
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Tidak dapat dipercaya kalau apa yang dikatakan oleh Pak Devan ternyata benar akan dia lakukan, bahkan dia sudah memesan langsung beberapa baju pernikahan yang akan digunakan untuk akad juga resepsi.
Aku hanya bisa melongo tidak percaya ketika diperlihatkan beberapa pakaian pengantin yang sangat indah dengan berwarna putih yang akan digunakan untuk akad dan juga berwarna putih tulang yang akan digunakan untuk resepsi dan juga berwarna peach.
"Bagaimana? Aku tidak pernah main-main, aku akan tepati janji yang sudah aku katakan sebelumnya kepadamu. Bahwa aku akan menikahi_mu dan bertanggung jawab apa yang telah aku perbuat."
Beberapa baju tersebut sudah berada di hadapanku dan juga ada dua orang perempuan dengan usia yang berbeda satu sekitar 25 dan yang satunya sekitar 40 tahun. Apa maksud dari kedatangan mereka?
Aku melihat mereka berdua, Meski beda usia tetapi mereka memakai seragam yang sama bahkan dandanannya juga sama pastilah mereka bekerja di tempat yang sama. Mereka sama-sama diam menunduk hormat dengan kedua tangan yang menyilang di depan tubuh masing-masing.
"Mereka yang akan membantumu mencoba pakaiannya. Karena hari ini bukan hanya fitting baju tetapi juga kita akan melakukan foto prewedding"
Siapa yang tidak akan terkejut dengan semua yang sudah ada di depan mata tetapi tidak tahu sebelumnya. Ini bukan hanya akan dijalani sehari dua hari saja tetapi harapan untuk bisa menjalaninya seumur hidup, jadi bagaimana bisa dengan tergesa-gesa seperti ini?
Aku merasa ini terlalu cepat bahkan terbilang sangat cepat mengingat perkenalanku dan juga Pak Devan yang belum lama. Tetapi jika mengingat akan kehamilanku yang sudah terjadi maka ini sebenarnya sudah terlambat. Lalu aku harus bagaimana? Benarkah harus menerima dan bersedia menikah dengan Pak Devan?
"Pa_pak. Ini beneran akan terjadi? Tetapi ini terlalu cepat."
"Tolong tinggalkan kami berdua," ucap Pak Devan.
Kedua wanita itu langsung bergegas keluar meninggalkan kami berdua berada di dalam kamar Pak Devan.
Setelah kepergian mereka berdua Pak Devan mendekat dan berlutut di hadapanku yang kini duduk di tepi ranjang saja.
"Pak, i_ini benar-benar terlalu cepat..." aku tergagap.
"Nay, bukankah hal yang baik akan sangat lebih baik juga jika disegerakan? Kalau kita mengulur-ulur waktu lagi bagaimana kalau sampai kandunganmu sudah besar dan semua orang akan tahu dan akan mengira kamu adalah perempuan yang tidak benar, apa yang akan kamu katakan?"
"Aku melakukan ini juga sudah saya pikirkan matang-matang tentu ini juga yang terbaik karena Aku ingin benar-benar bisa melindungi kamu dan juga Ara dari siapapun termasuk mantan suamimu."
Ucapan Pak Devan terdengar sangat serius sepertinya keputusan ini tidak bisa diubah lagi. Benarkah aku harus menerimanya?
Perasaan bimbang sangat besar aku rasakan. Di lain sisi aku belum bisa mencintainya jadi bagaimana mungkin aku rela begitu saja menjadi istrinya. Tetapi di sisi lain, jika aku tidak menerimanya bagaimana dengan anak yang ada di kandunganku yang sangat membutuhkan kasih sayang dari ayahnya.
Benarkah rasa cinta itu akan bisa hadir dengan sendirinya jika terus bersama? Apakah kata orang tua itu benar kalau cinta bisa hadir sebab terbiasa bersama?
"Jangan pernah berpikir hal yang tidak tidak mengenai diriku, aku Devan bukan Aditya. Mungkin dia bisa menghianatimu tetapi aku tidak. Meski kita mulai belum dengan dasar cinta tapi aku sangat yakin bahwa kelak cinta itu akan datang dan kita akan bahagia dengan menjadi keluarga yang sempurna. Aku, kamu, Ara dan anak yang masih ada dalam kandungan_mu."
"Percayalah, Aku tidak akan pernah mengkhianati apalagi meninggalkan. Aku berjanji apapun yang terjadi hanya maut yang akan memisahkan kita. Aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku katakan."
"Kita akan menikah satu minggu lagi dan kamu tidak usah khawatir semua sudah aku siapkan. Kamu hanya butuh mempersiapkan dirimu saja sisanya biar aku yang mengurusnya."
Ucapan terima terdengar sangat serius dan tidak ada tanda atau kebohongan di matanya. Aku tidak melihat itu dari dia, terlihat yang sangat tulus dan benar-benar ingin menikahik_ku dan membina keluarga baru yang bahagia.
"Sekarang bersiaplah, aku tunggu untuk kita melakukan foto prewedding. Maaf karena tidak bisa melakukan di luar rumah mengingat keadaan kamu yang tidak memungkinkan."
"Sebenarnya aku menginginkan kita melakukan foto ke tempat-tempat yang bagus tapi tidak apa-apa di manapun kamu juga akan tetap cantik."
Bibirnya tersenyum dengan tangan yang menarik tanganku yang sudah dia genggam dan mengecupnya dengan perlahan dan sangat lembut.
"Nay, aku tanya kamu sekali lagi."
"Apakah kamu mau menikah denganku dan menjadi teman sedih dan bahagiaku selamanya, hem?" tanya pak Devan.
"Aku berharap kamu benar-benar akan mau. Karena aku tidak akan memaksamu, jika setelah semua yang aku katakan kamu masih tidak menerima aku tidak akan memaksa semua tergantung kamu."
Kali ini ucapannya terdengar sangat pasrah dan menyerahkan semua keputusan kepadaku.
Satu tangannya melepaskan tanganku dan mengambil sesuatu yang ada di saku celananya. Tidak lama setelahnya tangan itu kembali keluar dan menunjukkan sesuatu kepadaku. Sebuah kotak cincin berwarna merah berbalut kain beludru.
"Nayla Ariane, apakah kamu mau menikah dengan ku?" Kotak itu terbuka dapat di hadapanku dan terlihat dengan sangat jelas sebuah cincin yang begitu indah dan memiliki permata yang berwarna putih.
"A_aku...?"
"Hem?" Pak Devan terus menunggu dengan mata memandangku dengan begitu berharap.
Jantungku berdetak begitu kuat, secepat inikah aku akan kembali mendapatkan gelar sebagai seorang istri?
Apakah ternyata ataukah hanya sebuah mimpi belaka yang memberikan kebahagiaan semu saja?
"Hem?" Sekali lagi Pak Devan menegaskan namun dengan suara yang sangat lembut membuat aku tersadar dari lamunan yang masih tidak percaya dan masih mempercayai bahwa ini hanyalah dunia mimpi.
Entah dari mana keputusan itu berasal tetapi tiba-tiba saja wajahku mengangguk meski begitu pelan dan saat itu pak Devan langsung tersenyum dan terlihat sangat bahagia.
"Terima kasih sudah percaya kepadaku. Aku janji akan selalu membahagiakan mu," katanya dengan wajah yang penuh binar.
"A_aku tidak membutuhkan janji, tetapi yang aku butuhkan adalah sebuah bukti yang nyata bukan hanya janji yang siapapun bisa lupa dan akan mengingkarinya."
"Akan aku buktikan bahwa aku akan terus berusaha untuk membuat kamu bahagia selama berada di sisiku." ucapnya yang begitu yakin.
Satu tangannya terangkat mengambil cincin tersebut dan ingin menyematkan di jari manis_ku yang tangannya sudah dari tadi dia genggam.
"Tunggu saja bukti dari semua perkataan ku," katanya yang disambung dengan mencium punggung tangan dengan penuh kelembutan.
Tentu aku sangat gugup dan ketika saat itu jantungku kembali berdebar dengan sangat kuat juga mata yang terus memandang wajahnya yang semakin terlihat begitu bahagia.
"Ye! Ara akan benar-benar punya ayah!" teriak Ara begitu bahagia.
Aku tersentak dan cepat menoleh melihat Ara yang berlari masuk di susul dengan dua wanita tadi dan juga suster Neni.
"Ayah, ayah benar-benar akan jadi ayahnya Ara?" tanyanya antusias.
"Tentu," sementara pak Devan dia sudah melepaskan tangan ku dan kini beralih menangkap Ara dan memeluknya di hadapan ku.
"Ye! Terima kasih, Ayah," kecupan manis di dapatkan pak Devan dari Ara.
"Sama-sama, Sayang." balasnya.
"Bunda, selamat ya," kini Ara beralih menatapku.
"Hem," aku hanya tersenyum rasanya gimana gitu.
Tapi yang jelas, ada sebuah kebahagiaan yang besar datang di saat melihat Ara yang begitu senang karena akan mendapatkan seorang Ayah. Ya! Sebentar lagi Ara akan benar-benar mendapatkan figur seorang ayah dan itu akan dia dapatkan dari pak Devan.
"Sekarang kita keluar dulu ya, bunda biar bersiap dulu," Ara langsung di gendong oleh pak Devan.
"Dada, Bunda dandan yang cantik ya!" Di gendongan pak Devan Ara selalu saja nyaman dan bahagia. Apalagi sekarang, wajah terus memancarkan keceriaan dengan melambaikan tangan.
"Tolong bantu dia mencoba semua bajunya dan juga bersiap, saya tidak ingin kalau ada kekurangan di hari ini dan di hari yang paling membahagiakan untukku dan juga dirinya. Semuanya harus sangat sempurna." titahnya ketika sampai di hadapan kedua wanita tadi.
"Baik, Tuan." Jawabnya patuh.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....