winda, dia tetap berjalan keluar dan gak peduli dengan laptop Aditya yang menyala. Masa bodoh! Itu bukanlah pekerjaannya, pikirnya.


Mungkin Winda begitu lelah saat ini akibat melayani keinginan Aditya yang selalu saja tak pernah puas. Padahal dia sudah jelas ada istrinya di rumah yang bisa di mintai akan haknya, tapi kenapa tidak Aditya lakukan?


"Winda!"


Seketika Winda menoleh dan ternyata Jihan, istri dari bosnya yang baru saja dia puaskan yang datang dan langsung memanggilnya.


Winda tertunduk, entah karena hormat atau mungkin karena merasa bersalah. Mungkin Winda merasa bersalah karena telah melakukan sesuatu perbuatan yang tidak baik pada Aditya, dan membuat Aditya mengkhianati Jihan.


"Mas Aditya nya ada?" dan jelas saja yang akan Jihan tanyakan adalah keberadaan Aditya. Siapa lagi kalau bukan suaminya yang di cari.


"Ti_tidak, Bu. Pak Adit seperti sedang keluar, saya tidak melihat pak Adit ada di ruangannya, Bu."


Meski dengan berbagai perasaan yang sangat campur aduk tapi Winda tetap berhasil menjawab juga. Dia tetap menjawab dengan baik dan tak begitu gugup.


"Pergi kemana?" Jihan mengernyit, tak biasanya Aditya akan keluar di jam kerja seperti sekarang ini.


"Saya sendiri tidak tau, Bu. Saya datang untuk meminta tanda tangan pak Adit dan ternyata beliau tidak ada," jawab Winda berbohong.


"Ya sudah, kamu boleh pergi," pinta Jihan.


"Terima kasih, Bu."


'Seharusnya ibu datang satu jam lebih cepat dari sekarang, Bu. Supaya ibu bisa tau seperti apa kelakuan suami ibu di belakang.' batin Winda.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....