
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Begitu tidak sabar ingin melihat Mas Devan pulang dengan membawa ketoprak yang sudah aku pesan tadi. Aku yakin Mas Devan tidak akan lupa dan akan membawakan makanan yang aku inginkan seperti biasanya.
Aku hanya menunggu Mas Devan di ruang tengah sendiri tidak ada siapapun yang menemani karena mereka sibuk dengan pekerjaan dan tugas masing-masing. Sementara Ara? Dia tengah istirahat bersama sus Neni di kamarnya.
Tadi aku juga sudah memastikan sendiri sedang apa Ara sekarang, dan setelah melihat dia tertidur dengan ditemani sus Neni Aku Kembali keluar hingga akhirnya berhenti di ruang tengah ini untuk menunggu kepulangan Mas Devan.
"Mas Devan mana sih?" Kaki kembali melangkah untuk menuju pintu masuk supaya bisa melihat apakah Mas Devan sudah kembali atau belum. Namun nyatanya garasi masih kosong dari mobil Mas Devan.
Aku berdiri di tengah-tengah pintu utama melihat garasi, pelataran rumah yang begitu luas hingga sampai ke pintu gerbang yang masih setia tertutup dengan ditunggu oleh dua penjaga.
Kedua tangan saling bertautan, saling meminta satu sama lain dengan bergantian menandakan bahwa kesabaran ini benar-benar sudah sampai puncaknya. Semoga saja Mas Devan segera kembali.
Wajah pasti terlihat begitu benar dengan senyum yang lebar ketika melihat mobil Mas Devan sudah berhenti depan pintu gerbang. Aku melangkah semakin keluar dari ruangan seolah ingin secepatnya menyambut kedatangannya.
Mata terus terfokus pada pintu gerbang yang perlahan mulai dibuka oleh kedua penjaga tersebut, yang satu menarik hingga pintu bergeser dan yang satunya lagi membukanya, dan mobil Mas Devan berhasil melesat masuk dan berhenti di tempat parkir yang seperti biasa.
Rasanya ingin berlari menyambut kepulangan Mas Devan, namun itu tidak aku lakukan karena jika aku lakukan pasti mas Devan akan sangat marah hingga akhirnya aku hanya menunggu di teras rumah saja.
Wajah mengernyit setelah melihat Mas depan yang keluar dari mobil namun dengan tangan kosong, dia tidak membawa apapun entah itu kresek atau paper bag. Apakah mungkin dia lupa dengan apa yang aku pesan?
Karena begitu penasaran akhirnya aku benar-benar berjalan mendekati Mas Devan karena ingin bertanya secara langsung apakah dia lupa atau tidak.
"Mas," panggil ku.
Mas Devan tersenyum ketika aku menyambut sampai di hadapannya. Bahkan Mas Devan langsung merangkulku dan menuntunku untuk masuk ke rumah. Jelas aku tidak mau masuk, aku menolak dan berhenti di langkah yang pertama.
Mas Devan terlihat bingung dengan apa yang telah aku lakukan saat ini, wajahnya mengernyit dengan mata yang sudah langsung terfokus ke arahku.
"Ada apa?"
Entah lupa atau hanya pura-pura tidak tahu atau lupa tetapi Mas Devan terlihat sangat jelas bahwa dia begitu bingung dengan sikapku saat ini.
"Ada apa? Apakah Mas benar-benar lupa dengan apa yang aku minta?" Mas Devan terlihat berpikir dengan serius, dia diam namun tetap menatapku.
"Apa ya, sepertinya tidak ada yang aku lupakan," Mas Devan benar-benar tidak ingat apapun.
Baru kali ini Mas Devan melupakan apa yang aku minta, biasanya apapun yang aku inginkan dia selalu memberikan tanpa aku mengulang kata lagi untuk meminta, tapi sekarang?
Rasanya sangat kesal bahkan ingin marah karena hal ini. Aku tidak tahu kenapa aku begitu mudah kesal saat ini tapi yang jelas hatiku benar-benar sangat kesal.
"Ada apa sih, apakah aku melupakan sesuatu?" Mas Devan malah bertanya kepadaku tentang apa yang telah dia lupakan. Semakin kesal saja rasanya.
"Ihh!" geram karena mas Devan tidak ingat aku jadi kehilangan mood untuk makan. Seleraku seketika musnah.
"Sayang, katakan saja apa yang telah aku lupakan aku akan pergi dan mencarinya. Ayolah."
Mas Devan mengejarku yang sudah buru-buru berjalan untuk masuk ke rumah. Bahkan Mas Devan sepertinya berlari supaya bisa menyamakan langkahku yang saat ini benar-benar begitu cepat.
Mas Devan menahan ku, menarik tangan hingga berhasil membuat aku berhenti.
"Sayang, ayolah. Katakan apa yang kamu inginkan. Jangan marah," Mas Devan terus menahan ku supaya tidak pergi lagi.
"Sudah nggak minat," ketusku.
Aku ingin kembali berjalan tetapi tangan yang masih dia pegang membuat aku tak bisa hingga akhirnya hanya berdiri di hadapannya dengan malas.
"Sayang, please. Katakan," Mas Devan begitu memohon kepadaku supaya mengatakan apa yang menjadi keinginanku. Wajahnya terlihat sangat bingung berarti dia benar-benar melupakan pesanku tadi yang hanya menginginkan ketoprak saja.
"Ketoprak? Astaga! Iya-iya aku ingat sekarang. Maaf, aku benar-benar lupa," soraknya.
"Benarkah hanya lupa atau memang di sengaja?" aku sendiri juga tidak paham dengan diriku sendiri yang menjadi seperti sekarang ini. Entah ini karena pengaruh hormon atau karena kebiasaan yang selalu mendapatkan apa yang aku minta.
"Benar, Sayang. Aku benar-benar sangat lupa. Hem, kalau begitu aku belikan sekarang atau mungkin kamu akan ikut?"
Aku masih berpikir dan tidak langsung setuju. Ikut dengannya dan berjalan berdua dengannya kenapa membuat ku terasa kehilangan rasa percaya diri seperti sekarang ini?
Bagaimana kalau ada yang mengatakan aku tidak cocok bersanding dengannya?
Bagaimana kalau ada yang mengatakan kalau aku tidak pantas bersamanya?
"Hey, kenapa malah melamun? Apakah kamu mau ikut?" tanya mas Devan lagi.
Akhirnya rasa ingin makan mengalahkan rasa marah dan dan juga rasa kesel yang ada di hati hati hingga membuat wajah ini tiba-tiba mengangguk begitu patuh. Mas Devan tersenyum, mungkin dia senang karena kali ini tidak begitu susah membujukku yang akhirnya mau ikut dan tidak marah lagi kepadanya.
"Kita berangkat sekarang?" Mas Devan bertanya lebih dulu untuk memastikan kesiapanku, dan aku langsung mengangguk karena memang sudah sangat tidak sabar.
"Ayo kita berangkat permaisuri ku," tangan satunya terlepas dari tanganku dan satunya tetap menggandeng dan kini perlahan menarik ku untuk melangkah dan kembali ke tempat parkir tempat mobilnya berada.
Dengan mobil yang tadi kami berangkat untuk mencari ketoprak yang aku mau entah akan sampai mana yang pasti aku harus memakannya hari ini juga.
Di dalam mobil aku terus terdiam meski Mas Devan sesekali bertanya, aku memang tidak menjawab karena masih merasa sangat malas.
Sepuluh menit perjalanan akhirnya mobil berhenti tepat di pinggir penjual ketoprak yang sangat ramai akan calon pembeli.
"Mau di makan di sini atau di bawa pulang?" tanya mas Devan sebelum turun.
"Makan di sini tapi di dalam mobil," jawabku.
"Siap," Mas Devan turun sementara aku tidak. Mas Devan langsung memesannya, menunggu hingga yang di pesan berhasil di dapatkan.
Mas Devan kembali masuk dengan membawa sterofom berwarna putih yang di dalamnya terdapat ketoprak yang barusan dia beli. Mas depan duduk duduk menghadap ke arahku dan mulai membukanya dengan pelan.
"Suapin," kataku dengan begitu manja.
"Baiklah, apa sih yang tidak," Mas Devan benar melakukannya, menyuapi ku dengan sangat telaten.
"Bagaimana, enak?"
Seperti anak kecil aku mengangguk dengan sangat cepat rasanya memang sangat enak. Entah karena sedang menginginkannya atau memang enak.
"Sudah," kataku di suapan yang ketiga.
"Su_sudah?" mata mas Devan membulat dengan tangan yang tertahan di udara dengan memegangi sendok plastik yang penuh dengan ketoprak.
Aku mengangguk, sudah mendapatkan suapan ketiga saja memang rasanya sudah kenyang bahkan sudah sangat puas.
"Tapi ini masih banyak."
"Tapi aku sudah kenyang," kataku gak mau kalah.
"Hadeuh," lirih mas Devan yang tetap aku dengar.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....