
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Akhirnya aku bisa membawa Ara kembali pulang ke rumah sesuai yang dia inginkan. Meskipun sangat khawatir tapi aku tidak bisa mengabaikan keinginannya, toh semua itu juga atas izin dari dokter. Kalau tidak ada izin meskipun Ara meminta dengan seperti apapun tidak akan pernah aku turuti.
Meskipun dengan berwajah sangat pucat tetapi Ara terlihat sangat bahagia, buktinya dia terus tersenyum saat masuk ke rumah dengan digendong oleh Mas Devan.
"Ayah, besok-besok jangan kembali ke rumah sakit lagi ya, Ara tidak suka berada di rumah sakit rasanya sangat tidak enak."
Bibirnya terlihat manyun begitu menggemaskan meskipun terlihat sangat pucat, tapi mampu menghadirkan senyum pada semua orang yang melihatnya.
Kepulangan Ara mampu membuat semua orang tersenyum dan kembali bahagia, seakan rumah ini mendapatkan cahayanya kembali. Bukan hanya Ara yang terlihat sangat bahagia tapi semua para pelayan dan penjaga mereka begitu antusias menjemputnya.
"Sus Neni, besok kita tidak usah kembali ke rumah sakit lagi ya. Kalau ayah atau Bunda memaksa besok kita sembunyi ya."
Sus Neni hanya tersenyum menanggapi perkataan yang sangat menggemaskan dari Ara, tidak mungkin juga dia akan menuruti perkataan dari anak kecil ini tetapi juga tidak mungkin dia akan mengatakan tidak dan akan membuatnya sedih.
Bukan hanya sus Neni saja yang tersenyum tetapi juga semua orang termasuk diriku dan juga Mas Devan, kami semua tersenyum menanggapi perkataan dari bibirnya yang mungil.
"Kok malah pada tersenyum, Ara salah ya?"
"Tidak sayang, Ara tidak salah. Sekarang Ara harus istirahat dan jangan capek-capek, oke sayang. Ara harus mengingat apa yang di katakan oleh dokter. Kalau Ara jadi anak baik Ara tidak akan tidur di rumah sakit lagi kok."
"Beneran, Bunda." Wajahnya terlihat berbinar, begitu juga dengan matanya.
Setelah mendapatkan anggukan dariku Ara langsung menoleh ke arah Mas Devan, sepertinya dia juga meminta penjelasan kepada ayah sambungnya itu. Ara terlihat semakin bahagia karena mendapatkan jawaban yang sama dari Mas Devan.
"Ayo, Ayah, kita istirahat. Tapi di temani ayah ya tidurnya."
Selalu saja Ara manja dengan Mas Devan, tapi aku sangat bahagia karena Mas Devan juga tidak ambil pusing dan selalu menurutnya dengan senang hati.
Bahkan saat bersama dengan Ara mas Devan akan sangat betah, benar-benar seperti ayah dan anak yang memiliki ikatan darah.
"Dada Sus, dada semuanya, Ara mau bobok dulu ya." Tangannya melambai kepada semua orang yang terlihat senyum namun juga penuh haru.
Aku lihat satu persatu, mereka juga merasa sangat sedih, mungkin karena membayangkan sakit yang di derita oleh Ara itulah yang membuat semua bersedih.
"Nyonya, apakah Non Ara benar baik-baik saja?" tanya salah satu dari mereka.
"Doakan saja ya, semoga Ara bisa secepatnya sembuh dan bisa bermain dengan kita lagi seperti biasanya."
Memang sekarang Ara masih tetap bisa bermain, tapi semua pasti menjadi di atur. Tidak boleh terlalu lama dan harus lebih banyak istirahat. Tidak seperti dulu yang bisa bermain dengan mereka semua dengan waktu yang lama dan juga dengan permainan apapun.
"Iya, Nya. Kami akan selalu mendoakan Non Ara."
Aku masuk ke dalam kamar, ternyata Sus Neni sudah membantu Ara mengganti bajunya. Terus dimana mas Devan?
"Ara sayang ayah kemana?" tanyaku.
"Ayah lagi bersih-bersih, Bunda. Sebentar lagi akan kesini kok untuk nemenin Ara. Bunda juga ya."
Aku terdiam sesaat.
"Baiklah, tapi Bunda juga bersih-bersih dulu ya. Nanti Bunda datang sama ayah."
"Baik, Bunda."
Aku kembali keluar, bergegas pergi ke kamar. Ku buka pintu lalu kembali aku tutup setelah berhasil masuk. Mataku mengedarkan ke segala arah, mencari mas Devan berada dan ternyata sedang di kamar mandi.
Ku letakkan tas yang aku bawa, aku duduk di ranjang untuk menunggu mas Devan keluar. Rasanya sungguh lelah, kepala bergerak ke kanan kiri hingga mengeluarkan bunyi. Sungguh lelah sekali.
"Nay," Mas Devan nampak terkejut.
"Hem," sontak aku melihat.
"Kenapa?" Mas Devan menghampiri, padahal dia belum memakai baju dan hanya memakai handuk saja.
"Tidak apa-apa, Mas. Hanya..."
Belum juga selesai bicara mas Devan sudah duduk di belakang ku, memijat pundak dengan sangat pelan. Bahkan kuga di bagian leher juga.
"Kamu pasti sangat lelah. Setiap hari tidur di rumah sakit, tidak nyenyak kan?"
"Nggak apa-apa, Mas. Justru mas lah yang paling lelah. Sudah bekerja, mengurus aku dan Ara dan juga mengurus segalanya. Maaf ya," Aku menoleh.
"Itu adalah kewajiban ku," Mas Devan tersenyum laku tangannya merengkuh ku dan memeluk.
"Yang sabar ya, pasti ada hikmah di balik semua ini."
"Iya, Mas."
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...