Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kembali ke rumah



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Begitu bahagia Ara bisa kembali ke rumah. Melihat bu Susan juga pak Abraham Ara seketika berlari dengan cepat untuk mendatangi sambutan mereka.


"Kakek, nenek!" seruannya yang begitu di sambut oleh mereka berdua yang juga seketika melangkah mendekat.


Bu Susan yang lebih dulu dengan kedua tangan merenggang menyambut tubuh Ara yang begitu kecil sementara pak Abraham, beliau ada di belakang bu Susan dengan tersenyum senang.


Sementara aku? aku masuk berjalan dengan pelan bersama mas Devan yang memintaku untuk menggandeng lengannya. Setelah sampai kami berdua pun juga berhenti tepat di belakang Ara yang tengah mendapatkan pelukan hangat dari bu Susan.


"Cucu nenek sudah sembuh?" bu Susan melepaskan pelukan dia seketika beralih menatap Ara yang sontak mengangguk.


"Alhamdulillah, kalau begitu kita bisa bermain lagi kan bersama-sama?" tanya bu Susan lagi.


"Iya, Nek. Kita bisa bermain lagi dengan kakek juga. Kakek mau main kan sama Ara?" Ara menoleh antusias dan pak Abraham seketika mengangguk juga langsung berlutut juga untuk bergantian memeluk Ara.


"Tentu, peluk kakek dulu," ucapnya. Ara seketika menurut dan melakukan apa yang pak Abraham minta, memeluk dengan erat juga dengan gerakan cepat.


Betapa menyenangkan dan membahagiakan melihat pemandangan ini. Ara memang tidak mendapat kasih sayang dari satu orang yaitu ayah kandungnya sendiri tapi Allah begitu adil dan memberikan kasih sayang dari semua orang untuknya.


"Bagaimana kata dokter?" bu Susan berdiri, memandangi aku juga mas Devan yang masih saling berangkulan.


"Alhamdulillah, tidak ada yang perlu di khawatirkan, Ma. Semua dalam keadaan baik-baik saja, hanya harus di perhatikan lagi apa-apa yang akan dia makan," mas Devan yang menjelaskan.


"Syukurlah kalau begitu," kami semua menoleh ke arah Ara yang sedang berbincang dengan pak Abraham, entah apa yang dia perbincangkan.


"Nenek, Kakek, ayo main di kamar Ara!" seketika Ara menarik bersamaan tangan pak Abraham juga bu Susan menariknya hingga membuat mereka berjalan.


"Kalian istirahatlah, biar Ara bersama kami," pak Abraham menoleh sebentar meski sembari berjalan, meminta kami untuk istirahat.


Berada di rumah sakit selama tiga hari juga sangat melelahkan, tidur juga tidak bisa tenang seperti ketika ada di rumah.


"Apa sangat lelah?" tanya mas Devan ketika melihatku yang menggelengkan kepala hingga menghasilkan bunyi yang menggerutuk.


"Hem?" aku menoleh karena perkataan mas Devan yang tidak begitu jelas.


Melihat ku hanya tersenyum dengan begitu entengnya mas Devan langsung mengangkat tubuhku, menggendongnya dan mulai berjalan menuju kamar.


Mas Devan hanya diam tak mengatakan apapun, dengan wajah datar dia juga terus berjalan menuju kamar tanpa mempedulikan ku yang terus memandanginya dengan malu. Malu karena mendapatkan perlakuan manis seperti sekarang ini.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Setelah istirahat dan rasa lelah sudah hilang kini perlahan mataku terbuka, terlihat mas Devan masih ada di hadapan ku yang tidur dengan miring ke arahnya.


Melihat wajah damainya yang masih tertidur pulas membuat ku tak ada rasa malu atau takut untuk terus menatapnya. Wajahnya yang tampan terlihat semakin mempesona di tidurnya.


Aku tersenyum, begitu mengagumi ketampanan dan juga kesempurnaan yang ada pada dirinya.


Perlahan tangan terangkat, iseng saja ingin menyentuh hidungnya yang begitu mancung. Dari pelipisnya turun hingga puncak hidung yang terlihat begitu tinggi dari semua yang ada di wajahnya. Terlihat paling menonjol di antara yang lainnya.


"Begitu sempurnanya kamu, Mas. Aku tak pernah membayangkan bakal memiliki seorang yang begitu sempurna dalam hidup ku seperti kamu."


Mas Devan masih saja terlelap dalam tidurnya aku yakin dia juga sangat lelah karena dia juga tidak bisa tidur saat Ara dibuat rumah sakit.


Malt dia terus bergadang menjaga kami karena dia juga tidak bisa tidur, sedangkan saat siang dia harus bekerja dan tak bisa di tinggalkan.


Semua begitu menuntut untuk dia jalani dan juga tanggung jawab yang harus di lakukan. Mas Devan sangat bertanggung jawab kepada kami, memastikan kami baik-baik saja meski dia sendiri yang harus kurang istirahat.


Tanggung jawab yang begitu besar membuat mas Devan selalu stay untuk kami berdua. Rasanya sangat senang tapi juga sangat kasihan karena lelah yang sangat besar yang aku lihat sekarang.


Meski dia tidak mengatakan juga tidak sedang terjaga tapi jelas semua terlihat oleh mata.


Perlahan tangan bergerak di atas bibirnya yang selalu mengatakan hal-hal yang membuat aku selalu kesal tapi juga yang mengatakan penuh pembelaan untukku juga untuk Ara.


Bibirnya inilah yang selalu memberikan sesuatu juga yang membuat aku begitu terkena akan kenikmatan. Sungguh, semua yang ada dalam dirinya membuat ku merasa menjadi wanita yang paling beruntung.


"Akk, Mas!" pekik ku. Mataku seketika mendelik karena tiba-tiba bibir mas Devan terbuka dan membuat satu jariku masuk ke dalamnya.


"Mas, ini bukan permen," keluhku. Mas Devan masih diam bahkan mengunci jari telunjuk ku di sana seperti sedang makan permen yang ada stiknya.


"Kenapa kamu mengganggu ku, Sayang. Apakah kamu memang menginginkan sesuatu?" tanyanya tanpa membuka mata.


"Hem, siapa juga yang menginginkan sesuatu?" aku mengelak karena memang tidak menginginkan sesuatu darinya hanya sedang mengaguminya saja.


"Benarkah? padahal aku menginginkan kamu mau sesuatu dariku," dan sangat jelas bahwa mas Devan yang menginginkan sesuatu, dia dan bukan aku.


"Hem, maunya," aku berusaha menarik jariku tapi mas Devan malah menahan menggunakan giginya. Tentu rasanya akan sangat sakit.


"Aw, mas!" pekik ku lagi.


Mas Devan malah terkekeh begitu girang dengan mata yang sudah perlahan terbuka. Sungguh ini sangat menyebalkan.


Meski dengan dia yang terkekeh dapat membuat jariku terlepas tapi tetap saja itu tak akan berakhir begitu saja. Mas Devan beralih mendekat dan menarik punggung ku hingga kaki berdua saling menyatu.


"Mas, aku mau ke kamar mandi," rasanya sudah tidak tahan untuk pergi tapi mas Devan? dia seperti sengaja menahan ku untuk tetap berada di sana.


"Kenapa harus ke kamar mandi di sini juga nggak masalah." mulai eror lagi nih orang.


"Mas, lepasin lah," bujuk ku dengan sangat memohon. Rasanya sangat sudah tak sabar ingin segera pergi tapi mas Devan sana sekali tak mengizinkan.


Aku diam dengan pasrah, terus berteriak atau berontak bakal mengurangi tenaga ku jadi diam lebih baik kan?


"Loh, kok berhenti? padahal aku sangat senang dengan kamu yang begitu aktif," katanya.


Aku tetap diam tak menjawab, semakin aku berontak itu akan membuat mas Devan semakin girang.


"Hem, kamu nggak asyik," bibirnya mengerucut dengan dia yang perlahan melepaskan juga bergegas mengangkat ku dan mengantarkan ke kamar mandi. Sungguh terlalu emang.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....