Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Membuntuti



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Alhamdulillah, setelah lelah menunggu kerak telor bisa Devan dapatkan. Meski juga dengan beberapa drama dulu yang terjadi.


Kembali Devan segera pergi ke mobilnya untuk bergegas pulang ke hotel Nayla pasti sudah menunggu dirinya yang akan membelikan apa yang dia minta.


"Akhirnya," dengan senyum senang Devan masuk ke dalam mobil melihat sejenak kresek bening yang terdapat kerak telor yang baru saja dia beli.


Akhirnya dia bisa berhasil juga membelikan makanan yang Nayla minta. Meski sedikit susah namun setelah beberapa saat dia bisa dapatkan.


Mobil berjalan dengan sangat buru-buru dia sudah sangat tak sabar bisa melihat bagaimana wajah Nayla ketika melihat apa yang dia bawa sekarang yang tak lain adalah makanan keinginannya.


Ternyata bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginan dari istrinya yang tengah mengandung anaknya adalah sebuah kebahagiaan yang sangat besar. Buktinya, Devan terus saja tersenyum meski berada di dalam mobil seorang diri bahkan ketika dia sudah sampai ke hotel dan bertugas lari untuk masuk menemui istrinya.


Namun langkah dari depan terganggu oleh apa yang telah dia lihat tidak jauh dari depannya, dia melihat dua orang laki-laki dan perempuan yang jelas sangat dia kenal tengah berangkulan terlihat begitu dekat meski yang perempuan tidak terlihat semangat.


"Apa yang mereka lakukan di sini?" gumam Devan. langkahnya beralih mengejar dua orang itu dan seolah lupa dengan tujuan sebenarnya untuk segera menemui Nayla istrinya.


Seperti seorang mata-mata depan terus membuntuti berjalan mengendap-endap berharap mereka berdua tidak mengetahui dirinya. Tentu Devan sangat penasaran dengan apa yang mereka lakukan di dalam hotel apalagi mereka yang terlihat begitu mesra meski sebenarnya mereka bukan sepasang suami istri.


"Tersenyumlah, Jangan cemberut seperti itu. Kalau kamu terus seperti itu Nanti orang yang melihat akan berpikir kalau aku memaksamu, padahal kan kita memang sudah sepakat untuk melakukan ini?"


Meski sang laki-laki mengatakan hal itu namun tetap saja sang perempuan tetap memasang wajahnya dengan cemberut tidak semangat.


Siapa lagi yang Devan lihat kalau bukan Vino dan juga Jihan yang berjalan berdampingan dengan terlihat begitu mesra, mesra tapi seperti terpaksa bagi Jihan.


Jihan terus saja berusaha menjauh tapi Vino gak mengizinkan dan terus merangkulnya dengan kuat supaya Jihan tidak pergi darinya.


"Vino, lepaskan. Nanti ada yang melihat," protes Jihan.


Bukannya melepaskan Vino malah semakin kuat merangkulnya dia juga tersenyum tak peduli dengan semua yang Jihan katakan.


"Sttss, tidak ada yang akan tau di sini. Semua keluarga tidak ada begitu juga dengan suami mu yang bodoh itu," jawab Vino sekenanya.


"Jangan kamu hina suamiku, Vin," mata Jihan membulat terang ke arah Vin tapi laki-laki itu hanya tertawa.


Sementara Devan, Devan terus mengajar mereka berdua dengan rasa yang sangat penasaran sebenarnya ada hubungan apa mereka berdua sehingga mereka berada di dalam hotel berdua.


Tidak tidak mungkin mereka hanya berada di sana karena secara kebetulan saja, lagian jika hanya kebetulan mereka berdua tidak akan berperilaku seperti itu dengan jarak yang begitu dekat.


Devan berhenti setelah mereka berdua juga berhenti di depan salah satu kamar yang ada di sana. Kali ini Devan bersembunyi namun tetap melihat mereka berdua yang akhirnya masuk ke dalam kamar itu setelah Vino membukakan pintunya.


Namun sebelum mereka berdua benar-benar masuk ke dalam kamar Devan berhasil mengabadikan momen mereka berdua, yang begitu dekat juga begitu mesra menurut dia.


"Hem, ada yang menarik nih," Devan tersenyum mengeluarkan smirk yang begitu sinis. Ini adalah berita yang sangat luar biasa.


Jika saja Aditya tahu semua ini akan lebih menarik dan Devan akan semakin senang menjadi penonton untuk peperangan yang mungkin bisa terjadi diantara mereka semua.


"Suatu saat kamu harus tau, Aditya," gumam Devan lagi.


Bisa saja Devan memberitahu kepada Aditya saat ini juga dan mengirimkan foto tersebut kepada Aditya, tapi apakah mungkin dia akan percaya kepadanya? bukti ini belum begitu jelas dan Devan harus mencari bukti yang lebih lagi supaya Jihan tidak bisa mengelak lagi.


"Tunggu saja di waktu yang tepat, saya pastikan ini akan sangat menarik bagi kalian." Devan keluar dari persembunyian setelah pintu itu tertutup dengan sangat rapat, Devan juga masih melihat arah pintu itu namun tidak lama.


Karena begitu senang membuntuti orang lain sehingga Devan melupakan apa yang seharusnya dia lakukan kepada istrinya. Entah apa yang akan dia dapatkan setelah dia berhasil kembali ke dalam kamarnya nanti.


Kring.... kring....


Lamunan Devan dikejutkan dengan bunyi dari dering ponsel yang ada di tangannya. Baru saja dia ingin melangkah melihat nomor kamar itu tetapi dia kembali urung karena harus segera mengangkat panggilan. Betapa terkejutnya Devan setelah mengetahui siapa yang telah menghubunginya.


"Astaga, mati aku," ucap Devan setelah melihat siapa yang telah menghubunginya saat ini siapa lagi kalau bukan Nayla istrinya yang jelas sudah menunggu dia kembali.


Devan seketika mengangkat telepon dan juga berjalan pergi dari sana untuk segera kembali ke kamar. Hatinya begitu was-was berharap dia tidak akan mendapatkan omelan dari Nayla, biasanya para perempuan akan terlihat sangat menakutkan jika dia sedang mengomel, benar begitu kan?


"Iya Nayla sayang. Sebentar lagi saya sampai kok," suara Devan terdengar begitu pelan dan sabar menjawab perkataan dari istrinya yang entah apa namun dia terus berusaha supaya istrinya tidak lebih marah lagi kepadanya.


Langkahnya dipercepat dengan tangan satu masih memegang plastik kresek yang berisi kerak telur yang dia beli sementara yang satu tetap memegang ponsel yang menempel di pipi dan telinganya.


"Iya sayang. Ini sudah sampai kok. Sebentar lagi ya," Devan semakin berusaha untuk menenangkan Nayla. Nayla pastilah sangat marah saat ini.


-------Normal-----


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...