
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Sudah malam namun pak Devan masih saja belum pulang bahkan kali ini dia menghabiskan waktu dengan bersenda gurau pada Ara. Jelas, itu jalan yang baik menurutnya karena dari tadi dia berusaha bicara padaku tapi aku masih sangat malas.
Meski sudah berkali-kali dia minta maaf tapi masih sangat susah untuk memaafkannya. Entah, aku sendiri juga tidak mengerti kenapa begitu sulit untuk memaafkannya.
Rasa sakit, rasa terhina, juga rasa tidak dihargai dan direndahkan masih begitu melekat di dalam hati hingga begitu dalam dan sangat susah untuk bisa untuk memaafkannya.
Aku tahu, Allah saja maha pemaaf tetapi nyatanya aku belum bisa melakukan hal itu. Rasanya masih begitu berat untuk memaafkan semua yang dia lakukan, seakan membekas di dalam hati.
Sudah dari tadi aku juga menyuruhnya pulang tapi ternyata dia juga keras kepala juga sampai-sampai tidak menggubris permintaan ku dan kini malah terus bermain dengan Ara.
Ara terlihat begitu senang, dia bisa tersenyum bahkan tertawa saat pak Devan melakukan sesuatu yang lucu.
Tak sadar bibir ku tertarik dan tersenyum tapi itu bukanlah keinginan ku. Begitu senang melihat Ara bisa begitu bahagia seperti ini, sesuatu yang tidak pernah dia dapat dari ayahnya kini dia dapat dari Pak Devan.
Seharusnya aku bisa senang dan bisa menerima permintaan maafnya tapi nyatanya? Semua itu tak mudah mengingat semua yang dia lakukan.
Aku melihat pak Devan juga menoleh ke arahku dan jelas bisa melihat aku yang tersenyum, dia ikut tersenyum mungkin dia akan besar kepala dan merasa usahanya perlahan akan berhasil.
"Kamu begitu cantik ketika tersenyum seperti itu, Nay," katanya.
Aku yang tersadar karena mendengar ucapannya langsung memudarkan senyum ku dan berganti seperti yang semula bahkan juga memalingkan wajah dengan mengganti posisi tidurku.
Aku melirik sebentar dan ternyata pak Devan masih melihat ku dan tersenyum. Terlihat begitu manis tapi kenapa hati ini tetap saja masih begitu kesal dan juga masih ingin marah.
Benarkah senyum dan juga penyesalan yang dia perlihatkan saat ini adalah hal yang nyata? Ataukah hanya sama saja seperti yang lain sebagai pemanis saja?
Baru beberapa saat aku memalingkan wajah terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Suaranya sangat jelas dengan penuh semangat juga langkah kaki yang terdengar begitu mungil. Apakah itu artinya Pak Devan juga Ara akan mendekatiku?
Aku tetap diam dan bergeming di tempat membiarkan mereka mendekati kalau memang itu yang menjadi niatnya.
Dan benar saja setelah beberapa saat aku terdiam karena menanti ternyata Ara sudah berada di hadapanku yang tidur miring begitu pula dengan Pak Devan yang ada di belakang Ara dengan kedua tangan berada di atas kedua bahunya.
"Bunda, ayah Om boleh nginep di sini nggak Bunda? Ara pengen bisa tidur dengan ayah om, katanya Ayah om juga mau membacakan dongeng untuk Ara. Boleh ya Bunda?"
Suara Ara terdengar seperti biasa yang merengek seolah meminta sesuatu kepadaku dan kali ini yang dia minta supaya Pak Devan diizinkan untuk tidur di rumah ini.
Aku tahu ini pasti hanya akal-akalan dari Pak Devan saja tidak mungkin Ara yang menginginkan akan hal yang seperti ini, ini bukan kebiasaannya meminta orang asing untuk tidur di rumahnya apalagi dia ingin tidur bersamanya dengan alasan ingin dibacakan dongeng. Bukankah ini tidak masuk di akal?
"Tidak bisa Sayang. Dia tidak bisa tidur di rumah kita," kataku dengan sangat lembut.
Aku berusaha untuk bisa lembut ketika bicara dengan Ara meski sebenarnya mataku melotot dan seolah ingin copot ketika melihat kepada pak Devan.
"Tapi, Bunda. Ara pengen ayah om tidur di sini bersama Ara," Ara semakin merengek bahkan dia sudah ingin menangis.
Apa-apaan ini, bahkan dalam waktu sekejap saja Ara tak mau di tinggalkan oleh pak Devan, dia bahkan akan menangis. Apakah dia benar-benar baik hingga Ara yang masih tak tau akan hal buruk itu bisa begitu nyaman terhadapnya?
Hati anak kecil sangatlah peka daripada orang dewasa. Jika orang yang dekat tidak baik pasti dia tidak akan sampai sedih ketika di tinggalkan, bahkan kalau dia adalah orang jahat dan pura-pura baik anak kecil juga akan tau akan hal itu. Anak kecil itu tidak akan bisa di bohongi karena hatinya masih begitu murni. Tapi apakah iya?
"Sayang, dengerin bunda ya. Ayah om juga punya keluarga kalau dia tidak pulang pasti semua keluarganya akan sangat khawatir sama seperti bunda saat Ara tidak pulang-pulang saat bermain. Jadi biarkan dia pulang dan besok bisa main lagi dengan Ara."
Hatiku merasa panas sendiri ketika mengatakan hal itu. Begitu mudah mulut berbicara manis pada kenyataannya hati masih begitu sangat sedih. Gak terima begitu saja akan apa yang dia lakukan.
Meski terlihat kecewa tapi Ara terlihat mengerti dia juga berusaha tersenyum lagi meski tidak begitu lepas.
"Tapi bunda, kapan-kapan Ayah om boleh tidur di sini kan?" tanyanya lagi. Sepertinya Ara sangat gigih dan tidak mau menyerah.
Aku melihat ke arah pak Devan dan dia hanya mengangkat kedua bahunya saja seolah dia mengatakan dia tidak tau apa-apa akan keinginan Ara saat ini.
"Boleh kan bunda?" Ara begitu tak sabar untuk bisa mendengar jawaban diriku bahkan kini tangannya sudah terus menarik-narik tangan ku.
Pak Devan tersenyum tapi aku balas dengan melotot. Dia seolah tersenyum penuh kemenangan, nah kan? Apakah ini adalah hasil dari bujukan pak Devan?
"Benar ya, Bunda. Besok Ayah om boleh menginap di sini," Ara terlihat begitu bahagia wajahnya sudah beralih penuh binar.
"Hem," wajah ini terpaksa mengangguk namun mata tetap begitu tajam ke arah pak Devan. Aku sangat yakin ini adalah keinginan dia.
Ara menoleh ke arah pak Devan dia menarik dasinya dan membuat pak Devan duduk berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Ara.
"Ayah om sekarang pulang dulu ya. Kalau tidak pulang pasti mama dan papa ayah om akan sedih. Besok ayah om izin dulu sama mereka kalau mau bobok sini jadi tidak akan di cariin."
Perkataannya terdengar begitu menggemaskan.
Seandainya tidak bicara dengan pak Devan pasti sudah aku cubit kedua pipinya dan aku hujani dengan begitu banyak kecupan.
"Iya, Ara sayang. Ayah om pulang dulu ya. Besok kita main lagi."
"Oh iya, Ara kan anak pinter jadi temenin bunda ya kalau dia nangis atau ada yang sakit lapor sama ayah om. Oke."
Entah lapor yang seperti apa yang di maksud oleh pak Devan.
"Siap, ayah om. Nanti Ara jagain bunda. Kalau dia nangis nanti Ara akan lapor sama ayah om."
Ara juga begitu antusias bahkan dia juga mengangkat tangan untuk memberikan hormat kepada pak Devan.
Aku benar-benar sudah semakin jengah melihat dia yang tidak pulang-pulang.
"Ayah pulang dulu ya," katanya yang selalu saja dengan begitu manis.
"Hemm? Cup... pluk..." Ara langsung memberikan kecupan di pipi pak Devan bahkan dia juga langsung memeluknya.
Ara terlihat begitu sedih ketika pak Devan pamit ingin pulang.
"Besok datang lagi ya, Ayah," pintanya.
"Pasti, Ayah pasti akan datang lagi."
Ara melepaskan diri dan langsung aku tarik supaya menjauh dari Pak Devan dengan cara itu pasti pak Devan akan segera pulang.
"Kamu tidak mau beri aku ciuman dan pelukan juga seperti Ara?"
"Nggak lucu," taring ku bisa-bisa tumbuh dengan cepat kalau pak Devan terus ada di sini.
"Lebih nggak lucu lagi kalau kamu masih terus marah dan tidak mau memaafkan ku. Tapi jujur, Nay. Aku sangat menyesal dan izinkan aku menebus semuanya dan izinkan aku untuk bertanggung jawab."
Aku tetap tak peduli wajahku masih terus berpaling.
Aku harus senang atau sedih mendengar ini. Dia akan menebus kesalahan dan akan bertanggung jawab? Apakah aku harus percaya?
"Lebih baik bapak segera pulang, ini sudah malam tidak baik jika sampai tetangga tau," aku masih bergeming.
"Hem, baiklah. Sekali lagi aku minta maaf."
Pak Devan benar-benar pergi dari sini. Aku merasa tenang, tapi juga merasa ada hal aneh. Kamar ini menjadi sepi.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....